Claymore

Belakangan saat aku suntuk, aku membaca Claymore karangan Norihiro Yagi.

Mungkin aku pernah bilang kalau sebenarnya aku kurang suka anime atau manga dengan cerita bergenre fantasi. Tapi sesudah membacanya sendiri, kurasa Claymore bisa ditambahkan ke daftar seri anime/manga fantasi yang bisa kunikmati (bersama Record of Lodoss War dan Berserk).

Ceritanya agak suram, dan nuansanya agak mengingatkanku pada Berserk.

Di sebuah dunia yang tampak seperti abad pertengahan, manusia-manusia biasa diteror dengan hadirnya sosok-sosok monster yang disebut Yoma. Di samping memakan manusia dengan wujud mereka yang kerap kali grotesque, seekor Yoma juga dapat menyaru sebagai manusia yang telah menjadi korbannya; dengan penampilan, suara, serta tingkah laku yang nyaris tak dapat dibedakan dari aslinya. Kemampuan Yoma untuk menyamar ini memungkinkan mereka berbaur dengan mudah di kalangan manusia dan membuat mereka sulit untuk diburu.

Tapi manusia akhirnya menemukan cara pertahanan diri untuk melawan Yoma, dalam bentuk perempuan-perempuan berzirah dan bersenjatakan pedang besar, para penyihir bermata perak, yang lebih dikenal secara luas sebagai para Claymore. (Bagi yang belum tahu, sebelum digunakan sebagai nama sejenis ranjau, ‘claymore’ aslinya kalau tak salah merupakan istilah untuk sejenis pedang besar yang berasal dari Skotlandia–dan dari jenis pedang besar yang mereka bawa ini, julukan untuk para Claymore berasal.)

Manga ini pertama terbit pada pertengahan tahun 2001 pada majalah komik bulanan Monthly Shonen Jump terbitan Shueisha, tapi sejarah publikasinya agak tak biasa. Sesudah majalah komik bersangkutan berhenti terbit, Claymore sempat dilanjutkan serialisasinya untuk sementara di majalah komik rekanannya yang lebih dikenal, Weekly Shonen Jump (tempat Naruto dan One Piece diserialisasikan). Tapi serialisasinya kemudian beralih lagi dan berlanjut hingga kini di majalah komik bulanan penerus Monthly, Jump SQ.

Aku sebelumnya agak skeptis untuk mengikuti manga ini, karena terus terang aku tak yakin apa akan bisa ada lagi seri manga yang memberiku guncangan seperti yang diberikan Berserk. Tapi cara pikirku rupanya agak salah. Sebab berbeda dari Berserk yang bergenre seinen, Claymore benar-benar adalah manga shonen. Ceritanya ‘bebas’ dari realisme, intrik, dan keambiguan moral yang ada pada Berserk, dan lebih berfokus pada aksi dan perkembangan plotnya semata.

Para tokoh utamanya yang notabene perempuan juga sempat kukhawatirkan digambar dengan cara-cara agak aneh. Tapi enggak, manga ini enggak berat di fanservice kok. Ada nudity di dalamnya, tapi itu digambarkan secara wajar dan sekilas. Di samping itu, berbicara sebagai cowok, gaya gambar Norihiro-sensei sejak awal memang bukan jenis gaya gambar yang sengaja dibuat agar enak dipandang oleh mata (bagaimanapun, beliau pengarang seri komedi Angel Densetsu yang tokoh utamanya agak-agak menakutkan).

Silver-eyed Witches

Tokoh utama Claymore adalah salah satu dari mereka yang bernama Clare.

Cerita dibuka dengan perkenalannya dengan seorang bocah lelaki bernama Raki, yang keluarganya menjadi korban Yoma, yang sesudah diusir dari desanya karena ditakutkan membawa pengaruh buruk Yoma, kemudian menjadi kawan seperjalanan Clare. Bab-bab awal cerita ini membeberkan hal-hal mendasar tentang dunia Claymore dan segala isinya.

Dikisahkan, para Yoma sudah ada di dunia entah semenjak kapan. Lalu sesudah berbagai upaya untuk melawan, akhirnya diketemukan suatu metode efektif yaitu dengan memasukkan organ-organ tubuh Yoma ke badan manusia. Manusia-manusia yang bertubuh separuh Yoma ini akan turut mampu menggunakan kekuatan Yoma, seperti tenaga besar dan kemampuan meregenerasi bagian-bagian tubuh. Tapi kelebihan utama yang mereka dapatkan adalah kemampuan untuk merasakan dan membaca pancaran energi Yoma, dan membuat mereka mampu mengenali mana manusia yang sebenarnya adalah penyamaran Yoma  dan mana yang bukan.

