Seikai no Monsho

Kalau ada satu seri anime yang aku suka, tapi selamanya mungkin takkan pernah kurekomendasikan, maka itu adalah trilogi Seikai dari Seikai no Senki (Banner of the Stars, ‘panji bintang-bintang’), yang seri novelnya hingga kini masih berlanjut. Tapi tentunya, membahas trilogi anime di atas tak mungkin dilakukan tanpa sebelumnya membahas seri pendahulunya, Seikai no Monsho, atau yang juga dikenal sebagai Crest of the Stars (’emblem bintang-bintang’). Seri novel aslinya ditulis oleh Morioka Hiroyuki dengan ilustrasi karakter oleh Ono Toshihiro. Pertama terbit pada tahun 1996, seri novelnya kemudian diangkat ke bentuk anime oleh Sunrise pada tahun 1999 di saluran WOWOW.

Seikai no Monsho adalah seri sains fiksi hardcore, dan yang kumaksud di sini itu benar-benar hardcore, dalam artian hanya bisa dinikmati oleh mereka yang maniak terhadapnya. Seri ini mungkin tak pernah benar-benar meledak, tapi nampaknya di Jepang ada penggemar yang sungguh fanatik terhadapnya. Karena seperti halnya bahasa Klingon di Star Trek dan bahasa kuno di LOTR, Seikai no Monsho juga memperkenalkan conlang-nya sendiri yang khusus dibuat oleh Morioka-sensei untuk cerita ini.

Ceritanya bergenre space opera gitu, dengan mengusung dua tokoh utama yang masih remaja. Tapi meski seri ini keluar lebih dahulu pada tahun 1999, seri ini dikatakan hanyalah ‘prolog’ bagi seri utamanya, Seikai no Senki, dan menjadi sesuatu yang wajib diikuti untuk bisa mengenal para tokoh dan dunianya.

Meski ada adegan-adegan peperangan antariksa di dalamnya dan tanda-tanda akan adanya romansa, jangan bayangkan anime mecha macam Gundam atau sesuatu macam Mass Effect. Ceritanya berat di drama, tapi bukan jenis drama yang lazim kamu lihat. Mungkin lebih seperti drama di cerita-cerita sains fiksi zaman dulu mungkin, ya? Yang pasti, Seikai no Monsho itu benar-benar sesuatu yang lain dari yang lain untuk ukuran anime, dan karenanya hanya akan disukai oleh sebagian orang saja.

Pengasingan

Setiap episode animenya dibuka dengan sedikit narasi dalam bahasa Abh (disertai subtitel) yang menjelaskan sedikit banyak tentang situasi cerita yang berlangsung di setiap episodenya. (Mohon perhatikan bahwa pengejaan semua nama di sini masih tentatif, karena alasan yang mungkin akan kalian pahami sendiri nanti.)

Cerita dibuka tentang pemaparan masa kecil sang tokoh utama, remaja lelaki ramah namun agak rendah diri, Jinto Lin, yang kelak mengusung nama lengkap Linn ssynec Rocr Ïarlucec Dreuc Haïder Ghintec (Lin Shu Rock Yalulug Dril Hydal Jinto), sesudah ayahnya, Rock Lin, yang memimpin Planet Martine di sistem tata surya Hyde, menyerahkan kekuasaan planetnya tanpa perlawanan kepada perwakilan Kekaisaran Abh yang datang menginvasi dari luar angkasa.

Ceritanya, umat manusia telah tersebar ke seluruh penjuru galaksi, berkat penemuan gerbang-gerbang antar ruang dan waktu yang disebut Saudec. Bangsa Abh adalah ras penjelajah luar angkasa, yang sesudah lama terpisah dari saudara-saudara seplanet mereka yang lain, dari manusia biasa kemudian mengalami semacam evolusi rekayasa genetik agar sesuai dengan kondisi ekstrim antariksa. Mereka berambut biru dan bertelinga panjang, selalu mempertahankan emosi mereka berada dalam keadaan stabil, awet muda, serta selalu berpembawaan anggun dan beradab.

Keluarga Lin kemudian menjadi bagian dari kebangsawanan Kekaisaran Abh ini, dan diberi kuasa atas Hyde sebagai teritorialnya. Tapi wewenang atas gerbang Saudec di tata surya Hyde kemudian jatuh ke tangan pemerintahan Abh, yang membuat perekonomian planet Martine bergantung pada ketentuan kekaisaran.

