Fuan no Tane

Duluuu sekali, sebelum kita mengenal istilah light novel, pihak Elex pernah menerbitkan serangkaian buku yang judulnya diterjemahkan menjadi seri Cerita Hantu di Sekolah. Buku-buku itu pada dasarnya merupakan kumpulan cerita bergambar (ilustrasinya memakai ilustrasi asli dari sana) tentang serangkaian kisah ‘penampakan’ yang berlatar di sekolahan. Kebanyakan ceritanya berlatar di SD-SD di berbagai daerah di Jepang gitu. Intinya, sesuatu yang menguatkan mitos bagaimana setiap bangunan sekolah pasti memiliki sekurangnya tujuh macam keajaiban.

Meski sudah lama pernah melihatnya di toko buku, aku baru pertama membaca seri ini saat dipinjamkan salah satu jilidnya pas aku di bangku SMP (pertengahan tahun 90an). Waktu itu aku dan temanku sama-sama sepakat bahwa meski kami mengerti sisi menakutkannya di mana, mungkin karena perbedaan latar budaya atau apa, kami jadinya tak terlalu dibuat takut oleh cerita-ceritanya.  Pokoknya, meski menarik, seri itu kalah menakutkan dibandingkan seri buku cerita Goosebumps-nya R.L. Stine, yang waktu itu sedang populer.

Walau begitu, kurasa seri tersebut tetap memiliki basis penggemarnya tersendiri. Karena seingatku seri buku itu penerbitannya beneran berlangsung untuk waktu lumayan lama.

Maju cepat ke masa sekarang. Sekitar beberapa bulan lalu, ada temanku bercerita tentang Fuan no Tane (‘bibit-bibit keresahan’).

Dia menyebut judulnya begitu saja pas kami lagi chatting. Dan karena dia mengucapkannya dengan cara yang begitu gaje, aku saat itu enggak begitu memahami apa yang dikatakannya tentangnya.

Lalu beberapa minggu berikutnya, pada suatu malam berhujan lebat, pada saat aku kebetulan sedang sendirian di rumah dan bebas pakai bandwidth wi-fi tanpa gangguan adik-adikku, entah ada angin apa, sesuatu mengingatkanku akan judul yang disebutin temenku ini.

Masaaki Nakamura. Itu nama pengarangnya.

Aku cuek-cuek aja saat membuka situs baca online yang jarang sekali kukunjungi dan melihat gambar sampulnya. Tapi aku agak dibuat mengernyit pas membaca deskripsi tentangnya. Aku mikir, “Jadi ini kayak kumpulan cerita hantu gitu?” dan aku langsung teringat akan seri Cerita Hantu di Sekolah itu.

Aku lalu coba-coba baca. Lalu ternyata…

…OMG.

Jadi ini yang disebut kaidan

Aku lupa cerita. Sahabatku yang memberitahu soal manga ini adalah orang yang agak aneh. Kami sebenarnya tak memiliki banyak kesamaan, tapi entah gimana kami bisa berteman lumayan akrab.

Salah satu keanehannya dia adalah bagaimana (pada waktu itu) ia terobsesi pada kappa.

Yea. Makhluk mitologis penghuni sungai yang dijadiin dasar salah satu novel terakhir Akutagawa Ryunosuke, sekaligus bahan lelucon di School Rumble. Aku ga akan nyinggung soal Arakawa Under the Bridge. Tapi pada intinya, minat yang temenku punya ini terhadap makhluk-makhluk mitologis Jepang membuatnya sama sekali tak mengherankan jika ia sampai menemukan manga ini.

Jadi, kayak seri Cerita Hantu di Sekolah, ini adalah sebuah buku kumpulan kisah horor tentang berbagai penampakan aneh yang berhasil dikumpulkan Nakamura-sensei dari berbagai sumber. Sama kayak Cerita Hantu di Sekolah dulu, kisah-kisahnya pendek dan berakhir secara tiba-tiba tanpa maksud yang jelas gitu. Tapi entah karena gaya gambarnya atau kemampuan Nakamura-sensei menarasikannya, membaca Fuan no Tane lama-lama beneran bisa membuat bulu kuduk merinding.

Daripada menakutkan, kisah-kisah yang diangkatnya benar-benar adalah kisah-kisah yang cuma bisa dibilang ‘aneh’. Susah dicerna, tak bisa dipahami. Pokoknya begitulah. Enggak bisa dijelaskan dengan akal sehat yang sebatas kita tahu. Enggak bisa dibilang ada bunuh-bunuhannya sih(?), tapi ada banyak makhluk aneh yang mungkin mencapai batas grotesque bagi beberapa orang. Sesuai terjemahan judulnya, Fuan no Tane benar-benar berhasil menebarkan bibit-bibit keresahan.

Ini pengalaman yang beneran aneh buatku. Apalagi tanpa sadar aku membacanya dalam suasana yang tepat. Jenis artwork-nya enggak sampai ke tingkat yang mengesankan, tapi implementasinya beneran efektif. Sebenarnya yang paling aneh adalah adanya kemungkinan sejumlah cerita yang disodorkan di dalamnya benar-benar diangkat dari kisah nyata.

Enggak banyak yang kudapat saat berusaha menggali info tentangnya. Tapi seri ini sepertinya cukup sukses sampai mendapatkan sekuel berjudul Fuan no Tane Plus.

Kalau manga ini sampai dilisensi di sini, mungkin aku…

Lebih baik kita hentiin saja bahasannya sampai sini.


About this entry