Kizumonogatari – IND (009)

009

Sebelum menjelaskan situasinya ke Hanekawa, sebenarnya, ada hal lain yang harusnya kulakukan—di samping, mengingat, saat itu sudah larut malam. Hanekawa membantuku dengan memutuskan untuk pulang ke rumahnya dulu untuk sementara waktu.

Aku berjanji akan menceritakan segalanya padanya esok malam.

Dan kemudian aku kembali ke puing-puing gedung bimbel itu—Oshino tak terlihat, tapi aku melapor pada Kiss-Shot, yang sudah menungguku di ruang kelas lantai kedua, soal keberhasilanku memperoleh kembali kaki kanannya.

“Kerja bagus.”

Itu yang Kiss-Shot katakan.

“Walau, mengingat betapa engkau telah menjadi bawahanku, itu suatu hasil yang semenjak awal dipastikan—kenyataan dikau telah memperoleh kekuatanku, cecunguk seperti Dramaturgie sudah jelas takkan menjadi tandingan.”

“Dia lawan sepadan. …Dia juga sadar kapan harus menyerah.”

“Hmph. Itu tak lain karena di antara ketiganya, Dramaturgie paling unggul dalam menilai keadaan—bukan maksud beta menakut-nakuti, tapi dengan dua yang tersisa, hasilnya takkan seperti yang terjadi kali ini.”

“Sepertinya memang bakalan begitu.”

Episode.

Orang yang membawa-membawa salib raksasa di punggung, jelas-jelas terlihat berbahaya—lalu, ada orang yang berpakaian seperti pendeta itu… Guillotine Cutter.

Orang satu itu jelas terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang menakutkan.

Kesan seperti itulah yang kudapat darinya.

“Walau begitu, kinilah saat engkau boleh bergembira, sebab dengan ini engkau telah selangkah lebih dekat tuk menjadi manusia kembali.”

“Sungguh…?”

Makasih.

Aku punya sedikit kesan kalau aku baru saja menjadi selangkah lebih jauh dari kembali menjadi manusia sih.

“Walau Dramaturgie punya tenaga yang melampaui manusia normal, kayaknya aku unggul dalam hal pemulihan. Makanya, buat jaga-jaga, ada sesuatu yang ingin kutanya juga. Berapa kali aku akan bisa mati?”

“Siapa tahu?” Kiss-Shot menjawab. “Tanpa mencoba sendiri, bahkan beta pun takkan tahu jawabnya.”

“Tapi kalo soal yang kayak gitu mana mungkin kucoba!”

Dan pembicaraan soal itu pun kami sudahi dengan itu.

Selagi kami melakukan pembicaraan yang sekilas terlihat seperti pertemuan untuk perayaan keberhasilan sekaligus evaluasi, fajar mulai menjelang, dan karenanya aku terlanjur mengantuk saat Oshino akhirnya kembali.

Dirinya mengenakan kemeja aloha miliknya yang biasa.

Sebagaimana yang sudah kukira, terlepas dari berapa banyak kemeja yang ia punya, desain dari semuanya, seakan-akan dengannya ia berusaha menyatakan keberpihakan politis, agak meracuni pikiran dengan warna-warnanya yang tajam.

Oshino tak membawa apa-apa saat aku menjumpainya di simpang tiga itu, tapi entah sejak kapan atau dari mana, kebutuhan-kebutuhan pokok harian Oshino nampaknya telah tercukupi—entah mengapa, dia jadi terkesan seperti orang yang sengaja sedang latihan berkemah.

“…Setelah kupikirkan sekarang, gaunmu sama sekali tak terlihat kotor ya?”

“Hm? Itu dikarenakan pakaian seorang vampir adalah bagian tubuhnya pula.”

Pertanyaan barusan ditanyakan oleh seseorang yang baru saja kehilangan lengan kiri kemejanya akibat Dramaturgie, dan tak bisa tak terkesan agak seperti penyanyi rock. Lalu demikian jawab Kiss-Shot yang mengenakan gaunnya yang biasa.

“Dramaturgie mengubah pakaiannya menjadi kabut juga, bukan?”

“Jadi seperti pedang-pedang melengkungnya itu, pakaiannya juga merupakan bagian dari badan?”