Keputusan kontroversial ayah Jinto ini semakin menuai kepahitan masyarakat saat diketahui bahwa armada bangsa Abh yang mengepung Martine itu sebenarnya hanya menggertak soal penyerangan besar-besaran ke permukaan planet. Sistem pertahanan planet yang Martine miliki ternyata sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan Martine dari armada kapal invasi Kekaisaran. Sehingga jadilah Jinto mengalami masa kecil yang kompleks akibat penelantaran ayahnya, serta kedudukan marganya yang dibenci oleh rakyat planetnya sendiri.

Maju ke beberapa tahun kemudian, sebagai keturunan bangsawan, Jinto yang beranjak remaja telah meninggalkan Martine untuk bergabung dengan sekolah kemiliteran yang akan mengajari segala yang perlu diketahuinya tentang budaya Abh dan masyarakatnya di planet Delect. Saat akhirnya harus meninggalkan Delect untuk melanjutkan pendidikannya di Lakfakalle, ibukota Kekaisaran, Jinto kemudian berkenalan dengan perwira yang menjemputnya, gadis Abh sebayanya yang serius dan keras kepala bernama  Ablïarsec néïc Dubreuscr Bœrh Parhynr Lamhirh (Abriel Nei Debrusc Borl Paryun Lafiel), atau Lafiel, yang sebenarnya adalah salah seorang putri dari keluarga utama Kekaisaran, Abriel. Lafiel, yang saat itu menjalani pelatihannya sebagai pilot muda di kapal induk Gothloth yang akan mengantarkan Jinto, dengan cara sedikit aneh kemudian berteman dengan Jinto; karena ketidaktahuan Jinto bahwa Lafiel seorang putri justru memberi kesan bagi Lafiel yang selama ini ingin diperlakukan wajar.

Seikai no Monsho memaparkan awal hubungan antara Jinto dan Lafiel, serta bagaimana keduanya kemudian terseret ke awal kancah perang besar saat Gothloth berpapasan jalan dengan armada kapal perang Aliansi Empat Negara (‘Four Nations Alliance’), yang menyatakan diri memperjuangkan kebebasan umat manusia dari tirani Abh…

Sukar Dipahami

Seikai no Senki mengisahkan hubungan yang terjalin antara Jinto dan Lafiel, dua insan yang sangat berbeda, selama masa peperangan antara Kekaisaran Abh dan Aliansi Empat Negara (yang banyak melibatkan kapal-kapal perang) berlangsung. Jadi Seikai no Monsho kurang lebih memaparkan bagaimana awal mula semuanya terjadi. Ini mungkin memang bisa dikatakan merupakan cerita boy meets girl sih. Tapi Seikai no Monsho sama sekali tak bisa dibilang cerita cinta. Yah, alasannya berhubungan dengan sifat alami kaum Abh yang ditampilkan pada cerita ini sih. Kau mungkin akan lebih mengertinya bila menyaksikannya sendiri.

Animasinya termasuk yang benar-benar keren pada masanya, dengan desain mekanik yang keren serta efek-efek visual yang canggih. Demikian pula dengan musiknya yang terbilang ‘megah.’ Tapi ceritanya, mungkin terbilang sulit buat ‘dimasuki’ bila kita belum tahu apa-apa tentang latar ceritanya sebelumnya. Pemaparan ceritanya juga agak gimanaaa gitu. Ada begitu banyak tokoh berarti dengan durasi cerita (sekitar 13 episode) yang terbatas. Sehingga rasanya seolah kita hanya bisa memahami semuanya setengah-setengah.

Tanpa tahu apa-apa tentang novel-novelnya sebelumnya, aku benar-benar berjuang untuk menikmati seri ini. Soalnya, kayak ada ‘rentang budaya’ yang menghalangiku untuk memahami apa-apa yang terjadi. Meski begitu, seri ini tetap lumayan mengusik rasa ingin tahuku. Perkembangan situasi yang Jinto dan Lafiel hadapi, walau tidak disampaikan dengan cara yang cocok dengan seleraku, memang menarik dan tak tertebak. Nuansa ceritanya memang sendu dan nyaris miskin emosi. Tapi hal itu justru membuat kita mempertanyakan apa sebenarnya yang tengah terjadi, hingga akhirnya ikut merasakan besarnya ketidakpastian yang Jinto dan Lafiel rasakan terhadap masa depan.

Serius, ada sejumlah perkembangan cerita di seri ini yang kurasa benar-benar aneh dan masih tak kumengerti hingga sekarang. Tapi aku terlanjur menyukai Lafiel dan Jinto. Dan tamatnya, saat bagaimana hasil akhir dari upaya keras keduanya diperlihatkan, menurutku, tamatnya memukau. Jadi, yah, kau tahu…

Sekali lagi, tak kurekomendasikan. Tapi aku takkan segan bilang kalau aku menyukainya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry