Kizumonogatari – IND (007)

Sori. Ini salah satu bab yang agak sukar diterjemahin.

Makanya terjemahannya bener-bener canggung.

Terjemahan bahasa Inggrisnya juga banyak yang enggak jelas.

———————————————–

007

Dramaturgie.

Raksasa dengan tinggi badan melebihi dua meter.

Pemakai pedang kembar yang membawa sepasang pedang melengkung raksasa di kedua belah tangannya.

Kurasa, pedang raksasa jenis itu serupa dengan senjata yang disebut Flamberge.

Berotot—dirinya seorang pria yang bisa diserupakan dengan segumpal otot.

Aku juga mendapat kesan mendalam dari ikat kepala yang menahan poninya.

Dialah yang mengambil kaki kanan Kiss-Shot, dan dia juga seorang spesialis pemburu vampir.

Prosesnya benar-benar melelahkan—sebenarnya, pada akhirnya cuma Oshino seorang yang tahu semelelahkan apa prosesnya sih. Aku sendiri juga bahkan belum paham kenapa perkembangannya malah jadi seperti ini. Tapi pada akhirnya, dialah lawan pertama yang mesti kuhadapi.

“Haaah…”

Dengan menghela nafas, aku kembali berjalan pada malam hari di kota kecil itu.

Saat itu tanggal 31 Maret.

Hari terakhir pada bulan Maret.

Dalam pergantian waktu sesudah jam 12 kelak, maka hari sudah akan berganti ke April Mop. …Sebaiknya aku berhati-hati.

Bukan. Aku sekarang sudah kelas 3 SMA. Jadi aku bukannya mau bilang kalau aku punya kekhawatiran tertentu soal April Mop… Cuma, yah, ada sesuatu tentangnya yang berhubungan dengan suasana hatiku saja.

Aku memang tak punya masalah khusus dengan April Mop sih. Tapi sejak dulu aku memang tak pernah nyaman dengan tanggal-tanggal yang dijadikan hari peringatan.

“Dramaturgie itu vampir.”

Tak lama sebelum itu, sebelum aku berangkat, di ruang kelas di lantai kedua, Kiss-Shot memperkenalkanku sekali lagi pada Dramaturgie.

Bagaimanapun, itu jelas-jelas kali pertama aku mendengar soal itu…

“Vam… vampir?”

…jadi tentu saja aku terkejut.

“Orang itu… dia seorang vampir?”

“… … Bukannya dengan melihat saja engkau bisa tahu? Atau engkau hendak berkata kalau ada manusia sungguhan yang sanggup membentuk badan sampai seperti yang dimilikinya? Beta telah hidup sepanjang lima ratus tahun, dan belum pernah, sekalipun, beta melihat manusia dengan tubuh seperti itu sebelumnya.”

“… … … …”

Bukan, maksudku, yah…

Memang, kita enggak bisa dengan gampangnya bilang ‘Dramaturgie bertubuh tinggi besar berkat disiplinnya dalam melatih ototnya secara baik.’ Maksudku, bentuk tubuh yang Dramaturgie miliki berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda.

Tapi, kalau cuma karena ketidaktahuanku, itu tak berarti kau jadi harus memandangku seolah aku idiot ‘kaaaan!

“Tapi, kenapa seorang vampir bisa menjadi seorang spesialis pengusir vampir? Rasanya itu enggak masuk akal.”

“Vampir yang membunuh sesamanya sama sekali bukan hal langka. Mata untuk mata, gigi untuk gigi. Untuk menangani seorang vampir, wajar saja bila menggunakan seorang vampir.”

“Tapi—bukannya itu bikin dia jadi semacam pengkhianat?”

“Kami para vampir tak memiliki konsep macam itu.”

Walau pada kenyataannya Dramaturgie telah mengambil kaki kanannya, nada bicara Kiss-Shot tak sedikitpun mengandung kebencian setiap kali namanya disebut.

“Atau engkau hendak bilang bahwa kalian para manusia tak pernah saling membunuh?”

“… … … …”

“Biarlah beta mengatakan ini dahulu. Sejauh yang beta tahu, tak ada seekorpun binatang di muka bumi ini yang belum pernah membunuh jenisnya sendiri. Tidak, bahkan tumbuhan, pepohonan dari jenis yang sama pun akan saling memperebutkan zat hara dengan satu sama lain.”

Yah, walau bila membahas rinciannya, vampir sebenarnya tak bisa dikelompokkan sebagai makhluk hidup, Kiss-Shot sampai merasa perlu menegaskan hal tersebut.

Mungkin ini sesuatu yang baiknya kuingat.

