After War Gundam X

Mungkin udah waktunya aku bicara secara khusus soal After War Gundam X.

Alasan aku membahas seri ini mungkin karena belakangan aku sering berdebat ama beberapa orang tentang kualitas menyeluruh Gundam AGE. Tapi sudahlah. Itu soal lain.

Gundam X (atau juga dikenal sebagai Kidou Shin Seiki Gundam X, New Mobile Century Gundam X) keluar pada pertengahan awal tahun 1996, mengikuti kesuksesan seri Gundam Wing yang keluar setahun sebelumnya (setelah kupikir sekarang, ini satu lagi seri Gundam yang belum kubahas). Gundam Wing waktu itu sangaaat meledak, dan nampaknya seri ini dari berbagai segi diharapkan dapat menyamai kesuksesannya. Tapi… seri ini akhirnya dipotong durasinya dari yang semula direncanakan 49 episode menjadi 39. Diduga karena masalah rating pemirsa. Tapi tak pernah benar-benar ada kejelasan yang benar-benar pasti soal ini. (Kemungkinan lainnya: rendahnya angka penjualan merchandise, serta kejenuhan pemirsa terhadap penayangan seri Gundam selama empat tahun berturut-turut.)

Meski mengangkat tema seputar kaum Newtype sebagai bahasan utamanya, seri ini berada pada kontinuitas cerita yang berbeda dari seri-seri Gundam era UC. Dengan demikian, seri ini menjadi seri Gundam alternate universe (AU) ketiga yang Sunrise buat. Sutradaranya sendiri adalah Shinji Takamatsu (yang sebelumnya menyutradari beberapa anime di seri Yuusha, tapi kini mungkin lebih dikenal sebagai sutradara School Rumble, Gintama, serta Danshi Koukousei wa Nichijou).

Nama penanggalannya adalah After War (AW), yang dimulai semenjak peperangan besar terakhir antara pihak New United Nations Earth (‘PBB baru Bumi’) dan pihak Space Revolutionary Army (‘Pasukan Revolusi Luar Angkasa’). Peperangan ini berakhir dengan dijatuhkannya puluhan koloni luar angkasa ke Bumi, konon mengakibatkan musnahnya sekitar 99% populasi umat manusia. Kisah utama seri ini sendiri dimulai pada tahun AW 0015, lima belas tahun sesudah tragedi tersebut, tatkala umat manusia baru mulai bangkit untuk membangun kembali peradaban yang sempat musnah…

Mimpi-mimpi Tentang Rembulan

Di zaman After War yang keras dan liar, ada orang-orang tertentu yang disebut Vulture. Mereka pada dasarnya merupakan kelompok-kelompok pemulung yang menggali dan mengumpulkan sisa-sisa teknologi dari peradaban sebelum berakhirnya perang untuk diperbaiki dan dijual, dengan sebagian di antara mereka takkan segan merampas dari yang lain.

Gundam X dimulai dengan pertemuan pertama antara seorang remaja yatim piatu penuh semangat bernama Garrod Ran, dengan seorang gadis pendiam tertutup yang misterius, Tiffa Adill. Garrod, yang meski sangat muda, memiliki keterampilan untuk menangani mobile suit, ditugaskan oleh seorang klien misterius untuk ‘membebaskan’ Tiffa dari tawanan sekelompok Vulture pimpinan Jamil Neate yang menggunakan kapal darat Freeden.

Garrod berhasil menyusup ke Freeden pada saat kapal tersebut transit untuk mengisi air. Ia berhasil pula menemukan Tiffa. Lalu meski agak dibingungkan oleh perkataan Tiffa soal bagaimana ‘ia telah menunggu kedatangannya’, Garrod berhasil pula membawa Tiffa kembali ke kliennya. Tapi segera ia dibingungkan oleh reaksi Tiffa, karena Tiffa rupanya adalah seorang Newtype—jenis manusia baru yang pada peperangan sebelumnya dipergunakan sebagai senjata—dan dengan kekuatan Newtype yang dimilikinya, Tiffa dapat merasakan niat buruk yang dimiliki klien Garrod tersebut.