Masalahnya, laki-laki ternyata tak dapat menggunakan metode ini. Karena sesudah bertubuh separuh Yoma, mereka rentan terhadap kegilaan dan rasa haus darah, yang akhirnya bisa membuat mereka berubah menjadi Yoma juga. Hanya perempuan yang bisa beradaptasi. Tapi merekapun lambat laun dapat kehilangan kendali atas kekuatan mereka, dan berubah menjadi Yoma sepenuhnya pula.

Para Claymore dikendalikan oleh semacam organisasi yang mengatur penyebaran mereka, dan sekaligus menarik bayaran (mahal) ke desa-desa yang menyewa jasa pembasmian Yoma. Organisasi ini pula yang nampaknya bertanggung jawab atas penciptaan dan pelatihan para Claymore baru. Mereka juga yang menentukan pengaturan peringkat kekuatan para Claymore dan juga menentukan urutan superioritas di antara mereka. Organisasi ini juga yang menyediakan baju zirah putih serta pedang besar khusus yang para perempuan separuh Yoma ini gunakan.

Cerita Claymore berkembang dengan terkuaknya sedikit demi sedikit tentang kenyataan yang harus dijalani Clare dan rekan-rekannya yang lain. Mulai dari bagaimana ada kalanya seorang Claymore tak bisa lagi mengendalikan sisi Yoma-nya, sehingga melalui organisasi, yang bersangkutan meminta untuk dieksekusi oleh rekan Claymore mereka yang lainnya sebelum mereka berubah wujud. Alasannya terutama karena Yoma yang tercipta dari seorang Claymore (kakusei-sha) akan memiliki kekuatan yang jauh melebihi Yoma biasa.

Sesudah pembeberan mengejutkan bahwa Clare ternyata merupakan Claymore dengan peringkat kekuatan terendah, yakni 47, sedikit tentang masa lalu Clare terkuak lewat bab-bab yang menceritakan hubungannya dengan seorang mendiang Claymore lain bernama Teresa. Seperti halnya Raki ke Clare sekarang, Clare—sebelum menjadi Claymore—dulunya adalah anak yatim piatu yang diterima Teresa sebagai kawan seperjalannya. Mereka bahagia dengan kehidupan perjalanan mereka untuk berapa lama, sampai status Teresa sebagai Claymore peringkat pertama di masanya menjadi masalah saat ia menyerang sekelompok perampok demi melindungi Clare. Sebab para Claymore juga dilarang oleh Organisasi untuk membunuh manusia, untuk alasan apapun. Mereka yang melanggar larangan ini akan dicap sebagai pemberontak dan akhirnya diburu oleh rekan-rekan Claymore mereka yang lain.

Dari sana, awal perburuan penuh dendam Clare dimulai untuk menemukan Yoma bertanduk satu yang bertanggung jawab atas kematian Teresa. Tetapi tak rela menerima kematian Teresa, Clare ternyata dulu menjadi Claymore dengan memasukkan sisa bagian tubuh Teresa ke dalam dirinya, dan bukannya dari Yoma utuh. Hal ini menjadikan dirinya hanya seperempat Yoma, dengan kekuatan jauh lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya yang lain.

Raison d’etre

Walau aku menceritakannya begini, Claymore sebenarnya lebih berat ke porsi aksinya daripada di intrik dan dramanya. Jalan ceritanya terhitung sederhana, bahkan untuk ukuran shonen manga. Biasanya dengan pola pemaparan aksi, lalu makna, lalu aksi lagi, lalu makna lagi. Sehingga walau begitu, ceritanya tak pernah jatuh sampai menjadi ‘dangkal.’

Adegan-adegan pertarungannya cukup menghebohkan, dengan gerakan-gerakan tubuh cepat dan pedang-pedang yang menebas ke sana kemari. Tapi penuturan adegan-adegan pertarungannya bagus. Jadi secara simpel, Claymore boleh dikatakan sebagai manga yang seru.