“Kalau harus beta nyatakan, pakaian Dramaturgie tampak berasal dari kekuatan penciptaan materi. Beta pula, seandainya dalam pertarungan, biasanya akan menggunakan pedang, namun berbeda dari Dramaturgie, pada saat-saat demikian, beta takkan gunakan kekuatan perubahan wujud, melainkan kekuatan penciptaan materi.”

“Itu luar biasa…”

Terus Hukum Kekekalan Energi dan Massa tahu-tahu saja hilang entah ke mana?

Yah, terserahlah.

Kalau memang hilang, ya memang hilang.

Dan pembicaraan tentangnya berakhir hanya sampai di sini.

“Met datang, Oshino.”

“Aku pulaa~ng.”

Oshino, melambaikan tngannya dengan santai, tengah membawa sebuah tas perjalanan—di dalam tas itu pastinya terdapat kaki kanan Kiss-Shot.

“Araragi, kerjamu bagus.”

“Ah, aku enggak perlu dipuji sampai segitunya.”

“Kamu bicara apa? Kamu sudah bertahan dan pantang menyerah. Aku mengawasimu dari jauh, makanya aku tahu.”

“…Benar?”

“Ya.” Oshino menganggukkan kepala. “Dan aku juga tahu bagaimana kau memaksa seorang gadis menunjukkan isi roknya kepadamu.”

“… …. …. …”

Aku jadi ingat soal bagaimana saat aku mengira Hanekawa sebagai Oshino tadi, aku sempat merasa sedikit senang, tapi sekarang kenyataan itu rasanya cuma membuatku malu.

Ternyata benar, dia benar-benar menyaksikan segalanya.

Seenggaknya, jangan membicarakannya di depan Kiss-Shot dong!

Dan jangan miringin kepalamu ke sisi seolah kamu enggak ngerti apapun yang aku maksud!

“Err, soal itu, Oshino…”

“Aah, tenang saja. Aku mengawasimu dari arah depan, jadi celana dalam gadis itu sama sekali enggak terlihat dari sisiku.”

“Bukan soal ituuu!”

“Kamu punya kenalan yang cantik. Teman sekelas?”

“Kelas kami berbeda. Tapi ya… dia seorang teman. Namanya Hanekawa Tsubasa. Ketua kelas dari semua ketua kelas.”

Itu yang kubilang.

Entah kenapa aku merasa agak malu saat mengatakannya sih.

Hmph, gumam Oshino, nampaknya tak untuk suatu alasan tertentu.

“Sebaiknya kau memberikan penjelasan yang bagus ke saksi matamu itu—gadis tadi benar-benar terlihat cerdas.”

“Aku sudah berniat begitu. Aku cuma enggak tahu cara mengatakannya harus gimana.”

“Kamu selalu bisa mengusir dan mengabaikannya.”

“Aku sudah mencoba. Itu gagal.”

“Yah, kalau yang kau hadapi perempuan, kamu hati-hati kayak gimanapun, itu kayak enggak akan pernah cukup.”

“Kalau soal itu, aku merasa itu enggak ada hubungannya soal apakah yang kita hadapin itu laki-laki atau perempuan.”

“Wah, wah. Enggak kusangka, selama ini kau enggak sadar diri rupanya. Tak seperti perempuan, laki-laki bahkan tak punya kemampuan buat bikin satu jenis dansa, bukan?”

“…Yah, kalau kamu ngatainnya begitu, kesannya cuma perempuan saja yang punya naluri buat jadi kreatif. Tapi memang bener kalo di pelajaran olahraga, cuma perempuan yang dapet creative dance sih.”

Rasanya menyebalkan bila kemampuan kreatif seseorang cuma diukur berdasarkan itu.

“Tapi Araragi, seandainya kehidupan sehari-hari kita ini diangkat menjadi anime, nanti yang memegang peran tokoh yang kewalahan karena enggak bisa ngikutin gerakan-gerakan dansanya itu pasti kamu, ‘kan?”

“Kenapa pula kehidupan sehari-hari kita mesti diangkat jadi anime!”

“Tapi Araragi, muka bagusmu saat menunjukkan reaksi kayak gitu enggak mungkin bisa ditunjukin kalo cuma diangkat sebagai Drama CD, tahu!”

