Fate/stay-night (bag. awal)

Mungkin sebaiknya aku membahas soal ini.

Fate/stay-night merupakan game bergenre visual novel yang dibuat oleh pengembang Type-Moon. Keluarnya sudah lumayan lama, dengan versi paling pertamanya keluar di awal tahun 2004. VN ini termasuk salah satu yang paling diantisipasi pada masanya, yang kemudian benar-benar ‘meledak’, karena menjadi keluaran pertama pengembang bersangkutan sesudah berdiri secara resmi sebagai perusahaan–bukan lagi sebagai pengembang doujin (independen)–sesudah ketenaran karya mereka yang mendahuluinya, Tsukihime.

Aku sejujurnya agak malas membahas ini. Pertama, karena beragam info tentang FSN benar-benar sudah banyak tersebar di Internet. Kedua, karena aku sudah tak lagi berada dalam usia di mana aku bisa sepenuhnya menghargai ceritanya. FSN benar-benar dibuat sebagai game, karenanya–mirip seperti Tsukihime, tapi dengan dosis agak lebih parah–ada beberapa aspek ceritanya yang sepertinya dengan sengaja dibuat sakit. Karena itu di usia segini aku merasa malas dan merasa lebih baik aku menulis tentang hal lain. Tapi akhirnya kuputuskan kalau mungkin tetap sebaiknya aku membeberkan pandanganku sendiri tentangnya, sekalian mengklarifikasi beberapa hal yang mungkin bisa dipandang ‘aneh.’

Aku sendiri pertama kali tahu tentang FSN saat sedang senang-senangnya menggali segala sesuatu tentang Tsukihime, Type-Moon dan penulis utamanya, Nasu Kinoko. Pada mulanya aku kurang tertarik, karena premis ceritanya yang rumit dan jumlah percabangan utamanya yang hanya tiga. Tapi besarnya skala cerita serta tema kepahlawanan di dalamnya membuatku tertarik juga. Seperti halnya pada Tsukihime, Nasu memasukkan gaya narasinya yang khas pada FSN dengan dihiasi oleh ilustrasi karakter yang simpel namun mencolok hasil rancangan partnernya, Takeuchi Takahashi.

Buat yang belum tahu, FSN adalah tipikal game ‘klik-klik’ di mana kita disuguhi ilustrasi gambar bersama cerita, dan sesekali diberi sejumlah pilihan tentang apa selanjutnya yang baiknya dilakukan oleh tokoh utama. Sebagai visual novel, seperti halnya Tsukihime dulu, FSN menggunakan KiriKiri sebagai engine, dengan ilustrasi dan tulisan seakan menyatu dan saling menimpa pada satu layar. Seakan sudah menjadi khas-nya Type-Moon, pilihan-pilihan yang diberikan ini ada banyak.

Meski rute cerita utama yang bisa kita ambil hanya ada tiga, ada banyak sekali peluang untuk mati tiba-tiba hanya karena salah pilih. Menyebalkannya (dan asyiknya), terkadang dampak dari suatu pilihan buruk baru kita ketahui jauuuh sesudah pilihan tersebut kita ambil. Akan ada gambar-gambar ilustrasi pengiring event yang nantinya dapat kita unlock seiring permainan. Lalu mengingat porsi adegan pertempuran lumayan banyak di game ini, FSN juga memiliki semacam menu database berisi segala informasi terkait mengenai karakter yang sudah kita ketahui dalam cerita–yang dapat kita jadikan semacam referensi sekaligus bahan pertimbangan sebelum mengambil pilihan jalan cerita (meski pada kenyataannya memang tak terlalu membantu sih).

Oh ya, dan seperti banyak game sejenisnya, ada konten pornografi di dalam versi paling awal FSN. Ceritanya juga agak berat, dan mungkin malah ofensif pada beberapa bagian. Singkatnya, ini sama sekali bukan jenis cerita yang cocok bagi yang mereka belum dewasa.

Disillusion

Rasanya aku pernah menjelaskan soal ini. Tapi kurasa tetap sebaiknya kujelaskan lagi, mengingat premisnya memang agak rumit.

