Kizumonogatari – IND (008)

Kayaknya… ini bab terpanjang yang udah kuterjemahin sejauh ini.

Maaf agak lama. Banyak hal yang lagi terjadi dalam hidup.

——————————————————————————————————–

008

Untuk upaya pengusiran vampir, tempat dan waktu bukanlah sesuatu yang bisa kau pilih.

Tanpa terpengaruh oleh waktu, tempat, ataupun situasi, sekedar menemukan lokasi  vampir sasaran berada dan kemudian mengenyahkannya; seperti itulah cara mereka bekerja. Namun, seandainya saja mereka menjalankan doktrin praktek yang teramat menyusahkan sekaligus membahayakan itu di tengah kota Jepang modern terpencil seperti ini, hasilnya pasti bakal kacau.

Karena itu, masalah perantaraan antara kami dan mereka…

Sebagai persiapan untuk menghadapi yang terburuk. Pantas saja Oshino memilih medan pertempuran yang jauh dari orang banyak. Dengan begitu, diharapkan takkan ada siapapun yang akan menyadari suatu pertarungan tengah terjadi.

Lapangan olahraga sekolahku sendiri. Bila kupikirkan sekarang, tempat itu kurasa sama sekali bukanlah pilihan buruk.

Sebuah bangunan sekolah pada malam hari bisa dibilang semacam titik buta.

Tempat yang sangat ramai pada siang hari, tapi berubah sepenuhnya saat malam—pada waktu segitu, takkan ada lagi orang di sana. Tak diragukan lagi, tempat ini benar-benar cocok sebagai lokasi pengusiran vampir.

Gedung utamanya sendiri tentu saja terkunci. Karenanya, aku takkan bisa memasukinya.

Mengingat bangunan ini memiliki ruangan-ruangan yang berpotensi menjadi sasaran tindak pencurian, seperti ruang tata usaha dan ruang guru, sudah sewajarnya ada lembaga pengamanan yang turut memegang andil dalam menjaga fasilitas sekolah ini.

Tapi, kalau hanya sekedar memanjati gerbang sekolah yang tertutup, lapangan olahraga itu saja sudah bisa aku masuki.

Karenanya…

…asalkan pertarungannya tak berlangsung lama—takkan ada saksi mata yang akan sampai melihat.

Benar-benar pilihan medan tempur yang bagus.

“…Tapi kenapa harus SMA Naoetsu?”

“Karena ini sekolahmu sendiri.” Demikian Oshino menjawab saat aku mengajukan pertanyaan di atas. “Supaya jadi lebih gampang buatmu, Araragi! Yang kau akan hadapi adalah seorang spesialis pengusiran vampir. Sementara kau sendiri jadi vampir baru belum lama ini, dan kamu sekarang malah harus bertarung dengannya! Bukannya lebih baik kau punya sedikit chi no ri?”

Chinori—Darah palsu? Aku enggak tahu cara pakai tipuan kayak gitu. Kalau cat saja bisa?”

“Aku bilang chi no ri—keunggulan di sisi medan!”

Sebab kalau tidak, maka kedudukan kami berdua takkan bisa dipastikan seimbang.

Anggap saja layanan gratis—itulah yang Oshino kemukakan.

Aku memang mengerti maksud pemikirannya—tapi tetap saja, melakukan kegiatan mencurigakan begini, di lingkungan sekolahku sendiri, rasanya agak…

Yah, sudahlah.

Mengulang adegan pembukaannya dari awal—mari kita lakukan Gakuen Inou Batoru ini!

“…Sudah lama menunggu?”

Untuk suatu alasan, sapaan berkesan sok itu tahu-tahu terlontar dari mulutku.

Alasannya, mengingat orang yang perlu kutemui sudah datang terlebih dahulu, sekalipun aku tak terlambat, aku jadi merasa harus mengatakannya.

Di pusat lapangan olahraga itu—seorang lelaki berotot kekar tengah duduk bersila.

Mulut dan kedua matanya terkatup rapat, seolah-olah sedang bermeditasi.

Kemudian, menanggapi suaraku, dia—Dramaturgie…

“?????”

…mengatakan itu.

Yah, aku tak memahami apa yang dia katakan.

Tapi lalu…

“…Ah, dalam bahasa lokal—benar juga.”

…dirinya melanjutkan ucapannya dengan kalimat itu, dan kemudian berdiri.

Ukuran tubuh orang ini benar-benar besar… aku sampai merasa kepalanya bisa sampai terantuk bulan seandainya dirinya tak hati-hati.

Eh…?

Kuperhatikan kalau kali ini ia tak membawa sepasang flamberge miliknya, sepasang pedang dengan bilah berlekuk-lekuk itu.

Tak hanya satu, dirinya bahkan tak membawa keduanya?

Apa maksudnya?

“Jangan salah paham, Saudaraku.”

Walau aku kini bebas meragukan apakah lawanku sepenuhnya bertangan kosong, Dramaturgie, dalam bahasa Jepang teramat fasih, memulai pembicaraan.

“Aku tak datang kemari untuk melakukan tindakan pengusiran terhadapmu.”

“… …. ….”

Apa tadi yang dikatakannya?

Secara otomatis, aku serta-merta bersiap siaga.

Dalam pikiranku aku memunculkan kembali daftar isi dari buku ‘Belajar Aikido Dari Nol’ yang kutinggalkan di dalam kantong di luar gerbang. Salah satu teknik yang bisa langsung kugunakan dalam pertarungan sungguhan… emm, apa ya?

Sementara aku berpikir, Dramaturgie mengulangi pernyataannya dengan makna yang sama.

“Orang itu—mematuhi perkataan orang bermulut manis itu–aku datang. Tapi aku datang kemari bukan karena ingin menyingkirkanmu.”

“Jadi alasanmu muncul bukan untuk tugas pengusiran—kalau begitu apa?”

Orang bemulut manis.

Kurasa, tanpa diragukan lagi, yang dibicarakannya adalah Oshino—sebagaimana yang kuduga, bahkan pihak lawan pun memandang dirinya sebagai orang yang jago bicara.

“Aku ingin kamu beralih ke pihakku.”

Dramaturgie mengatakannya dengan tegas dan jelas.

Tanpa basa-basi atau mengikuti prosedur apa-apa, dirinya langsung saja mengangkat topik bahasannya yang utama.

“Aku bertanya, maukah kau mengabdikan dirimu untuk berburu vampir—sepertiku?”

“…Aku enggak paham apa maksudmu.”

Aku menanggapi perkembangan tak terduga ini dengan menggertak.

“Waktu itu, kau menyerangku bahkan sebelum aku sempat ngomong apa-apa—jadi kenapa sekarang kau malah mengajak bicara?”