“Bahkan tumbuhan juga? Kalau soal itu, aku kurang lebih bisa mengerti sih. Masalahnya, kau sama sekali enggak menyebut apa-apa soal ini sebelumnya!”

“Mmmm. Bagaimanapun, mungkin itu diakibatkan karena kondisi beta yang sekarang lemah. Untuk mempertahankan wujud ini saja, kemampuan berpikir dan mengingat beta nampaknya memudar…”

“Sudahlah. Jadi kalau begitu apa yang mesti kulakukan?”

“Ya, tiada cara lain. Yang engkau bisa lakukan hanyalah memanfaatkan kemampuan alami yang dimiliki para vampir. Bukankah beta pernah menjelaskan soal ini sebelumnya?”

…Semua yang sudah Kiss-Shot jelaskan sejauh ini sebenarnya bahkan tak bisa dihitung sebagai saran. Semuanya tak lebih dari sekedar obrolan asal-asalan belaka.

“Ya, dari posisi Dramaturgie, nampaknya dia takkan bertempur dengan menggunakan cara demikian. Tapi setidaknya berhati-hatilah agar dirinya tak sampai menghisap darahmu. Jika seorang vampir sampai dihisap darahnya oleh seorang vampir lain, maka bisa dipastikan keberadaannya akan terhapus.”

Baru pada titik ini…

… … rasanya, semenjak saat pertama aku terbangun, sepenuhnya kusadari Kiss-Shot telah memiliki keyakinan yang teramat tinggi terhadapku.

Pada akhirnya, pasti kau yang akan menang, bagaimanapun juga. Semacam keyakinan seperti itu.

Cepat kumpulkan pasangan kaki dan tangan yang hilang itu untukku. Perasaan macam itu.

Mungkinkah alasan kau sama sekali tak mempersiapkanku untuk menghadapi kegagalan adalah karena keyakinanmu terhadapku yang terlampau tinggi? Bagaimanpun, walau aku senang keyakinanmu terhadapku itu tinggi, sejujurnya aku merasa itu sudah agak terlalu tinggi.

Yah, baginya aku adalah bawahannya sekaligus pelayannya—jadi seakan dengan itu dia bisa membanggakan kekuatannya sendiri, dia jadi membanggakanku juga dengan cara seperti itu.

“… … … …”

Aku berjalan dengan pelan—sembari membaca sebuah buku.

Judulnya, “Belajar Aikido Dari Nol”

Itu sebuah buku petunjuk untuk latihan bela diri.

“Mmmmmm … … ….”

Keluar dari puing-puing bimbel itu, hal pertama yang kulakukan adalah mengunjungi satu-satunya toko buku besar yang ada di kota.

Toko buku yang sama tempat aku membeli beberapa barang, sebelum berjumpa dengan Kiss-Shot di bawah tiang lampu jalan itu.

Ini adalah kali kedua hal seperti ini terjadi, dan kali ini segalanya pasti. Walau sebenarnya aku agak berharap Kiss-Shot memberikan masukan berguna lebih banyak lagi, tapi setelah menyadari bahwa kata-kata Kiss-Shot tak terlalu bisa diharapkan, kupikir lebih baik aku melakukan sesuatu soal masalah ini sendiri.

Jadi itulah alasan kenapa aku sekarang membawa-bawa buku ini.

Satu hal lagi, karena merasa agak malu kalau cuma membeli buku panduan berkelahi saja, aku juga membeli buku panduan tentang cara bermain bisbol serta buku daftar rekomendasi musik klasik.

Tak masalah sih, cuma…

Kenapa aku sanggup membeli satu buku nakal, tapi kesulitan mengatasi rasa malu untuk membeli satu buku ini saja?

Memikirkan hal di atas sembari membaca buku tersebut… sudahlah, bagaimanapun buku ini sebaiknya secepatnya kubaca.

Achmmm.

Pada malam hari, sebenarnya kemampuan baruku untuk melihat di dalam kegelapan ini lumayan berguna, tapi—aku tetap tak bisa menilainya sebagai suatu hal yang berarti.

Sama sekali tidak.

Ngomong-ngomong soal itu, aku tiba-tiba saja terpikir soal bagaimana adik perempuanku yang lebih tua pernah menggunakan salah satu jurus berkelahinya padaku.

Hanya dengan menggunakan tangan kosong.

Benar juga, walau aku tak punya pengalaman nyata dalam berkelahi, ada beberapa kesempatan saat aku dulu pernah berlatih dengan adikku.

Tapi anak itu benar-benar tak tahu apa-apa soal menahan diri.

