The Girl Who Leapt Through Time

Aku baru nyadar. Aku sama sekali belum pernah membahas Toki wo Kakeru Shoujo.  Padahal ini salah satu film anime favoritku sepanjang masa, dan… yah, aku lagi ngalamin hal-hal yang banyak mengingatkanku terhadapnya.

Diangkat dari novel asli sangat populer karangan aktor sekaligus penulis Yasutaka Tsutsui (aku bilang sangat populer karena novel aslinya keluar di tahun 1965). Anime yang juga dikenal sebagai The Girl Who Leapt Through Time (‘gadis yang melompat/berlari menembus waktu’) ini  merupakan adaptasi sekaligus semi-sekuel terhadap cerita dalam novelnya yang asli. Adaptasi anime yang kumaksud keluar di bioskop pada tahun 2006 dan diproduksi oleh studio Madhouse. Anime ini menurutku merupakan karya terbaik dari sutradara Mamoru Hosoda, yang sebelumnya menyutradarai beberapa film layar lebar Digimon, dan sesudahnya juga dikenal sebagai sutradara anime Summer Wars serta belakangan, Okami Kodomo no Ame to Yuki.

Persimpangan Kereta Api

Aku tak mau terlalu banyak spoiler. Tapi inti cerita TokiKake adalah seputar seorang siswi SMA tomboi bernama Makoto Konno (ya, ya, kali ini nama kecil di depan) yang pada suatu ketika, di masa musim panas, menemukan benda aneh di ruangan lab sekolahnya yang kemudian memberinya kemampuan untuk ‘melompat’ ke masa lalu. Dalam artian, dia benar-benar jadi bisa kembali ke masa lalu dan mengulang kembali hal-hal yang sebelumnya pernah dialaminya begitu. Cerita secara sederhana berkembang dari bagaimana Makoto yang awalnya menggunakan kemampuan barunya secara seenaknya, kemudian menyadari betapa kemampuan tersebut turut mempengaruhi kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya. Pada khususnya, hubungannya dengan dua orang sahabat dekatnya yang cowok dan sangat berarti bagi dirinya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.

Alur ceritanya hingga akhir benar-benar mirip dengan cerita dalam novelnya yang asli. Tapi kaitannya dalam hal ini ada pada bagaimana tokoh utama dalam novel aslinya, Kazuko Yoshihara, tak lain adalah bibi Makoto, yang meski telah kehilangan ingatan akan segala perjalanan waktu yang ia alami, secara tersamar masih memberikan nasihat dan petunjuk berkenaan apa-apa yang Makoto lalui.

Plotnya berpusar di antara cukup banyak hal, meliputi bagaimana Makoto berupaya mencegah terjadinya kejadian-kejadian yang tak diinginkan, bagaimana ia berusaha mewujudkan suatu hasil yang diharapkan, lalu soal konsekuensi yang harus ditanggungnya berkenaan setiap tindakannya. Ceritanya enggak pernah sampai menjadi melodrama, tapi perkembangannya benar-benar mengharukan. Ada lumayan banyak adegan komedi yang diselingi di dalamnya. Dan aku agak kagum pada bagaimana hal-hal kecil yang diperkenalkan di awal nantinya bisa berperan begitu besar dalam cerita.

Hal-hal yang Takkan Berubah

Bicara soal teknis, TokiKake itu bagus. Bagus banget. Aku sama sekali tak ada keluhan apapun pada kualitas penggarapan ataupun presentasinya. Pada awalnya, aku tak tahu harus mengharapkan apa. Tapi visualnya yang sekilas terkesan sederhana, dengan detil latar yang sangat banyak, langsung memikat. Mirip seperti nuansa yang diberikan film-film studio Ghibli.  Sesuai latar musim panasnya, film ini lebih banyak menampilkan nuansa biru dan kekuningan, yang turut sejalan dengan fokusnya pada masa depan.

Soal musik, ada dua lagu utama yang benar-benar menarik perhatian di sepanjang film ini, yakni ‘Garnet’ dan ‘Kawaranai Mono’ yang sama-sama dinyanyikan dan ditulis oleh Hanako Oku. Iramanya hanya mengandalkan vokal dan piano, tapi keduanya benar-benar pas dengan tema film ini dan ‘kena’ ke kita secara mengharukan. Benar-benar membuat kita tercenung dengan segala pelajaran yang Makoto alami selama durasi dua jam saat film ini berlangsung.

Sejujurnya, belakangan, aku lagi ngalamin serangkaian hal yang membuatku sering berpikir ulang tentang apa-apa yang sedang aku kerjakan, dan bertanya-tanya apakah yang sedang kukerjakan itu benar-benar ada artinya atau enggak. Tentang apa-apa yang penting, dan apa-apa yang enggak. Apa yang berarti dan perlu kita utamakan, dibandingkan apa yang sia-sia dan sebenarnya hanya berarti sesaat saja. TokiKake yang dulu  kutonton benar-benar secara kebetulan menjadi hal pertama yang kuingat saat memikirkan tentang itu.

Kuharap kalian bisa mendapatkan pengalaman pencerahan serupa saat menonton film ini. Gimanapun, bagaimana film ini sampai meraih sejumlah penghargaan karena kualitasnya sudah menjadi semacam jaminan.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: S; Perkembangan A+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: S


About this entry