Kizumonogatari – IND (006)

Kalian takkan percaya apa-apa saja yang kulalui dalam sebulan terakhir ini.

Eniwei, ini lanjutan terjemahan Kizumonogatari. Aku jadi ngerasa agak enak udah kelamaan buat bikin lanjutannya, karena ternyata ada orang yang bener-bener ngebaca terjemahan ini. (Padahal proyek ini beneran proyek iseng, dan terus terang aku agak kurang semangat melanjutkannya sesudah ngeliat arah perkembangan cerita di Nisemonogatari.)

Gimanapun, kuharap cukup bagus buat bisa dinikmatin.

————————-

006

Oshino Meme.

Demikian om-om yang kebetulan lewat itu, membeberkan namanya.

Terus terang, aku kira itu sebuah nama yang konyol, tapi ia menyelamatkan hidupku, jadi tentu saja aku tak bisa mengatakan hal itu secara langsung ke dirinya.

Sekalipun dia memiliki penampilan aneh ini.

Sekalipun juga dia mengenakan kemeja Hawaii mencengangkan ini.

Selama kenyataan dia menyelamatkanku ada—aku tak akan bermacam-macam terhadapnya.

… …

Tapi dirinya benar-benar om-om yang agak pemalas.

“Ah… Oshino.”

Apa aku perlu menambahkan ‘pak’ juga kalau memanggilnya? Apa ada kata sandang yang perlu kutambahkan? Aku merasa agak kebingungan—tapi sekalipun dirinya adalah penyelamatku, selama aku tak tahu keberpihakannya yang sesungguhnya, aku tak bisa begitu saja mengambil tindakan.

Seorang musuh atau seorang kawan.

Aku juga masih belum tahu pasti apakah aku benar-benar akan terselamatkan dengan dikembalikan menjadi manusia atau tidak.

Walau melakukan tindakan apapun terhadapnya terasa aneh, tetap saja, aku merasa sekurangnya aku harus berterima kasih.

“Terima kasih karena telah menyelamatkanku.”

“Kau enggak perlu bilang begitu. Aku cuma melihatmu sendirian saat dikeroyok dan makanya aku menolong. Cuma sebatas itu saja kok, Araragi.”

Oshino mengatakannya dengan nada tak bersalah.

Landasan tindakannya sama sekali tak rumit.

Terlepas dari hal itu, ketiga orang tersebut—setelah serangan pertama mereka ditangkis oleh Oshino, mereka melarikan diri dari jalanan tempat mereka berasal seakan diperintah pada waktu sama.

Hanya perlu waktu sejenak sampai jejak-jejak mereka tak terlihat lagi.

Mereka bahkan tak mengatakan apapun saat melarikan diri.

Oshino Meme—

Pria yang mengenakan kemeja Hawaii ini, tak tampak seperti musuhku… ataupun musuhnya Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, tapi—

“Ngomong-ngomong, Araragi Koyomi—soal namamu ini. Benar-benar ada kesan seperti gelombang tak berdasar di dalamnya, ya? Haha, tapi kau ini. Siapapun yang punya akal sehat takkan begitu saja membuka medan pelindung dan mencari masalah di tempat begini. Kecuali mungkin orang itu sudah sangat berpengalaman.”

“…”

“Ah, kau santai saja kalau di depanku, Araragi. Tak usah kau melototiku begitu. Kau ini bersemangat sekali. Memangnya ada hal baik terjadi, ya?”

Sementara ia mengatakan itu, Oshino mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemeja Hawaii-nya, kemudian menggigitnya di mulut—semula kupikir dia kemudian akan menyalakannya dengan korek api, tapi terus saja rokok itu ditahannya di mulutnya seperti itu.

“Yah, bagaimanapun juga, ayo kita pulang dulu, Araragi.”

“Pulang?”

“Ke puing-puing tempat bimbel itu.”

Ia menyatakannya seakan itu suatu hal yang sudah jelas, sehingga persis saat Oshino hendak melangkah, aku tanpa sadar sudah meneriakkannya ke punggungnya, “Tunggu sebentar! Kau, bagaimana kau tahu soal tempat itu?”

“Hm? Tentu saja aku tahu—kalau kamu tanya soal alasannya, itu karena yang menunjukkan tempat itu ke anak itu adalah aku.”

Orang ini ternyata sanggup mengatakan hal-hal luar biasa, dengan cara yang sedemikian normal.

Eh?

Sebentar, aku memang sempat berpikir soal bagaimana Kiss-Shot bisa sampai menemukan tempat itu…

Tapi orang ini yang memberitahunya?