Mengingat soal ini, aku hanya bisa tersenyum masam—habisnya, berurusan dengan seorang vampir yang mengerikan, terlebih dipaksa berkelahi dengan vampir-pembunuh-vampir untuk kepentingan si vampir mengerikan tersebut, dan bekal persiapan yang kupunya hanyalah bayangan setengah-setengah soal apa yang akan kuhadapi, serta pengalaman berkelahi dengan adik-adik perempuanku semata, hingga kinipun aku tetap tak bisa tak keheranan; segalanya benar-benar terasa aneh.

Serius.

Hei aku, apa kau tak bisa bersikap lebih serius!

Pada dasarnya, akar masalahnya pasti ada pada cara hidupku selama ini.

Apa yang harus kulakukan agar bisa memiliki cara hidup yang lebih serius?

“Araragi? Kaukah itu?”

Begitu saja, suara itu tiba-tiba saja terdengar dari belakangku.

Menoleh ke arahnya, di sanalah ia berada, Hanekawa Tsubasa.

Meski sekarang liburan musim semi, tampilannya masih sama seperti waktu sekolah.

Kacamata, rambut kepang tiga, persis sama seperti waktu di sekolah.

“Ah, haha, Hanekawa…”

Gadis ini—kenapa dia ada di sini?

Di tempat yang sepertinya takkan ada apa-apa yang terjadi begini?

Masalahnya, sesudah aku keluar dari toko buku besar itu, aku sudah akan mencapai rute tersingkat yang telah Oshino persiapkan untuk menuju ‘medan perang’.

Keadaannya serupa dengan pertigaan jalan tempat aku diserang oleh ketiga orang itu, sekitarnya hanyalah wilayah pemukiman biasa.

Eh? Ataukah…

Rumah Hanekawa, apa mungkin berada di dekat-dekat sini?

Atau jangan-jangan, untuk membangkitkan kembali mode ‘sangat serius’ di dalam diriku—om-om bernama Oshino itu segitu gilanya dengan sengaja mengatur agar pertemuan ini sampai terjadi?

Tapi enggak, kalau kupikir baik-baik, dari sudut manapun kurasa itu enggak mungkin.

Secara alami, situasinya berkembang dengan aku dan Hanekawa yang menjadi saling memandang ke arah satu sama lain.

Kemudian Hanekawa…

“Hmm?”

…dengan kepala sedikit dimiringkan, tiba-tiba saja, dengan menggunakan kedua belah tangannya, menarik ujung depan roknya sampai ke bawah.

“Enggak boleh. Kalau hari ini, kamu enggak boleh lihat ya.”

“… …. …. …”

Perempuan ini… …

Dia mengucapkan kalimat luar biasa itu dengan begitu alami.

Oh, Hanekawa, kau begitu moe!

“A-a-a-apa yang kamu ka-katakan sama sekali enggak aku me-me-mengerti.”

Sebenarnya, aku bermaksud mengucapkan kalimat itu secara tenang dan wajar. Tapi tanpa diduga aku malah jadi gagap.

“Sayangnya, aku sama sekali enggak mengerti apapun yang kamu bicarakan.”

Sial. Suara dan keinginanku sedang sepenuhnya tidak sinkron.

Ini persis seperti reaksi seseorang yang sama sekali belum mempunyai pengalaman soal hidup!

“Hmm? Masa kamu lupa?”

Hanekawa menggigit bibirnya, kemudian berbicara dengan sedikit nada ragu.

Lupa apanya. Kupikir justru kau yang telah melupakan apa yang terjadi pada hari itu!

“Kau jelas-jelas melihat celana dalamku.”

“… … … …”

“Mata kamu juga sampai melotot selama sekejap itu.”

Langsung teringat.

Sial. Aku jadi teringat akan semuanya kembali dengan cara yang teramat sangat menyebalkan.

“Ce-celana dalam? Oooh, maksudmu lapisan kain anti dingin buat bokong yang orang-orang pakai di negara ini itu?”

“Araragi, tolong jangan berpura-pura berasal dari latar budaya yang berbeda.”

“… … Bukan, bukaaan! Ini semua salah paham, salah paham! Yang aku lihat waktu itu cuma tekstur dari rokmu saja! Yang aku perhatikan cuma tekstur rokmu saja koook!”

“Mengatakan itu tetap saja terdengarnya mesum lho.”

Ditertawakan.

Dengan cara begitu gampangnya, aku ditertawakan.

Tidaaak … …

Ayolah, kita jangan membahas soal ini.

“Hanekawa… … kau sedang apa di tempat ini?”

“Hmm? Jalan-jalan? Cukup jelas ‘kan?”

“… …Pada jam segini?”

Jam menunjukkan pukul sembilan malam.

