Tokimeki Memorial Only Love

Kenapa ya, tiba-tiba aku kepengen nulis tentang ini?

Tokimeki Memorial Only Love adalah anime komedi romantis keluaran studio AIC ASTA yang mengudara pada akhir tahun 2006. Anime ini diangkat dari game Tokimeki Memorial Online yang belum lama itu diluncurkan oleh pihak produsen game Konami (server game-nya aktif dari paruh akhir tahun 2005 sampai ditutup pada tahun 2007).

Aku dulu… menontonnya benar-benar semata-mata karena iseng. Karena semenjak dulu, aku memang telah mempunyai ketertarikan terhadap waralaba Tokimeki Memorial punya Konami. Cuma, karena jenis permainannya pada waktu-waktu itu bukan genre yang ada peminatnya di barat, aku akhirnya jadi agak merana karena game-gamenya tak pernah kesampaian untuk diterjemahkan.

Lalu adaptasi anime dari gamenya yang paling pertama, meski menarik, sebenarnya… oke, sebenarnya juga pada akhirnya itu pun enggak sempat kutonton.

Terlepas dari itu, buat yang belum tahu, Tokimeki Memorial (‘kenangan yang membuat hati berdebar’) adalah waralaba dating simulation sangat terkenal yang telah mulai dirilis Konami semenjak tahun 1994. Ini agak berbeda dari game klik-klik biasa yang mungkin kalian bayangin. Tokimeki Memorial bukan visual novel simpel di mana kalian tinggal milih percabangan rute yang tepat untuk ngedapetin si cewek.

TokiMemo merupakan game bernuansa romantis di mana kalian (pemain cowok, kecuali jika yang kalian mainkan adalah versi Girl’s Side…) mensimulasikan tiga tahun kehidupan masa SMA. Kalian mesti membangun parameter statistik kalian dengan rajin belajar, berolahraga, mengikuti ekskul, dsb. serta berinteraksi dan membangun hubungan dengan banyak sekali tokoh lain yang mewarnai tiga tahun kehidupan masa SMA kalian. (Perbandingan paling gampang buatnya di masa sekarang adalah game-game Persona 3 dan Persona 4, hanya saja tanpa elemen dungeon crawling serta rentang waktu yang lebih dari hanya satu tahun.) Lalu barulah ceritanya menjelang kelulusan, karakter cewek yang paling berhasil kau dekati akan menyatakan cinta.

Permainannya terbilang benar-benar chaste dan relatif bersih dari hal-hal yang nakal. Tapi nuansa yang ditawarkannya benar-benar menarik, dan juga dengan elemen-elemen RPG bertebaran di dalamnya gitu. (Kalian yang sempat mengikuti Boku wa Tomodachi ga Sukunai! pada beberapa waktu lalu juga akan punya sedikit gambaran tentangnya.)

Eniwei, kembali ke anime yang kita bahas, mengingat nuansa episodik yang diusungnya, singkat cerita, anime ini berkisah tentang seorang murid pindahan cowok bernama Aoba Riku, yang karena sejumlah kebetulan bertubi, menjadi menarik perhatian banyak sekali orang di SMA Tsugumi yang baru dimasukinya.

Cowok perhatian, baik hati, yang sebenarnya tak ingin terlalu menarik perhatian ini, kemudian terlibat hubungan dengan tiga orang cewek sekaligus: Amamiya Sayuri, teman sekelas Riku yang anggun dan sangat populer; Kasuga Tsukasa, gadis tomboi anggota tim bola voli yang secara tak sengaja pernah ditabraknya; serta Mina Yayoi, adik kelas pemalu dari klub renang yang pernah ditemuinya di perpustakaan. Seluruh karakter lainnya di anime ini pada dasarnya merupakan karakter-karakter orisinil dari game-nya juga.

Anime ini sendiri berkisah seputar beragam drama dan petualangan yang Riku jalani (terutama saat ia dilibatkan dalam berbagai event aneh yang diadakan oleh sang ketua dewan siswa yang eksentrik, Sakurai Haru) dalam rentang waktu satu tahun saat ia bersekolah di SMA Tsugumi.