Garrod dengan nekat memutuskan untuk sekali lagi melarikan Tiffa. Dan dalam pelarian mereka, Tiffa secara naluriah membimbing Garrod ke sebuah pangkalan UNE terbengkalai yang ternyata menyimpan sebuah unit Gundam X yang masih bekerja.  Meski selama ini enggan memiloti MS, Garrod akhirnya mengemudikan Gundam X tersebut untuk mempertahankan dirinya dan Tiffa.

Saat terdesak oleh para pengejar mereka, Tiffa kemudian melakukan sesuatu yang ternyata mengaktifkan senjata mengerikan yang Gundam X miliki: Satellite Cannon yang ditenagai gelombang mikro dari bulan, yang dengan kekuatan penghancurnya yang teramat dahsyat, ternyata merupakan pemicu dari tragedi kemanusiaan berskala besar yang terjadi lima belas tahun silam…

Cakrawala Berwarna Perak

Kelompok Jamil berhasil mengejar dan melumpuhkan Garrod dengan mengandalkan dua pengawal bayaran mereka: Witz Sou yang berdarah panas dan mengemudikan Gundam Airmaster; dan si playboy Roybea Loy yang mengemudikan Gundam Leopard. Garrod yang terpukau oleh besarnya skala kehancuran yang Gundam X ciptakan tak memiliki pilihan selain menyerah. Terlebih tatkala Tiffa yang terguncang tiba-tiba saja menjerit histeris dan akhirnya pingsan karena syok.

Kepada Garrod yang kebingungan, Jamil kemudian menjelaskan segala sesuatu kepadanya. Soal siapa Tiffa dan apa kemampuannya, soal bagaimana ia sebelumnya bertindak sepenuhnya mengikuti nalurinya, sehingga ia sama sekali tak memiliki bayangan akan mimpi buruk yang Gundam X dapat ciptakan. Kematian orang-orang yang mengejar Garrod rupanya dirasakan secara langsung oleh Tiffa, dan itulah yang menyebabkannya pingsan. Dan alasan Jamil mengetahui semua itu tak lain karena dirinya dulu juga adalah seorang Newtype, dan lima belas tahun silam ternyata dirinyalah yang menjadi pilot Gundam X dalam peperangan terakhir! Dirinya yang waktu itu rupanya menarik pelatuk yang mengubah nasib seluruh manusia di Bumi.

Seusai perang, Jamil kehilangan sebagian besar kekuatan Newtype-nya dan sebagai akibat traumanya, mengalami fobia terhadap kokpit MS. Mempertanyakan kembali makna segala pengorbanan dan perjuangannya, Jamil pun memutuskan untuk melakukan perjalanan demi melacak dan mengumpulkan para Newtype tersisa, agar mereka dapat ia lindungi dan tak lagi disalahgunakan untuk kepentingan perang.

Namun setelah pencarian sekian lama, baru Tiffa semata Newtype yang berhasil ia temukan. Itupun sesudah ia dan kawan-kawannya mempertaruhkan nyawa untuk membebaskannya dari sebuah kelompok bernama Alternative Company, sampai Garrod berupaya meloloskannya tak lama kemudian.

Pihak Alternative Company tak mendiamkan mereka begitu saja. Ada dua bersaudara misterius, Shagia Frost dan Olba Frost, masing-masing dengan menggunakan Gundam Virsago dan Gundam Ashtaron, yang kemudian hadir untuk mewakili kepentingan mereka(?).

Di penghujung segala konflik yang terjadi, Garrod yang menjadi tahanan di Freeden menyatakan bahwa dirinya tak mungkin begitu saja meninggalkan Tiffa karena dirinya terlanjur suka padanya. Diyakinkan oleh kebulatan tekad Garrod, Jamil memutuskan untuk mempercayakan kepemilikan Gundam X yang dulu pernah ditinggalkannya kepada Garrod.

Resolusi

Walau aku menceritakannya seperti di atas, dan kenyataannya memang lumayan banyak diselingi aksi, cerita Gundam X sebenarnya bernuansa melankolis dan sayangnya tak benar-benar disampaikan secara efektif. Di awal cerita saja, kita sudah disuguhi berbagai konflik karakter dan adegan pengkhianatan sebelum kita benar-benar memahami apa yang terjadi. Jadinya, kita tak terlalu bisa langsung ‘masuk ke cerita’ di awal-awal.

