Kizumonogatari – IND (004)

004

Tiba-tiba saja aku tersadar.

Rasanya benar-benar seperti dilahirkan kembali.

Salah, cara lebih baik untuk mengatakannya adalah rasanya seperti baru dihidupkan lagi.

“Ahh! Jadi itu semua cuma mimpi!”

Aku benar-benar ingin mengatakan sesuatu seperti itu.

Tentu saja, itu semua bukan mimpi—seandainya semuanya mimpi, maka tentu tempat aku terbangun sekarang adalah kamar tidurku.

Tapi tempat ini bukanlah kamarku.

Ini sebuah tempat yang sama sekali belum pernah kudatangi sebelumnya.

Adik-adik perempuanku yang biasa membangunkanku setiap pagi juga tak ada di sini.

“…”

Tapi…

Aku merasa ingin kembali tidur, sampai aku terbangun dari mimpi ini.

Jadi? Apa tempat aku berada sekarang… semacam gedung terbengkalai?

Aku sadar bahwa aku berada di dalam semacam bangunan… jendela-jendelanya disegel dengan papan-papan tebal menggunakan paku, lampu-lampu fluoresen di langit-langit semuanya rusak…

Kemudian aku tersadar…

Rupanya aku tertidur di lantai.

Lantainya terbuat dari linoleum.

Ada retakan-retakan di sepanjang permukaannya.

Kugerakkan kepala, mengamati sekelilingku—benda apa yang tergantung di atas dinding itu?

Papan tulis?

Lalu… ada meja-meja?

Kursi-kursi juga?

…Tempat ini semacam ruang kelas?

Mungkin bangunan ini sebuah sekolah—tapi jelas ini bukan SMA Naoetsu, soal itu bisa kupastikan sendiri.

Tapi—aku juga punya perasaan bahwa bangunan ini bukan sekolah.

Bagaimanapun, aku seorang siswa SMA yang jarang absen.

Sekalipun bukan sekolahku sendiri, aku masih akan bisa mengenali nuansa sebuah sekolah, karena itu berkenaan tempat ini, aku akan bisa tahu apakah tempat ini sekolah atau bukan.

Tapi kalau begitu… ini sebenarnya tempat apa?

Sebuah tempat yang bukan sekolah, tapi memiliki papan tulis serta meja dan kursi dalam jumlah besar…?

Ah, aku tahu.

Tempat ini bernuansa sebuah bimbingan belajar.

Bangunan sebuah bimbingan belajar.

…Walau begitu, dilihat dari sisi manapun, ini pastilah sebuah bangunan bimbingan belajar yang telah ditutup.

Deretan jendela, lampu-lampu fluoresen… ini seperti sebuah bangunan bimbingan belajar yang sebentar lagi rubuh?

Mungkin karena keadaannya terlampau gelap, hanya sebatas itu yang bisa kulihat—terlampau gelap?

Lho?

Bagaimana mungkin aku—di dalam sebuah ruangan dengan jendela-jendela tersegel, dengan ketiadaan cahaya seberkas pun… masih bisa melihat sejelas sekarang?

Aku tahu keadaannya gelap.

Aku tahu pasti di tempatku sekarang tak ada cahaya.

Seharusnya sejak awal aku bahkan tak bisa melihat jari-jariku sendiri—aku berada dalam situasi yang sangat gelap ini, tapi anehnya, aku bisa melihat.

Aku bisa melihat dengan teramat jelas.

Tidak… tapi apa benar kenyataannya memang seharusnya begini?

Mungkinkah karena kedua mataku baru terbuka, dan keadaan indera-inderaku masih terganggu?

Sementara aku masih berada dalam alur berpikir tak wajar ini, di saat aku mencoba bangkit—

“… Aduh.”

Pada waktu itu, tanpa sengaja aku menggigit bagian dalam mulutku.

Hmm?

Kenapa gigi taringku terasa panjang ya?

Aku memasukkan jari tangan ke dalam mulut untuk memeriksa—lalu.

Saat aku menggerakkan jemariku, tanganku juga ikut bergerak, kemudian pada saat itu aku tersadar—tertidur di atas lenganku ketika aku baru mau bergerak, terdapat seorang gadis kecil.