“Jadi kehidupan sehari-hari kita ini sudah punya Drama CD?!”

“Bagaimanapun, yang terpenting adalah kita menikmati prosesnya. Seperti di tamatnya Mashin Hero Wataru.”

“Aku enggak ngerti! Itu sesuatu dari zaman berbeda!”

“Alasan! Pembuat ponselmu itu Kyocera, apa kamu bahkan sadar akan itu?”

“Jangan seenaknya bikin iklan enggak langsung!”

Mengesampingkan hal itu…

Sepertinya, bagaimanapun, bagi para murid lelaki, apa yang anak-anak perempuan lakukan dalam pelajaran creative dance akan selalu menjadi tanda tanya.

Jujur saja, aku bahkan tak bisa membayangkannya.

“Yah bagaimanapun, karena aku laki-laki juga, jujur saja, persisnya aku juga enggak tahu. Itu pasti semacam tarian enggak anggun yang enggak bisa diperlihatkan ke anak-anak laki-laki.”

“Uoooh! Tiba-tiba saja aku jadi semakin ingin tahu!”

“Kalau bukan itu, pasti enggak mungkin cuma dilakukan oleh cewek.”

“Hmm.”

Firasat ini agak salah.

Tapi bagaimanapun, kapanpun murid perempuan mendapat giliran olahraga dalam ruang dan melakukan creative dance, sudah bisa dipastikan para murid lelaki mendapat pelajaran di lapangan.

Mungkin karena alasan itu kita sengaja dipisahkan.

“Ah, hei Oshino, ngomong-ngomong soal sesuatu yang khusus perempuan, ada hal lain yang aku enggak pahamin yang ada kaitannya juga soal pelajaran olahraga. Ceritanya dulu waktu aku masih SMP, pas jam pelajaran kesehatan. Kadang-kadang, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan dapat materi pelajaran yang beda. Padahal itu sama-sama pelajaran dalam kelas ‘kan? Apa mungkin itu ada hubungannya dengan perbedaan kemampuan fisik kita secara alami? Di waktu itu, sebenarnya para cewek belajar apa?”

“Araragi, itu…”

Oshino tampak hendak mengatakan sesuatu.

Tapi seakan berubah pikiran, ia berdehem sekali, kemudian…

“…Itu aku juga tak tahu. Itu sesuatu yang bahkan akupun juga enggak tahu.”

“Hmm. Begitu ya.”

“Ya. Nanti pas kamu menjelaskan situasimu ke gadis bernama Hanekawa Tsubasa itu, bagaimana kalau kau sekalian juga bertanya soal hal itu? Dia pastinya akan menjawab ‘kan?”

“Oh, iya ya. Benar juga. Itu ide bagus.”

Sudah jelas.

Ini mungkin cuma imajinasiku, tapi pada saat yang sama, aku merasa ada sedikit aura jahat di waktu yang sama…

“Hei.” Pada titik ini, akhirnya, Kiss-Shot menyela. “Apa basa-basi kalian akhirnya usai?”

“Hm? Ah, haha, Heart-Under-Blade, senang melihatmu bersemangat sekali. Memangnya ada hal baik terjadi, ya? Eh, memang ada sih, satu…”

Oshino, sembari tertawa, kemudian membuka ritsleting dari tas perjalanan yang dibawanya.

Lalu ia merogoh ke dalamnya—

Kemudian, begitu saja, ia mengeluarkan kaki kanan Kiss-Shot.

“… … … …”

Kaki itu dimasukkan secara utuh ke dalam sana begitu saja.

Sama sekali tanpa wadah tambahan atau bahkan balutan kain; dengan kondisi begitu saja, kaki itu sebelumnya ada di sana.

Ini jadi terasa seperti adegan dari semacam kasus pembunuhan sadis.

Sebelah kaki dari seorang wanita dewasa.

Bentuknya luar biasa mulus—benar-benar kaki yang hebat.

Seperti yang sudah disangka dari kaki seorang vampir, tak ada pendarahan atau pembusukan yang terjadi—

“Seperti yang dijanjikan—dia benar-benar mengembalikannya.”

Dramaturgie.

Vampir yang juga menjadi seorang pembunuh vampir.

