Pluto

Sebetulnya, sudah lama aku kepengen melakukannya. Tapi baru belakangan banget aku membaca Pluto sampai tamat.

Manga suspens ini benar-benar menarik banyak perhatian sampai beberapa tahun lalu. Alasannya semata-mata karena mengusung dua nama besar: Osamu Tezuka, yang dikenal sebagai bapak pencipta manga; serta Naoki Urasawa, yang sebelumnya sudah dikenali lewat karya-karya dewasa mencekamnya, meliputi Monster dan 20th Century Boys. Buat yang belum tahu, Pluto merupakan adaptasi ulang dari bab ‘Robot Terkuat di Dunia’ di seri komik Tetsuwan Atom (atau Astro Boy), yang menjadi salah satu mahakarya Tezuka-sensei. Naskah plotnya dibuat oleh Takashi Nagasaki di bawah pengawasan putra mendiang Tezuka-sensei, Makoto Tezuka.

Manga ini aslinya diserialisasikan dalam majalah komik dua mingguan Big Comic Original, yang dimiliki penerbit Shogakukan, dari tahun 2003 sampai tahun 2009. Di Indonesia sendiri, manga yang berjumlah total delapan edisi ini sudah diterjemahkan oleh MnC.

Agen Europol

Aku enggak yakin apa aku perlu membahas soal Tetsuwan Atom dulu, karena seri ini benar-benar sudah teramat terkenal. Mahakarya Tezuka-sensei ini secara argumentatif merupakan karya beliau yang memiliki rentang pembaca paling luas di tahun 1960-an.

Dulu sekali, di paruh awal tahun 1990an, MnC pernah menerbitkan terjemahan seri manga ini di sini. Aku enggak yakin apa serialisasinya waktu itu sampai tamat apa enggak sih. Tapi walau dulu aku hanya sempat membaca beberapa jilid (aku dulu belum berkemampuan untuk membeli komik sendiri), aku langsung jadi penggemar beratnya. Gambarnya jadul dan sederhana untuk ukuran sekarang bahkan untuk ukuran tahun 90-an. Tapi ceritanya nyaris selalu memikat dan benar-benar enak dibaca.

Tetsuwan Atom berkisah tentang berbagai petualangan yang dijalani Atom, robot anak-anak yang sekaligus merupakan robot tercanggih dan terkuat di dunia, yang dulu diciptakan oleh Profesor Tenma sebagai pengganti anaknya, Tobio, yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Berlatar di dunia masa depan di mana kaum robot (kayak di cerita-cerita Asimov) digambarkan telah memiliki kesadaran dan memiliki kedudukan yang nyaris sederajat dengan manusia, Atom beraksi menjalani kehidupannya sebagai anak SD yang tumbuh dan belajar, yang sekaligus menjadi semacam superhero pembasmi kejahatan. Ia punya kekuatan sekian juta tenaga kuda, kaki jet… tapi soal sisanya lebih baik kalian periksa sendiri.

Bab ‘Robot Terkuat di Dunia’ berkisah tentang bagaimana ada satu robot misterius, yang belakangan diketahui bernama Pluto, yang entah mengapa mengincar tujuh robot terkuat di dunia yang tersebar di berbagai negara. Salah satu dari mereka termasuk Atom. Berbeda dari cerita aslinya, sebagian besar cerita ini pada awalnya dinarasikan dari sudut pandang Gesicht, robot polisi khusus yang bekerja untuk biro kepolisian Europol. Ceritanya berawal dari bagaimana Gesicht terlibat dalam penyelidikan terhadap misteri penghancuran korban robot yang pertama: Montblanc, robot penjaga hutan kebanggaan rakyat Swiss. Lalu barulah saat menjelang akhir fokus ceritanya beralih ke Atom lagi.

Yang benar-benar membuat Pluto istimewa adalah bagaimana Urasawa-sensei meramu bab ‘Robot Terkuat di Dunia’ ini menjadi sebuah misteri suspens yang tak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Di komiknya yang asli, setiap episode petualangan Atom ini gilanya selalu beragam dan penuh dengan nilai moral dan kemanusiaan. Kadang kasus-kasus yang dihadapinya sederhana, berkaitan dengan kehidupan kesehariannya yang normal. Tapi kadang lagi ia mengurusi permasalahan yang sebenarnya jauh lebih rumit dari kapasitas pemahamannya sebagai anak-anak. Pluto ini mengetengahkan salah satu babnya yang seperti itu, yang konfliknya akan membawa para tokohnya melintasi batas-batas negara.

