Gundam AGE, generasi kedua, berakhir!

Bab kedua dari Kidou Senshi Gundam AGE yang mengetengahkan Asemu Asuno sebagai tokoh utama, akhirnya berakhir di episode 28. Sejujurnya, aku berharap durasi bab ini masih bisa lebih panjang. Tapi setidaknya perkiraanku bahwa bab terakhir yang menjadi klimaks seri ini akan menjadi lebih panjang lagi akan terwujud.

Berlatar beberapa dasawarsa sesudah berakhirnya bab pertama, bab-nya Asemu ini dimulai dari tahun-tahun akhir masa sekolah menengah Asemu sampai ia menjadi pemimpin dari tim MS-nya sendiri di pasukan Federasi Bumi. Memang bab kali ini tak memiliki episode-episode ‘aneh’ seperti pada bab sebelumnya. Tapi rentang waktu bab Asemu yang lebih panjang, serta banyaknya hal yang berusaha dihadirkan di dalamnya (terjadi time skip beberapa kali dalam cerita kali ini), membuat pengaturan tempo ceritanya agak menderita.

Asemu ceritanya putra sulung Flit Asuno dari hasil pernikahannya dengan Emily. Ia punya seorang adik perempuan manis bernama Unoa, dan ia menjalani kehidupan relatif bahagia sebagai bagian keluarga Asuno yang ternama.  Flit ceritanya telah menjadi komandan tinggi dari pasukan Federasi, dan memimpin peperangan melawan kaum Vagan, yang sebelumnya dikenal sebagai UE. Kakek buyut Asemu, Vargas, hebatnya juga masih sehat dan hidup (dan masih lebih suka dipanggil dengan nama).

Sehari-hari, Asemu menyibukkan diri di klub MS di sekolahnya, dan dari sana ia menjadi dekat dengan dua teman sekolah yang menjadi sahabat dekatnya: gadis yang menjadi idola sekolah, Romary Stone, serta murid pindahan pendiam yang serba bisa, Zeheart Gallette. (Sepertinya kuncir rambut yang Asemu miliki merupakan warisan ibunya, tapi sudahlah).

Dari segi karakter, bab kedua Gundam AGE benar-benar dimulai tanpa masalah.

Sampai pada hari ulang tahunnya, dari Flit, Asemu mewarisi AGE Device yang diperlukan untuk menggerakkan pusaka keluarga mereka, Gundam AGE-1.  Koloni luar angkasa Trodain tempat mereka tinggal kemudian diserang pasukan Vagan, yang setelah sekian lama akhirnya berhasil melacak keberadaan Gundam. Dari sana, cerita mulai bergerak.

Kita sejak awal dibeberkan kalau tanpa sepengetahuan kawan-kawannya, Zeheart adalah mata-mata pihak Vagan. Di sisi lain, Zeheart juga pada mulanya tak tahu bahwa pilot Gundam sebenarnya adalah Asemu. Lalu saat kenyataan ini terungkap persis di hari kelulusan sekolah mereka, kenyataan tersebut memberi guncangan pada jalan hidup yang ketiga sekawan ini ambil.

Asemu, sesuai cita-cita awalnya, kemudian bergabung dengan pasukan Federasi Bumi. Lalu sebagai keturunan keluarga Asuno, ia dipercayakan tanggung jawab untuk menggunakan MS baru hasil kembangan dari AGE System, yakni Gundam AGE-2, yang di dalamnya tertanam AGE System yang telah dipindahkan dari Gundam AGE-1.

Zeheart sendiri diakui jasa-jasanya oleh pemimpin tertinggi pasukan Vagan yang sangat misterius, Ezelcant. Kemudian ia diangkat pangkatnya sebagai komandan operasi pendudukan Bumi.

Romary yang semula bimbang soal masa depannya, akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak Asemu dengan turut bergabung bersama pasukan Federasi Bumi, dengan harapan agar kelak iapun bisa bertemu Zeheart lagi.

Nostalgic

Kurangnya aspek realisme seri ini makin terlihat di bab ini. Detil-detil latarnya bisa dibilang sangat kurang (kita enggak begitu mengerti bagaimana persisnya hubungan antara Flit dan Woolf atau Millais, misalnya, yang jelas-jelas merupakan seniornya meski kini berpangkat lebih rendah). Tapi walau begitu, plotnya sendiri di atas kertas terbilang lumayan.

Asemu dan Romary kemudian tergabung bersama kapal induk Diva, yang kali ini dikepalai oleh Millais Alloy. Misi pertama mereka adalah untuk memindahkan Gundam AGE-1 ke pangkalan Federasi Bumi di luar angkasa, Big Ring. Ada banyak tokoh lama yang muncul kembali, meliputi: Woolf Eneacle yang menjadi komandan tim MS Asemu, sang mekanik Madorna dan keluarganya, serta Dique Gunhale yang menggantikan peran lama Vargas sebagai mekanik. Putri Dique, Arisa Gunhale, turut tergabung sebagai rekan Asemu sesama pilot MS.

Ada banyak potensi drama buat berkembang. Tapi (aku enggak tahu udah berapa kali aku menulis alasan ini) mengingat ini seri yang sasaran pemirsanya adalah anak-anak, ceritanya lebih banyak straight to the point dengan titik berat lebih di adegan-adegan aksi. Jadi jangan harapkan pembangunan suasana atau foreshadowing yang baik. Perkembangan ceritanya kerap terjadi begitu saja, secara nyaris tiba-tiba, dan perkembangan pribadi karakternya tak terlalu disorot (dan bahkan agak aneh). Apalagi mengingat ada banyak hal yang berusaha ditampilkan dalam durasi yang terbatas ini. Hubungan segitiga antara Asemu, Zeheart, dan Romary, perasaan rendah diri Asemu terhadap ayahnya, konflik kepercayaan yang Zeheart alami, hingga intrik dan konspirasi dalam tubuh Federasi yang berusaha diungkap oleh Flit.