Motto sukoushi… atta sukoushi…

Aku tak bisa bilang anime ini memiliki plot cerita yang jelas. Fokusnya lebih ke segala ‘ketidaklaziman’ yang Riku hadapi sehari-hari sih. Memang ada aspek drama antar karakter. Tapi aspek dramanya tak benar-benar bisa dibilang realistis. Nuansa romantisnya yang kukira menjadi daya tarik utamanya… hmm, kita katakan saja nuansa romantisnya enggak selalu hadir di setiap episode. Hahahaha.

Tapi, entah ya, ada sesuatu tentang anime ini yang membuatmu perlahan suka asalkan kau tahan menontonnya. Semua tokohnya itu mempunyai daya tarik anehnya masing-masing, sehingga kau bila terlanjur kenal tak bisa tak sedikit penasaran tentang apa selanjutnya yang terjadi. Ada berandalan berbadan super besar bernama Doujima Kyouhei yang belum apa-apa sudah mendeklarasikan diri sebagai pelindung Amamiya Sayuri. Tapi belum apa-apa juga Doujima sudah dihajar oleh seekor anak ayam bernama Hiyokokko yang dengan segera berteman dengan Riku, dalam adegan terkenal yang membuktikan bahwa dirinya bukanlah nomor satu terkuat di sekolah. Lalu teman-teman sekelas cowok Riku mempunyai kebiasaan aneh untuk bercerita tentang serangkaian legenda tentang Amamiya Sayuri yang konon sudah tersebar secara internasional. Ada beragam guru, beragam kakak kelas, serta banyak tokoh berarti(?) lain yang kerap hanya muncul dalam satu episode. Pokoknya, begitulah. It’s amusing in a strange way.

Rasanya enggak banyak hal penting yang terjadi sampai dua pertiga durasi cerita. Tapi tahu-tahu saja menjelang akhir udah kerasa bagaimana ada banyak hubungan yang udah terjalin. Dan dinamika antara Riku dengan ketiga cewek di atas (dengan cara aneh juga) kemudian benar-benar menjadi sorotan utama seri ini. Meski bagaimana persisnya rasa suka antara mereka pertama terbangun kurang begitu jelas, para tokoh utamanya benar-benar tahu-tahu telah berhasil meraih simpati. Dan mengingat Riku pada akhirnya cuma akan memilih seseorang, rasanya benar-benar heartbreaking bagi dua cewek yang lain.

Aku sebenarnya enggak terlalu pandai dalam menilai soal hubungan antar orang gini. Tapi dalam zaman sekarang di mana kebanyakan hubungan antar pribadi menjadi sesuatu yang gampangan dan bergantung materi, hal-hal tulus yang anime ini usung menjadi sesuatu yang lumayan menyegarkan. Aku terus terang memang agak kecewa dengan anime ini. Yah, nuansa romantis penuh pengharapan kayak yang dulu karakter Fujisaki Shiori cerminkan di TokiMemo paling awal mungkin enggak benar-benar ada. Tapi anime ini tetap mempunyai sesuatu yang lain gitu.

Mungkin enggak sebanding dengan durasi yang kau habiskan untuk menontonnya sih. Mengingat ada 25 episode untuk versi siaran TV dengan tambahan 2 episode untuk versi DVD.

Tapi, yah begitulah.

Jadi, bila kau tak berkeberatan dengan tokoh-tokoh yang ‘berwarna-warni’, penonjolan karakter-karakter utama cewek (yang wajar buat anime kayak gini), dan benar-benar mengharapkan suatu nuansa yang cerah tanpa realisme dan drama yang berat, mungkin ini sesuatu yang bisa jadi pilihan. Siapa tahu juga, ada semangat yang bakal bisa kau temukan bila melihatnya.

(Ya, ya, aku jadi keinget juga soal gimana maksud awal ditulisnya blog ini adalah untuk membahas anime-anime lawas. Aku beneran sudah mulai tua. Ya, sudahlah.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: B+; Audio: B+; Pengembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B


About this entry