“Waktu itu, ada Episode dan Guillotine Cutter. Di hadapan mereka, tak mungkin aku bisa membujukmu seperti sekarang ini. Tapi, sosok langka seperti bawahan dari Heart-Under-Blade, sang vampir berdarah-logam berdarah-panas berdarah-dingin—akan sangat disayangkan jika kau dibiarkan berakhir terbunuh.”

“Kalau aku sepakat menjadi kawanmu,” aku bertanya. “itu artinya kamu juga akan menyerahkan kaki kanan Kiss-Shot? Apa perjanjian kita seperti itu?”

“… … …Nyalimu besar untuk menyebut perempuan itu ‘Kiss-Shot’, tapi asumsimu salah. Membunuh Heart-Under-Blade justru akan menjadi tugasmu yang paling pertama.”

“… … …Kalau gitu aku menolak.”

Itu sudah di luar kompromi.

Tujuanku adalah untuk bisa menjadi manusia kembali—tak mungkin aku mau menjadi vampir pembantai sesama.

Dalam berbicara, kau benar-benar harus memilih kata-kata yang sesuai untuk para pendengarmu.

“Begitu. Sayang sekali. Sangat disayangkan. Saat ini, aku memiliki 53 kawan seperjuangan—dan kupikir pengendalian yang tuanmu miliki atasmu lemah, jadi kupikir kau benar-benar cocok untuk dijadikan rekan.”

Pengendalian atasku lemah?

Apa kenyataannya benar-benar seperti itu?

Itu berarti Kiss-Shot tak… tak sungguh-sungguh mengubahku menjadi pelayannya?

“Lima puluh tiga masih jumlah yang besar. Jadi vampir yang bisa membantai sesamanya memang segitu banyak? Kalau begitu pada akhirnya aku mesti setuju dengan kata-kata Kiss-Shot. Kalau memang begitu, seperti yang kau bilang, aku juga bakal harus jadi bawahanmu di urutan kelima puluh empat.”

“Oh salah. Kau akan langsung ditempatkan di urutan pertama.”

Dramaturgie berkata tanpa perubahan ekspresi wajah sama sekali.

“Omong-omong, urutan pertama saat ini tidak lain adalah aku.”

“… … Hmm.”

Semenjak awal aku bisa menduga kalau dirinya bukan orang biasa.

Sejujurnya, aku tak kaget-kaget amat.

Karena tampaknya ia jenis vampir yang begitu bersemangat soal tugas pengusirannya—itu berarti Kiss-Shot benar-benar sesosok makhluk yang luar biasa.

Vampir Berdarah-Logam Berdarah-Dingin Berdarah Panas.

Sang Penakluk Fenomena Ganjil.

Tanpa diragukan lagi.

“Yah, walau kesannya agak bertolak belakang, aku sebenarnya salut dengan upayamu untuk membuatku jadi rekanmu, tapi—lain kali, merayunya lebih ahli dong. Kamu enggak akan pernah bisa dapetin cewek dengan sikap kayak gitu.”

Mengikuti gaya Oshino, tahu-tahu pernyataan sok itu turut terlontar.

Sebab kupikir ini memang adegan di mana aku harusnya menyombong.

“Begitu.”

Jawaban Dramaturgie seakan menandai semacam kesepakatan.

Upayanya berakhir sebagai kegagalan.

Atau, untuk mengatainya secara tepat, upayanya berakhir sebagai aib.

… …Tapi justru, mungkin ini adalah kesempatanku.

Mungkin, dalam maksudnya untuk membujukku, Dramaturgie telah meninggalkan pedang-pedang melengkungnya itu di suatu tempat.

Betapapun aku memahami kalau badannya itu pastinya kebal, senjata-senjata bersisi tajam seperti itu bagiku secara naluriah terasa menakutkan—jadi keadaan ini, asal tahu saja, merupakan hal sangat berarti buatku.

Mungkin apa yang sebelumnya memotong kaki kanan Kiss-Shot pun…

…pedang-pedang panjang milik Dramaturgie itu.

Dari semua tungkainya yang terpotong, hanya luka di situ saja yang terlihat bersih dan halus—luka potong pada kaki kanannya itu.

Dengan pedang-pedang berbilah melengkung itu, memotongnya dengan cara sedemikian rupa sepertinya teramat susah—tapi Dramaturgie kini tak membawa pedang-pedang itu. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Rasanya seperti angin bertiup searah dengan tujuanku—kurang lebih seperti itu.

“Kalau begitu, ayo kita mulai, wahai bocah yang malang, bawahannya Heart-Under-Blade. Seharusnya urusan kita ini tak akan memakan waktu lama, bukan?”

“Tunggu, sebelum itu, aku mau memastikan ulang kesepakatan kita.”

Aku cepat mengutarakan itu ke Dramaturgie yang sudah mulai memutar-mutar lengannya.

“Aku cuma takut ada kesalahpahaman soal apa-apa sudah kita janjikan saja.”

“Boleh. Kalau begitu, ayo kita pastikan ulang.”

“Kalau aku menang—kau akan memberiku kaki kanan Kiss-Shot, benar begitu ‘kan?”

“Lalu kalau aku yang menang, kau akan memberitahuku tempat di mana Kiss-Shot berada?”

“Oke. Aku sepakat kalau begitu.”

“Begitu pula aku.”

Maka dengan itu, kami memulai.

Lengannya berputar—seperti yang sudah kubilang…

…Lalu Dramaturgie melesatkannya ke arahku.

Yang diperlihatkannya adalah kecepatan yang takkan kau sangka akan ada pada badannya yang raksasa—menyerang dengan mengerahkan seluruh bobot badannya, itu sebuah tinju seperti yang akan dihasilkan oleh seorang petinju profesional.

Aku bisa melihatnya.

Dengan sepasang mata vampirku ini, aku berhasil melihatnya.

Meski begitu—meski aku bisa melihatnya, itu tak berarti aku akan bisa mengatasinya.

“Au… ugh.”

Mengikuti detik itu… tahu-tahu saja lengan kiriku melayang.

Bukan patah atau robek.

Tapi benar-benar akibat besarnya gaya yang dihasilkan tinju Dramaturgie, lengan kiriku benar-benar diremukkannya.

“Hi… iiiiiiiiiiiiiiiih?!”

Masalahnya bukan rasa sakitnya.

Seketika, rasa takut dalam sekejap melandaku.

Tubuhku—seperlima bagian dari tubuhku, dalam sekejap dibuat lenyap?!

Aku—secara refleks.

Secara refleks, dan kemudian barulah secara naluriah…

…serta merta melarikan diri dari Dramaturgie.