Walau tak ada peraturan yang secara spesifik melarangnya, dan tak usah kita singgung orang-orang yang sepertiku, sekarang jelas-jelas bukan waktu keluar rumah yang lazim bagi murid-murid sekolah yang serius seperti kau, Hanekawa.

Itulah yang terlintas di pikiranku saat itu.

“Bukannya semua orang juga melakukannya? Araragi sendiri, sedang apa jalan-jalan dengan gaya G-Men ’75 pada jam segini?”

“Kalau cuma sendiran saja, enggak mungkin aku jalan dengan gaya G-Men ’75!”

“Mm? Lalu yang sedang kau baca? Buku tentang bisbol?”

“Oh, ini… …”

Pertama-tama, sebaiknya buku ini kututup dulu.

Tentu saja, kalau aku sampai memperlihatkan sedikit saja tanda aku telah berubah menjadi vampir, maka itu berarti aku telah melakukan kesalahan yang sangat-sangat tolol. Aku tak tahu kenapa semua vampir tak memiliki pantulan tubuh di cermin. Jadi bagaimana persisnya penampilkanku pada saat ini, sejujurnya aku juga sama sekali tak tahu.

Pertama, masalah gigi taring.

Asalkan aku tak membuka mulutku lebar-lebar saat berbicara, maka seharusnya soal ini takkan ada masalah.

Lalu soal—bekas luka yang ada di leherku?

Bekas luka gigitan yang kuterima dari Kiss-Shot…

Kalau itu sampai ketahuan, aku akan agak kesulitan menemukan alasan untuk menutupinya.

Bicara soal perubahan-perubahan lain terkait penampilan luarku, mengingat saat ini aku seorang vampir, aku tak lagi memiliki bayangan. Jadi asal aku tak dekat-dekat dengan cahaya dari tiang lampu jalan, maka soal itupun akan tertutupi.

Masalah lainnya lagi mungkin adalah soal aroma pakaianku.

Tentu saja semenjak aku berubah menjadi vampir, aku tak perlu mengkhawatirkan apa-apa soal bau badan. Tapi semenjak menetap di bangunan bimbel itu, belum sekalipun aku mandi atau berganti pakaian.

Mungkin sudah waktunya aku meluangkan waktu untuk membeli pakaian baru…

Sebenarnya, aku juga berharap aku bisa berkesempatan mandi juga sih.

Sayangnya, sisa uang yang ada di dompetku pada dasarnya merupakan dana perangku sekarang. Karena aku baru saja berbelanja buku, aku tak mempunyai uang lebih lagi.

Kapan ya aku akan kesampaian untuk menyelinap kembali ke rumah?

“Wuah, itu buku yang kau tak ingin dilihat orang? Jangan-jangan itu buku porno ya?”

“Omong kosong macam apa kau? Orang seperti takkan pernah menyentuh buku-buku porno! Hal-hal yang seperti itu mengotori jiwamu, tahu!”

Sudah seharusnya aku menskenariokan kebohonganku.

Tapi Hanekawa tak membalas perkataanku dengan keraguan—oh, dirinya sungguh orang yang baik.

“Yah, sebenernya, sehubungan dengan ini.”

‘Sehubungan dengan ini’ apanya? Aku bahkan enggak tahu lagi aku saat ini sedang ngomong apa! Secara umum, aku hanya ingin pembicaraan ini cepat berakhir, agar aku bisa mengucapkan selamat tinggal ke Hanekawa—sial, aku tak menyangka membaca buku itu justru malah menghabiskan waktuku sebanyak ini. Sebaiknya aku meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.

Dan juga, ada kekhawatiran lain yang lebih besar…

Aku tak mau Hanekawa sampai terlibat.

Karena adanya vampir.

Lalu lawan yang akan kuhadapi sekarang juga adalah seorang vampir.

Tempat itu bukanlah tempat yang boleh didatangi manusia biasa seperti Hanekawa.

Seteladan apapun dirinya sebagai murid teladan, seketua kelas apapun dirinya sebagai ketua kelas…

…Hanekawa tetaplah hanyalah manusia biasa.

“Hmm? Araragi, tunggu sebentar. Kenapa sekarang kamu jalanmu cepat-cepat? Kita sudah susah-susah berpapasan di sini ‘kan? Gimana kalo kita ngobrol sebentar?”

Dengan gagah aku terus melangkah ke depan dengan punggungku menghadap ke arahnya, tapi Hanekawa tetap saja mengikutiku.

Persis seperti hari itu.

“Ngobrol… mau ngobrol tentang apa?”

“Hmm. Ah, yah, gimana kalo kita ngobrol soal kegiatan belajarmu hari ini?”

“… … … …”

Mana ada orang yang mengangkat itu sebagai topik orbolan!