“…”

Eh?

Gadis kecil?

“…ahhhhhhhhh?!”

Itu benar-benar seorang gadis kecil.

Usianya kurasa sekitar 10 tahun?

Mengenakan gaun yang berukuran pas di badannya, seorang gadis kecil berambut pirang—dengan jenis kulit putih yang nyaris terlihat transparan.

Fyufyu, nafasnya berdengkur pelan—-

Dia sedang tidur.

Dengan manisnya, dia sedang tidur.

“…”

Aku benar-benar tak mengerti situasinya.

Kenapa aku bisa berada di sini, dan juga tempat apa ini, dan serta siapa gadis kecil berambut pirang ini, aku tak tahu apapun tentang ini… tapi dengan yakin bisa kukatakan bahwa situasi ini sama sekali tidak oke!

Kalau hanya seorang gadis, maka mungkin itu masih oke.

Tapi bila itu seorang gadis kecil yang belum pernah kulihat sebelumnya, sial, situasinya mengesankan seolah aku telah melakukan sesuatu yang melanggar hukum!

“H, hei… hei, bangun.”

Memikirkan cara memegangi gadis berambut pirang itu, aku akhirnya memeganginya di tempat yang kupikir takkan menjadi masalah (seperti di lengannya), dan mulai mengguncang-guncangnya.

“Hm~m…”

Kemudian, si gadis berambut pirang itu, seakan benar-benar enggan berkata:

“Lima menit lagi…”

Seorang gadis berambut pirang yang dalam keadaan separuh tidur mengatakan sesuatu secara otomatis seperti itu…

Si gadis kecil itu kemudian tertidur kembali.

“Tadi… tadi aku bilang, ayo bangun!”

Aku tak pedulikan keinginannya, jadi aku terus mengguncangkan tubuh gadis pirang itu.

“…Masih ngantuk.”

“Memang sampai berapa lama kamu mau tidur?”

“…Sampai sekitar 46 milliar tahun?”

“Nanti ada bumi baru yang keburut terbentuk duluan!”

Aku meneriakkan protesku, tapi kemudian dengan panik kututup mulut.

Benar juga.

Kalau kupikirkan baik-baik, bukannya malah buruk bila kubangunkan dia sekarang?

Sementara gadis ini tertidur, akan kupakai kesempatan ini untuk memecahkan masalah ini sendiri. Dilihat bagaimanapun, kurasa ini pilihan terbaik. Tapi walaupun aku memakai kata ‘memecahkan’, sebenarnya aku juga tak yakin masalahnya di mana…

Sebagai langkah awal, kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku.

Jadi.

Sekarang jam menunjukkan——4.30.

Sial, kalau hanya jam tangan, aku tak bisa tahu apakah sekarang sudah pagi atau sore.

Yang kubutuhkan ponsel, ponsel… ketemu.

Jam di layar menunjukkan, sekarang pukul 16.36.

Tanggalnya adalah… tanggal 28 Maret?!

Yah… aku ingat terakhir kali aku memeriksa ponselku, pada waktu itu—tanggal baru berganti, jadi masih tanggal 26 Maret.

Itu berarti—sudah ada dua hari berlalu semenjak saat itu?

“…Tak mungkin.”

Jika benar ini mimpi… sebanyak apa darinya yang nyata?

Jadi.

Kenangan itu – sampai mana semuanya benar?

Kali ini, agar tak sampai membangunkan gadis itu, secara perlahan aku menarik diriku lepas dari kepalanya.

Pertama, aku perlu memastikan dulu tempat apa sebenarnya ini…

Aku berjalan menuju pintu ruang (kelas) tanpa bersuara—pintunya ternyata tak terkunci. Sebenarnya, itu salah satu pintu yang engselnya sudah hampir lepas, jadi fungsinya benar-benar sudah tak dapat diandalkan sebagai sebuah pintu. Kemungkinan aku sebenarnya terkurung dalam sebuah fasilitas misterius menjadi sirna, karenanya. (Terdengarnya konyol, tapi sebenarnya itu memang menakutkan,)

Ah, sebelum membahas soal gadis pirang yang manis itu, menculik seorang cowok sepertiku takkan mendatangkan banyak keuntungan bagi siapapun…

Keluar pintu, aku melihat undakan tangga.