Namun, nampaknya hanya sesudah dua langkah, aku terantuk kakiku sendiri dan terjatuh di tempat—untungnya itu terjadi, karena di posisi di mana kepalaku berada beberapa saat lalu, sebuah kepalan tinju teramat besar dengan kecepatan mengerikan tiba-tiba melintas.

Dengan tangan kiriku tertumpu ke tanah, dengan suatu cara aku berhasil menahan diri agar tak sampai terguling.

Lalu persis pada saat itu, dengan pikiranku yang bergerak cepat—tangan kiri?

Apa?

Tangan kiriku yang seharusnya remuk—masih ada di sana?

“…………………!”

Ini… kemampuan pemulihan yang dimiliki vampir?

Apa iya prosesnya instan seperti ini?

Proses pemulihannya tak sampai memulihkan pakaianku yang lenyap bersama tangan kiriku—tapi kenyataan lenganku menjadi terbebaskan dari pakaian secara seketika begini memperlihatkan betapa hebatnya kekuatan pemulihan yang dipunyai oleh tubuh vampir.

Aku sudah memastikan secara hati-hati aspek-aspek seperti kekuatan fisik—tapi jelas aku tak memperhitungkan sesuatu seperti kekuatan untuk menyembuhkan diri—rasa terkejutku pada titik ini benar-benar tak tertutupi lagi. Namun, kalau aku memikirkannya lagi sekarang, kalau mengingat kejadian di awal-awal itu, saat aku merasakan neraka saat terkena cahaya matahari—kekuatan pemulihan yang sekarang kupunyai sama sekali bukan hal yang aneh.

“Ada masalah apa? Yang kau lakukan cuma melarikan diri, bawahan Heart-Under-Blade!”

“… …Berhentilah memakai sebutan aneh itu untukku!”

Melihat kekuatan penyembuh yang diperlihatkan tangan kiriku, sekejap berikutnya kepalaku dingin kembali.

Bahkan rasa takut itu lenyap begitu saja—benar.

Benar-benar benar.

Musuhku sekarang seorang monster—tapi aku yang sekarang telah menjadi seorang monster juga.

Jadi kenapa aku harus merasa takut?

“OOOH!”

Aku berteriak—sembari melakukan salto ke belakang.

Seperti yang kuduga, kelincahanku juga telah bertambah.

Dan aku bahkan dulu berpikir kalau bersalto ke belakang, setidaknya tanpa memakai trampolin, atau setidaknya tanpa sedikit efek CG, merupakan hal yang takkan pernah mungkin bisa kulakukan—dan lalu…

…Aku menegang, dan untuk pertama kalinya, aku mendapati diriku dan Dramaturgie telah sepenuhnya berhadap-hadapan.

“Ooh. Kau terlihat percaya diri sekarang.”

“Ya, berkatmu—dan karena itu, kau kumaafkan walau telah merusak pakaianku.”

Sementara aku berbicara, aku berpikir.

Dramaturgie.

Vampir yang membunuh vampir lainnya.

Kiss-Shot bilang kalau akan ada untungnya aku memahami terlebih dahulu sifat-sifat istimewa yang dimiliki para vampir—sifat-sifat istimewa para vampir, kalau aku tak salah ingat—

Mereka lemah terhadap matahari. Mereka membenci bentuk salib. Mereka membenci peluru-peluru yang terbuat dari perak. Mereka membenci air murni. Mereka membenci racun. Mereka akan mati bila ada pasak ditancapkan menembus jantung mereka. Tapi bukannya itu semua justru adalah kelemahan-kelemahan mereka? Kalau membahas sifat-sifat istimewa mereka, barangkali… yah, untuk awalnya, mereka menghisap darah, dan sekaligus menyerap energi pada saat melakukannya. Mereka tak memiliki bayangan, dan sosok mereka tak memiliki pantulan di cermin.

Tentunya Dramaturgie—yang kini disinari cahaya bulan, juga tak memiliki bayangan.

Aku juga sama.

Gigi-gigi yang tajam—atau mungkin lebih tepatnya bertaring.

Karena Dramaturgie yang menjadi lawanku seringnya mengatupkan mulutnya secara rapat selama ini, ini menjadi satu sifat yang tak berhasil aku amati.

Kemudian selain itu—keabadian?

Kemampuan penyembuhan diri yang nyaris tak terhingga?

Sepasang mata yang dapat melihat dengan baik di tengah kegelapan?

Selain itu kemampuan untuk mengubah badan menjadi hal-hal seperti kabut dan bayang-bayang, bahkan ada kekuatan penyembuh di dalam darah para vampir sendiri, kalau tak salah—walau begitu, aku akhirnya sampai ke titik di mana aku merasa tak ada gunanya aku memikirkannya.

Bukannya aku bermaksud meremehkan nasihat Kiss-Shot. Tapi—mengingat kami sama-sama vampir, dalam hal keunggulan dan kelemahan, secara garis besar, kupikir kami seimbang.

Aku punya keabadian, dan dirinya punya keabadian juga.

Kalau sudah begitu—maka pengalaman dan bakat terpendam menjadi apa yang akan menentukan segala-galanya.

Soal pengalaman, aku tak bisa tak mengakui kalau dirinya sudah lebih jauh satu langkah dariku. Tunggu, mungkin hitungannya bahkan sudah melebihi langkah.

Sementara yang sudah kupelajari baru sebatas hasil membaca buku petunjuk aikido beberapa waktu lalu—

“Aargh, sompret!”

Mungkin karena pengaruh Kiss-Shot, sementara aku meneriakkan kata-kata klise yang kukira takkan pernah kugunakan seumur hidupku—aku menyerbu ke arah Dramaturgie.

“Kupikir kau akan menggunakan semacam strategi—tapi secara pribadi kuhargai sikap blak-blakan semacam itu.”

Sembari bicara—Dramaturgie turut melancarkan padaku jenis serangan blak-blakan seperti yang dikatakannya.

Blak-blakan.

Kau bahkan bisa mengatainya mentah.

Tak peduli sebesar apapun ukuran kepalan tangannya, tak peduli semenakutkan apa kecepatan pukulannya itu—bila aku melihat hal yang persis sama sebanyak tiga kali, maka lama-lama aku akan terbiasa juga. Walau pada saat aku masih menjadi manusia mungkin keadaannya akan berbeda, dengan sepasang mata vampir yang kini kumiliki ini—tiga kali saja sudah jauh lebih dari cukup.

Menghadap ke depan.

Aku menghindari kepalan itu dengan tetap menghadap ke depan—kemudian, tanpa penundaan, aku menggenggam lengannya yang setebal batangan pohon—atau mungkin lebih, dari dekat ukurannya terlihat seperti pipa-pipa buat gorong-gorong air.