“Untuk urusan-urusan seperti inilah negosiator perlu ada. Akan jadi masalah bila tak ada sedikitpun rasa percaya sama sekali—sebuah hubungan yang dilandasi rasa saling percaya merupakan hal yang sangat penting, bukan? Sebab tanpa rasa percaya, negosiasi yang telah dilakukan takkan dapat terwujud. Pihak satunya mungkin terdiri atas para spesialis dalam hal pemusnahan vampir, tapi yang satu ini sepertinya memang profesional, jadi bila ada hutang, dia pasti akan melunasinya—Ini dia, Heart-Under-Blade.

Oshino dengan santainya menyerahkan kaki kanan itu ke Kiss-Shot.

Kiss-Shot mengambilnya.

Ini pemandangan yang agak aneh.

“…Tapi, memang kaki itu bakal kau pakai bagaimana? Kakimu yang sekarang ukurannya berbeda… Kau enggak akan bisa menggantinya begitu saja, ‘kan?”

“Akan beta pakai begini.” Katanya.

Kiss-Shot memegang kaki kanannya sendiri itu dengan kedua tangan. “Aam.” Lalu ia membuka lebar-lebar mulutnya dan kemudian mengigitnya.

Dan kemudian memakannya.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Daging dan tulangnya secara bersamaan.

“… … … … …”

Kau tak mungkin mengadaptasi adegan satu ini ke bentuk anime.

Sosok seorang gadis berusia sepuluh tahun yang melahap kaki kanan seorang perempuan dewasa.

Apalagi, terlihat seakan menikmati rasanya…

“Um?” Kiss-Shot tiba-tiba menghadap ke arah kami. “Tak selayaknya, kalian menonton, dasar cecunguk rendah. Tinggalkan beta di saat beta sedang menghidang. Tahu dirilah sedikit.”

“Ah, ya.”

Sekalipun tak disuruh, ini sama sekali bukanlah sesuatu yang mau aku lihat.

Tanpa menunggu diusir, aku dan Oshino keluar ruang kelas ke koridor, kemudian menutup pintunya di belakang kami.

Mungkin karena memang lucu, Oshino mengeluarkan tawa terkekeh.

Sedangkan aku hanya menghela nafas.

“…Ngomong-ngomong, Oshino, selagi Kiss-Shot makan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Hm? Apa?”

“Kalau kau menonton pertarunganku, semestinya kau sudah tahu. Lengan kiriku tadi sempat hancur diserang Dramaturgie—tapi enggak lama kemudian, lengan itu sudah pulih lagi. Kecepatan pemulihannya benar-benar sulit dipercaya. Tapi kalau begitu, kenapa kaki dan tangan Kiss-Shot juga tak ikut pulih sendiri?”

“Karena Heart-Under-Blade, pada waktu kau bertemu dengannya, telah terlanjur kehilangan sebagian besar keabadian yang dimilikinya sebagai vampir. Apa kau tak berpikir kalau alasannya itu?”

“Bukan, aku sudah memikirkannya kalau soal itu. Maksudnya, waktu tanganku sendiri terpotong sampai akhirnya pulih lagi, bagian tangan yang terpotong itu lenyap. Karenanya, aku mikir kalau tungkai-tungkai Kiss-Shot semestinya lenyap juga—tapi ini juga tak terjadi. Kenapa bisa begitu? Baik pemulihannya ataupun pelenyapannya sama-sama tak terjadi…”

“Gadis itu punya garis keturunan yang istimewa, Araragi.” Oshino berkata, tanpa berbasa-basi. “Kedua pasang tangan dan kaki gadis itu dengan tenang… dicuri oleh orang-orang itu, seakan mereka ingin memilikinya sendiri.”

“… … … …”

“Orang-orang itu membagi keseluruhan tubuh dan tungkai-tungkainya itu. Dengan kata lain, orang-orang itu, lebih dari sekedar tangan dan kakinya, juga mencuri inti dirinya sebagai vampir. Untuk alasan ini, keempat tungkainya itu takkan pulih sendiri ataupun lenyap. Faktanya, keempatnya bisa dibilang telah dibekukan. Dengan menekan pelenyapannya, kau bisa mencegah pemulihannya—bila memikirkannya seperti itu, sebagai langkah untuk memerangkap sang Penakluk Fenomena Ganjil, ini benar-benar siasat yang teramat efisien. … …Ada baiknya kau jaga diri juga kalau begitu.”