Tertera di lantai ini, terdapat tulisan ‘2F’.

Lantai kedua?

Ada anak-anak tangga yang menuju ke atas dan ada yang menuju ke bawah.

Aku berpikir tentang ke arah mana sebaiknya aku pergi—normalnya, kau akan memilih lantai pertama.

Terlebih dahulu, harus bisa keluar dulu dari gedung ini sebelum bisa melakukan hal lain.

Sepertinya ada lift di seberang tangga, tapi tanpa perlu kuperiksa, sudah jelas litnya takkan bekerja.

Aku menuruni tangga.

“…Daftar kontak di ponselku masih menyimpan nomor dan email Hanekawa, kalau begitu pertemuanku dengan Hanekawa seusai upacara penutupan di sore hari itu nyata… kalau begitu apa yang kuingat sesudah kenangan itu, semestinya nyata juga.”

Celana dalam yang kulihat itu jelas-jelas bukan mimpi.

Walau benar-benar terasa seperti mimpi.

“Uang di dalam dompet sudah berkurang, lalu ada bon di sini… itu berarti, ingatanku beli majalah bersampul perempuan untuk kaum lelaki muda itu nyata juga.”

Tapi, aku berpura-pura tak menyadari hal itu dan terus saja berbicara sendiri.

“Tapi, apa yang terjadi sesudah itu… mana mungkin itu semua nyataaa!”

Sekalipun yang kualami bukan mimpi.

Mungkinkah tanpa kusadari ada sesuatu yang telah kusalah artikan pada suatu titik?

Misalnya—–ada wanita yang ditabrak lagi oleh mobil … kemudian aku jadi saksinya … dan aku langsung pingsan di tempat?

Hm.

Walau rasanya agak memaksa, kurasa kemungkinan itu juga masuk akal. Apalagi kalau berpikir ini pertama kalinya aku mengalami sesuatu semacam ini.

Kemudian … aku yang berada dalam keadaan tidak sadarkan diri dipindahkan oleh seseorang ke tempat ini … tunggu, bukan. Maksudku, enggak mungkin perkembangan kejadiannya seperti itu. Bila sesuatu seperti itu terjadi, biasanya keadaan akan baik asal kau memanggil ambulans secara normal.

Tapi, jam yang ditunjukkan oleh ponselku juga benar.

Ya ampun, aku sudah berada di luar rumah selama dua hari, perasaanku mengatakan bahkan mungkin sudah tiga hari.

Walau ini bukan kali pertama aku tidur di luar rumah tanpa alasan jelas, tiga hari jelas sudah mendekati ambang batas berbahaya. Memikirkan kembali perilaku aneh kedua adikku, segalanya bisa saja berakhir manis … tetapi tetap saja sebaiknya aku melapor selama ini aku ke mana saja.

Persis pada saat ini aku…

Sekali lagi—terpikirkan kembali akan hal-hal remeh.

Tapi pikiran ini, pada detik saat aku melangkah keluar gedung, langsung lenyap begitu saja. Sesudah aku menghindari berangkal yang bertebaran di dekat kakiku, serpihan-serpihan logam, pecahan-pecahan kaca, papan dan kaleng yang tulisan penjelasannya tak bisa kubaca, serta kotak-kotak kardus (Tapi, kenapa aku masih bisa melihat walau segelap ini ya?) di luar bangunan, pada detik saat kakiku mencapai rimbunan ilalang yang di sekitarnya tetap tak kutemukan siapa-siapa—pada saat itu.

Badan.

Sekujur badanku—terbakar.

Semestinya aku sadar.

Apa yang sudah bisa kusebut mentari sore pada jam itu—kenapa masih terlihat begitu menyilaukan?

Tapi sudah terlanjur terlambat—-sekujur badanku seketika meletus dan langsung dilalap api.

