Catherine

Kesehatan agak terganggu, jadi belakangan enggak sempet nulis.

Tapi mengesampingkan itu, kayaknya aku masih belum juga cerita soal pengalamanku main Catherine.

Jadi ceritanya, sekitar pertengahan akhir tahun 2011 lalu, adikku secara agak mengejutkan membeli konsol PS3.

Trus, waktu itu aku mikir, konsol-konsol game makin canggih dan makin mahal harganya. Kayaknya ribet juga perawatannya. Lalu mengingat usiaku yang sudah dewasa, aku udah nyampe ke tingkat di mana aku udah segan meminta uang kepada orangtua. Jadinya, aku agak mempensiunkan karirku sebagai gamer dan maniak RPG agar waktuku bisa dipake buat hal-hal lain. Tapi adikku, singkatnya, sebagai bentuk hasil jerih payahnya juga, kemudian memperoleh konsol PS3. Yang enggak dimodif(!). Yang kemudian digunakannya untuk main Atelier Rorona. Kemudian dia mempersilakan aku buat main juga (mengingat dulu PS2 yang sering ia mainin adalah punyaku). Dan pada detik itu, aku mikir, ‘Man, rupanya aku memang udah ditakdirin buat main Catherine.’

Yah, kurang lebih gitu.

Heichi Di

Catherine adalah game keluaran Atlus untuk konsol PS3 dan X360. Pertama diumumkan pada tahun… berapa ya? Lumayan lama. Kurasa tahun 2009. Dan pengumumannya langsung menarik perhatian karena menjadi game HD pertama yang dibuat oleh Tim Persona-nya Atlus, yang sebelumnya dikenal telah mengembangkan dua hit Persona 3 dan Persona 4. …Oke, sensasinya sebenarnya lebih karena pernyataan bahwa game-nya bernuansa dewasa sih. Dan sebenarnya, huruf ‘d’ di pengumuman HD itu sengaja dikecilkan untuk mempertegas nuansa dewasa tersebut.

Produsernya adalah Katsura Hashino, dengan musik bernuansa modern yang ditangani Shoji Meguro, serta desain karakter buatan Shigenori Soejima. Ya, ini tim yang sama yang dulu menjadikan Persona 3 dan Persona 4 ngehit. Dan karena untuk sesekalinya aku membeli game orisinil semenjak zaman SNES dulu, ada kepuasan tersendiri saat membaca komentar-komentar mereka di buklet yang disertakan dalam kemasan game ini.

Aku dalam sekejap langsung tertarik akan Catherine karena seperti halnya sebuah game kembangan Atlus, ini nampaknya akan jadi sesuatu yang ‘lain’ dari yang biasanya ada. Jadi bukan, bukan karena aku kesengsem oleh desain karakternya  atau apa kok. …Oke, itu agak bohong. Tapi INTINYA, aku pribadi dulu berjanji bahwa sampai seenggaknya Persona 5 diumumin, baru aku akan memutuskan untuk mempunyai PS3. Dan makanya, meski sangat tertarik, aku enggak banyak menaruh harapan akan bisa memainkan Catherine. Tapi adikku kemudian memperoleh konsol itu dan… yah, kau tahulah.

Soal game-nya sendiri, hmm, singkat kata, Catherine beneran game yang aneh.

Atlus pada awal-awal banyak menggoda kita dengan gambar-gambar desain karakternya yang provokatif, dan teramat mengesankan kalau ini game mesum. Tapi enggak, ini bukan simulasi kencan. Ini semacam ‘puzzle-platformer survival horror‘ yang beneran agak sulit digambarkan. Walau demikian, aspek ceritanya sendiri dan sejenis ‘simulasi kehidupan’ seperti yang Persona 3 dan Persona 4 tawarkan tetap memegang peranan penting.

Sebagai catatan, ya, Catherine tak bisa dikatakan merupakan RPG.

Saat Kau Tiba di Persimpangan Hidup

Berlatar di sebuah kota di Amerika kontemporer, tokoh utama Catherine adalah seorang pemuda–semacam programmer, system analyst–berusia 32 tahun bernama Vincent Brooks. Meski pada dasarnya dirinya pria baik-baik, Vincent mempunyai masalah dalam hal komitmen dan motivasi hidup. Dirinya tak punya ambisi untuk meraih lebih dari apa yang telah dia miliki, dan dirinya juga kayak menunda-nunda bila ditanya soal kelanjutan hubungannya dengan pacar sekaligus teman masa kecilnya semenjak lama, Katherine McBride.

