Nisemonogatari

Berlatar di liburan musim panas sekolah, beberapa minggu sesudah akhir Bakemonogatari, Araragi Koyomi telah dipaksa(?) oleh dua gadis paling berarti dalam hidupnya, Senjougahara Hitagi dan Hanekawa Tsubasa, untuk melewatkan waktunya dengan belajar di rumah. Satu hari dilaluinya di bawah bimbingan Senjougahara. Lalu hari berikutnya akan ia lalui bersama Hanekawa.

Tapi kedamaian yang ia dapatkan berlangsung hanya sementara. Seorang pria asing bernama Kaiki Deishuu kembali hadir di kota. Dan kedatangan pria tersebut hanyalah awal dari serangkaian kesulitan baru yang harus Araragi hadapi terkait urusan-urusan supernatural; dimulai dengan masalah yang dihadapi oleh kedua adik perempuannya: Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Aku agak malas menjelaskan sisanya. Tapi inti cerita Nisemonogatari (kurang lebih berarti ‘cerita tentang kepalsuan’), yang masih diangkat dari seri light novel karya Nisioisin, memang hanya sebatas itu. Ceritanya benar-benar hanya terkesan sebagai selingan, dan karenanya seri ini jelas tak semenonjol seri pendahulunya.

“Aku pacaran dengan Senjougahara…”

Ada dua bab utama dari seri ini, dengan masing-masing bab memberi fokus pada salah satu adik Araragi (Koyomi), yakni Karen Bee dan Tsukihi Phoenix.

Aku agak heran, karena inti cerita per babnya sebenarnya tak jauh berbeda dari durasi bab-bab di Bakemonogatari. Kalau begitu, apa yang membuat dua bab seri ini bisa sampai sepanjang 11 episode?

Apa iya semua waktu menonton kesebelas episode ini terbuang hanya lewat fanservice semata?

Damn.

Tapi tidak, tidak juga sih. Walau seri ini memang bisa dikatakan fanservice bagi penggemar seri Monogatari Nisioisin (dan pihak studio SHAFT selaku animator tampaknya memahami betul hal ini), dengan hampir semua tokoh lama tampil kembali dan bertingkah, asal kau cermati baik-baik, ada alasan tertentu kenapa semua ditatanya demikian. (Mungkin.)

Sengoku Nadeko yang manis tampil kembali di awal-awal cerita untuk mengingatkan kembali akan kesulitan ular yang dulu ia alami akibat rumor-rumor kutukan yang beredar. Diindikasikan juga bagaimana obsesinya terhadap Araragi memang sedemikian kuatnya, dan kelak menjadi pendorongnya untuk menjadi tokoh antagonis di seri-seri lanjutannya.

Kanbaru Suruga juga tampil kembali di awal-awal dengan memperlihatkan perkembangan keadaannya sesudah roh monyet itu mendiami tangannya. Gadis enerjik ini masih tetap mesum seperti biasa. Tapi diindikasikan bahwa kerabatnya, atau keluarganya, atau bahkan ibunya sendiri, mungkin berkaitan dengan Kaiki di masa lalu…

Hachikuji Mayoi, yang kini tak lagi merupakan roh tersesat, menjadi salah satu sosok yang paling Araragi bisa percayai tentang masalah-masalah supernatural ini, di samping bekas vampir Oshino Shinobu yang kini berdiam di dalam bayangannya. Kita diingatkan kembali akan detil hubungan mereka berdua. Hachikuji juga ditampilkan lebih sering di seri ini dibandingkan sebelumnya.

Berbicara soal Shinobu, digambarkan pula bagaimana hubungannya dengan Araragi mengalami perkembangan berarti di seri kali ini.

Oh ya. Berbicara soal judulnya sendiri, tema ‘kepalsuan’ memang memainkan peranan cukup besar dalam kedua bab seri ini. Aku tak tahu apakah itu hanya kebetulan atau memang menjadi sesuatu yang disengaja oleh Nisioisin. (:P) Tapi begaimana plot dan temanya secara apik menyatu pada kedua bab tersebut menurutku merupakan hal yang benar-benar menarik.

“…dan aku sangat suka Hanekawa…”

Kaiki Deishuu yang merupakan seorang penipu ulung menipu teman-teman sekolah Karen dan Tsukihi. Karenanya, Karen dan Tsukihi yang membentuk duo Fire Sisters menghadapinya untuk membuat perhitungan. Tapi hal yang tak mereka sangka terjadi, sehingga Araragi (Koyomi) jadi mesti turun tangan. Lalu dari sana terungkap pula bagaimana Kaiki juga pernah berkaitan dengan kesengsaraan yang dialami oleh keluarga Senjougahara, serta kutukan ular yang pernah menimpa Nadeko.