Kemudian aku memanfaatkan gaya dorong tinju yang dihasilkan oleh lawanku.

Seperti itu—aku mengalirkan sebuah teknik kuncian.

Belajar Aikido Dari Nol!

“(1) Genggam lengan lawan—(2) Tarik dia ke depan—(3) Balas serang dia dengan sekuat tenaga!”

Nah, kalau mengingat bagaimana penjelasannya semestinya menerangkan cara tekniknya bisa dilakukan oleh pemula, kurasa pemilihan kata-katanya agak terlalu disederhanakan, tapi kupikir prinsipnya sendiri memang bekerja.

Raksasa dengan tinggi badan melebihi dua meter, tanpa persiapan pendaratan apapun, jatuh terjerembab begitu saja, kepala lebih dulu, ke atas tanah lapangan olahraga yang selama ini tak terlalu baik dirawat.

Salah—aku membantingnya.

Dan sesudah itu, aku langsung menahan punggung Dramaturgie dengan lututku—dan menarik tulang sendi bahunya hingga ke belakang.

“N-nah, sekarang kau mau apa?”

“… …Cerdas juga.” Dramaturgie berkata, dengan wajah terbenam ke permukaan tanah. “Sifat blak-blakan sangatlah kuhargai—nampaknya kau juga tak kehilangan akal sehatmu dari waktu kau masih menjadi manusia. Memang tak mengherankan—aku bisa paham karena dulunya aku seorang manusia juga.”

“… Apa? Jangan omong kosong, cepat menyerah saja! Sebab jika tidak, tangan ini akan kupatahkaan–!”

Tunggu, apa itu tadi?

Itu secara menakutkan terdengar seperti kata-kata orang yang mau mengancam orang dari belakang.

Walau itu terdengarnya seperti semacam salam perkenalan juga.

… Akal sehat dari waktu aku masih manusia?

Akal sehat—maksudnya, cara berpikir?

“Ah…”

Benar juga—malah persis itu dia.

Aku sudah tuntas melakukan gerakan memiting, tapi terus… sekarang apa?

Habis ini, aku mesti ngapain?

Aku patahkan lengannya… ‘kan?

Tapi sekalipun aku mematahkannya—karena lawanku juga seorang vampir, bukannya dia akan langsung…

“Si-Sial—“

Dan kemudian…

Apa yang Dramaturgie maksudkan ternyata tak terbatas pada kemampuan pemulihannya saja—kurasa sekalipun aku sudah menyadarinya sebelumnya, aku tetap takkan mampu berbuat apa-apa tentangnya. Tapi aku memahami langsung makna yang terselubung di balik kata-katanya sesudah jari-jemariku, bagian-bagian tanganku yang menahan lengannya yang teramat besar itu, tiba-tiba saja teramputasi dengan bunyi berdesir.

Terpotong?

Salah, bukan—malah, aku tanpa sengaja memotong diriku sendiri.

Karena lengan yang kupegang itu tahu-tahu saja berubah wujud menjadi sebilah mata pedang melengkung.

“Gh… guargh!”

Yang kurasakan kali ini jelas-jelas sakit—rasa sakit yang nyata.

Rasa sakit yang tajam.

Mulai sekarang kurasa aku akan memakai metafora ini dengan sepenuhnya memahami apa yang kubicarakan.

Secara naluriah aku melompat ke belakang, menciptakan cukup jarak antara diriku dengan badan Dramaturgie—potongan-potongan tanganku yang terjatuh ke atas tanah mendadak lenyap.

Melihatnya lagi, bagian-bagian yang sebelumnya terpotong itu kini sudah tertanam lagi di pergelanganku.

Terpulihkan.

Kemampuan pemulihan diri ini… … menumbuhkan lengan baru rasanya tak terasa seperti tumbuhnya lagi ekor kadal—secara sederhana lebih seperti ‘sudah ada lagi’ begitu saja.

Lalu kejadian lenyap saat terpotong itu…

Itu bukan lenyap, kesannya lebih seperti ‘menguap’ dan uapnya membentuk kembali apa yang menutupi lukaku.

Kurasa bisa kubilang sistem ini benar-benar praktis.

Dan untungnya aku tak mungkin meninggalkan potongan-potongan tangan di atas lapangan olahraga sekolahku sendiri.

Dramaturgie, tanpa terburu-buru, dengan gerakan yang bisa dikatakan lamban—bangkit berdiri.

Dia tak bisa terburu-buru.

Alasannya—itu karena kedua lengannya kini telah berubah menjadi sepasang bilah pedang melengkung.

“…. … …”

Kemampuan perubahan wujud!

Kemampuan perubahan wujud—yang dimiliki para vampir!

Orang ini—dia mengubah bagian-bagian tubuhnya sendiri ke bentuk senjata!

Waktu itu juga kejadiannya begitu!

Sekalipun kejadiannya malam hari, salah, justru karena saat itu malam hari mata vampirku seharusnya telah melihatnya—tapi aku masih memegang akal sehat yang kupunya saat aku masih menjadi manusia, dan karenanya secara bawah sadar berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin!

Mengira dia sengaja menyimpan pedang-pedangnya, semata-mata untuk bernegosiasi denganku, hanyalah asumsi malasku semata.

Kedua pedang itu sejak awal—memang merupakan suatu kesatuan dengan Dramaturgie.

“…Apa yang terjadi? Sudah mau menyudahi giliran?” Dramaturgie berkata.

Meski posisinya kini jelas di atas angin, ekspresi wajahnya yang keras sama sekali tak terkikis—fokusnya kini bahkan terlihat seakan bertambah.

Tingkat pengalaman yang kami punya—benar-benar terlalu berbeda.

Semenjak awal, perbedaan yang ada terlampau besar.

Sekalipun benar kami berdua sama-sama vampir—aku tak bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan.

Pedang-pedang dengan panjang dan ketebalan seperti yang dimilikinya… jika aku mencoba menghadapinya dalam kondisi seperti ini, kurasa mendekatinya saja aku takkan bisa. Tapi bahkan dalam kondisi saat keduanya tak adapun, sosoknya yang besar itu tampaknya memiliki jangkauan dua atau tiga kali rentang seranganku.

“Aku tanya apa kau sudah mau menyudahi giliran. Mengapa kau tak menjawab? Apa yang tadi baru kau lakukan—itukah ‘judo’ yang jadi kekhasan negara ini?”

Itu aikido.

Tapi sejauh yang bisa aku sendiri katakan, aku sama sekali bukanlah seorang ahli.