FSN pada dasarnya berkisah tentang Perang Cawan Suci kelima di kota Fuyuki, salah satu kota modern di Jepang di mana pengaruh Barat dan budaya asli Jepang memberi pengaruh secara seimbang. Perang Cawan Suci (Holy Grail War, Seihai no Sensou) pada dasarnya merupakan suatu perserteruan rahasia antara tujuh orang penyihir (magus) terpilih (disebut Master), bersama tujuh orang roh pahlawan yang dipanggil ke masa tersebut sebagai ‘pelayan’ mereka (disebut Servant), yang menjadi bagian dari ritual untuk menciptakan sekaligus memperebutkan artefak sihir Cawan Suci.

Cawan Suci ini merupakan artefak legendaris berkekuatan sihir dahsyat yang diyakini dapat mengabulkan permohonan apapun. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapatkan hak untuk mendapatkan terkabulnya permohonan mereka melalui artefak ini. (FYI, Cawan Suci ini berbeda dari yang digunakan Kristus, dan hanya memiliki kesamaan nama semata.)

Masing-masing Master akan dipilih secara langsung oleh Cawan Suci yang belum sempurna–terpilihnya seseorang ditandai dengan hadirnya semacam tato ajaib yang disebut Command Seal (reiju), yang berjumlah tiga buah, pada salah satu lengan mereka. Para Master kemudian akan memanggil salah seorang roh pahlawan legendaris dari berbagai mitologi dan sejarah di seluruh dunia untuk menjadi familiar mereka dalam Perang Cawan Suci tersebut.

Para Servant yang dapat muncul pada suatu waktu terbagi ke dalam tujuh kelas, sesuai dengan spesialisasi keahlian mereka.

  • Saber, salah satu dari kelas ksatria, spesialis pengguna pedang. Dipandang sebagai kelas yang memiliki parameter paling seimbang, dan karenanya dipandang sebagai kelas Servant terkuat.
  • Lancer, salah satu dari kelas ksatria, spesialis pengguna tombak. Memiliki fokus ke kelincahan.
  • Archer, spesialis pertempuran jarak jauh. Memiliki kemampuan khusus untuk bersikap independen tanpa bergantung pada keberadaan Master-nya.
  • Rider, spesialis pengguna ‘tunggangan’. Memiliki potensi daya hancur paling besar.
  • Caster, spesialis pengguna sihir. Memiliki kemampuan untuk tak bergantung pada suplai kekuatan sihir dari Master-nya.
  • Berserker, Servant yang menukar kewarasannya dengan kegilaan dan kekuatan besar. Diyakini sulit untuk dikendalikan.
  • Assassin, spesialis kerahasiaan dan pergerakan sembunyi-sembunyi, serta serangan mendadak.

Setiap Master mengandalkan Servant mereka untuk memburu para Master yang lain. Para Servant yang bersifat astral hanya dapat mewujud di dunia berkat suplai konstan kekuatan sihir dari Master-nya.

Mengingat informasi tentang seorang Servant dapat berperan vital untuk mengalahkannya, setiap roh pahlawan yang dipanggil sebagai Servant kemudian menanggalkan nama asli mereka, dan dipanggil hanya berdasarkan kelas yang mereka sandang. (Roh pahlawan yang terpanggil sebagai Saber, sehari-harinya dipanggil oleh Master-nya dengan sebutan ‘Saber’, misalnya.)

Setiap Master terhubung dengan Servant-nya melalui ketiga buah Command Seal, yang masing-masing darinya dapat digunakan seorang Master untuk memberikan suatu perintah absolut pada Servant-nya, yang pasti akan dipatuhi, sekalipun sang Servant tak menyetujui, atau biasanya tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Apabila Command Seal seorang Master habis digunakan, maka penyihir tersebut akan kehilangan haknya sebagai Master, kecuali jika ia mendapatkan Command Seal lagi. Seorang Master yang telah kehilangan Servant-nya (karena tewas atau alasan lain), apabila masih memiliki Command Seal, dapat menjalin hubungan dengan Servant lain apabila Servant tersebut juga sudah tak memiliki Master.

Pihak Gereja, yang dalam dunia Nasu, meski berseberangan, tidak memiliki kepentingan terhadap Mage’s Association yang mewadahi para penyihir di seluruh dunia, bertindak sebagai ‘wasit’ dalam perang ini. Merekalah yang mendata para Master terpilih dan mengawasi jalannya setiap pertarungan, agar tetap berada dalam kerahasiaan, tanpa diketahui oleh masyarakat secara umum.