Konflik dimulai saat Katherine–desainer muda menarik yang dewasa dan berkomitmen pada pekerjaannya–dalam salah satu kencan mereka, mengakui pada Vincent kalau belakangan, ada tanda-tanda kalau dirinya sepertinya hamil (ingat, ini Amerika). Di sisi lain, orangtuanya dengan resah sering bertanya padanya soal kapan hubungannya dengan Vincent akan dibawa ke jenjang lebih lanjut.

Vincent, singkat cerita, syok dengan pengakuan ini. Lalu dirinya serta merta galau karena merasa dirinya masih belum memiliki cukup kesiapan untuk bertanggung jawab membangun keluarga sebagai suami, apalagi ayah.

Pada saat yang sama, serangkaian kasus kematian aneh rupanya kerap terjadi di kota. Pemuda-pemuda seusia Vincent kerap ditemukan meninggal dunia di tempat tidur mereka, dengan postur dan ekspresi wajah aneh seakan mereka dihadapkan dengan sesuatu yang mengerikan. Vincent dan kawan-kawan dekatnya yang kerap berkumpul di bar Stray Sheep–duda cerai Orlando Haddick yang juga rekan kerja Vincent; sales mobil Jonathan “Jonny” Ariga yang lajang, keren, tapi punya standar ideal tentang pernikahan; serta Tobias “Toby” Nebbins yang masih muda, idealis tentang cinta, dan menjadi kolega Jonny–semula tak terlalu mempermasalahkan rangkaian kasus aneh ini dan lebih membahas dilema Vincent. Sampai Jonny kemudian menyebutkan bahwa korban terkini dari kasus misterius itu, gosipnya, adalah salah satu kawan lama mereka; dan Erica Anderson, si gadis pelayan bar yang akrab dengan mereka, juga menuturkan soal merebaknya sebuah rumor aneh tentang ‘mimpi jatuh,’ yang bila dari dalamnya orang bersangkutan tak terbangun, maka dirinya akan mati…

Pada malam yang sama, sesudah kawan-kawannya pulang, dan Vincent benar-benar berusaha mabuk demi melupakan pembicaraannya dengan Katherine, muncul seorang gadis muda pirang seksi imut usia dua puluhan tahun yang sangaaat sesuai tipe Vincent yang kemudian mendekati Vincent di bar. Vincent sudah terlalu mabuk untuk mengingat detilnya. Ia jelas-jelas mengalami mimpi buruk yang sangat aneh pada malam harinya. Tapi pada saat ia terbangun di kamar tidur apartemennya keesokan hari, Vincent mendapati gadis asing itu sudah berada dalam keadaan telanjang di sisinya di tempat tidur, dengan dirinya sendiri juga berada dalam keadaan telanjang, tapi sama sekali tanpa dapat mengingat sedikitpun dari apa yang telah terjadi di antara mereka.

Sehingga dengan syok dan frustrasi Vincent menyadari, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, sepertinya dirinya telah berselingkuh. Parahnya, persis di hari ketika Katherine justru menyatakan dirinya hamil. Sementara gadis asing itu (yang untuk seterusnya secara terang-terangan terus membayang-bayangi dan menyatakan cintanya pada Vincent) secara serta merta memperkenalkan dirinya sebagai Catherine

Mimpi-mimpi Biri-biri

Porsi utama permainan Catherine terdiri atas dua bagian.

Pertama, yang paling utama, yakni sesi-sesi mimpi Vincent. Jadi ya, pada malam ia pertama bertemu Catherine, Vincent mulai mengalami mimpi-mimpi aneh yang tentunya berkaitan dengan rangkaian kasus kematian misterius itu, yang tentunya juga berhubungan dengan rumor yang Erica bilang soal mimpi yang di dalamnya orang jatuh. Mimpi-mimpi aneh itu sialnya, tak pernah bisa diingatnya setiap kali ia bangun. Meski begitu, ada jejak-jejak kengerian yang tertinggal akibat mimpi-mimpi itu, serta rasa lelah akibat tubuhnya yang sama sekali tak mendapat porsi istirahat. Selama sekitar seminggu, mimpi-mimpi buruk ini akan harus Vincent lalui. Tapi lebih banyak soal itu akan kuterangkan di bawah.

Kedua, pada sesi-sesi saat Vincent berkumpul di bar Stray Sheep bersama teman-temannya sepulang kerja. Di sini Vincent bisa mengobrol dengan para pengunjung lainnya, mengobrol dengan teman-temannya, memainkan game arcade aneh bernama Rapunzel, mendengar sedikit banyak tentang apa-apa yang terjadi dalam kehidupan, dan sebagainya. Walau terkesan minor, sesi ini memiliki peranan lumayan besar dalam cerita, dan apa-apa yang kita lakukan secara langsung maupun enggak akan membentuk kepribadian Vincent dan menentukan tamat yang akan ia dapatkan di akhir permainan.