Oshino mengatakan itu dengan nada yang terdengar agak jahat.

“Dramaturgie nampaknya lebih suka kau menjadi rekannya, tapi Araragi, kau tetaplah bawahan Kiss-Shot. Tungkai-tungkaimu mungkin bisa dicuri juga, jadi kemungkinan kau sendiri yang mereka jadikan sasaran juga tetap ada.”

“Se-serius?”

“Haha! Apa kau tadi menanggapinya serius? Yah, mengingat yang barusan itu serangan khusus, aku tak bisa memakainya terlalu sering. Tenang saja, metode itu yang mereka pakai jarang-jarang dapat digunakan, dan lagipula, sepertinya mereka akan memerlukan tiga orang untuk bisa melaksanakannya. Tinggal dua dari mereka yang tersisa, jadi resikonya kurasa sudah tak ada lagi.”

“… … Lawanku berikutnya siapa?” Aku bertanya. “Episode atau Guillotine Cutter?”

“Merekalah yang menentukan urutannya, jadi aku belum bisa memberitahumu sekarang, tapi kurasa akan Episode. Dengan cara apapun aku ingin membereskan segala sesuatunya cepat, supaya kamu bisa kembali menjadi manusia sehari lebih awal.”

“Oshino.”

Sedikit terkesima, aku akhirnya menanyakan hal tersebut—sebelum aku membicarakannya dengan Hanekawa, sekedar untuk memastikan semuanya akan jelas.

“Apa… aku benar-benar akan bisa berubah jadi manusia kembali?”

“Kalau kau berhasil mengembalikan seluruh tungkai Heart-Under-Blade, maka pasti kau akan bisa. Bukannya dia sendiri bilang begitu?”

“Maksudku… apa enggak ada kemungkinan kalau Kiss-Shot sebenarnya berbohong? Demi mendapatkan kembali tungkai-tungkainya, maka dia berbohong?”

“Hei.”

Oshino mendorong kepalaku dengan ringan.

“Tak semestinya kau meragukannya sekarang ini. Bukannya sikap seperti itu menyedihkan?”

“…Tapi…”

“Bicara seperti itu soal orang yang telah menyelamatkan nyawamu, kau benar-benar tak tahu diri.”

Oshino…

Dia mengataiku itu tadi? Tak tahu diri?

Orang yang menyelamatkan nyawaku?

Aku adalah… bukan, Kiss-Shot adalah penyelamat nyawaku? Apa itu yang baru saja Oshino katakan?

“Whoa, muka macam apa itu, Araragi? Memangnya ada hal baik terjadi, ya?”

“… … Jangan bicara seolah kau memang ngerti apa yang kupikirin.”

“Tapi kau memang lagi mudah dibaca. Sudah jelas, kau mempertaruhkan nyawamu untuk kepentingan Kiss-Shot. Kau tawarkan lehermu untuk taringnya. Kupikir itu hal luar biasa. Tindakanmu benar-benar gagah berani. Tapi Araragi, membahas soal kenyataan yang memang terjadi, pada titik itu, semestinya kamu mati.”

Darahku dihisapnya.

Aku dihisapnya sampai cairan tubuhku tak lagi bersisa.

Pada titik itu, rupanya pastilah aku telah dibuatnya sekarat.

Salah. Pada titik itu malahan, aku bahkan sudah mati.

“Tapi, kamu kembali bangkit. Sebagai vampir. Kelangsungan hidupmu dibiarkan untuk terjaga.”

“Itu karena memang ada ketentuan kalau ada vampir mengisap darahmu, kau akan ikut jadi vampir tanpa kecuali, ‘kan? Memang pada akhirnya aku enggak dibuat sampai meninggal, tapi mengatai kalau nyawaku telah diselamatkannya…”

“Tanpa kecuali, kau bilang? Memang siapa yang bilang gitu?”

Oshino memperlihatkan seringai lebar.

Dirinya masih bersikap seolah tahu isi pikiranku.