Yang aku benar-benar hargai dari penuturan cerita  di dalamnya adalah bagaimana Norihiro-sensei berhasil memasukkan karakterisasi yang ‘kaya’ ke dalam cerita. Meski mereka semua berzirah dan memakai pedang besar dan agak-agak seram, Claymore ternyata ada berbagai jenis, dengan beraneka sifat, gaya bertarung, serta keunggulan dan kelemahan mereka masing-masing. Ada yang memanfaatkan kekuatan Yoma mereka untuk secara spontan memodifikasi bentuk tubuh, ada yang ahli penyembuhan, ada yang ahli mendeteksi pancaran energi dari jauh, ada yang fokus ke tenaga, ada yang fokus ke kecepatan, bahkan ada yang mengembangkan teknik-teknik pertarungan untuk mengapung di udara. Sifat mereka juga beragam, mulai dari yang lemah lembut seperti Galatea sampai ke yang sadis dan agak-agak gila macam Ophelia. Masing-masing dari mereka mempunyai kisah latar serta konflik dan hubungan persahabatan mereka sendiri-sendiri.

Bagi mereka yang menyukai kisah-kisah cinta, mungkin kalian akan kecewa karena tak banyak romansa yang ada di dalamnya. Tapi mengikuti moto Shonen Jump, nilai-nilai persahabatan dan pantang menyerah secara konsisten tetap ada.

Ceritanya agak bergeser fokusnya seiring dengan terpisahnya Clare dari Raki, saat Ophelia memutuskan untuk memburu Raki karena penasaran dengan keistimewaan terpendam yang Clare punyai. Cerita ini mencapai klimaks pertamanya saat Clare kemudian dikirim oleh Organisasi ke perbatasan utara untuk sebuah misi bunuh diri bersama Claymore-Claymore ‘bermasalah’ lain. Di sana, mereka harus berhadapan dengan bala tentara Yoma yang dipimpin Isley, bekas manusia separuh Yoma terkuat di generasinya, yang ternyata menampung Priscilla, sosok yang selama ini Clare cari-cari.

Cerita animenya berakhir di titik ini, dengan reuni kembali antara Clare dan Raki dan berlanjutnya perjalanan mereka (kurang lebih mencakup sebelas buku pertama). Tapi manganya sampai kini terus berlanjut, dengan dikisahkan sesudah rentang waktu tujuh tahun, Clare dan kawan-kawannya yang selamat dari pertempuran di utara, di bawah kepemimpinan Claymore urutan keenam pada generasi mereka, Miria, melakukan perjalanan kembali ke selatan setelah lama membangun kekuatan untuk melakukan konfrontasi dengan Organisasi yang mereka yakini justru merupakan dalang dari krisis Yoma itu sendiri.

Desain karakter Norihiro-sensei mungkin bisa agak dipermasalahkan di sepanjang cerita. Terutama karena bentuk tubuh dan wajah yang dimiliki satu Claymore dan Claymore lainnya benar-benar mirip (yang paling membedakan hanya gaya rambutnya). Tapi sesudah memasuki buku kedelapan jelas terlihat betapa beliau mengalami peningkatan kok. Gambar-gambar latarnya yang semula ‘sederhana’ mulai kompleks dan mulai menyamai detil rincian bangunan zaman pertengahan seperti di Berserk. Desain setiap Yoma-nya juga mulai mirip dengan desain-desain grotesque dari monster-monster di seri yang sama.

Sayang kesinambungan plotnya agak goyah di beberapa bab terakhir. Tapi ceritanya sendiri masih tetap seru dan masih sangat bisa dirampungkan secara baik.

Ikatan Para Pendekar

Seperti biasa, editan dari Elex cukup lumayan untuk edisi Indonesia-nya. Dan sayangnya, seperti halnya Fullmetal Alchemist, dan seri-seri shonen lain yang terbit bulanan, menantikan lanjutan cerita dari seri ini agak-agak mengurasi kesabaran.

Seri ini kurekomendasikan bila kalian merindukan adegan-adegan pertarungan pedang seru melawan monster, apalagi dengan tokoh utama perempuan (seperti jenis yang disajikan dalam Blood-C atau Valkyrie Profile). Ada beberapa adegan gore sih, tapi tak sampai parah. Apalagi para Claymore memiliki kemampuan untuk meregenerasi diri. Plotnya juga terbilang seru, dengan karakter-karakter yang simpatik dan menjunjung kode etik kehormatan. Jadi asal kalian tak seksis, kurasa ini sebuah seri yang akan sangat bisa kalian nikmati.