Bab Karen Bee diakhiri dengan konfrontasi atas Kaiki yang dilakukan bersama oleh Araragi dan Senjougahara. Dialog yang berlangsung pada adegan ini, seperti biasa, menjadi klimaks yang benar-benar menarik. (Walau mungkin tak seberkesan seharusnya sih.)

Bab Tsukihi Phoenix sendiri berkisah seputar identitas sesungguhnya dari Araragi Tsukihi, yang terungkap bersama kedatangan seorang wanita misterius bernama Kagenui Yozoru dan adik perempuannya(?), Ononoki Yotsugi. Pada bab ini juga dibeberkan kaitan yang Kagenui dan Kaiki pernah miliki dengan Oshino.

Tapi walau aku mengatakannya begitu, sebagian besar durasi Nisemonogatari benar-benar hanya diisi dengan fanservice. Fanservice-nya juga bukan tipe yang main-main, melainkan yang benar-benar mengeksploitasi sisi tak tahu malu Koyomi dan membuat para penonton berpikir, “Sial. Aku ingin membunuh orang ini. Aku ingin membunuh Araragi Koyomi. Aku ingin membunuh Nisioisin.”

Begitu.

Terutama sehubungan dengan kelakuan Koyomi terhadap kedua adiknya.

Mungkin Koyomi memang main-main. Mungkin itu semua hanya pembalasan Koyomi atas segala perlakuan buruk yang kedua adiknya pernah lakukan padanya di masa lalu. Tapi, yah, kau tahu maksudku.

Bagusnya, segala hal berarti dalam ceritanya nampaknya memang mereka sampaikan kok. Aku tak sepenuhnya yakin, karena porsi Tsukihi Phoenix jauh lebih sedikit dibandingkan Karen Bee. Tapi cerita utamanya sepertinya tertuntaskan (meski berakhir dengan tulisan ‘bersambung’), dan belum jelas apa akan ada ONA sebagai kelanjutan.

Apa ada alasan tertentu mengapa SHAFT membuatnya begini? Apa iya sebagian besar isi kedua jilid novel Nisemonogatari memang hanya basa-basi belaka?

Aku sampai merasa mereka yang masih mengingat Unlimited Rulebook itu apa di akhir seri layak untuk mendapatkan pujian.

“…tapi yang kelak ingin kunikahi cuma kamu, Hachikujiiiiii!” | “Gyaaaaaaa!”

Berbicara soal hal teknis, bila kalian sudah pernah melihat Bakemonogatari, maka kalian bisa membayangkan sendiri visualisasinya macam apa. Kebanyakan orang mungkin takkan terlalu mempedulikannya karena sisi nakalnya sih. Tapi kalau kuperhatikan baik-baik, kurasa cara SHAFT menangani visualisasi di Nisemonogatari benar-benar keren.

Timing setiap gerakannya itu bagus gitu. Benar-benar pas sesuai dengan suaranya. Efeknya tak terlalu kena ke kita karena ceritanya kayak gitu,tapi mungkin juga karena dunianya terkesan makin aneh, seri ini benar-benar enak dilihat kok. Begitu kau terbiasa dengan gayanya, tampilan Nisemonogatari bisa lumayan mengesankan secara bawah sadar.

Dari segi suara… Aku tak bisa bicara banyak sih. Lagu tema utama seri ini yang berjudul ‘Naisho no Hanashi’ dan memberikan warna ceria(?) dibawakan oleh pasangan duet ClariS. Meski bukan lagu supercell, Ryo yang bertanggung jawab atas aransemennya. Dan jadinya lagu ini memang menarik.

Argh, sudahlah.

Singkatnya, kalau kau penasaran dengan kelanjutan Bakemonogatari, kau takkan punya pilihan selain menonton ini. Memang terkesan agak enggak guna sih. Tapi kalau melihat seri novelnya, seri ini memang akan menjembatani apa-apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mungkin saja ada detil cerita (sangat) tersamar di dalamnya yang aku lewatkan.

Di sisi lain, kalau kau tak sebegitu maniaknya terhadap Bakemonogatari, maka seri ini takkan terlalu kurekomendasikan. Detil-detil soal apa yang berlangsung di dalamnya bisa kau cari di media lain, kalau-kalau suatu saat kelak ada lanjutannya yang akan menarik minatmu.

Hei, setidaknya kedua bab seri ini tetap berakhir manis.

Meski mereka tak banyak berperan di dalamnya, tampilan baru Senjougahara dan Hanekawa sesudah musim panas menjadi daya tarik lebih.

Lalu di akhir cerita, Senjougahara pun telah memotong rambutnya, menampakkan senyumannya, pertanda bahwa kepribadian dan perasaannya telah pulih seperti sedia kala.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B


About this entry