Maksudku, teknik aikido yang barusan kulepaskan itu berhasil semata-mata karena kebetulan—bukan cuma karena sejak awal itu bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan untuk kedua kali, tapi juga karena aku khawatir akan dibalas dengan cara yang berbeda…!

Sial! Kenapa juga aku dengan begonya malah datang tanpa bawa senjata!

Aku memang tak menyangka pedang-pedang itu merupakan bagian tubuhnya sendiri. Tapi mengesampingkan itu, sejak awal aku sadar lawanku menggunakan pedang, jadi sudah sewajarnya aku terpikir untuk menyiapkan diri dengan senjata juga!

Kalau saja aku sekurangnya punya meriam… heh, atau apapun, dan lagi aku tak punya relasi yang bisa membantuku menyediakan hal-hal semacam itu!

“… …Hm?”

Tunggu… … …bukannya?

Kalau begitu, bukannya… aku masih ada satu siasat?

Kalau begitu, maka—

“… …. ….”

“Begitukah. Kau menyerah—itu bukan masalah buatku, kalau begitu, sekarang giliranku menyerang. Sampai keabadianmu habis—atau sampai kau menjerit ingin mati, tubuhmu secara berulang akan kucincang hingga habis.”

Dramaturgie bergerak—aku bergerak juga.

Hanya saja, bedanya, aku bergerak ke belakang.

Mundur—tujuanku adalah bergerak ke arah berlawanan dari Dramaturgie.

“…! Apa sekarang kau berusaha lari?” Dramaturgie berteriak.

Tapi tindakanku bukanlah pelarian ataupun upaya menyelamatkan diri.

Tindakanku hanyalah sebuah gerakan mundur—yang keras kepala.

Bukan berarti aku sudah punya ide jelas—keadaannya lebih seperti ‘peduli setan!’, aku tak punya waktu lagi buat ragu-ragu—sebab meski masih belum pasti, hanya tersisa siasat ini yang aku punyai.

Sebagaimana yang kuduga, kalau hanya soal bergerak saja, aku masih mengungguli Dramaturgie. Perkiraan kasarnya, Dramaturgie seharusnya memiliki bobot tubuh yang mendekati 200 kg—dan kini dengan sepasang lengannya berbentuk pedang, mungkin malah mendekati 300 kg.

Secepat apa gerakan tinjunya…

…itu tak berarti seluruh badannya dapat bergerak secepat itu juga.

Itu bakal menjadi pergeseran bobot massa paling aneh yang ada di dunia.

Aku sadar kalau kecepatan larinya pastinya melebihi manusia, tapi dengan berat badan dasar sekitar 55 kg, semestinya aku takkan kalah dari Dramaturgie—setidaknya keunggulan ini harus bisa kumanfaatkan sebaik mungkin!

Meski begitu, aku bukan melarikan diri.

Aku bukan sedang menyelamatkan diri tanpa pikiran apa-apa.

Ada sasaran yang tengah kutuju. Sebuah keuntungan medan—chi no ri—seperti yang Oshino bilang.

Meski aku tak belajar secara rajin, tak dinyana sudah ada dua tahun yang kuhabiskan di sekolah ini—jadi sekurangnya aku tahu di mana gudang penyimpanan peralatan olahraga.

Berhasil mengambil jarak lumayan jauh dari Dramaturgie yang mengejar, aku berhasil mencapai gudang itu—kemudian kutendang pintu besinya hingga membuka. Seharusnya pintunya tergembok, tapi sekalipun tidak juga aku tak memiliki waktu untuk membuka selot-selot kuncinya satu per satu.

Dan kemudian—dugaanku tenyata tak meleset.

Tak salah lagi.

Di sekolahku, ada pelajaran bisbol di jam-jam pelajaran olahraga.

Aku spontan meraih satu bola dari tumpukan yang ada di keranjang.

Kemudian aku ingat.

Isi dari buku teks bisbol yang kubeli bersama buku petunjuk aikido itu!

Aku bersyukur karena sesudah membaca manual aikido itu, karena masih ada waktu tersisa, aku membaca-baca buku itu secara iseng—aku enggak bisa membayangkan apa yang sekarang terjadi seandainya justru buku musik klasik yang kubaca waktu itu!

“(1) Angkat secara tinggi—(2) Tempatkan tenaga tubuh bagian bawah ke tubuh bagian atas—(3) Ayun lengannya ke bawah!”

Grah, seperti yang kukira, untuk pemula isi penjelasannya memang masih kurang jelas.

Kurasa aku memang tak punya bakat dalam memilih buku-buku referensi yang bagus.

Namun—bolanya masih tetap melesat dalam satu garis lurus ke arah Dramaturgie.

Untuk cowok sepertiku yang tak punya masa lalu sebagai remaja penggemar bisbol, tentu ini kali pertama aku berhasil melempar bola dengan cara seperti ini (untung saja bisbol di jam pelajaran olahraga adalah bidang olahraga pilihan, secara pribadi biasanya aku memilih sepakbola). Mempertimbangkan jurus aikido yang barusan, aku pastilah orang yang diberkati dengan keberuntungan pemula—bola keras yang kulempar itu secara telak menghantam Dramaturgie di sebelah paru-parunya.

“Guh…”

Gerakan Dramaturgie yang sebelumnya terkesan seperti kebutan sebuah truk tiba-tiba saja berhenti—seketika ia terbungkuk di tempat.

Bolanya masih menggelinding—seperti yang kuduga, bahkan vampir pun memiliki organ-organ tubuh internal yang bekerja dengan cara seperti organ-organ tubuh internal, kelihatannya pernafasannya sendiri menjadi sesak. Memikirkannya sekarang, bila vampir bisa mati saat kau menanamkan pasak ke jantung mereka—kurasa wajar juga bila paru-paru mereka bekerja.

Bila seperti itu, maka serangan-serangan ke panca indera juga akan efektif.

Memang dia punya keabadian, tapi kurasa ada cara-cara yang bisa dipakai untuk menyiasatinya.

Oke, dengan pikiran seperti itu—aku memungut sebuah bola lagi.

Keranjang itu benar-benar penuh sampai payah dengan bola.

Tapi nampaknya kemampuan kendali badanku payah juga.

Keberuntungan pemulaku nampaknya habis, sesudahnya aku melempari lima bola secara berkelanjutan, namun tak ada satupun yang menyentuh Dramaturgie yang masih terbungkuk.

Jelasnya, yang kulakukan hanya menggali lubang di tanah sekelilingnya saja.

Kelihatannya aku menggali lubang-lubang yang cukup dalam sampai-sampai sesudahnya nanti aku perlu meratakan tanah kembali dengan alat penggilas yang kalau tak salah dipunyai klub bisbol. Tapi walau lemparan-lemparanku kuat, bila tak kena maka takkan ada artinya.