“Yah, karena kau punya kehormatan makanya kau bisa bilang kalau kau punya keberanian. Anak itu—Heart-Under-Blade, sedang menyeret-nyeret tubuhmu dan terlihat kesusahan—jadi aku memberitahunya soal tempat bagus itu.”

“Kau—juga tahu soal Kiss-Shot?”

“….?”

Oshino tak menjawab pertanyaanku. Itu berarti ada sesuatu mengusik perhatiannya berkenaan kata-kata yang kugunakan, terlebih ia kini jadi memandangiku dengan cara yang amat sangat aneh.

“…Apa?”

“Bukan—tapi tadi kau memanggilnya ‘Kiss-Shot’.”

“Hm? …Ah.”

“Ketiga orang itu juga begitu, dalam keadaan biasa mereka memanggilnya Heart-Under-Blade… aku cuma heran kenapa kau juga tak memanggilnya begitu, Araragi.”

“Bukannya itu karena… nama yang satu itu agak terlalu kepanjangan?”

Memangnya…

Memangnya apa yang salah dari itu?

“Jadi cara aku memanggilnya yang aneh? Atau jangan-jangan, memang semestinya aku memanggil dia dengan nama itu?”

“Yah, tergantung juga. Tapi soal kau menjadi bawahannya itu merupakan sesuatu yang luar biasa—jangan bicarakan vampir biasa dulu, dia—Heart-Under-Blade, adalah vampir legendaris. Penakluk Fenomena Ganjil—vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin…”

“Vampir… kau tahu soal vampir?”

Yah, rasanya tak mungkin bagi dirinya untuk tak tahu.

Tiba-tiba saja muncul entah dari mana, dengan mudah melindungi diri dari serangan ketiga orang tadi, hanya dengan mempertimbangkan dua hal itu saja, sudah semestinya aku langsung mengerti.

“Kau—sebenarnya orang macam apa?”

“Aku? Terkadang aku menjadi anak angin misterius, terkadang aku menjadi pelancong misterius, terkadang aku jadi pengelana misterius, terkadang aku menjadi seniman misterius, terkadang pula aku menjadi gelandangan bermutu tinggi yang misterius.”

Semuanya misterius.

“Terkadang juga aku menjadi rentang suara perempuan yang paling rendah.”

“….Terkadang jadi alto?!”

“Terkadang ya, terkadang tidak.”

“Baru sekarang hal itu diralat…”

Tiba-tiba saja dirinya mengangkat bahu.

“Intinya, aku cuma seorang bapak-bapak yang kebetulan lewat. Itu saja.”

Menghela nafas, itulah yang akhirnya dikatakan oleh Oshino.

Sebagaimana yang kuduga, dirinya orang yang sangat aneh.

“Hari ini juga begitu—kebetulan saja aku pernah berpapasan dengan masalah Heart-Under-Blade sebelumnya. Tenanglah. Aku bukan seorang spesialis pengusiran vampir kok.

“…”

Apa aku bisa mempercayainya?

Tidak, masalahnya bukan itu.

Masalahnya adalah ‘aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya.’

“Walau kesannya tak seperti aku tak tahu apa-apa—tapi spesialisasiku sebenarnya lebih luas daripada ini. Apa yang aku tahu sebenarnya lumayan banyak. Tapi yah, kita tunda sesi pengenalannya sampai nanti. Pertama-tama, kau harus kembali dulu ke sana, Araragi.”

Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah mematuhi kata-katanya.

Aku mengikuti Oshino kembali ke puing-puing gedung bimbel itu—kemungkinan terburuknya, Oshino sebenarnya juga adalah spesialis pengusiran vampir yang memburu Kiss-Shot.

Tapi, kenyataan yang membuktikan sebaliknya adalah Oshino tahu Kiss-Shot berada di bekas bimbel itu.

–Jika tidak, Oshino takkan langsung menuju puing-puing bimbel yang jelas tak berada di tengah kota itu.

Seandainya saja dirinya jenis spesialis pengusir vampir yang berbeda dari ketiga orang itu.

Saat ini dengan mudah dirinya bisa menyingkirkan.

Menyingkirkan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade yang lemah itu.

Memandangnya dari sudut pandang sebaliknya, Oshino bukanlah musuh.

Tapi tetap saja aku tak bisa menyebutnya seorang kawan begitu saja.

“Hei! Aku pulang!”