Kembali bicara soal mimpi, Vincent selama semingguan itu akan bermimpi menjadi domba humanoid yang harus memanjati sebuah dinding yang tersusun atas kubus-kubus besar yang dapat ia gerakkan. Bersamanya, turut memanjat pula domba-domba (jantan) lain. Bila tidak memanjat, maka yang bersangkutan akan ‘tertelan’ oleh bagian bawah dinding tersebut yang secara berkala terus ‘terkikis’ sampai hancur, dan akan terjatuh ke dalam kegelapan tak berdasar. Tak dinyana, mereka yang terjatuh ke kegelapan itu tak lain adalah pria-pria muda yang menjadi korban rangkaian kematian misterius itu.

Sesudah berakhirnya satu mimpi, Vincent akan terbangun di awal hari baru. Lalu akan ada cutscene yang menjabarkan perkembangan cerita dalam satu hari itu. Kemudian malam akan tiba, kita berada di Stray Sheep lagi. Kemudian Vincent akan pulang dan akan kembali bermimpi tentang pengalaman memanjat serupa sebagai domba. Demikian seterusnya hingga malam yang terakhir.

Soal sesi-sesi memanjat dalam mimpi ini, agak susah menjelaskannya tanpa gambar atau video. Intinya: ada dinding raksasa yang tersusun atas kubus-kubus. Vincent hanya bisa memanjat kubus-kubus tersebut satu demi satu. Jadi dengan menarik dan mendorong kubus-kubus itu satu per satu pula, dia (dan para domba lainnya) sedemikian rupa mesti ngebentuk dari tumpukan kubus tersebut jadi semacam anak tangga dan kemudian memanjatinya sampai ke puncak. Cuma, ada hukum fisika aneh yang mengikat kubus-kubus ini: asal tepi-tepinya masih bersambungan sedikit saja dengan kubus yang menumpu di bawahnya, maka kubus bersangkutan takkan jatuh. Jadi secara aneh kayak mengapung di udara gitu. Dan hal yang sekilas terdengar sederhana ini yang ternyata membuat gameplay platforming dari Catherine secara enggak terduga jadi benar-benar dalem. Soalnya menggerakkan kubus-kubus tersebut secara seenaknya bisa tiba-tiba meruntuhkan/mengacaukan tumpukan kubus di atasnya, dan menghilangkan kesempatan kita untuk memanjatnya sama sekali.

Salah seorang dari domba-domba yang Vincent temui ini (yang enggak lama kemudian Vincent sadari adalah manusia juga, sebab di mata para domba lainnya, dirinya pun terlihat seperti domba), yang kemudian ia ketahui bernama Steve, membimbingnya di tahap-tahap awal pemanjatan ini. Seiring perkembangan cerita, tantangan yang dihadapi dalam memanjat bertambah susah. Mulai dari kubus-kubus yang lebih berat dan susah digerakkan dibanding yang biasa, kubus-kubus rapuh yang hanya bisa kita injak beberapa kali, kubus-kubus jebakan yang bisa membunuh, serta kubus-kubus es yang licin dan tak terduga.

Pada beberapa landasan yang bisa dijadikan tempat istirahat, para domba bisa mengobrol dan bertukar informasi soal apa-apa yang mereka ketahui tentang situasi mereka dan teknik-teknik memanjat. Di landasan-landasan ini pula, para domba juga mesti memasuki semacam confessional booth yang diurusi semacam sosok misterius yang berusaha mengungkap keburukan-keburukan mereka dalam menjalin hubungan. Sesudahnya, sesi mimpi dalam satu malam itu biasanya baru berakhir tatkala kita berhadapan dengan suatu karakter boss mengerikan yang secara konstan akan mencoba membunuh kita selagi memanjat.

Kualitas visualnya cukup mengesankan untuk memberikan boss-boss ini kesan yang bikin kita pengen ngomong ‘omaigat!’

Seiring perkembangan cerita pula, Vincent mulai menyadari bahwa domba-domba yang ditemuinya ini bisa jadi adalah orang-orang yang ditemuinya di dunia nyata. Dan bagian kerennya, dengan memahami masalah mereka, kita jadi merasakan semacam sensasi persaudaraan dengan mereka, sebagai rekan perjuangan. Dan jadinya, game ini beneran membangkitkan sejumlah emosi yang terasa pribadi gitu. Beneran agak mempertanyakan kembali cara pandang kita terhadap sikap yang kita pegang terhadap hidup dan hubungan dengan orang lain. Belum lagi saat kita mulai ngerti siapa identitas domba–domba ini di dunia nyata. (Identitas asli Steve terutama, menjadi titik balik yang mengubah pendirian Vincent.)