Mana dia target berukuran besar lagi…!

Aku tak mungkin menaiki gundukan Major seperti ini!

Memanjati Everest bahkan terkesan lebih mudah!

“Kau benar-benar orang yang mempunyai kecerdasan sekaligus sifat blak-blakan.”

Sembari berbicara, Dramaturgie bangkit kembali.

Lalu sekali lagi—dirinya melesat ke arahku.

“Tapi sekalipun begitu—setiap siasat yang kau lakukan hanya dapat dilakukan satu kali!”

“… …. ….!”

Sekarang jarak antara aku dan Dramaturgie ada sekitar 25 meter… kan? Dengan kakinya… ia menempuh jarak tersebut hanya dalam hitungan tiga detik!

Kalau begini, memasuki gudang peralatan olahraga adalah tindakan buruk… aku takkan bisa lari lagi seandainya aku mau!

Aku dalam keputusasaan!

Sudah berada dalam keadaan separuh menyerah, aku melempari bola yang mungkin akan menjadi lemparan terakhirku…

“Humph! Bola selembut itu, sekalipun aku menerimanya, semestinya jelas sejak awal kalau kau takkan sanggup menghentikanku dengan hanya satu-dua bola!”

Sembari mengatakan itu dengan gerakan yang terus menyerbu maju—bola yang kulempar menghantam telak wajahnya.

Dan bola tersebutlah yang kemudian menghentikan Dramaturgie.

Bukan berarti apa yang baru diucapkannya itu salah.

Dia tak perlu menarik ucapannya kembali atau apa.

Hanya saja, bola terakhir tadi…

Bola terakhir yang kulempar tadi—bukanlah bola lunak.

Melainkan bola keras.

Atau mungkin, malah, bukan bola, melainkan peluru.

Bola logam yang biasanya dipakai untuk latihan tolak peluru.

“…. …. …. ….”

Siapa sih orang yang dengan seenaknya menyimpan peluru di keranjang bola bisbol?!

Seperti yang terlihat, nampaknya yang kali ini benar-benar menghasilkan cedera berarti—Dramaturgie menutupi mulutnya dengan sepasang bilah melengkung itu, dan mengerang.

…Proses penyembuhannya lambat?

Soal luka-luka vampir, luka di tangan kiriku dan di pergelangan tanganku sembuh secara seketika, ‘kan?

Apa karena yang kugunakan barusan itu peluru?

Tunggu, buat awal-awal, kenapa juga peluru itu bisa kena—kalau kuingat, tentunya lemparan itu terlihat terlalu stabil bahkan untukku—atau malah, apa sejak awal aku memang bisa melempar peluru seperti itu?

Apa alasannya—oh, pasti, itu karena beratnya!

Aku seharusnya menyadarinya saat aku menendang pintu besi itu hingga terbuka.

Dengan menjadi vampir—kekuatan fisikku juga meningkat.

Untuk aku yang sekarang, bola keras yang dipergunakan untuk bisbol saja sudah terasa terlalu lunak—dan terlalu ringan. Karenanya, mengesampingkan keberuntungan pemulaku pada lemparanku yang pertama, kendaliku agak kacau.

Sesuatu seperti peluru itu jadinya terasa pas—salah.

Mungkin peluru masih juga agak sedikit terlalu ringan.

Lalu—

“Sekarang kamu lihat!”

Sebelum Dramaturgie sanggup mengangkat kepalanya…

…aku sempatkan menyeret keluar dari gudang—yang digunakan untuk meratakan tanah, penggilas yang terbuat dari beton.

Itu roller yang digunakan oleh klub bisbol.

Memegangnya dengan satu tangan dan kemudian mengangkatnya… aku secara megah mengacungkannya.

“Kalau aku tak bisa mengenai sasaran berukuran besar… aku cukup menggunakan bola yang lebih besar saja!”

Kemudian, aku menempatkan kekuatan tubuh bagian bawahku ke tubuh bagian atas dan—mengayunkan lenganku hingga ke bawah!

“… … … … …!”

Atau setidaknya, aku nyaris mengayunkannya sampai ke bawah.

Dramaturgie, walau lemparan itu masih belum mengenainya, telah bersimpuh di tempat, membungkuk dalam-dalam—melihat kedua lengan pedangnya terarah hingga ke langit, aku menghentikan ayunanku pada saat paling terakhir, dan melemparkan penggilas yang kupegang ke tanah.

Ada retakan menakutkan yang tercipta di tanah.

Aku nyaris meremukkan ujung-ujung jari kakiku sendiri…

“Dramaturgie. Itu pose macam apa?”

“Seperti yang terlihat. Aku menyerah.”

Tanpa ekspresi wajahnya yang keras terkikis—dengan nada suara yang sama dengan yang digunakannya sampai sekarang, Dramaturgie berkata demikian.

“Dihantam dengan benda seukuran itu dengan tenagamu, itu bukanlah sesuatu yang sanggup kutanggung—lukanya akan memerlukanku dua hari untuk pulih.”

“Eh… …?”

“Nampaknya kau telah salah paham—vampir tak memiliki kemampuan untuk memulihkan luka secara seketika. Yah, terlepas dari itu, garis keturunanku memang salah satu yang lemah dalam hal pemulihan diri—walau demikian, garis keturunanmu memang termasuk istimewa. Pastilah karena kau menjadi bawahan dari Heart-Under-Blade.”

Be… begitukah?

Bagaimanapun aku, tanpa memakan kata-kata Dramaturgie bulat-bulat, sama sekali tak menurunkan penjagaan. Seketika aku tanpa suara merentangkan tangan ke alat penggilas yang telah kubanting ke bawah.

“Bukannya sudah kukatakan? Kaulah yang akan menjadi peringkat pertama.”

“… … …”

“Sekalipun aku kalah karena bakat mentahku, kukira aku masih mempunyai peluang menang berkat pengalaman—tapi nampaknya tak mungkin. Kau tak dapat kuburu.”

“Yang—benar—saja.”

Walau aku memang lebih rendah bila dilihat dari pengalaman—aku berkedudukan di atas angin semata-mata karena bakat mentah.

Aku sama sekali tak berpikir itu mungkin—bahkan hingga kini pun sensasinya masih belum ada.

“Mungkin kau akan lebih memilih jika kukatakan begini. Aku takkan melawanmu lagi, cukup ampuni nyawaku sekarang.”

Dramaturgie berkata begitu tanpa sedikitpun membuat senyuman. Luka yang didapatnya dari lemparan peluruku tampaknya pulih—tapi nampaknya dia masih belum cukup siap untuk bertarung kembali.