Bagian tentang masa lalu Jamil di atas, misalnya. Itu sesuatu yang sebelumnya ternyata baru dibeberkan kepada awak-awak kapalnya sendiri pada saat yang sama kita sebagai penonton tahu. Itu juga pas kita masih belum memahami Jamil dan awak-awak kapal Freeden itu sebenarnya siapa, dan juga mungkin bahkan belum mengerti kalau Witz dan Roybea hanyalah rekanan sewaan, yang saat itu ada semata karena baru dibayar Jamil untuk membantunya dalam penyerangan ke Alternative Company. Makanya ada sebagian penonton yang mungkin bingung soal mengapa keduanya ingin ‘keluar’ dari pekerjaan saat latar belakang penyerangan yang Frost bersaudara lakukan terungkap.

Namun meski segalanya begitu in medias res, konsep ceritanya sendiri memang menarik kok.

Gundam X juga memiliki karakter-karakter awak kapal yang relatif paling dikenal di antara seri-seri Gundam lainnya. Ada dokter piawai Techs Farzenbarg yang menangani perawatan Tiffa; Kid Salsamille, mekanik jenius yang bahkan lebih muda dari Garrod; Sala Tyrrell, wakil Jamill yang dewasa dan keras, sekaligus penanggung jawab sensor dan hangar; Toniya Malme, petugas komunikasi yang terbuka dan persolek; serta Shingo Mori, pemegang kemudi utama Freeden yang ramah dan serba bisa.

Walau karakterisasi mereka tak bisa dibilang istimewa, rekan-rekan Jamil di Freeden menonjol karena sebagian porsi cerita memang seputar mereka. Techs menjadi satu-satunya tokoh yang memahami beban masa lalu Jamil. Witz yang kurang pandai membawa diri memiliki beban keluarga dan kampung halaman yang ingin bisa ia hidupi. Roybea sebenarnya dihantui kenangan akan mendiang cinta sejatinya, dan merasa bisa menemukan pengganti pada diri Sala. Namun Sala sendiri dilanda perasaan berkecamuk terkait perhatiannya kepada Jamil yang mungkin tak berbalas. Toniya tanpa disadarinya menjalin hubungan persahabatan dengan Ennil El, seorang pemburu hadiah wanita yang menjadi terobsesi pada Freeden karena merasa pernah disakiti Garrod. Lalu tentunya ada perkembangan hubungan antara Garrod dan Tiffa, serta bagaimana mereka berusaha menempatkan diri dalam lingkungan baru mereka.

Orang-orang yang sama-sama menanggung bekas luka mereka sendiri akibat perang ini menjadi fokus utama (meski mungkin dengan cara agak berlebih) dari Gundam X, selagi mereka melakukan perjalanan mengelilingi dunia demi menelusuri jejak-jejak Newtype yang Jamil cari. Sepanjang perjalanan, mereka terus dibayang-bayangi oleh kekejaman Frost Bersaudara, yang nampaknya memiliki kepentingan mereka sendiri terhadap ideologi Newtype, teknologi Gundam X, serta perang dunia baru yang kini tampak di depan mata.

‘Kau yang tarik pelatuknya.’

Mungkin memang masalah tempo ceritanya yang terlalu lambat di awal-awal. Tapi jujur, Gundam X baru mulai bisa dibilang seru di sekitar episode 20an. Adegan-adegan melankolis pada pengenalan tokoh-tokohnya menurutku kurang dilandasi latar yang kuat, dan ini jadinya sangat… entah ya? Pokoknya, teramat kontras dengan Gundam Wing yang bertempo sangat cepat. Barulah sekitar episode 20an itu, kita memiliki gambaran yang utuh tentang dunianya, dan plotnya secara menyeluruh mulai bergerak. Cuma sayang sekali pemotongan jumlah episodenya itu jadi menyakiti potensi yang masih dimilikinya. Aku terus terang jadi bertanya-tanya soal apakah sesuatu terjadi di awal-awal proses produksi.

Bicara soal potensinya sendiri, visualnya sebenarnya menonjol dengan desain karakter dan desain mecha yang lumayan menarik perhatian. Tungkai-tungkai mereka secara proporsional digambarkan agak menggembung, menghasilkan kesan kekar. Lalu kalian yang suka memainkan game-game SRW atau Gundam: G Generation mungkin juga merasa kalau MS-MS dari Gundam X relatif lebih menonjol parameter kekuatannya dibandingkan MS-MS dari seri Gundam lain.