Barisan Semut Memanjat…

Yah, aku enggak akan bicara banyak soal aspek presentasinya. Mungkin karena game-nya sendiri enggak terlalu panjang, aspek presentasinya beneran dibikin secara optimal. Aku agak aneh karena pada sesi-sesi mimpi, musik upbeat modern yang mewarnai sesi-sesi dunia nyatanya digantikan dengan musik-musik klasik yang telah di-remix. Tapi hasilnya keren kok. Lalu visualnya, model para karakternya beneran keren dan keliatan hidup. Ada beberapa cutscene animasi halus yang kualiasnya nyaris disetarai oleh event-event biasanya sendiri. Buat versi bahasa Inggris-nya, aku beneran kagum dengan kualitas pengisi suaranya.

Game ini terus terang aja, susah. Versi bahasa Inggrisnya lebih gampang dibandingkan versi Jepang-nya, karena di tingkat kesulitan normal, fitur undo jadi dibolehin. Tapi kalo kau mainin game ini di tingkat kesulitan yang semestinya, yakni hard, game ini bisa jadi mimpi buruk dan ampe beneran kebawa mimpi. Apalagi dengan adegan-adegan kematian yang lumayan eksplisit, dengan darah dan daging para domba bercipratan. Damn, susah ngejelasin sensasinya itu persisnya gimana. Soalnya, perasaan memanjat dengan dikejar waktu gitu, sementara sel-sel otak kamu kerja mikirin cara soal apa selanjutnya yang bisa kamu lakuin buat naik ke atas, ini konsep yang beneran simpel tapi anehnya baru kegali di game ini.

Meski pendek, ceritanya sendiri–mungkin karena mengangkat hal-hal yang agak bersifat pribadi–beneran berkesan. Tertebak, tapi bukan dengan cara yang semula kau sangka gitu. Sebab tetap ada beberapa bagian cerita yang perkembangannya agak sulit kau percaya (seperti soal identitas sesungguhnya dari Trish, sang Midnight Venus, dan Erica, misalnya). Dan yang pasti, nuansa kehidupan orang dewasanya beneran kental. Lalu sisi yang ngejabarin soal seksnya itu sebenernya sama sekali enggak berlebihan kok. Malah jinak?

Di samping mode permainan utama, ada juga mode permainan ‘panjat bebas’ Babel di mana kita hanya harus memanjat setinggi mungkin dengan tiga tingkat kesulitan berbeda. Mode permainan ini baru akan terkuak sesudah kita mendapatkan beberapa ‘piala emas’ sebagai bukti kehebatan kita di beberapa tingkat di permainan utama. Mereka yang memainkan versi Amerika game ini bisa mencicipi sisi sadis game ini dengan menantang mode permainan itu. Lupa kubilang, demi mendapatkan piala emas itu, setiap tingkat permainan yang sudah kita taklukkan sebelumnya akan bisa kita mainkan lagi.

Oh ya. Terus game Rapunzel yang sebelumnya kusebutkan itu, itu minigame yang beneran gila.

Hal yang sebenarnya menggangguku waktu aku berhasil menamatkan game ini untuk pertama kali adalah kenyataan bahwa aku enggak dapet tamat di mana Vincent berakhir dengan Katherine maupun Catherine. Yea, ada beberapa bad ending di mana meski Vincent berhasil ngelewatin minggu panjang itu dengan selamat, hubungannya tetap berakhir gagal dengan keduanya. Tapi yang kudapat tak lain adalah neutral ending yang konon paling susah didapet, karena kita mesti benar-benar menyeimbangkan parameter order dan chaos yang diperhitungkan dalam setiap pilihan game ini. Tamat ini keren sih, di mana Vincent berubah jadi orang yang tahu hidupnya mau ia apakan dan malah berhasil menggapai impiannya. Tapi, mungkin karena di usia segini aku masih belum nikah, aku secara bawah sadar sebenernya ngeharapin semacam ‘sesuatu’, dan jadinya ngerasa agak gimana gitu.

Tapi waktu aku menceritakan soal ini ke temanku, dia bilang, “Mungkin itu berarti cewek yang pantes buat kamu emang bukan salah satu dari keduanya.”

Dan sekejap itu juga, kekecewaanku agak langsung terobati.


About this entry