Berhenti di sini saat ia sadar sudah harus berhenti—benar-benar selayaknya sikap seorang pro.

Profesional.

Tatkala kami berdua masih cukup sehat dan memiliki nyawa—

“…Kaki kanan Kiss-Shot. Kau akan menyerahkannya padaku.”

“Baik.”

Dramaturgie mengangguk, dan kemudian…

…ia mengubah wujud lengan pedangnya, kembali ke bentuk semula.

“Saat ini kusembunyikan di tempat tertentu—tapi akan kuserahkan pada pria bermulut manis itu. Apa itu tak apa-apa?”

“…Ya.”

“Kalau begitu kita sepakat.”

Dia berkata demikian dan—tiba-tiba, wujudnya mulai memburam.

Semula kupikir itu ilusi optik, tapi ternyata bukan.

Bahkan kalaupun mata vampir bisa salah, yang kulihat bukanlah ilusi.

Tubuhnya sungguh-sungguh tengah melebur ke kegelapan.

Kekuatan perubahan wujud.

Dia mengubah tubuhnya menjadi kabut—dan seperti itu…

Dramaturgie lenyap. Namun, sesudah sosoknya lenyap tak berbekas, hanya suaranya saja, yang kemudian menggema di tanah lapang.

“Bawahan Heart-Under-Blade.”

“…Apa?”

Aku menjawab kegelapan itu.

“Akan kutanyakan sekali lagi. Maukah kau menjadi kawan kami?”

“Tak mungkin.”

Kujawab secara jelas.

Mau berapa kalipun dia bertanya, jawabanku tetap takkan berubah.

“Aku tak punya ketertarikan terhadap hal semacam itu.”

“… … … …. ….”

“Satu kali Gakuen Inou Batoru sudah cukup.”

Aku tak mendapat balasan.

Nampaknya dia sudah tuntas melebur ke dalam gelap.

Apa orang itu akan menepati janjinya?

Aku menjadi agak cemas, tapi aku kemudian berubah pikiran dan berpikir bahwa pasti akan baik-baik saja. Karena Oshino akan bekerja untuk memastikan janji itu ditepati.

Walau begitu, sekalipun tanpa itu, aku punya firasat kalau Dramaturgie sang vampir akan tetap menepati janjinya.

Blak-blakan dan sederhana.

Vampir yang dulunya manusia juga ya?

Jika mungkin, aku ingin bertanya lagi lebih jauh padanya soal itu—aku benar-benar berpikir demikian, tapi rasanya absurd.

Kami tak cocok dengan satu sama lain.

Pihaknya mencoba untuk menyingkirkanku dan Kiss-Shot—sedangkan pihakku hanya ingin memperoleh kembali tungkai-tungkai yang hilang itu dari mereka bertiga.

Makanya…

“… … … Oh ya. Ngomong-ngomong, kaki kanan, GET!”

Dengan ini, seperempat urusan beres.

Kalau aku melihat jam, baru ada beberapa menit berlalu, tapi aku entah mengapa merasa seperti sudah menjalani hidup sebanyak lima kali—seabadi apapun tubuhku sekarang, rasanya tetap sulit.

Walau sulit—masih ada tiga perempat bagian perjalanan lagi.

Kalau begitu, sebaiknya aku kembali buat beres-beres…

Di samping memiliki kemampuan penyembuhan diri, aku tak merasakan lelah fisik yang selazimnya aku rasakan, tapi secara mental aku benar-benar lelah. Aku merapikan kembali bola-bola itu dan meratakan tanah kembali… tapi bagaimana soal pintu gudang ini?

Tadi aku menendangnya sampai terbuka.

…Yah, kalau begitu tak ada lagi yang bisa kuperbuat.

Aku memasangnya kembali ke posisi semula.

“Hmm. Oke. Aku sudah memungut semua bola yang berserakan, kan?”

Lalu kemudian, hal itu terjadi persis saat mengangkat wajah.

Mungkin hal ini terdengar basi sekarang, tapi semuanya berkat mata vampirku. Aku menyadari kehadirannya dari jarak jauh sekali dari gudang. Ada seseorang yang tengah bersembunyi dari balik gedung sekolah di sisi seberang lapangan.

Seseorang—tapi siapa?

Itu bukan Dramaturgie… …kalau begitu, salah seorang dari dua yang lain?

Episode? Atau Guillotine Cutter?

Tapi masa sih… mereka sudah sepakat untuk baru menjadi lawanku nanti. Atau… mungkinkah Oshino?

Walau lagaknya dia tidak berpihak, pada kenyataannya dia diam-diam mengawasiku persis seperti tokoh sesepuh yang mendampingi sang tokoh utama dalam komik-komik cowok?

Tapi hei, perasaan kau belum mengangkatku menjadi murid!

Walau itu membuatku merasa agak senang juga sih. Tapi tunggu.

Sepertinya aku salah paham. Orang tersebut bahkan bukan Oshino. Demi melihat bayangan bangunan sekolah lebih jelas, aku sedikit mengubah sudut pandangku dan mengambil sepuluh langkah mendekat, hingga mataku akhirnya dapat secara jelas melihat sosok itu.

Tanpa suara aku memandangi sepasang pupil mata yang kutemukan di sana.

Sosok itu adalah Hanekawa Tsubasa.

“… … … …Eh?”

Eeh?

Kenapa—dia ada di sini?!

Masa sih, dia membuntutiku kemari?

Apa aku meninggalkan jejak?

Walau aku sudah mengusirnya dengan cara sedemikian kasarnya…

Aku kebingungan, tak mampu berbuat apa-apa, hanya berdiri di sana, seperti pajangan, lalu—menebak bahwa aku telah menyadari keberadaannya dari jarak sejauh itu, Hanekawa kemudian berjalan ke arahku.

Cepat.

Aku bahkan sampai mengira bisa mendengar bunyi langkah kakinya.

Urgh…

Untuk suatu alasan aku merasa dirinya tiga kali lebih menakutkan daripada Dramaturgie.

Bagaimana bisa seorang gadis terasa begitu menakutkan seperti ini? Apa karena yang kuhadapi ini adalah Hanekawa?

Sang murid teladan—ketua murid dari semua ketua murid, Hanekawa Tsubasa?

“Yang barusan terjadi itu apa?” Tiba-tiba saja dirinya berkata.

Ekspresi wajah yang diperlihatkannya sepertinya takkan mengizinkanku untuk memakai tipuan yang sempat kupikirkan sebelum Hanekawa mendekat: ‘pura-pura bodoh’.

Aku telah terlihat.