Tapi siapa tahu juga sih.

Sebelumnya, bukannya aku sempat bilang bilang kalau aku tak akan belajar mandiri selama liburan musim semi?

Tapi kalau hanya mengatainya sebagai alasan, semenjak aku diubah menjadi vampir, malam dan siang jadi seakan dibalik. Jadi bagiku, hari ini justru baru dimulai.

“Kalau aku, hari ini kukhususkan buat belajar matematika.” Hanekawa melanjutkan lagi.

“Mat-matematika? Hmm.”

Semenjak pertama kali masuk SMA, semenjak aku menjadi siswa dengan nilai-nilai pelajaran terburuk, aku telah berpengalaman mendapatkan nilai buruk di setiap mata pelajaran, dengan hanya pelajaran matematika sebagai pengecualian.

Berkat nilai-nilai matematikaku itu juga, setidaknya aku masih berhasil melindungi tali keselamatan statusku sebagai siswa di SMA-ku. Ada semacam miskonsepsi soal gimana kepandaianmu dalam matematika mengindikasikan kalau otakmu cerdas. Ada sejumlah orang di ruang guru sekolahku yang sepertinya meyakini hal tersebut.

Tapi, kalau hanya karena itu aku jadi akan bisa mengobrolkan soal matematika dengan Hanekawa, bahwa aku pun takkan berani berpikir ke arah sana.

Karena jika rumor-rumor yang beredar benar, Hanekawa bahkan tak perlu menghitung bila mau menyelesaikan perhitungan apapun antara angka 99 sampai 500.

500!

Ini berarti, untuk perhitungan-perhitungan seperti berapa hasil 465 ditambah 321, dirinya tanpa perlu mengkontret; jawabannya langsung akan bisa ia berikan saat itu juga.

Tentu saja kita bisa bilang orang-orang yang sudah terlatih menghitung dengan sempoa adalah orang-orang yang lebih hebat lagi—tapi pada akhirnya, serumit apapun perhitungan, yang namanya matematika tetap pada dasarnya hanya penjumlahan dan pengurangan.

Waktu yang kau perlukan untuk menyelesaikan soal-soal matematika akan jauh lebih singkat bila kau tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk menjumlah dan mengurang.

Aku sendiri merasa lumayan jago di matematika karena itu bukan pelajaran di mana kau perlu menghafal. Tapi Hanekawa… Hanekawa bahkan ‘menghafal’ dalam pelajaran matematika.

Sial. Dalam hal ini, dirinya bahkan lebih monster daripada aku yang vampir.

“Ka-kalau aku, materi yang kupelajari hari ini cuma sedikit bahasa Spanyol.”

“Bahasa Spanyol? … … Wuaah!”

Hanekawa memperlihatkan wajah terkejut.

Jika dia terkejut, kurasa itu berarti dia percaya.

…Aku tak menyangka dia benar-benar bakalan percaya sih.

“Sayangnya, aku enggak tahu apa-apa kalau materinya bahasa Spanyol.”

“Gi-gitu ya? Hmm. Sayang sekali.”

“Ya. Yang aku tahu cuma sebatas contoh-contoh kalimat percakapan sehari-harinya.”

“… … … …”

Kau bahkan tahu percakapan sehari-harinya… …. …. …

“Spasibo!” Aku mengucapkan sesuatu tanpa berpikir.

“… …Spasibo itu bahasa Rusia!” Hanekawa meralat. “Dan ‘spasibo’ artinya juga bukan ‘luar biasa’!”

“… … … …”

Aku terkena ralat yang tak disangka.

Dan juga, Hanekawa, kau bahkan benar-benar tahu apa bahasa Rusianya ‘luar biasa’…

“Lain kali pikir artinya dulu sebelum mengatakan apa-apa.”

“Haha… kau benar-benar tahu segalanya ya, Hanekawa.”

“Bukannya aku tahu segalanya. Aku cuma tahu apa yang kebetulan aku tahu.”

“Yah…”

Kalimat bermakna terselubung begitu pun bisa dia ucapkan dengan teramat mudah.

Hanekawa benar-benar adalah ketua kelas dari semua ketua kelas.

… … Kalau kupikirkan dengan tenang sekarang, liburan musim semi berada di antara tahun ajaran sesudah kita kelas dua dan sebelum kita kelas tiga, jadi secara teknis Hanekawa tak sedang menjadi ketua murid… tapi, ya sudahlah.

Perasaan kalau seakan dia ketua kelas.

“Pada akhirnya, belajar memang hal baik ya. Yang namanya manusia seumur hidupnya bakalan terus belajar.”

“Eh? Itu ucapan yang bagus, Araragi.”

“Karena itu kita semua mesti bisa mikir secara lebih konstruktif! Benar, demi bisa mendorong masyarakat ke arah yang lebih baik!”

“Betul sekali!”

Hanekawa ternyata benar-benar mempercayai apa yang aku katakan.

“Sebenarnya, aku belakangan sedang berpikir, gimana caranya ya, agar penindasan dan pemerasan bisa dihapus dari sekolah?”

“… … …”

Mana aku tahu.

Bincang-bincang kami yang sederhana tadi tahu-tahu malah jadi membahas topik berat begini.

“Kalau menurutku sih, pertama, kita enggak boleh lari sekalipun tujuannya sukar! Bukannya dulu ada pepatah yang bilang kalau jalan yang sukar itu ditempuh pertama-tama dengan satu langkah?”

“Bukan. Itu perjalanan sejauh seribu li dimulai dengan satu langkah.”

Ah.

Tapi… perjalanan seribu li atau apapun itu memang sukar ‘kan?

… … Apa yang gadis ini bicarakan memang benar-benar terlalu hebat.

Apa orang-orang lain pun akan berpikir demikian?

“… … Pertama, bukannya menempatkan kamera pengintai di seluruh sekolah seenggaknya bisa mencegah penindasan di permukaan?”

Aku tak yakin persisnya bagaimana, tapi kurasa hasilnya akan seperti itu.

“Hmm. Itu bagus, tapi masalahnya nanti jadi berhubungan ke soal privasi. Kalau kejadiannya di ruang ganti, gimana?”

“Mmm.”

Pembicaraan ini rupanya mulai mencapai titik penting.

Benar juga. Pemerasan bisa terjadi di tempat itu juga.

Salah, ruangan tertutup seperti ruang ganti itu justru mungkin merupakan tempat yang paling berbahaya.

“… … Oke, begini saja. Tanggung jawab untuk memeriksa rekaman video ruang ganti perempuan biarkan serahkan saja padaku selaku pemberi usul.”

“ ‘Begini saja’ apanya!”

Kini Bu Guru Hanekawa dengan serius menggelengkan kepala.

Berbuat tak tahu malu ternyata ada batasnya juga!

“Larangan pemeriksaan video buatmu juga takkan kubatasi hanya ke ruang ganti perempuan saja!”

“Oh tidaaak!”

Aku yang panik.

Hanekawa yang tenang.

“Tak kusangka. Rupanya Araragi jenis orang yang punya keinginan untuk mengintipi tempat-tempat seperti itu…”

“Tunggu, gimana kalo gini? Tugas pemeriksaan rekaman video ruang ganti laki-laki kuserahkan buatmu saja… asal kamu lupain apa yang aku katakan tadi.”

“Aku tak mau lihat.”

… … … …

Tunggu, kenapa malah jadi ini yang aku permasalahkan?

Kalau aku tak cepat-cepat berpisah dengan Hanekawa—aku akan terlambat menemui Dramaturgie!

Dan juga, aku tak ingin membuat Hanekawa sampai terlibat.

“Hanekawa… apa enggak sebaiknya kau pulang sekarang? Kalau kau sekarang pulang, berarti sudah waktunya untukku buat pulang juga.”

“Heh? Tapi kau ‘kan bukan saya, Araragi. Tapi kalau memang sudah waktunya buatmu untuk pulang, maka memang sebaiknya kau pulang.”

“Hanekawa, rumahmu di sekitar sini ya?”

“Sama sekali enggak kok. Cuma terkadang, kalau sedang ingin jalan-jalan, aku tanpa sadar suka melangkah kemari.”

“… … Kalau malam, usahain jangan keluar rumah.” Itu yang aku katakan padanya. “Bisa-bisa kau ketemu vampir lho.”

Rasanya agak bertentangan, karena ucapan itu datang dari mulutku sendiri.

Walau begitu, aku sama sekali tak mengira kata-kata itu akan terasa sakit.

Sama sekali tak kusangka kata-kata itu justru akan terasa bagi diriku sendiri.

“Enggak, malah, mungkin aku agak mengharapkannya.” Hanekawa, yang berada di hadapanku, mengatakan itu. “Walau kupikir itu cuma rumor, sejujurnya, aku memang merasa kalau mungkin saja aku bisa berpapasan dengan satu kalau aku keluar rumah.”

“… … Kenapa?” Dengan gegabah, aku malah menanyainya. “Kenapa kamu malah ingin ketemu vampir?”

“Enggak, bukannya aku pernah serius memikirkannya sih. Cuma mungkin aku sedang berharap bisa mengalami sesuatu yang enggak biasa. Berpapasan dengan vampir, lalu berbincang-bincang dengannya. Semacam itu.”