Sikap seolah dirinya tahu segala kecemasan dan rasa curiga yang terkumpul di lubuk hatiku yang terdalam.

“Kiss-Shot yang bilang.” kataku.

“Cuma orang bersangkutan yang bilang? Apa kamu enggak mikir kalau ada kemungkinan yang bersangkutan itu justru malah bohong?”

“Enggak mungkin…”

Itu bohong?

Yang Kiss-Shot katakan itu justru bohong?

Tapi kalau begitu… buat apa dia harus bohong?

“Aku sejak awal memang tak berada di pihak Heart-Under-Blade, jadi biar kukatakan saja agar kau mengerti. Bila ada vampir yang menghisap darah manusia, ada dua pola yang akan terlihat. Satu, manusia tersebut menjadi makanan yang memenuhi kebutuhan gizinya. Dua, manusia tersebut dijadikannya bawahan yang akan menjadi pelayannya secara pribadi.”

Keduanya merupakan hal-hal yang sama sekali berbeda.

Demikian Oshino katakan dengan senyumannya yang biasa.

“Yah, untuk bisa mengubahnya menjadi bawahan, tetap ada gizi dalam jumlah tertentu yang harus dihisap sih. Singkatnya, seandainya dia mengisap darahmu dengan maksud untuk mencukupi kebutuhan gizinya pun, sekalipun pemulihan dirinya secara penuh menjadi suatu hal yang tak mungkin, dia tetap takkan kehilangan kekuatannya sampai sejauh itu.”

“Iya, tapi…”

Mungkin saja begitu.

Tapi, berkenaan hal ini, di bawah lampu jalan itu, memang itu yang Kiss-Shot katakan.

Tindakannya meminum porsi darahku—merupakan sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan darurat.

Sosoknya yang saat ini…

Penampilannya yang tampak seperti seorang gadis usia sepuluh tahun…

Apa bisa kubilang—tindakan yang diambilnya memang karena keadaan darurat?

Apa bisa kubilang—tindakan yang diambilnya memang semata karena ingin memulihkan gizinya?

Tampangnya seperti… anak yang lupa makan.

“Nampaknya, dirinya yang saat ini hanya punya kemampuan pemulihan diri. Seluruh kekuatannya telah dihabiskannya untuk mewujudkan tubuh itu. Kelihatannya, dirinya bahkan telah kehilangan kemampuan dasarnya untuk menghisap darah.”

“Eh? Serius?”

“Serius. Wujudnya yang sekarang ini adalah hasil dari sesuatu yang dilakukannya karena keadaan darurat. Dengan mengorbankan sejumlah kemampuan yang dia miliki, dia berhasil mempertahankan kekuatan hidup yang dia punya. Mempertimbangkan apa yang seharusnya masih bisa dilakukannya dalam keadaan sesudah mengalami empat kali amputasi, dirinya benar-benar kepayahan. Jujur saja, seandainya waktu itu dirinya menghisap darahmu untuk ‘makan’, keadaannya akan jauh lebih baik daripada keadaannya yang sekarang ini.”

“Jadi…”

Aku bercermin kembali lewat kata-kata Oshino.

Dengan pikiranku yang tak terlalu pintar ini, memaksakan kecerdasan yang tak benar-benar ada di sana, aku sekuat tenaga mencoba bercermin.

Aku berusaha melihatnya dengan cara yang masuk akal.

“… … Demi bisa mendapatkan kembali tungkai-tungkainya yang hilang, sekalipun itu berarti harus kehilangan sebagian besar kemampuannya—termasuk kemampuan untuk menghisap darah, apa memang ada suatu alasan yang mengharuskan dia buat mengubahku jadi bawahannya?”

“Enggak, enggak ada.”

Oshino melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan.

“Kalaupun ada, pastinya dia bakal bilang seandainya kau coba tanya. Tapi alasannya kurasa memang sesuatu yang baru dia putuskan belakangan. Heart-Under-Blade pada akhirnya tak sampai tega membunuhmu… kurasa.”

