Mashiro-iro Symphony: The Color of Lovers

Akhirnya. Akhirnyaaaaaaa.

Butuh waktu hampir setengah tahun, dan entah gimana aku berhasil melakukannya, tapi akhirnya aku berhasil menonton Mashiro-iro Symphony: The Color of Lovers sampai tamaaaaaat!

GYAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!

Bukan berarti itu suatu hal yang patut dibanggakan sih.

Cuma, terus terang, aku beneran mesti berjuang agar tahan menonton ini. Dan aku tahu ini enggak jelas banget, but it was worth it. …For me, at least.

Eniwei, aku sempat menyebutnya dalam daftar preview yang kubuat, tapi anime yang keluar pada musim gugur tahun 2011 lalu diangkat dari game visual novel dewasa Mashiro-iro Symphony: Love is pure white (judulnya berarti ‘simfoni berwarna putih murni’). Aku enggak tahu apa-apa soal game-nya, cuma gimana itu sebatas dibuat oleh pengembang Pallette (aku beneran udah lama enggak merhatiin perkembangan di dunia ini). Tapi aku tertarik dengan desain karakternya, dan tiba-tiba aku nyadar gimana aku lumayan kangen dengan nuansa yang dihadirkan game-game seperti ini.

Dan saat aku menonton anime ini, sesuai pengharapanku, nuansa itu pulalah yang aku dapatkan.

My Wavering Heart

Sebaiknya aku enggak terlalu masuk ke detil. Karena… yah, ini jenis cerita yang diangkat dari sebuah galge, dan galge biasanya lebih menitikberatkan pada karakter dan suasana daripada ke plotnya sendiri.

Cerita Mashiro-iro Symphony dibuka dengan bagaimana si tokoh utama cowok, seorang cowok baik hati yang memiliki pengalaman sebagai penderita asma di masa kecil, Uryuu Shingo, menjadi salah satu siswa yang terpilih di sekolahnya, Perguruan Swasta Kagamidai, untuk menjadi bagian dari ‘kelas percobaan’  di Sekolah Putri Swasta Yuihime (atau yang lebih sering dikenal sebagai Yuijo). Jadi ceritanya, karena suatu alasan, kedua sekolah tersebut rencananya akan digabung. Lalu untuk menguji prospek keberhasilan rencana tersebut, sebuah kelas percobaan diputuskan untuk diadakan di Yuijo, sehubungan dengan kenyataan bahwa rencana penggabungan tersebut masih ditentang oleh sebagian besar murid perempuan.

Singkat kata, Shingo, bersama adik tiri perempuannya, Sakuno, serta sahabat baiknya, Mukunashi Hayata, berkenalan dengan sejumlah teman baru. Kemudian dari sanalah ceritanya kemudian beranjak.

Sebenarnya agak aneh sih. Karena daripada seri anime pada umumnya, seri ini secara apik seakan memutuskan untuk lebih menghadirkan pengalaman memainkan game-nya melalui media gambar yang bergerak. Mungkin berkat perhatian Suganuma Eiji, sang sutradara, terhadap detil, perasaan ‘masuk ke dunia’ seperti yang biasa ditemukan di sebuah VN benar-benar terasa di seri ini. Jadi, walau ini anime, ini lebih terasa seperti VN daripada anime. Dan mempertimbangkan alasan aku menonton ini, kurasa bisa dibilang aku menemukan apa yang aku cari.

Cuma…

Yah, itu dia. Ceritanya agak… yah, begitulah.

Sama kayak di kebanyakan galge, di mana fokus ceritanya akan berubah drastis bergantung pada rute cewek mana yang kau pilih, cerita The Color of Lovers juga seakan berubah fokusnya menjelang pertengahan cerita. Enggak dalam artian buruk sih. Tetap tipikal adaptasi galge, di mana cerita yang diangkat merupakan cerita salah satu rute dengan tambahan adegan-adegan dari rute-rute lain. Cuma, yang agak enggak kusangka dari anime ini, rute yang dipilih bukanlah rute Sena Airi yang dikenal sebagai heroine utama seri ini. Sekalipun cerita dimulai dari dirinya–dari bagaimana ia tanpa sengaja berkenalan dengan Shingo dan Sakuno, bersahabat, tapi secara tak terduga, menentang kehadiran keduanya di sekolahnya–dalam perkembangannya, cerita lebih berpusat pada hubungan Shingo dengan Amaha Miu, kakak kelas lemah lembut yang mengurusi Nukobu. Jadi, Nukobu merupakan sebuah klub yang menangani hewan-hewan liar yang terdampar di lingkungan sekolah Yuijo–mengingat lokasinya yang berada di tepi pegunungan. Dan kurasa rute Miu dipilih karena klub tersebut menjadi apa yang menyatukan kesemua tokohnya pula–suatu hal yang diperlukan untuk memberikan semua heroine porsi tayang yang proporsional.