“Apa-apaan… kamu jangan bercanda!” Lalu tanpa sadar, aku malah membentaknya.

Ah.

Oh tidak.

“Eh?” Hanekawa, tampak bingung, kemudian dengan tersenyum simpul, terlihat agak resah.

“Ma… Maaf.” Dengan cepat kukatakan itu.

“Apa barusan aku… salah bicara?” Hanekawa bertanya.

“… … … …”

Bukan begitu—cuma, mengatakannya saja memang gampang…

Mungkin malah benar-benar gampang…

Malah, sebenarnya aku yang terkejut—masalahnya lebih di aku daripada di Hanekawa.

Awalnya, aku sudah siap untuk menerima situasi saat ini.

Menangani segalanya dengan kepala dingin.

Urusan soal tiba-tiba diubah menjadi vampir.

Urusan soal selanjutnya membantu mengumpulkan kembali kaki dan tangan Kiss-Shot.

Dengan begitu aku akan bisa kembali lagi menjadi manusia.

Aku sudah paham dan menerimanya.

Harusnya seperti itu.

Urusan soal harus menyelamatkan Kiss-Shot yang sekarang, sampai kini itu sama sekali tak kusesali—dengan perkembangan situasi yang saat inipun, aku masih punya kepercayaan diri kalau aku bisa mengatasinya.

Tapi…

Kata-kata Hanekawa barusan—untuk suatu alasan agak membuatku terguncang.

Sejak kapan aku bisa membentak orang yang bukan anggota keluargaku sendiri?

Ahhh…

Benar juga, dayaku sebagai manusia pasti sudah benar-benar rendah sekarang.

Tapi—bukan, makanya aku bilang…

Karena itu juga aku harus…

“… … … Enggak. Bukan…” Aku menggelengkan kepala.

Kutarik kembali kata-kata permohonan maaf itu kembali.

Lalu…

“Kamu yang memancingku.”

Lalu…

“Eh?”

“Itu beneran membuatku marah, tahu. Bentuk… bentuk hidungmu.”

Kita tinggalkan dulu fakta bahwa aku sendiripun tak memahami logika di balik kata-kata itu. Terhadap Hanekawa yang kini menampakkan senyum simpul, kuutarakan semua kata kejam yang sanggup kupakai.

Rasanya agak seperti menyiksa anak kucing.

Perasaan yang amat sangat enggak enak.

Tapi, aku tak bisa tak mengatakannya.

“Aku suka menyendiri, jadi kamu jangan seenaknya ngikutin aku.”

“Araragi, kamu bicara apa? Bukannya beberapa saat tadi, kau juga kelihatan senang waktu aku ajak…”

“Sama sekali enggak.”

Tanpa emosi, kukatakan itu padanya.

“Aku tadi cuma pura-pura senang.”

“Kenapa…”

“Sebenarnya, sasaranku sejak awal itu cuma uangmu.”

“A, tapi, keluargaku bukan keluarga kaya.”

Oh sial.

Aku pasti jadi terdengar aneh.

Jadi aku mengubahnya sedikit.

“… … Pokoknya, siapa tahu kamu cuma bersikap begitu agar dipandang baik sama orang lain. Terhadap siswa bego kayak aku, bisakah Hanekawa, si Nona Pintar, enggak ganggu aku lagi? Kamu boleh aja merasa diri kamu lebih dari orang lain, tapi mendapat simpati dengan cara seperti ini itu menyebalkan, tahu.”

“… … …”

Ekspresi yang sebelumnya ada di wajah Hanekawa tiba-tiba saja lenyap.

Tapi aku tak boleh urung hanya karena itu.

Aku tak bisa tak berlanjut.

Dari dalam sakuku, kukeluarkan ponselku—lalu kujulurkan ke arah Hanekawa.

“Kamu jangan seenaknya nyentuh hape punya orang lain!”

Lalu dengan memastikan ia tetap melihat, kuhapus nama, nomor telepon, serta alamat email Hanekawa di dalamnya.

“… … Jadi pergi sana, sekarang.”

Lalu…

Sesudah mendengar kata-kataku—Hanekawa perlahan memejamkan mata.

Dia mungkin akan mulai menangis.

Sesuatu soal membuat seorang anak perempuan menangis untuk pertama kalinya semenjak SD. Itulah satu-satunya hal yang saat itu terlintas di dalam kepalaku.

Tapi Hanekawa tak menangis. Dirinya membuka mata. Lalu walau terlihat lemah, dirinya tetap tersenyum.

Bahkan sampai ke titik ini kau masih…?

“Oke.” Dia mengatakannya seperti itu. “Araragi, maaf karena membuatmu jadi mengatakan itu semua, ya.”

