Blood-C

Ada teman yang membicarakannya, jadi secara iseng aku memeriksanya juga.

Blood-C adalah seri anime yang dibuat oleh Production I.G. sebagai bagian dari waralaba aksi supernatural Blood yang diciptakan pada awal dekade 2000 oleh studio yang sama. Pertama tayang pada paruh akhir tahun 2011, alasan Blood-C cukup istimewa adalah keterlibatan grup mangaka Clamp di dalamnya, yang dikenal dengan gaya desain karakter mereka yang khas serta nuansa cerita tak lazim yang sering mereka angkat (Tsubasa Reservoir Chronicle, Cardcaptor Sakura, dsb).

Sedikit info bagi yang belum tahu tentang waralaba Blood, semuanya dimulai dengan film layar lebar Blood: The Last Vampire yang mengetengahkan tokoh utamanya, seorang gadis misterius berseragam SMA bernama Saya. Saya yang bersenjatakan sebilah pedang katana, dan jelas-jelas bukan manusia biasa, dipekerjakan oleh suatu lembaga pemerintahan misterius untuk membasmi ancaman monster yang menyerupai vampir di sebuah pangkalan Amerika yang ada di Jepang.

Detil latar dan karakternya tak banyak, dan cerita hanya sedikit diperjelas melalui beragam media lain (sejumlah manga dan novel kalau enggak salah), sampai Production I.G. kemudian memproduksi seri televisi Blood+ pada tahun 2005. Premisnya serupa, dengan Saya sebagai seorang siswi SMA ‘tak biasa’, yang dengan bersenjatakan katana, didesak oleh keadaan untuk membasmi monster. Tapi segala sesuatunya diperluas dengan hadirnya beragam tokoh baru (terutama ‘keluarga’ Saya) serta kenyataan bahwa Saya seolah kehilangan ingatannya. (Sori, aku sendiri enggak ngikutin, jadi kurang begitu tahu.)

Blood-C juga menampilkan premis serupa, tapi dengan sentuhan ala Clamp yang benar-benar kental. Tokoh-tokoh yang sekilas ceria, lucu, dan perhatian, yang didesain dengan bentuk badan langsing dan tungkai-tungkai panjang. Bentuk pakaian yang mencolok. Lalu drama keseharian yang membahas hal-hal yang tak jelas penting atau enggaknya. Tapi bagusnya, kau tak perlu tahu banyak tentang seri-seri Blood sebelumnya untuk menikmati Blood-C kok. Kau hanya perlu… sedikit kesabaran untuk bisa menikmati gaya nuansa Clamp saja.

(Sebenarnya ada juga adaptasi live-action dari Blood: The Last Vampire yang meski dibuat dengan tulus, mungkin sebaiknya enggak perlu kita bahas.)

Cette vie qu’est-ce qu’il y a a voir?

Blood-C mengetengahkan tokoh utama yang bernama Kisaragi Saya, yang sekilas adalah seorang siswi SMA biasa yang agak ‘terlalu’ ceroboh dan baik hati, dan kurang peka terhadap isyarat rasa suka orang lain terhadapnya.

Separuh episode-episode awal Blood-C biasanya memaparkan kehidupan sehari-harinya bersama orang-orang di sekelilingnya. Menjalani tugas sehari-harinya sebagai miko dari kuil shinto yang ditempatinya bersama ayahnya, Kisaragi Tadayoshi. Sarapan dan menerima bekal makan siang di kafe Guimauve yang dikelola seorang pria yang merupakan sahabat Tadayoshi, Nanahara Fumihito. Lalu melewatkan waktu di sekolah dengan membahas soal beragam hal tak penting bersama teman-teman dekatnya di kelas: Amino Yuka yang dewasa dan berperan sebagai semacam ‘kakak perempuan’, pasangan gadis kembar Motoe Nene dan Motoe Nono yang sangat kompak, ketua kelas Tomofusa Itsuki yang menyukai Saya, serta Tokizane Shinichiro yang penyendiri namun belakangan memperlihatkan ketertarikan pada Saya. Ada juga wali kelas mereka, bu guru Tsutsutori Kanako, yang hanya bisa menghela nafas setiap kali Saya nyaris datang terlambat ke kelas (yang sering terjadi dan biasanya karena alasan-alasan konyol).