…Sebenarnya, aku agak kesal karena ini. Soalnya, aku suka Airi. Dan cuma dia doang alasan aku tahan mengikuti seri ini. Karena jujur saja, meski elemen romansa(dewasa)nya ada, ceritanya jelas-jelas bukan jenis cerita yang akan bisa kau tanggapi serius. Hahahaha. (Bayangin, ada salah satu heroine yang secara terang-terangan bekerja sebagai maid di seri ini.) Tapi kurasa perkembangan ini menarik juga. Terutama hubungannya dengan Pannya-chan, makhluk lucu aneh yang tak jelas apa yang dipungut Miu dan menjadi maskot seri ini. Apalagi rute Airi masih bisa kuikuti di salah satu adaptasi manga-nya (seandainya suatu saat kelak aku bisa menemukan scanlation-nya).

Ding Ding Love

Bicara soal presentasi, anime ini boleh juga. Studio Manglobe sejak dulu dikenal karena konsistensi kualitasnya (walau tema-tema yang mereka pilih untuk diangkat sebagai anime kadang membuat kening mengernyit). Meski dinamika karakternya terbatas, pewarnaan dan rincian gambarnya bersih dan tajam. Pengisian suaranya benar-benar baik meski ceritanya kayak gini. Lalu lagu pembuka dan penutup serta musik latar cukup memberi kontribusi terhadap suasana.

Terus terang, kurasa salah satu alasan aku menyukai seri ini adalah lagu ‘Suisai Candy’ yang dibawakan grup band Marble, yang juga membawakan lagu pembuka Kimikiss Pure Rouge. Dan dari sana aku kepikiran untuk suatu hari membuat daftar anime yang sejauh ini kutonton karena lagu-lagunya semata.

Akhir kata, ini sama sekali bukan jenis anime yang akan kurekomendasikan. Ini benar-benar sesuatu yang kutonton karena minat pribadiku doang. Sesuatu buat membuktikan bahwa yang seperti sering diperlihatkan dalam VN, untuk menulis sebuah cerita, kamu cukup perlu dua hal, yakni konsep latar dan konsep tokoh saja. Apa yang anime ini tonjolkan benar-benar suasana saja. Suasana kehidupan damai dan agak WAFF, meski kadang dalam dosis terlalu berlebih. Kota fiktif Kagamidai yang menjadi latar cerita ini terus terang juga menjadi daya tariknya. (Aku sebenarnya juga agak heran, karakter tokoh cowok baik-baik seperti Shingo sering sekali menjadi arketipe dalam game, namun kayaknya jarang sekali menemukan jenis karakter seperti ini dalam kehidupan nyata. Cuma aku saja?)

Serius. Penggambaran suasananya benar-benar keren. Menilai dari sana saja, aku bisa ngebayangin gimana versi game-nya menjadi salah satu yang laris terjual.

Jadi jangan tonton ini kecuali kau mencari hal ini, tanpa terlalu peduli akan substansi. Atau malah sedang benar-benar haus akan desain karakter bishoujo.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: B+; Pengembangan: C; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

Wind of Silk, Twinkle Moon

Ada hal menarik yang lupa kukatakan. Sebenarnya dalam versi game aslinya untuk Windows PC, cuma ada empat rute utama yang bisa kita pilih; yakni rute keempat tokoh cewek yang sudah kusebut di atas. Baru pada remake-nya di PSP, ada tambahan dua rute, masing-masing untuk Inui Sana dan Onomiya Yotsuki.

Sana, yang menjadi teman sekelas Shingo dan merupakan salah satu pengagum berat Miu, pada game aslinya hanya sebatas menjadi tokoh pendukung. Tapi pada remake PSP dan ini, dirinya menjadi salah satu love interest Shingo dan sekaligus salah satu paling tokoh menonjol. Sedangkan si gadis kuil sekaligus anggota klub drama, Yotsuki, merupakan karakter yang benar-benar baru. Tapi dirinya sempat tampil sebentar sebagai tokoh cameo dalam episode paling terakhir anime ini. Menariknya juga, hanya rute mereka berdua pula yang diadaptasi ke bentuk manga di samping rute Airi.


About this entry