Welcome to the night…

Sesudah prolog yang menjelaskan latar Perang Cawan Suci dan hari-hari pertama Perang Cawan Suci dari sudut pandang Tohsaka Rin, salah satu heroine yang rutenya dapat kita pilih, kita diperkenalkan pada sang tokoh utama, remaja SMA bernama Emiya Shirou.

Shirou, yang sederhana dan gemar menolong (sampai ke tingkat di mana ia tak terlalu keberatan bila orang-orang di sekelilingnya sengaja memanfaatkannya), adalah seorang remaja yatim piatu yang belum lama ditinggal mati ayah angkat yang membesarkannya, Emiya Kiritsugu. Kiritsugu ceritanya menyelamatkan Shirou dari insiden kebakaran besar yang melanda Fuyuki sepeuluh tahun sebelumnya. Di insiden itu, Shirou kehilangan segalanya kecuali nyawanya. Dan sebagai perwujudan terima kasih karena telah diselamatkan itu, Shirou mewarisi idealisme ayah angkatnya untuk menjadi ‘pembela kebenaran’ yang menolong orang lain. Hal itu dilakukannya sebagai balas budi terhadap ratusan nyawa lain yang menurutnya gagal terselamatkan dengan ganti terselamatkannya dirinya.

Sepeninggal Kiritsugu, Shirou, yang sebenarnya sudah bisa hidup mandiri, sampai ia dewasa secara hukum kelak, kemudian hidup di bawah pengawasan kawan lama ayahnya yang sekaligus merupakan guru wali kelasnya di sekolah, Fujimura Taiga–seorang perempuan muda yang enerjik sekaligus ceroboh, yang keluarganya sebenarnya memiliki ikatan dengan keluarga Yakuza lokal. Terkadang, adik kelasnya di klub kyudo (panahan)–yang sempat Shirou ikuti sebelum sibuk kerja sambilan, Matou Sakura, dengan sukarela akan berkunjung untuk membantu Shirou mengurus urusan rumah.

FSN pada dasarnya mengisahkan keterlibatan tidak sengaja Shirou dalam Perang Cawan Suci seperti halnya ayah angkatnya dulu, yang sebenarnya adalah seorang Magus.

Shirou terlibat dalam konflik saat ia tanpa sengaja menyaksikan pertempuran antara Servant Lancer dan Servant Archer di lapangan olahraga sekolahnya, pada saat ia pulang terlambat di suatu hari di musim gugur. Lancer, yang menyadari kehadiran Shirou, kemudian memburunya dan membunuhnya sesuai aturan untuk tak membiarkan adanya saksi mata. Tohsaka Rin, seorang gadis cantik yang merupakan teman sekolah Shirou, yang ternyata adalah Master dari Archer, sesudah menyadari bahwa Shirou-lah saksi mata yang telah Lancer bunuh, menggunakan sisa kekuatan sihir yang telah lama dikumpulkannya untuk menutup luka-luka Shirou sebelum ia sepenuhnya mati.

Shirou yang terbangun sendirian dengan kebingungan kemudian kembali ke rumahnya. Tapi menyadari bahwa Shirou masih hidup, Lancer kemudian memburunya kembali dan pertarungan tak seimbang kembali terjadi antara keduanya. Pada saat Shirou–yang mempertahankan diri sebisanya dengan sedikit ilmu sihir yang pernah dipelajarinya dari Kiritsugu–terdesak sampai ke gudang, sebuah lingkaran sihir tanpa disadarinya perlahan-lahan menyala di sana. Lalu muncullah seorang gadis berzirah dan berambut pirang yang dengan pedang kemudian menyelamatkannya dari serangan Lancer. Saat itulah, gadis tersebut bertanya pada Shirou, apakah dirinya merupakan Master-nya, karena ia kemudian memperkenalkan diri sebagai Saber, Servant yang sama dengan yang dulu pernah Kiritsugu panggil sepuluh tahun sebelumnya.