Tapi elemen-elemen lama dari seri-seri Gundam klasik banyak tersebar di sana-sini, dan kurasa di sanalah letak daya tarik seri ini buatku. Aku enggak sampai dibuat terkesan atau gimana. Rasanya cuma kayak… aku selalu kepengen tahu ke arah mana lagi ceritanya akan dibawa.

Meski tak ada faksi-faksi pemberontak ataupun peperangan tiga arah, bagaimana Asemu dan kawan-kawannya mengunjungi berbagai koloni luar angkasa demi menyingkap rencana penyerbuan Vagan lumayan mengingatkanku akan pengalaman nonton Gundam Zeta. Jadi bukan cuma karena desain Gundam AGE-2 saja sih…

Lalu semuanya berakhir dengan lumayan banyak pertempuran seru di atas orbit Bumi, dalam upaya terakhir mencegah benteng bergerak Downes memasuki atmosfer dalam keadaan utuh.

Evolution Again

Membahas soal mecha, Gundam AGE-2 yang dapat berubah menjadi pesawat menjadi sorotan kali ini. Animasi adegan-adegan aksi MS ini sebenarnya sudah lama kutunggu, mengingat kemiripan bentuknya dengan Zeta Gundam yang merupakan salah satu desain mecha paling keren yang pernah kulijat. Rasanya agak aneh mengapa Gundam AGE-2  bisa terkesan jauh lebih kuat dibandingkan MS-MS produksi massal generasi terbaru yang Federasi gunakan. Dipersenjatai versi DODS rifle yang lebih kuat serta sepasang beam saber, MS ini sesuai dengan gaya bertempur Asemu yang beringas dan mengandalkan dua senjata sekaligus di kedua tangan.

Woolf, yang mengawasi Asemu dkk yang masih kurang matang, menggunakan MS putih G-Bouncer yang serupa dengan G-Exes yang dipergunakannya dulu. MS ini mengandalkan kelincahan dan kecepatan, walau kudengar MS ini sendiri bukan hasil pengembangan G-Exes, melainkan diturunkan dari kerangka yang dimiliki Gundam AGE-1 dalam bentuk Normal dan Spallow. MS ini juga dipersenjatai dengan DODS rifle, serta beam saber, serta senjata keren shiguru blade yang terpasang pada perisainya.

Sampai paruh awal bab, Woolf dan kemampuan taktisnya berulangkali menyelamatkan Diva dari ancaman. Terutama saat Asemu mulai kehilangan kepercayaan dirinya sesudah dikalahkan Zeheart berulangkali dan mendapati dirinya tak memiliki bakat X-Rounder.

Baru menjelang akhir, Gundam AGE-2 kemudian mendapatkan upgrade lagi dalam bentuk konfigurasi Double Bullet, saat Asemu diharuskan melawan banyak lawan sekaligus (dalam hal ini, seiring munculnya pasukan khusus Vagan yang terdiri atas pilot-pilot X-Rounder, Magicians Eight). Dua sayapnya yang berbentuk perisai digantikan jenis sayap baru berupa armamen Double Bullet yang diciptakan AGE Builder, yang dilengkapi dengan sepasang DODS Cannon kembar yang dapat diputar ke segala arah, beam saber tambahan, sekaligus deretan rudal calf missle. Menurutku ini salah satu upgrade paling gila yang pernah kulihat dalam seri Gundam, dan benar-benar menjadikan Gundam AGE-2 lawan yang sakti.

Untuk MS produksi massal, untuk suatu alasan kebanyakan masih kesulitan menandingi MS-MS produksi massal milik Vagan. Tapi  Adele yang digunakan Arisa dan kawan-kawannya ternyata dapat menggunakan konfigurasi Titus dan Spallow seperti yang dimiliki Gundam AGE-1. Tapi sayangnya di seri ini kemampuan tersebut kurang mendapat sorotan.

Soal MS-MS di pihak Vagan sendiri, bagaimana menjelaskannya ya?

Zeheart semula menggunakan Zedas-R yang lincah sebelum ia beralih ke Zeydra yang sepenuhnya dapat mengimbangi bakat X-Rounder miliknya. Ia menjadi lawan mengerikan di MS ini (agak mirip Char Aznable) dengan meriam sinar dan pedang yang dapat keluar dari tangan. Ada banyak tokoh baru yang sebenarnya menonjol di pihak Vagan. Pasukan Magicians Eight yang menggunakan Zedas-M tampil sebagai lawan-lawan yang menarik. Demikian pula dengan versi dewasa dari Desil Gallete, yang hadir kembali dengan MS hitam Khronos dan rasa permusuhan terhadap Flit.

Selebihnya, apalagi soal Ezelcant sendiri (yang makin kemari makin mengingatkanku akan Crux Dogatie dari Crossbone Gundam), tak banyak yang bisa kukatakan.

Oh ya, adegan-adegan pertempurannya, sekali lagi, lumayan seru. Jadi aku masih lumayan tertarik untuk tahu bagaimana semua konflik ini akan berakhir pada babnya Kio Asuno nanti.


About this entry