Terlepas dari Satellite Cannon yang dimilikinya—yang meski berkekuatan sangat besar, memerlukan waktu untuk pengisian tenaga, serta keharusan tampaknya bulan di langit, yang darinya berkat akses kekuatan Newtype gelombang mikro yang akan mengisi tenaga pada reseptor di punggung Gundam X akan terpancar—Gundam X merupakan MS berkekuatan seimbang dengan parameter di atas rata-rata. Memiliki persenjataan standar dengan beam rifle dan beam sabre. Namun kelak untuk mengatasi kelemahan dari Satellite Cannon, Gundam X akan di-upgrade menjadi Gundam X Divider yang dilengkapi harmonica cannon yang sangat fleksibel.

Gundam Airmaster milik Witz dapat berubah bentuk menjadi pesawat jet dan memiliki senjata utama sepasang beam cannon kembar. Gundam Leopard milik Roybea dispesialisasi secara khusus untuk pertempuran darat, memiliki pergerakan cepat, dan dilengkapi artileri berat berupa  misil dan senapan mesin (agak seperti Gundam Heavyarms di Gundam Wing). Pada kesempatan berbeda, keduanya akan di-upgrade ke versi yang lebih kuat, yakni Gundam Airmaster Burst serta Gundam Leopard Destroy; yang mempertahankan karakteristik dasar keduanya namun dengan persenjataan dan daya tahan lebih besar.

Ketiga Gundam di atas merupakan peninggalan dari zaman perang dan sebenarnya dilengkapi dengan teknologi flash system, yang memungkinkan pilot Newtype mengakses persenjataan G-Bit, persenjataan bit yang berbentuk MS. Namun karena sifat destruktif yang persenjataan G-Bit punyai, sepertinya tak mengherankan jika sistem tersebut tak pernah dimanfaatkan oleh Garrod dan kawan-kawan.

Ketiga jenis Gundam di atas dikisahkan juga dapat bergabung dengan pesawat G-Falcon, satu lagi peninggalan dari zaman perang yang memungkinkan penerbangan dan peningkatan mobilitas secara drastis. G-Falcon dikemudikan oleh Pearla Cis, seorang gadis dari kelompok pemberontak Satyricon yang menentang dominasi SRA di koloni-koloni luar angkasa, dan di penghujung cerita kelak menjadi partner Garrod.

Dikembangkan oleh New UNE, Gundam Virsago dan Gundam Ashtaron—yang sama-sama dapat berubah ke bentuk MA—sama-sama terkesan bagaikan monster. Gundam Virsago yang sangat berbahaya dilengkapi meriam megasonik yang kekuatannya hanya tertandingi oleh Satellite Cannon. Sedangkan Gundam Ashtaron memulai tren senjata-senjata lengan capit/gunting pada desain MS, kokoh namun cepat di segala medan, dan dilengkapi dengan beam cannon. Keduanya di penghujung cerita juga mendapat upgrade ke bentuk Gundam Virsago Chest Break (setelah bentuk mulanya diluluhlantakkan Jamil) serta ke bentuk Gundam Ashtaron Hermit Crab—yang dikhususkan untuk pertempuran di luar angkasa, dan memiliki Satellite Cannon miliknya sendiri.

Dari hasil penelitian mereka terhadap Gundam X, dan mengantisipasi ketiadaan flash system yang dapat digunakan, New UNE juga mengembangkan Gundam Double X yang teramat kuat sebagai lambang kekuasaan mereka yang baru. Gundam Double X dilengkapi Twin Satellite Cannon yang memiliki kekuatan dua kali lipat dibandingkan Satellite Cannon yang Gundam X punya. Gundam Double X pada akhirnya jatuh ke tangan Garrod dan memainkan peranan penting dalam pertempuran terakhir yang menentukan nasib masa depan Bumi.

Ada berbagai MS dan MA lain yang sebenarnya keren dan sayangnya kurang begitu ditonjolkan (Janice Custom milik Ennil, misalnya). Buat itu aku cuma bisa bersyukur bahwa kita punya game-game SRW.