“… … …”

“Para vampir, terutama Heart-Under-Blade, sebenarnya tak suka menciptakan bawahan. Sekalipun mereka sekarat dan hampir mati, mereka takkan terdorong untuk mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menciptakan seorang bawahan. Heart-Under-Blade merupakan hati di bawah pedang. Dalam cerita-cerita yang kudengar, dirinya kelihatannya adalah seorang vampir yang teramat berbeda dibandingkan kaumnya yang lain. Dirinya sekarat, dan karena berupaya untuk tak membunuhmu, dirinya tak memiliki pilihan selain mengubahmu menjadi bawahannya.”

Penyelamat nyawa, ya.

Kalau dipandang dengan cara seperti itu, maka Kiss-Shot pastinya adalah penyelamat nyawaku.

Benar juga.

Sejak awal, tatkala Kiss-Shot memanggilku pada malam itu, dirinya tak perlu memiliki keinginan untuk mengubahku menjadi bawahannya.

Yang dia butuhkan cuma asupan gizi. Niatnya semula hanyalah untuk mendapatkan makanan.

Yang dilakukannya adalah tindakan darurat semata.

Namun begitu…

‘Terima kasih.’ Itu yang dia ucapkan.

Dia bilang itu padaku yang pada dasarnya tak berharga sebagai manusia.

Kepadaku, orang yang telah dengan sukarela menawarkan lehernya.

“Araragi, waktu kau terbangun di sini, Heart-Under-Blade sedang tidur juga di dekatmu kan? Dia pakai lenganmu sebagai bantal. Kau tak sadar sepanjang waktu itu dia terus menjagamu dengan penuh perhatian?”

“Maksudmu?”

“Karena resko untuk tiba-tiba mengamuk tanpa terkendali selalu ada pada mereka yang baru diubah menjadi vampir bawahan. Heart-Under-Blade nampaknya tak rela bila itu sampai kau alami. Mungkin lebih pas jika kubilang, dirinya sebenarnya mengawasimu. Dan ada itu juga… waktu sesudah itu, untuk menyelamatkanmu, yang dengan begonya malah munculin tubuh di bawah sinar matahari, dirinya tanpa ragu ikut menyusulmu dan menarikmu kembali dengan resiko ikut terbakar.”

Demikian, Oshino menambahkan.

“Mungkin perhatiannya terhadapmu tak lebih dari perhatian dari yang akan manusia berikan ke binatang peliharaan. Tapi setidaknya, kurasa, Heart-Under-Blade menaruh kepercayaannya kepadamu.”

“Kepercayaan, ya.”

“Makanya, kalau kau justru tak mempercayainya, bagiku itu menyedihkan. Bukannya sudah kubilang sebelumnya? Hal terpenting dalam sebuah hubungan adalah adanya rasa saling percaya. Araragi, jangan kuatir. Kau pasti nanti akan bisa kembali jadi manusia. Masalahnya kupikir justru sesudah itu.

“…Sesudah itu?”

“Jika kau mulai memandang dirimu sebagai ‘korban’ atau semacamnya. Bersikap seolah cuma kamu semata yang rugi dan lepas tanggung jawab dari semua yang terjadi—aku takkan tahan jika kau mulai melakukannya.”

Itu kata-kata yang keras.

Tapi aku juga terkesima karena hal tersebut ia ungkit.

“Bukannya aku mau menjilat, tapi aku sama sekali enggak pernah berpikir buat bersikap sebagai ‘korban’ di sini.”

“Kalau gitu, buatku, itu sudah cukup. Asal kau jangan lupa apa yang baru kau ucapkan, Araragi. Gimanapun dari sudut pandangku, kau masih terlalu dua puluh.”            *廿い ‘niju’*

“Dua puluh?”

“Ah, sori. Maksudku naif.”           *甘い ‘amai’*

Oshino meralat ucapannya sendiri.

Salah ngomong macam apa itu? Salah ngomong kayak gitu mestinya enggak mungkin terjadi.

“Soal kenapa fenomena ganjil ini bisa terjadi—maksudku dalam hal ini, kenapa kau, Araragi, bisa bertemu sesosok vampir—kurasa ada baiknya kau berpikir lebih dalam tentangnya.”

“Hah? Tapi, bukannya itu… karena kebetulan semata ‘kan?”