Namun saat malam tiba, segalanya berubah. Saya rupanya kemudian akan ditugaskan oleh ayahnya untuk pergi ke berbagai penjuru dari kota kecil yang mereka tempati untuk membasmi makhluk-makhluk mengerikan bernama Furukimono. Kepada Saya akan dipercayakan sebilah pedang katana yang merupakan pusaka suci kuil mereka. Lalu saat memegang pedang tersebut, kepribadian Saya akan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang jago pedang dengan tatapan mata dingin yang sangat piawai dan tangguh.

Ceritanya benar-benar beranjak dari sana. Kita bersama Saya akan mulai memperhatikan hal-hal aneh yang sebenarnya tersamar dari keseharian Saya ini, sampai terungkapnya secara perlahan kenyataan sebenarnya tentang kaum Furukimono yang memangsa manusia. Kadangkala pemaparan cerita dalam sebuah episode, dengan gaya khas Clamp, akan diselingi monolog seorang narator misterius yang muncul entah dari mana, yang dengan kuat mengindikasikan hal-hal tak beres yang ada di kota tersebut.  Lalu segalanya memuncak dengan kenangan akan sebuah janji yang belakangan menghantui Saya, tapi tanpa bisa Saya ingat.

Tracing the Moon With Your Fingertips

Terlepas dari nuansa Clamp-nya yang khas, seperti halnya seri-seri Blood lain, daya tarik yang Blood-C miliki sebenarnya terletak pada aspek-aspek horor dan aksinya. Adegan-adegan pertarungan yang harus Saya lalui hampir di setiap episode itu benar-benar keren. Benar-benar menegangkan dengan koreografi enak dilihat. Gaya desain karakter Clamp yang cenderung ‘cantik’ secara agak mengejutkan menegaskan daya tarik adegan-adegan ini, dan benar-benar membuatnya enak dilihat.

Monster-monster Furukimono-nya sendiri cukup grotesque dan lumayan cukup bikin merinding. Semuanya memiliki gaya bertarung masing-masing, sehingga selalu menarik melihat bagaimana Saya akan menaklukkan setiap lawannya yang baru.

Membahas segi teknis, animasi Blood-C sangat solid di sebagian besar durasi, walau sebagian besar usaha untuk mengerjakan detilnya lebih banyak diberikan untuk adegan-adegan pertarungannya.  Visualnya, yang menampilkan adegan-adegan gore yang sangat eksplisit (dengan darah muncrat ke mana-mana), disensor sangat banyak pada versi siaran televisinya. Agak mengganggu, tapi aku merasa mungkin ada sebagian orang yang memang takkan kuat melihatnya.

Dari segi suara, soundtrack yang Blood-C punya termasuk keren. Musik latarnya mungkin terasa datar pada banyak bagian. Terutama bila kau gampang bosan dengan adegan-adegan kehidupan sehari-harinya. Tapi apabila perhatianmu sanggup bertahan sampai ke adegan-adegan horornya, mungkin kau akan dibuat tercengang dengan bagaimana musiknya berhasil membuatmu terjaga karena tegang atau resah. Mizuki Nana yang berperan sebagai Saya dengan sukses menampilkan kedua sisi Saya yang kontras. Lalu meski aku tak begitu mengenal nama-nama para pengisi suara lainnya, kesemuanya berhasil memainkan peran mereka secara baik. Lagu rock berjudul spiral yang dibawakan grup Dustz mewarnai animasi lagu pembuka dengan benar-benar keren, terutama pada bagian saat dengan tempo lambat, kulit Saya digambarkan terbungkus lapisan merah yang menandai perubahan sisinya.

Secara garis besar, ini benar-benar salah satu anime seru yang takkan sulit ditonton secara maraton, asalkan kau bisa terbiasa dengan segala sesuatunya.

Ceritanya sayangnya berakhir menggantung, walau dengan cara yang lumayan memukau, dan akan dituntaskan dalam film layar lebar Blood-C: The Last Dark yang akan tayang di Jepang pada bulan Juni tahun 2012 ini.

Bagi penggemar xxxHolic, ada kaitan tak disangka yang Blood-C ternyata miliki dengannya.

Seri ini benar-benar menawarkan daya tarik seimbang baik bagi penggemar lama seri Blood maupun penggemar karya-karya Clamp. Bila kau termasuk salah satunya, maka seri ini patut kau lihat.

Penilaian

Konsep: B; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-


About this entry