Kembali bicara soal animenya, rincian latarnya kurang begitu ditonjolkan dibandingkan beberapa seri Gundam lain. Ada karakter-karakter sampingan yang berperan besar meski hanya muncul sementara, namun mereka kurang memberikan kesan. Lalu entah kenapa dalam eksekusinya sendiri, tak ada banyak variasi dalam masing-masing karakter. Misalnya Jamil, yang dari awal sampai akhir benar-benar terlihat berpostur kaku. Hubungannya dengan Lancerow Dowell, rivalnya semasa perang, sayang sekali tak tergali lebih dalam lagi (padahal hubungan mereka seperti Amuro dan Char). Tapi para karakter utama, terutama Garrod dan Tiffa, relatif simpatik dan tetap gampang disukai.

Adegan-adegan aksinya sama sekali tak sedikit, tapi pembangunan suasananya mungkin sangat kurang. Masih ada kemungkinan untuk dinikmati, hanya eksekusinya mungkin tak sebaik di seri-seri mecha lain.

Segala konflik di akhir memuncak dengan konfrontasi antara berbagai pihak di Bulan, di mana kenyataan sesungguhnya dari para Newtype serta kebenaran dari teknologi gelombang mikro Satellite Cannon diungkapkan. Perkembangan ceritanya di akhir-akhir agak memukau dengan kesimpulan tentang apa para Newtype sebenarnya. Ditambah lagi dengan pembeberan tentang apa sebenarnya yang telah membimbing Tiffa dan kawan-kawannya untuk sampai ke sana.

Soal musiknya… aku sebenarnya lumayan suka musiknya. Tapi gimana ya? Hmm. Ini kasusnya agak aneh sih.

Terlepas dari segala kekurangannya, Gundam X berakhir lumayan baik kok. Dengan tamat yang optimistis serta epilog yang memaparkan nasib akhir para karakternya. Memang relatif tak gampang dinikmati kalau dibandingkan beberapa seri Gundam lain. Tapi, jika kalian cukup punya rasa sentimentil dan memang suka tema ceritanya secara umum, Gundam X tetap bisa memberikan kesan yang lumayan dalam.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: C+; Pengembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-

Di Bawah Rembulan

Aku lupa cerita.

Di samping adaptasi manga yang dibuat oleh Tokita Koichi, di pertengahan tahun 2000an, Gundam X juga mendapat sebuah seri gaiden dalam format manga berjudul After War Gundam X: Under the Moonlight. Manga ini diserialisasikan di majalah Gundam Ace dan berlatar beberapa tahun sesudah berakhirnya seri TV-nya. Ceritanya ditulis oleh Chitose Oojima dengan gambar dibuat oleh Yutaka Akatsu.

Tokoh utamanya adalah pemuda bernama Rick Aller, yang dengan antusias mengunjungi Bumi dari koloni Cloud 9 sesudah berakhirnya perang. Dalam sebuah kompetisi pengangkutan rongsokan antar Vulture, ia menemukan satu unit Gundam X berwarna hitam terbaring di dasar laut bersama gadis yang dari rival kemudian menjadi partnernya, Rosa II (kadang dipanggil juga dengan sebutan Rosa Rosa). Di dalam MS tersebut, ternyata mereka menemukan seorang pilot yang telah mengalami suspended animation, seorang pemuda Newtype bernama Kai, yang tak bisa menerima kenyataan bahwa pertempuran antara UNE dan SRA telah usai. Penemuan tersebut rupanya memicu serangkaian kejadian yang berujung pada pembeberan adanya pihak yang seperti Kai, masih belum bisa menerima kenyataan bahwa perang telah berakhir.

Manga bertempo cepat dan sarat aksi yang semula direncanakan pendek ini terbukti lumayan populer, dan memunculkan ketertarikan baru terhadap seri Gundam X. Struktur ceritanya agak dipaksakan sih, dan karakterisasinya agak aneh, tapi seperti animenya, plotnya sendiri memang menarik. Soal artwork-nya sendiri, hmm, mungkin lebih baik kalian menilai sendiri.

Dari segi MS, satu yang menonjol adalah Gundam Belphegor berukuran besar yang kemudian digunakan Kai, yang ternyata merupakan MS yang menjadi landasan pengembangan Gundam Virsago dan Gundam Ashtaron. Sama seperti Gundam X pula, mungkin daya tarik MS-MSnya paling akan terasa bila menghadapinya dalam game-game Gundam: G Generation.


About this entry