Aku mengatakan sejumlah hal tak penting kepada Oshino (maksudku seperti yang ada di anime-anime zaman dulu, kata-kata yang sebenarnya sama sekali tak diperlukan. Aku paham kalau tak ada gunanya mempermasalahkan apakah Oshino merupakan seorang kawan atau lawan), sesudah berjalan kaki sekitar satu jam, kembali ke lantai dua dari puing-puing gedung bekas bimbingan belajar itu. Kiss-Shot sendiri tampak senang, walau mungkin lebih tepat dikatakan kalau dirinya akhirnya lelah menunggu.

Uwaa.

Gadis ini, kelihatannya dia memang benar-benar tak menyadari kalau rencana tempurnya tadi memiliki kelemahan fatal.

Sesudah itu, ia berkata.

“Hmm? Orang di belakangmu itu… rasanya beta pernah melihat wajahnya sebelumnya di suatu tempat?”

“Jahatnya. Mengingatku cuma sampai sebatas itu.”

Oshino hanya tersenyum.

“Aku lho yang memberitahumu soal tempat rahasia ini, wahai Heart-Under-Blade, Nona Penakluk Fenomena Ganjil.

“Ahh… benar, waktu itu.”

Kiss-Shot menganggukkan kepalanya.

Ehm.

Bagaimanapun, kelihatannya pada akhirnya dia memang tak berbohong—Oshino benar-benar bertemu dengan Kiss-Shot pada malam itu.

Lalu fakta bahwa bangunan ini dulunya merupakan tempat bimbingan belajar, mungkin hal itu juga didengarnya dari Oshino.

“Jadi?”

Seakan tak mempunyai minat sedikitpun terhadap Oshino—Kiss-shot kemudian memandang ke arahku.

Seperti yang sudah kubilang, tolong jangan memandangku dengan mata penuh pengharapan seperti itu dong.

“Yah… pokoknya, dengarkan aku dengan tenang, oke.”

Aku tak bisa mengeluarkan suara perut, ataupun berbicara basa-basi. Tapi diriku yang biasanya menghindari perhatian orang semenjak menjadi anak SMA memiliki keterampilan berbicara yang benar-benar rendah.

Pada intinya—aku kebingungan dalam menjelaskan soal situasi di mana aku harus berhadapan dengan ketiga orang itu; Dramaturgie, Episode, dan Guilotine Cutter secara sekaligus.

Sampai akhirnya aku gagal mendapatkan kedua pasang kaki dan tangannya kembali.

Terlebih dengan kenyataan soal bagaimana aku akhirnya diselamatkan oleh Oshino dari marabahaya.

Dengan cara tak meyakinkan seperti itu aku menjelaskan semuanya secara dangkal.

Ngomong-ngomong, selama penjelasanku itu, kulihat Oshino merapatkan meja-meja. Aku bertanya-tanya soal apa yang hendak dia lakukan, namun ternyata dia sedang menyiapkan semacam dipan untuk dirinya sendiri.

Kenapa?

Memangnya dia kelelahan?

Apa-apaan sikap semaunya yang santai ini…

“Hmm.”

Setelah mendengar semuanya, Kiss-Shot tak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda kekecewaan.

Sudah semestinya demikian.

Walau kelakuan anak-anak usia sepuluh tahun kadang bisa membingungkan, tapi usia orang ini semestinya lebih tua daripadaku.

Rasanya tak mungkin dia begitu saja memberiku kesulitan yang tak berarti.

Walau mungkin mesti kuakui kalau otaknya cenderung untuk bekerja agak lamban.

‘…Menyusahkan… tak beta sangka ketiga orang itu masih bersama. Beta pikir sesudah menyudutkan sampai sejauh ini, ketiganya akan berpisah dan kembali saling bersaing secara bebas.”

“…Seenggaknya tolong pertimbangkan sedikit soal itu.”

“…Mereka hendak menghancurkan beta sampai tuntas—ketiga orang itu. Kalau begitu beta harus membuat persiapan di sini juga. Lagipula, sudah cukup bagi mereka untuk melukai beta sampai setingkat ini.”

“…Ada sesuatu, sesuatu soal uang hadiah.”

“Hmm. Ahh. Jadi… seperti itu rupanya keadaan saat ini. Begitu. Dunia ini benar-benar teramat kejam.”

Kiss-Shot tiba-tiba saja mulai tertawa.

Apa ada sesuatu yang terpikir olehnya?

“Bodoh sekali beta. Semuanya gara-gara jetlag…”

“Memangnya kau wisatawan…?”

Hm.

Ahh. Benar juga—ini kesempatan yang tepat untuk bertanya. Selama ini aku terlalu kepikiran tentang situasiku sendiri hingga akhirnya malah lupa menanyakannya.

“Kiss-Shot, ngomong-ngomong, alasan kau sampai datang kemari ke Jepang itu apa? Apalagi ke kota terpencil seperti ini.”