Rin, yang terlambat menyadari apa yang terjadi, tiba di kediaman Shirou tak lama kemudian, dan ia sempat diserang oleh Saber yang mendeteksinya sebagai Master lain. Menghargai keadaan Shirou yang tak mengetahui apa-apa, dan mempertimbangkan keadaan Archer yang terluka karena melindungi dirinya, Rin, yang ternyata mewarisi garis keturunan keluarga penyihir, menawarkan gencatan senjata sementara kepada Shirou. Dengan pengawalan Saber, Rin menyuruh Shirou mendatangi Gereja Fuyuki dan memperkenalkannya kepada Kotomine Kirei, wakil gereja yang menjadi pengawas Perang Cawan Suci kali ini. Dari sana, Shirou kemudian mengetahui secara lengkap segala sesuatu yang terjadi. Tentang Perang Cawan Suci, tentang kasus-kasus kejahatan aneh yang belakangan melanda kota, tentang bagaimana kebakaran besar Fuyuki dahulu secara tak langsung diakibat karenanya, dan juga tentang sejarah keterlibatan ayah angkatnya dan ayah Rin di dalamnya sepuluh tahun silam…

Idealisme dan Takdir

Seperti yang sebelumnya kukatakan, ada tiga rute (percabangan cerita) utama dalam FSN; yakni: Fate, Unlimited Blade Works, serta Heaven’s Feel. Ketiganya memiliki fokus cakupan cerita yang berbeda serta arah perkembangan cerita yang lain sama sekali. Titik percabangan cerita ini terjadi tak lama sesudah Shirou memanggil Saber, dan salah satu aspek penting yang ketiga rute ini angkat adalah sampai sejauh mana Shirou berhasil mempertahankan idealisme ayahnya dalam menjadi ‘pembela kebenaran’ demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Masing-masing rute hanya bisa dimainkan secara berurut, dengan UBW hanya bisa dimainkan sesudah kita menamatkan Fate, dan HF hanya bisa dimainkan sesudah kita menamatkan UBW. Pengaturan ini disengaja, karena ada beberapa detil cerita pada masing-masing rute yang hanya terjelaskan dalam rute lainnya. Memainkannya secara berurut adalah untuk memahami aspek cerita FSN secara penuh.

Fate, yang merupakan rute Saber, menggambarkan bagaimana Shirou mewujudkan dirinya sebagai ideal. Mengangkat tema-tema pengorbanan dan tanggung jawab, rute ini memaparkan identitas dan masa lalu Saber, serta memberi gambaran tentang bagaimana Perang Cawan Suci sebelumnya berakhir dan keterlibatan Kiritsugu di dalamnya.

Unlimited Blade Works merupakan rute Rin, menggambarkan perjuangan untuk mempertahankan idealisme, dan memberi fokus lebih pada dinamika hubungan antara Shirou dan Archer. Dipaparkan pada rute ini bagaimana kesinisan Archer terhadap Shirou ternyata berakar jauh lebih mendalam dari apa yang semula terlihat.

Bagi mereka yang dulu memainkan FSN tanpa tahu apa-apa, Heaven’s Feel menjadi rute yang agak mengejutkan dengan mengetengahkan Matou Sakura–yang di rute-rute terdahulu seakan tak memiliki kaitan apa-apa–sebagai tokoh utama wanita. Menggambarkan ‘gesekan’ antara idealisme yang Shirou perjuangkan dengan kenyataan yang ia hadapi, pada rute ini juga dibeberkan latar belakang sesungguhnya dari sejarah ritual Perang Cawan Suci.

Konsistensi detil latar belakang pada ketiga rute tersebut merupakan salah satu daya tarik dari FSN, karena masing-masing rute tersebut saling mengisi informasi ‘bolong’ pada kedua rute lainnya. Meskipun seluruh detil latar belakangnya sama, perkembangan ceritanya memang akan sangat berbeda. Bergantung pada rute yang kita ambil, urutan lawan yang akan Shirou dan Rin hadapi akan berbeda, menghadirkan situasi-situasi yang berbeda pula. Jenis kekuatan yang nantinya Shirou kembangkan di akhir pun akan berbeda, meski semuanya berakar dari kemampuan tracing yang Shirou pelajari(?) dari Kiritsugu. (Dalam perkembangannya, Rin akan selalu menjadi rekan Shirou dalam rute manapun yang kita ambil.)

(bersambung)


About this entry