“Mungkin memang kebetulan. Tapi yang perlu kau sungguh-sungguh dalami adalah kenapa kebetulan seperti itu bisa terjadi. …Yah, buat sekarang, mungkin lebih baik kalau kau mikir soal bagaimana memperoleh tungkai-tungkainya Heart-Under-Blade kembali dulu. Aku tak punya keharusan apa-apa di sini buat mencemaskanmu, Araragi. Tapi caramu bertarung itu terus terang saja agak membuatku khawatir.”

“Habis… mau gimana lagi? Tapi sudahlah. Serahkan saja padaku.”

Mengesampingkan hal itu.

Jika sang spesialis Oshino sudah berkata begitu—aku beneran jadi mikir apakah aku benar-benar akan baik-baik saja.

Tapi benar juga sih.

Meski pembawaannya kayak gitu, kurasa memang benar bahwa Kiss-Shot memiliki rasa percayanya terhadapku. Dia memanggilku pelayannya, tapi itu karena dirinya berpikir kepada dirinya, aku berhutang nyawa.

Kalau kasusnya memang begitu, maka kurasa aku juga sebaiknya tak mengecewakannya.

Membalas kepercayaan dengan kepercayaan. Seperti itulah hubungan yang dilandasi oleh rasa percaya.

“Kurasa, mestinya dia sudah selesai makan sekarang.”

“Oh? Oya. Aku juga masih mesti tanya-tanya soal lawanku selanjutnya, Episode.”

Kami membuka pintunya dan kembali memasuki ruang kelas.

Benar juga. Wujud Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade telah berubah, dari seorang gadis kecil yang terlihat berusia sepuluh tahun, menjadi seorang gadis kecil yang kini terlihat berusia dua belas tahun.

Dia tumbuh.

Tanpa kami sadari, dirinya telah tumbuh sedemikian besar.

————————————————————

Catatan:

‘Keberpihakan politis’ saat Araragi membicarakan desain kemeja Oshino kayaknya agak mengacu gimana masyarakat terbagi ke dalam golongan-golongan dengan warna-warna kaos tertentu saat menjelang pemilu.

Soal creative dance ini, aku enggak ngerti sama sekali. Maaf. Semacam SKJ?

Anime ya anime (rasanya aneh bila kau baca ini tapi enggak tahu itu apa). Drama CD, bagi yang belum tahu, itu semacam sandiwara radio yang mengadopsi para tokoh suatu seri dalam cerita lepas, cuma dijual dalam bentu satu CD. Cuma suara dan bunyi. Biasanya cerita lepasan. Kadang disertai penjelasan teks dan ilustrasi di dalam kemasannya. Bila suatu seri manga atau novel populer, sebelum diangkat ke bentuk anime, kadang ‘dicoba’ dengan dijadikan drama CD dulu.

Mashin Hero Wataru, anime super robot buatan Sunrise keluaran pertengahan 1988. Tentang anak 9 tahun bernama Wataru yang dipanggil ke dunia Soukaizan untuk menyelamatkan dunia. Bergenre aksi petualangan dan komedi. Punya banyak elemen RPG di dalamnya. Sangat terkenal pada masanya. Tapi karena jadul, Araragi protes karena perumpamaan itu jadinya enggak bisa dipakai buat dia.

Kyocera, perusahaan yang awalnya bergulat di bidang material keramik tapi kemudian merambah ke bidang-bidang lain, termasuk telekomunikasi. Leluconnya di sini adalah Kyocera sudah berdiri lama (dari tahun 1959) dan jadinya juga merupakan sesuatu yang jadul.

“Jangan seenaknya bikin iklan enggak langsung!” Leluconnya di sini adalah Oshino seakan punya maksud (bisnis) terselubung dengan menyebutkan merk-merk tersebut.

Sejujurnya, ungkapan ‘hati di bawah pedang’ agak susah dijelasin. Tapi intinya itu kode etik yang mengutamakan harga diri dan pelunasan hutang budi daripada perasaan atau keinginan pribadi. Konteksnya sebenernya berhubungan dengan cara hidup seorang samurai atau ninja.

Maksud lelucon saat Oshino meralat ucapannya sendiri itu, kalau kau perhatiin jumlah garis yang dipakai untuk menyusun hurufnya, jelas itu lebih mungkin diakibatkan karena salah tulis daripada salah ucap.


About this entry