Update, Agustus 2015

Mungkin agak telat membahas ini, tapi manga Claymore akhirnya tamat serialisasinya pada Desember 2014 lalu. Jumlah bab totalnya sebanyak 155, dan cerita berakhir dengan puncak konfrontasi antara Clare dan kawan-kawannya melawan Priscilla, sang Yoma bertanduk satu.

Secara pribadi, aku lumayan puas dengan tamatnya.

Terlepas dari beberapa kelemahannya, yang membuat Claymore kurang sreg dengan sebagian orang, serta proses hiatus beberapa kali, untuk ukuran manga yang bab barunya keluar bulanan, masa serialisasi sampai hampir 15 tahun (dari tahun 2001) tetap terbilang lama. Bahkan sempat aku dengar kalau popularitasnya sempat benar-benar turun di tahun 2012, sampai akhirnya menjadi ‘kasus khusus’ dalam persaingan rating di Weekly Shonen Jump yang sangat ketat.

Ceritanya secara mengejutkan berakhir bahagia. Secara mengejutkan pula, sebagian besar elemen cerita berakhir dituntaskan dengan lumayan rapi.

Tapi ada beberapa hal khusus yang memang perlu disebut sih…

Agak berbeda dari sebagian pengarang lain, Norihiro-sensei kelihatannya adalah jenis pengarang yang mengandalkan insting dan intuisi. Dalam kasus ini, lumayan terasa bagaimana beliau menyusun ceritanya sambil jalan gitu, tanpa adanya plot yang telah telah tersusun sebelumnya. Makanya aku benar-benar terkesan dengan bagaimana semuanya berakhir ‘tuntas.’

Cara beliau mengalihkan fokus ceritanya dari Clare—sekalipun dirinya dan Raki (terutama Raki) tetap memegang peran sangat vital dalam cerita—juga lumayan enggak biasa. Norihiro-sensei kerap tak segan memunculkan karakter baru dan memaparkan latar belakang mereka, sehingga cerita yang sudah lambat perkembangannya (karena serialisasi yang sudah bulanan) bisa menjadi semakin susah diikuti karena cakupan ceritanya yang ke mana-mana. Ditambah lagi, perkembangan cerita yang akhirnya terjadi juga bisa dibilang enggak sesuai pengharapan sebagian pembaca.

Bahkan klimaks ceritanya juga lumayan tak lazim. Konflik terakhir pecah di sekitar kota suci Labona yang terletak di tengah benua, jadi bukan di suatu wilayah asing seperti dalam ‘insiden utara tujuh tahun silam’ itu. Isu konflik di negara-negara lain, serta worldbuilding di sana, akhirnya tak terlalu menjadi fokus—hanya disebutkan sebagai faktor yang menjadi penggerak cerita. Salah satu lawan terakhir yang dihadapi dalam klimaks ini juga adalah karakter relatif baru yang belum lama dimunculkan, bersama sejumlah pemain baru lain. Lalu cara penyelesaian konfliknya benar-benar menjadi kejutan: Priscilla yang sejak pertengahan cerita benar-benar digambarkan sebagai lawan sangat berbahaya dan tak terkalahkan kemudian takluk dengan cara yang membuat Clare tak terkesan berlebihan.

Anehnya, meski mengecewakan buat sebagian orang, hasil akhirnya tak bisa kubilang jelek gitu. Aku masih terkesima oleh adegan-adegan aksinya (walau nudity-nya tak dinyana bertambah dan wujud monsternya semakin banyak). Aku masih terkesan oleh ceritanya (walau beberapa adegan dialog panjang antara Rubel dan sisa-sisa anggota organisasi lainnya mungkin agak susah diikuti). Lalu aku lumayan puas dengan tamatnya.

Mungkin ini tanda betapa Norihiro-sensei membuat karya ini dengan sungguh-sungguh (serta benar-benar berjuang untuk menamatkannya).

Aku berpikir lumayan mendalam begitu aku membereskan seri ini. Tapi pada akhirnya, isi pikiranku tak terlalu bisa kujabarkan.

Akhir kata, aku terkesan dengan bagaimana aku bisa terpuaskan dengan seri yang diisi banyak onee-san sebagai karakternya ini. Ada beberapa hal yang sebenarnya masih membuatku penasaran. Tapi kenyataan Claymore menjadi seri yang tamat tetap lebih baik dibandingkan banyak seri lain yang berakhir menggantung.

(Buat yang mau tahu, lanjutan animenya kayaknya enggak akan ada. Jadi kalian mesti berpuas diri dengan tamat di manganya, oke?)


About this entry