Hanekawa lalu membalikkan badannya terhadapku, kemudian melangkah pergi.

‘Maaf’… …?

Perempuan ini, bahkan pada akhirnya, dia meminta maaf?

Bahkan sesudah aku mengatainya seperti itu?

Sebenarnya, bahkan aku sendiri yang mengatakan itu semua pun merasa buruk—jadi gimana caranya kamu masih bisa tersenyum seperti itu?

… … Bukannya jawabannya jelas?

Perempuan itu, Hanekawa, dia berbeda denganku.

Dia sungguh-sungguh orang yang baik.

Alasannya, bukan cuma karena aku masih harus segera ke tempat yang dijanjikan, sehingga aku harus cepat berpamitan dengan Hanekawa—alasannya juga karena aku tak bisa melibatkan orang biasa seperti dirinya.

Namun…

Sebenarnya ada satu hal mengganjal lain—kenyataan aku mungkin telah membuat Hanekawa sedih. Sampai mengatainya macam-macam—mungkin di matanya penyebab kemarahanku enggak jelas.

Tentu saja aku tahu Hanekawa sama sekali tak bermaksud buruk.

Apa iya aku sama sekali sudah tak punya penyesalan lagi?

Urusan soal menyelamatkan Kiss-Shot—apa sebenarnya aku malah merana karena harus melakukannya?

Urusan soal mendapatkan kembali kedua kaki dan tangannya. Untuk ini, bukannya untuk ini aku sampai harus berhadapan dengan bahaya?

Tapi… sebenarnya masih ada satu hal lain yang lebih kutakutkan lagi.

Aku… Apa aku benar-benar akan bisa berubah kembali menjadi manusia?

Menampakkan diri di bawah matahari akan membuatku merasakan neraka.

Tapi lalu ada juga sejumlah batasan lainnya.

Tapi… untuk sekarang, mungkin tak ada salahnya bila aku mempedulikan sebagian hal dan mengabaikan sisanya. Vampir, jenis sosok yang jenis keberadaannya melebihi manusia, apa iya tak ada alasan bagiku untuk menjadi salah satunya?

Lalu soal hasil.

Memikirkannya aku malah menjadi semakin tegang.

Makanya, ya, baguslah.

Aku bukan cuma jadi berhasil berpisah dengan Hanekawa di sini. Aku juga bahkan berhasil menyingkirkannya dari hidupku.

Tidak, sepertinya sudah jelas dia akan enggan bertemu denganku lagi—kali ini juga, yang terjadi hanyalah sedikit perpanjangan dari sebuah adegan berpapasan yang berlangsung secara kebetulan.

Jadi untunglah kami berpisah sebelum benar-benar menjadi akrab.

Benar-benar untung.

“… … Begini juga enggak apa-apa.” Secara perlahan, aku berkata.

Aku letakkan kembali ponsel yang tadi sempat kukeluarkan ke dalam saku.

“Dengan begini, aku bisa menaikkan sedikit dayaku sebagai manusia.

Aku telah bertambah kuat… sehingga…

…Sehingga aku yakin soal keharusan untuk bertarung dengan Dramaturgie ini, urusan mengambil kembali kaki kanan Kiss-Shot, akan bisa kuselesaikan tanpa masalah.

Untuk sekarang, hanya urusan itu yang penting.

Rasa sedih itu bukan masalah.

Rasa sedih yang kini tengah kurasakan itu sama sekali bukan masalah.

Aku mengambil satu langkah ke depan.

Perjalanannya memakan waktu lebih lama dari yang kuduga, tapi aku tak perlu khawatr soal datang terlambat—karena tempat tujuanku memang sejak awal memang tak jauh dari toko buku itu.

Tempat yang telah Oshino tetapkan, medan pertarunganku melawan Dramaturgie—adalah tempat yang sangat kukenal.

Lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu.

—————————-

Catatan:

G-Men ’75 adalah seri drama polisi yang sempat sangat populer di paruh akhir tahun 70’an di Jepang. Soal cara jalannya, bayangin adegan pembuka tiap episode dari seri The Untouchables yang dulu pernah tayang di SCTV. Eh, kalian enggak tahu soal itu juga?

Soal daya sebagai manusia yang Araragi maksudkan, aku bayanginnya itu berasal dari ungkapan ‘Sebagai manusia, aku enggak berdaya.’ Tapi sudahlah. Itu cuma aku aja. Sudah kubilang bab ini agak susah diterjemahinnya. Dan lagi kayaknya bahasan ini ada kaitannya dengan apa yang Araragi bicarakan soal tak punya teman di awal cerita.


About this entry