Drama di tiap bab Tetsuwan Atom itu… beneran kuat. Dan kadangkala, bab-bab ceritanya bisa jauh lebih panjang dan rumit dari apa yang semula kau bayangkan untuk sebuah komik anak-anak. Pluto mempertahankan semua itu. Tapi dengan menambahkan sentuhan realisme luar biasa di sini, terutama dari bagaimana  ‘robot-robot yang segenerasi dengan Atom nyaris tak dapat dibedakan lagi dari manusia biasa’.

Atom, Gesicht, lalu semua tokoh lain seperti Profesor Ochanomizu, mentor Atom; serta Uran, adik perempuan Atom yang merupakan mahakarya Prof Ochanomizu; benar-benar didesain ulang oleh Urasawa-sensei sampai terbayang bagaimana sekiranya tampang mereka jika mereka benar-benar ada. Desain ulang ini terus terang merupakan hal paling wah yang kudapatkan sebagai penggemar lama Tetsuwan Atom. Lalu desain dunianya yang futuristis benar-benar dibuat seakan tampak mungkin dan riil. Hal-hal konyol, seperti senapan mesin di pantat Atom, tak disinggung sama sekali. Sebagai penggemar Tetsuwan Atom, aku benar-benar tak bisa habis memuji Pluto, karena adaptasi segala elemennya benar-benar luar biasa.

Bersama realisme itu, Urasawa-sensei menambahkan intrik dan drama ke dalam cerita aslinya. Mulai dari pemaparan kehidupan rumah tangga Gesicht bersama istrinya, yang robot manusia juga; misteri pembunuhan berantai sejumlah tokoh yang berkaitan dengan dunia robot, yang tak bisa dipastikan apakah dilakukan oleh manusia atau bukan; kondisi sosial para robot yang dibuat untuk tak bisa mencelakakan para manusia; hingga teori tentang artificial intelligence sempurna yang menjadi elemen sains fiksi utama seri ini.

Seiring perkembangan cerita, Gesicht mendapati bahwa identitas dari para korban mengindikasikan keterlibatan semuanya dengan sebuah perang besar  di Asia beberapa tahun sebelumnya, yang di dalamnya Atom dan Prof Ochanomizu terlibat pula untuk alasan berbeda. Ceritanya benar-benar berkembang secara bagus dari sana, dengan detil yang agak berbeda dari ceritanya yang asli. Ini benar-benar salah satu manga Urasawa-sensei yang dari awal sampai akhir berhasil dalam pengeksekusiannya.

Sendu

Seperti kebanyakan karya Urasawa-sensei, meski kali ini bukan beliau yang membuat naskah cerita, ceritanya berat di bahasan soal moral-moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Lalu karena tak sepanjang seri-seri Urasawa-sensei yang biasa, plotnya benar-benar terasa padat dan terselesaikan secara tuntas.

Hal lain yang mengesankanku dari Pluto adalah bagaimana di dalamnya Urasawa-sensei sekali-kalinya menyajikan adegan-adegan aksi yang layak. Memang tak banyak dan tak panjang sih. Tapi berbeda dibandingkan seri-seri beliau sebelumnya, yang lebih banyak mengandung build-up serta penggambaran adegan melalui sebatas apa-apa yang ditangkap oleh para penonton sampingan, di Pluto bisa dibilang ada koreografi aksi yang lumayan keren di dalamnya. Adegan-adegan saat Gesicht menyusuri tembok atau saat Atom melayang di udara dengan kaki jetnya, itu semua memberiku perasaan ‘Wow!’, karena Urasawa-sensei menggambarkan dengan gaya riil seperti halnya gaya gambar beliau di seri-serinya yang lain.

Mungkin mereka yang bisa sepenuhnya menghargai manga ini hanya mereka yang sebelumnya pernah bersinggungan dengan versi manga asli Tetsuwan Atom. Tapi itu tak berarti para pembaca yang belum tahu banyak tentang Atom tak bisa menikmatinya. Ada beberapa backstory yang digambarkan secara baik, terutama tentang awal mula penciptaan Atom. Terlebih karena Profesor Tenma yang pemuram dan ambigu moralitasnya, yang di seri Tetsuwan Atom hanya muncul sesekali, memainkan peranan sangat penting di seri ini.

Alur ceritanya, kayak biasa buat komik Urasawa-sensei, benar-benar membuat penasaran. Karenanya aku bersyukur aku baru membaca seri ini sesudah semuanya tamat.

Ya, membaca-baca komik Urasawa-sensei yang belum tamat memang agak enggak sehat.


About this entry