Hanekawa telah melihat… semuanya.

Yakni tepatnya, sekalipun dia baru melihat pada menit terakhir, tetap saja aku ketahuan… aku telah mengangkat alat penggilas yang besar itu dengan hanya satu tangan.

“Sesudah itu, aku sengaja mencari-carimu. Untuk sesaat, aku kehilangan jejak, tapi kemudian aku menemukan kantong ini ditinggalkan di depan gerbang sekolah.”

Sembari berbicara, ia memperlihatkan kantong yang dibawanya di tangan kanannya, yang tak diragukan telah kutinggalkan di gerbang sekolah, yang pastinya berisi buku petunjuk aikido, buku teks bisbol, serta buku rekomendasi musik klasik yang sebelumnya kubeli.

“Aku tak yakin apa kau sampai masuk ke dalam, karena pastinya itu berarti kau memanjati pagar.”

“… … ….”

Sekalipun murid teladan, sikap Hanekawa benar-benar agresif.

Walau begitu—memang aku yang salah telah meninggalkan kantong itu di luar gerbang. Aku benar-benar tak percaya hal ini bisa terjadi, walau tak mungkin juga aku akan sampai mengiranya…

“Hei, Araragi. Aku melihatnya dari jauh, karenanya kurang begitu jelas, tapi… entah gimana, apa kamu… baru saja melakukan sesuatu yang semestinya cuma bisa terjadi di novel-novel petualangan?”

“… … … Itu bukan urusanmu.”

Kukatakan itu dengan sekuat tenaga.

Sial.

Aku akhirnya berhasil mendapatkan kaki Kiss-Shot, dan dengan itu kupikir satu masalah sudah beres, dan aku untuk sesaat bahkan merasa lega—tapi ternyata sekarang…

Tapi ternyata aku masih harus menyakiti perasaan Hanekawa lagi.

“Daripada itu, kenapa kamu membuntutiku? Aku sama sekali enggak paham. Aku sudah nyuruh kamu buat berhenti mengikutiku—enggak usah susah-susah bersikap kayak teman.”

“… …Araragi, kau bukan jenis orang yang akan mengatakan hal-hal seperti itu.”

Matanya Hanekawa—benar-benar menakutkan.

Bukan dingin seperti yang dimiliki Kiss-Shot—tapi kalau harus kujelaskan, mata yang dimilikinya seakan menerawang.

Jenis mata yang menusuk, menembus.

Yang membuatmu menyadari segala kelemahanmu, betapapun tak nyamannya.

“Aku minta maaf karena membuatmu mengatakan hal-hal semacam itu—tapi kenyataannya, sekarang kau berada dalam situasi yang memaksamu mengatakan itu semua meski kau tak menginginkannya, ‘kan, Araragi?”

Hanekawa—menyerahkan kantong yang dibawanya dengan tangan kanannya.

Aku mengambilnya.

Kalau kepentingannya di sini adalah semata untuk mengembalikan barang hilang—maka dia telah melakukannya.

“Aku telat menyadarinya. Maaf ya.” Dia terus melanjutkan perkataannya. “Dan kalau memang begitu, aku harap aku bisa membantu.”

“… … Jangan memaksa.” Aku berkata dengan suara bernada enggan. “Jangan terlalu memikirkannya. Aku cuma sudah bosan denganmu. Aku suka sendirian, kau tahu.”

“Itu bohong. Kau bukan orang yang menyimpan rasa benci atau juga rasa marah terhadap dunia. Kalau cuma sejauh itu, tanpa dibilang juga aku sudah tahu. Araragi, seenggaknya kau senang saat berbicara denganku ‘kan?”

“Itu karena aku mengincar duitmu!”

“Tapi sudah kubilang keluargaku enggak kaya!”

“Kalau begitu aku mengincar Dakaramu!” *sejenis Aqua*

“Kalau kau haus, mestinya bilang aja!”

Ah, aku salah ngomong.

“Maksudku, aku mengincar karadamu!” *badan*

Dakara atau karada, yang mana?!”

Karada!” Aku menjerit.

Aku sudah tak tahu lagi apa yang sedang kuucapkan.

“Makanya, kalau kamu bersedia nunjukin celana dalammu lagi lain waktu, aku bersedia damai denganmu!”

“Baik.”

Menanggapi itu—Hanekawa luar biasa tenang.

Tak terganggu, atau bahkan menggerakkan alis.

Dengan aksi spontan, dirinya kemudian mengangkat rok seragam yang ia kenakan.

Lalu memperlihatkan padaku apa yang tersembunyi di baliknya.

Kali ini celana dalam keabuan gelap bertekstur wol.

Desainnya sederhana tanpa pola atau hiasan apapun, tapi justru karena itu kesan mendasar dari material yang membentuknya terpancar ke luar.

“Puas? Kau sudah melihatnya dengan jelas, Araragi?”

“… … …”

“Kalau kau mau, aku takkan keberatan melepas blusku juga.” Hanekawa… dengan rok terangkat ke atas, dengan suara pelan mengutarakan itu juga.

Ah!

Lalu pada saat itu—untuk pertama kalinya…

…akhirnya, aku benar-benar merasa seperti bertemu Hanekawa.

Tanpa melewatkan satu sama lain—kami berhadapan dengan satu sama lain.

Ya.

Dia orang yang baik. Tapi—bukan cuma itu…

Dia juga kuat.

Orang-orang sepertiku—sama sekali bukanlah tandingannya.

“… ….Maafkan aku karena udah ngucapin hal-hal seperti itu.”

Aku—membungkuk, menundukkan kepala serendah mungkin.

Posisi Hanekawa masih sedang mengangkat roknya, tapi aku tentu saja tak membungkuk hanya karena ingin melihat bagian dalamnya secara lebih jelas.

Itu semua karena aku ingin meminta maaf.

Dan juga karena aku punya permintaan.

“Kumohon, tolong jadi temanku lagi.”

——————-

Catatan:

Gakuen Inou Batoru: aku tak tahu detilnya, tapi dikatakan di sini kalau itu adalah campus superpower battle, sejenis genre light novel yang mengetengahkan adegan-adegan pertarungan dengan kekuatan super dengan latar sekolahan.

Gundukan Major: aku cuma sebatas tahu peraturan bisbol, jadi mungkin aku salah soal ini,  tapi mungkin yang dimaksud adalah sejenis gundukan tanah (mound) yang ditempati pitcher.

Sepertinya ada referensi terhadap Sayonara Zetsubou-sensei di sini, tapi aku enggak yakin.

Ucapan ‘GET’ Koyomi di akhir-akhir itu pada dasarnya semacam pernyataan kemenangan.


About this entry