“Hm? Untuk melihat-lihat.”

“…. …. ….”

“Gunung Fuji. Kinkaku-ji. Beta belum pernah sempat mengunjungi keduanya.”

Dirinya mengatakan itu semua dengan teramat mudah.

Pasti itu bohong, dilihat dari sudut pandang manapun juga… sebab pasti akan sangat menyebalkan bila cuma karena alasan seperti itu, dirinya sampai diserang oleh orang-orang bersenjata.

Apalagi Gunung Fuji dan Kinkaku-ji sama sekali jauh dari kota terpencil ini.

Tapi, kalau dirinya berbohong secara blak-blakan seperti itu, sial, aku kebingungan memikirkan cara untuk membalasnya.

“Kau tak lagi berusaha menguasi Jepang, ‘kan?”

Secara berhati-hati aku bertanya padanya.

“Hmm, tidak.”

Demikian jawabnya.

“Gimanapun—kau gagal mengalahkan mereka sekalipun dalam kekuatan penuh, ‘kan? Kalau begitu, gimana caranya aku, bawahanmu sekarang, bisa punya kesempatan untuk menang melawan mereka?”

“…Seperti yang sudah beta katakan, hadapi mereka satu lawan satu.”

“Mereka bekerjasama, jadi itu enggak mungkin. Kau memang bilang kalau enggak masalah untuk bersantai-santa di sini, tapi di sinipun, cepat atau lambat kita akan ketahuan juga.”

“Enggak ada masalah kalau soal itu sih.”

Tiba-tiba saja, Oshino angkat bicara.

Memandang ke arahnya, dirinya sedang berbaring di atas dipan sederhana yang baru ia bereskan.

Terlalu santai.

“Sementara kalian sedang tidur, sudah kupasangi pelindung di sekeliling tempat ini.”

“…Pelindung?”

Sebelumnya dia mengatakan sesuatu seperti itu juga.

Tapi, pelindung itu maksudnya apa?

“…Maksudmu semacam medan begitu?”

“Hm, kau bisa menyebutnya seperti itu.”

Jelas kau bisa melihat bahwa kenyataannya bukan sesuatu seperti itu, tapi mungkin dia terlalu malas untuk menjelaskan lengkapnya, jadi Oshino menjawabnya sebatas itu saja.

“Terlepas dari mereka yang sejak awal sudah tahu wilayah ini secara baik, sama sekali tak mungkin bagi orang-orang asing untuk menemukan tempat ini.”

“…kau…”

Dengan hati-hati aku bertanya.

“Kau sebenarnya maunya apa?”

“Kau sebenarnya maunya apa apa?”

Oshino tertawa sembari menjawab.

Bagaimanapun, ini terlampau aneh.

Usia orang ini sebenarnya berapa?

Pastinya, melebihi tiga puluh… … tapi orang, sesudah hidup selama tiga puluh tahun, apa mereka masih akan berbicara dengan cara sesantai ini?

Siapapun yang sudah mencapai usia tiga puluh tahun pastinya bisa dikatakan orang dewasa, ‘kan?

“Kenapa—kenapa kau menolongku dan Kiss-Shot? Walau aku tahu kau bukan musuh—tapi aku juga enggak merasa kau ada di pihak kami.”

“Kau benar-benar mengatakan sesuatu yang kejam.”

Rokok yang selama ini berada di mulutnya, akhirnya terlepas dari mulut Oshino.

Kembali masuk ke dalam sakunya.

“Walau, seperti yang sudah kubilang—pada awalnya aku tak bermaksud menolong kalian. Tak ada alasan yang aku punya untuk menyelamatkan nyawa kalian sama sekali. Bukan sebagai musuh atau sebagai kawan. Kalau soal alasan aku akhirnya menolong, anggap saja kalau kebetulan aku sedang ingin saja.”

“… … Aku enggak ngerti.”

“Yang ingin aku capai adalah keseimbangan.”

Akhirnya—Oshino mengucapkan kata-kata yang sedikit lebih bisa kumengerti.

“Anggap saja, hal tersebut sudah jadi bagian pekerjaanku.”

“… …”

“Pekerjaan untuk menciptakan hubungan antara sini dan sana.”

Oshino terus melanjutkan.

“Soal vampir, mereka makhluk-makhluk yang benar-benar menyusahkan—sisi mereka benar-benar terlampau kuat. Apalagi kalau sudah membahas Penakluk Fenomena Ganjil. Kalau mendengar nada bicara yang kau pakai Araragi, kesannya seolah ketiga pria itu memburu anak ini karena kebencian, tapi kenyataannya itu bukan seperti itu. Kalau demi anak ini—Heart-Under-Blade, apa yang mereka upayakan memang sesuatu yang layak untuk mereka perjuangkan.”

“Kata-kata pujian itu terlalu menyanjung.”

Kiss-shot kembali berkata sembari membusungkan dada.

Dirinya membusungkan dadanya yang sebenarnya tak terlalu berarti untuk dibusungkan.

Ada perasaan tersamar kalau kata-katanya tersebut sebenarnya bukan pujian, tapi kuputuskan untuk tak memikirkan itu untuk saat ini.

Pertanyaannya sekarang adalah kepada siapa sebenarnya Oshino berpihak.

“Kau sudah memperkenalkan diri, tapi bukannya tadi bilangnya kau akan melanjutkan penjelasan soal kau ini siapa?”

“Oshino Meme. Seorang pria bebas yang tak memiliki tempat tinggal tetap.”

Demikian katanya.

“Yah, anggap saja aku seseorang yang punya wewenang terhadap segala perubahan jejadian—haha, aku tak sama dengan tiga orang itu. Aku sama sekali tak ahli dalam hal pengusiran jejadian.”

“Tak ahli apanya… …”

“Gampangnya, aku tak suka.”

“Tapi—kau bilang spesialis…?”

“Aku memang spesialis, karenanya aku akan membantu dalam mempertahankan keseimbangan. Dalam posisi netral, pada dasarnya aku akan membantu dalam hal negosiasi. Jadi, dasarnya, kurasa aku seorang negosiator.”

Negosiasi?

Antara sini dan sana—hubungan?

Sini itu apa—sana itu apa?

Sini itu manusia, lalu sana itu… jejadian?

Makhluk ganjil yang bukan manusia?

Tapi—kalau begitu, saat ini aku sendiri ada di sisi mana?

“Monster. Jejadian. Bagus. Mengatainya sebagai Fenomena Ganjil mungkin akan lebih baik.”

“Fenomena ganjil…”

“Maka anak ini juga dikenal sebagai sang Penakluk Fenomena Ganjil—kau tahu kenapa? Dirinya adalah vampir jenis langka yang juga bisa menyerap energi dari segala bentuk Fenomena Ganjil. Yah, itulah alasan sebenarnya mengapa anak ini terkenal.”

Kali ini, nampaknya Kiss-Shot yang tak senang dengan perkataan itu.

Usia sepuluh tahun adalah usia yang sulit, sementara pria di hadapanku ini memiliki usia yang sama dengan usia wujud Kiss-Shot yang asli.

Wujudnya yang saat ini sama sekali berbeda dari sosok dirinya yang di dalam, lalu mungkin karena masih memerlukan waktu cukup lama untuk terbiasa… … sebenarnya karena alasan ini pula, aku juga terus berpikir bahwa takkan memerlukan waktu lama sampai dirinya kembali lagi ke wujud kekuatan penuhnya yang asli… …

“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya—dasar bocah.”

Kiss-Shot menggunakan kata ‘bocah’ untuk menyebut Oshino.

Jika Kiss-Shot memang benar berusia 500 tahun, mungkin menyebut Oshino seperti itu kurang lebih tepat.

Kau juga bisa mengatakan bahwa cara Oshino memperlakukan Kiss-Shot dengan menyebutnya ‘anak ini,’ ‘anak itu’, sama sekali tak sopan.

Tapi seakan itu hanya angin lalu, Oshino nampak sama sekali tak berkeberatan dengan sebutan ‘bocah.’

“Persis seperti yang kau bilang, Heart-Under-Blade.”

Demikian dia berkata.

“Kau tak bisa menilai apapun hanya berdasarkan kabar angin—tanpa bahkan peduli apakah lawanmu itu manusia atau bukan. Walau begitu, hmm, sesudah mengikuti percakapan antara kalian berdua, sepertinya masalah kalian ini benar-benar serius. Aku tak pernah membayangkan sesuatu yang merepotkan begini akan sampai terjadi.”

“Sama sekali tak merepotkan. Malah teramat sederhana.”

“Bagi vampir yang bisa hidup nyaris abad, memang kenyataannya sederhana—tapi bagi kita para manusia, itu sulit. Benar ‘kan, Araragi?”

“Eh?”

Wow.

Orang ini—dirinya bahkan sudah memahami sepenuhnya masalah kami.

Tentu saja—ia memandangku sebagai seorang manusia.

Aku di sisi sini—itu yang dikatakannya.

“… … … …”

“Hm? Reaksimu sangat aneh. Araragi, bukannya kau ingin berubah kembali jadi manusia? Atau itu bukan tujuanmu?”

“Bukan, itu tujuanku… …”

“Kalau kau inginnya menjadi manusia, maka tentu saja kau manusia.”

Pada dasarnya seperti itu.

Oshino mengatakannya seperti itu—dan selanjutnya melihat kembali ke sisi Kiss-Shot.

“Terlebih lagi—aku punya minat terhadapmu, Heart-Under-Blade. Araragi, yang menjadi bawahanmu, rela kau bantu demi bisa berubah kembali jadi manusia. Aku tertarik soal hal ini.”

“Ah——…”

Tapi, meski yang kali ini jelas-jelas adalah pujian, Kiss-Shot bereaksi seakan tak senang.

“Belum pernah beta dengar apapun tentang hal-hal seperti negosiator—jadi jangan kau lanjutkan kata-kata manismu, bocah. Sejak dulu beta membenci mereka-mereka yang berbicara secara asal.”

“Bicara asal? Apapun yang kau bayangkan sekarang itu tak ada hubungannya denganku. Kau bahkan bisa bilang kalau aku selalu memilah segala yang kupikirkan. Tapi, yah. Aku juga tak berniat mengatakan hal-hal secara asal juga.”

Oshina Meme mengucapkan semua itu dalam keadaan masih berbaring di atas dipan.

Dengan sikap tubuh yang sama sekali tak memiliki kekuatan untuk meyakinkan, dirinya berbicara.

“——Dengan begitu, baru akan bisa berdiri di tengah.”

“Berdiri di tengah?”

Antara sini dan sana?

“Di antara—ketiga orang itu?”

“Memang di mana lagi?”

Oshino menganggukkan kepala.

“Sebenarnya, memperlihatkan puing-puing bekas bimbel ini kepada kalian, dan juga membukakan pelindungnya, kurasa aku sudah terlanjur melibatkan diri, jadi kau bisa bilang juga kalau soal negosiasi ini sudah semacam takdir yang harus kujalani.”

“Apa kau—bisa membantu kami?”

“Yang kulakukan bukan membantu. Yang kulakukan hanya meminjamkan tenaga.”

Oshino mengatakannya seperti itu.

“Saat ini, seperti yang sudah dikira, keadaannya masih belum seimbang—kalau begitu kau pasti akan dikeroyok. Cara pengusiran yang mereka lakukan, aku benar-benar tak suka…”

“Jadi, kau—kawan kami?”

“Bukan. Bukan kawan. Tapi lawan juga bukan.”

Oshino menegaskan bahwa posisinya adalah netral.

“Aku bilang aku sejalan dengan kalian? Dengan kata lain, posisiku adalah di tengah. Apa nantinya yang akan terjadi sepenuhnya tergantung kalian. Pada kenyataannya, yang akan bertindak tetaplah bukan aku. Mereka-mereka yang dalam pusaran, bagaimanapun yang harus memulihkan kacangnya tetap adalah kalian—alasan dan hasilnya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Yang paling bisa kulakukan hanyalah melakukan sejumlah penyesuaian kecil.”

“… …. … …”

Aku memandang Kiss-Shot—bahkan Kiss-Shot terlihat curiga dengan sikap Oshino.

Apa sebenarnya yang diinginkan orang ini?

“Ahhh, tentu saja, karena ini pekerjaan maka sudah jelas akan ada iurannya. Bagaimanapun pengelana akan memerlukan uang untuk biaya perjalanan mereka. Baik—jadi bagaimana kalau dua juta yen?”

“Dua… dua juta yen!”

Terhadapku yang baru saja berteriak terkejut, Oshino tetap menampakkan sikap tenang.

“Aku takkan memaksa soal kapan kau harus membayar. Tapi jika aku tak membuat permintaan seperti ini—maka aku takkan sanggup mencapai keseimbangan.”

“… … Tapi, tapi…”

Sekedar—mempercayai.

Sanggupkah aku mempercayainya?

Si om-om yang… kebetulan saja sedang lewat ini?

Memperlihatkan tempat ini pada Kiss-Shot, dan juga menyelamatkanku dari ketiga orang itu—mengesampingkan soal pelindung itu, dua hal itu saja sudah cukup untuk orang manapun untuk percaya.

Tapi tetap saja—benar-benar mencurigakan.

“… … Bisakah beta dengar rencana lengkapnya?”

Di sinilah letak perbedaan antara Kiss-Shot dengan seorang anak yang bahkan belum menjalani hidup sampai usia tujuh belas tahun. Tak perlu waktu lama bagi Kiss-Shot untuk setuju.

“Walau engkau bicara soal negosiasi, hal itu sama sekali tidaklah mudah—apa ketiga orang tersebut semudah itu untuk diyakinkan? Terlebih bila posisimu netral, engkau takkan berupaya mengambil kembali kedua pasang kaki dan tanganku kembali, kurasa?”

“Bahkan akupun takkan bertindak sejauh itu. Dan lagipula, rencananya juga masih belum kupikirkan.”

Kata-kata Oshino terdengar sangat menyebalkan.

Tapi, ini tetap lebih bisa diandalkan daripada kesanggupan menyelesaikan masalah hanya bila suasana hatinya cocok saja.

Karenanya, bisa dibilang aku malah menjadi lebih tenang karenanya.

“Bisa kulakukan, toh yang kuperlukan tinggal membungkukkan kepala dan memohon. Jikalau mereka menolak saat aku sudah benar-benar tulus, maka aku bisa juga memakai metode-metode yang lebih berbahaya. Untungnya, ini tetaplah sebuah permainan yang bisa kau selesaikan hanya dengan menggunakan kata-kata.”

“Buatmu ini permainan?”

“Tapi, pertama-tama ketiga orang itu harus kita pisahkan terlebih dahulu. Takkan masalah jika mereka dihadapinya satu lawan satu—tapi Heart-Under-Blade, bahkan kaupun gagal memperkirakan gerak-gerik mereka? Karena itu soal ini biar aku saja yang tangani.”

Tentunya, Oshino mengatakan itu.

“Kalian juga harus menghadapi resiko bahaya dalam derajat tertentu juga—jadi jangan kalian kasih pendapat soal hal ini.”

“Takkan, soal itu beta pun paham. Beta sudah bertekad, dan tentunya pelayanku juga.”

Jangan seenaknya bertekad cuma karena kamu merasa mau.

Yang sejak awal sudah bertekad itu aku, tahu…

“Tapi bocah, bagaimana caramu untuk bernegosiasi dengan ketiga orang ini?”

“Seperti yang kubilang, memohon sambil membungkukkan kepala—Yah, mereka itu jenis orang yang sebenarnya muda diajak berbicara.”

Oshino mengatainya seakan itu sebuah lelucon.

Yang namanya tanya jawab tanpa arti pasti ada batasnya; berbicara dengan tiga orang itu yang jelas takkan mau mendengar kata-kata orang lain?

Pecinta damai macam apa kau sebenarnya?

“Yah, rincian persisnya sendiri adalah rahasia dagang. Intinya, Araragi yang nantinya akan mengambil kembali tungkai-tungkai badan Heart-Under-Blade. Kalau kau berhasil mendapatkan kedua pasang kaki dan tangannya—Heart-Under-Blade juga akan dikembalikan ke kekuatan penuhnya. Dengan begini Araragi juga akan bisa berubah kembali menjadi manusia dengan aman.”

“…mendapatkannya kembali.”

Sepertinya jelas kalau tugas paling sulit dipercayakan kepadaku.

Satu per satu sebagai lawan—walau dikatainya begitu, tetap saja lawannya ada tiga orang.

Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter.

Sepasang pedang besar yang melengkung, sebatang salib berukuran raksasa, serta seorang pria yang tak diketahui.

Terus terang saja, aku tak mempunyai sedikitpun keyakinan kalau aku akan bisa menang.

Tapi karena ini suatu hal yang berkaitan dengan kepentinganku, ini juga bukanlah sesuatu yang bisa aku tolak untuk lakukan, tapi aku tak mau semuanya berakhir lagi seperti malam ini, menantangi mereka tanpa sedikitpun taktik atau pemikiran.

Mungkin sekalian saja aku bisa bilang kalau seharian ini aku sudah berpikir terlalu banyak.

Walau aku inginnya tetap tenang, pada akhirnya aku tetap malah gelisah.

Aku seperti ini—terlebih, Kiss-Shot seperti ini juga.

Seperti yang kubilang.

Seandainya aku akan bertarung dengan mereka lagi—kali ini aku akan memerlukan semacam strategi.

“Hai, pelayan.”

Kiss-Shot berkata padaku.

“…Apa, Kiss-Shot?”

“Beta tak menyiapkan sedikitpun mata uang manusia—jadi beta kurang paham soal apa dua juta yen itu. Sanggupkah kuserahkan hutang ini ke engkau untuk kau pikul?”

“… … … …”

“Jangan khawatir. Keterampilan bocah ini sungguh nyata—soal itu beta bisa meyakininya. Soal bagaimana engkau diselamatkan olehnya, beta juga telah melihatnya melalui pandangan jarak jauh. Walau keadaan beta sekarang lemah, hal itu masih merupakan sesuatu yang dapat beta lakukan.”

“Tapi—bukan kawan, atau lawan; cuma netral?”

“Sejak awal beta tak bertaruh bahwa dia adalah seorang kawan. Jika bocah ini adalah musuh yang sudah tahu jelas tentang keadaanku, maka pastilah beta sudah dihabisi sekarang ini. Tiada pilihan sekalipun kita berharap… … Walau begitu, karena dia bilang dirinya netral, maka hal itu juga baik untuk kita juga.”

“… …  Ah.”

Kita bisa juga memandangnya seperti itu ya.

Memahami berarti bersikap sangat hati-hati.

Terlebih lagi, setidaknya belum pasti bila seandainya negosiasi Oshino gagal maka itu akan merupakan suatu hal negatif.

Tatapan matanya bukan satu-satunya hal yang terlihat dingin.

Karenanya—masih ada satu pertanyaan lagi yang sebenarnya masih tersisa.

Seorang om-om yang kebetulan lewat.

Hanya kebetulan lewat.

Tapi—apakah kebetulan lewatnya Oshino benar-benar merupakan sebuah kebetulan?

Menjumpai Kiss-Shot saat dirinya kesulitan, lalu tampil persis saat aku sedang diserang—benar juga, bukannya itu agak terlalu kebetulan?

Jika ada semacam arti di sini—apakah ada suatu manfaat yang Oshino kemudian akan dapatkan?—Aku cuma merasa kalau segalanya agak terlalu berlebihan untuk disebut sebagai sebuah kebetulan.

Tapi lagi—kalau kita memikirkannya begitu…

Hanya memulai perjumpaan secara kebetulan, lalu mengamati segalanya dari belakang—kalau seperti itu, maka pada siang hari sesudah upacara penutupan, saat aku sedang berkeliaran di seputaran sekolah, urusan aku berpapasan dengan Hanekawa saat aku baru melangkah keluar gerbang, apa itu juga benar-benar hanya sebuah kebetulan?

Kalau aku memikirkannya dengan hati-hati, seandainya aku tak berpapasan dengan Hanekawa, maka mungkin aku takkan menyelinap keluar rumah malam itu untuk pergi ke toko buku. Aku juga takkan sampai berjumpa dengan Kiss-Shot—argh, mungkin aku yang berpikir terlalu banyak.

Saat ini.

… … Bertemu dengan orang aneh ini, aku merasa kalau kami benar-benar teramat beruntung.

Terhadap penyelamatku ini, sebenarnya ini satu-satunya hal yang enggan kukatakan; sungguh, dirinya jenis orang yang paling tak bisa kuhadapi.

Tapi…

Aku sudah bertekad, seperti yang sudah kubilang. Jadi…

“Walau aku belum menabung sampai sebanyak itu… … asal kau tak mendesak, dan tak ada penjamin yang harus kuberikan—hutang itu, akan kutanggung.”

Tak ada pilihan.

Mesti meminjam uang sebanyak itu di usia semuda ini; nasibku pasti benar-benar malang.

“Yah, kalau begitu sudah diputuskan. Haha, terima kasih atas bisnisnya ya.”

Oshino mengatakan itu dengan terlihat senang.

“Aku juga akan tinggal di sini, mulai hari ini. Jadi tolong perlakukan aku dengan baik, oke? Juga, sebenarnya, aku sudah menyasari tempat ini semenjak pertama sampai ke kota ini. Lalu kuberikan tempat ini ke kalian sesudah mempertimbangkannya secara moral, kota ini benar-benar tak punya puing-puing lebih baik selain tempat ini. Pertama-tama sekarang, kita lakukan apa dulu? Atau demi memompa semangat, apa sekarang kita mau rembukan lalu berteriak?”

Sembari berbaring, dan dalam postur yang sama sekali tak memberi kesan, Oshino mengucapkan semua itu—tentu saja, aku dan Kiss-Shot sama sekali mengikuti omong kosongnya.

Aku tak menyadari bahwa waktu sudah kembali melewati jam 0:00.

Hari telah berubah ke tanggal 29 Maret.

Kalau yang kau bicarakan soal besok, maka saat ini juga sebenarnya sudah ‘besok’.

——————————–

Catatan:

Pada adegan saat mereka pertama bertemu, Oshino sepertinya sedang membicarakan nuansa kanji di dalam nama Araragi, tapi aku juga tak yakin.

fenomena ganjil = kaii = oddity; ini salah satu istilah yang agak susah diterjemahin, tapi memegang peran besar dalam kelanjutan cerita di buku-buku berikutnya


About this entry