“Giahahahahahahahahahah!”

Aku melepaskan jeritan yang sama sekali tak menyerupai tangisan.

Aku tak bisa bilang kalau rasanya hanya sekedar sakit.

Rambut, kulit, urat, tulang, segalanya—terbakar.

Terbakar hebat.

Dalam kecepatan luar biasa—terbakar.

“Ahahahahahahah!”

Seorang vampir.

…Bukannya konon lemah terhadap sinar mentari?

Makhluk gelap yang disebut vampir, tak bisa mengalahkan mentari?

Itulah alasan aku bilang—tak ada bayangan.

Tapi aku masih tak paham bagaimana kaitan itu semua denganku—

“Tolol!”

Aku yang sedang berusaha memadamkan api dari sekujur badanku, menggunakan pengetahuan yang kupunya dengan berguling-guling di atas tanah (rasanya aku pernah membaca di suatu tempat bahwa kita bisa memadamkan api yang menyala di tubuh kita dengan cara seperti itu), merasa mendengar ucapan itu bergema dari dalam bangunan yang baru kutinggalkan.

Aku menengadah.

Tatkala aku terbakar, dalam keadaan telah kehilangan seluruh cairan tubuh, menggunakan sepasang mata ini, hanya untuk memandang tempat dari mana kurasa suara itu terdengar—kudapati gadis pirang yang sebelumnya kulihat tertidur lelap.

Gadis itu memandangku dengan sorot matanya yang mulia, lalu kepadaku—

“Cepat kembali kemari!”

…Meneriakkan kalimat itu.

Tapi walau begitu, karena sakit yang kurasakan luar biasa, tubuhku tak bisa bergerak sesuai kehendakku—melihatku seperti itu, si gadis tiba-tiba memutuskan, dan melesat ke bagian luar gedung.

Pada saat itu.

Persis seperti aku—tubuh gadis pirang itu seakan dilalap api juga.

Tapi, tanpa peduli dengan keadaannya sendiri, ia berlari ke arahku, lalu memegangiku yang telah tumbang, kemudian menyeretku.

Api semakin besar selama membara.

Dia menyeretku begitu saja.

Bisa kurasakan tenaganya.

Tenaga yang besar, jauh melebihi ukuran anak-anak normal.

Sepasang tangan yang begitu kecil, selayaknya dapat pujian karena mampu menghasilkan tenaga sebesar itu—tapi sepasang tangan itu saja masih belum cukup kuat untuk membopongku.

Hanya menyeret.

Sama-sama terbakar, sembari menyeret.

Terbakar namun masih dalam keadaan mampu untuk mengeluarkan tenaga, sungguh dirinya memiliki kekuatan mental yang luar biasa; —namun, meski begitu, si gadis akhirnya berhasil menyeretku masuk kembali ke dalam gedung, itu berarti menjauhi cahaya matahari, dan itu adalah sesudah beberapa waktu berlalu.

Kejutan yang sebenarnya terjadi sesudahnya.

Api yang ada di tubuhku.

Lalu api yang melalapi tubuh si gadis pirang, pada saat memasuki bayang-bayang—dalam sekejap hilang bagaikan sihir. Bukan hanya itu—bahkan luka-luka bakarnya juga tak bersisa.

Meski dikelilingi api yang dahsyat.

Bahkan pakaian pun tak terbakar.

Parka bertudung dan celana kamuflase.

Seakan apinya tak pernah ada.

Gaun halus gadis pirang itu juga, berada dalam situasi sama.

“Eh, eh, eheh…?”

“Dasar engkau.”

Kepadaku yang kebingungan—gadis pirang itu kembali berbicara.

“Idiot macam apa yang melangkah tiba-tiba ke bawah mentari—beta lepaskan mata darimu sejenak, dan engkau lakukan kekonyolan begini. Apa engkau ingin mati? Seorang vampir normal akan langsung menghablur dalam sekejap.“

“…Eh?”

“Jangan biarkan ada kali lain engkau keluar saat mentari masih ada. Memiliki kekuatan abadi, engkau akan terbakar, pulih, terbakar kembali, pulih kembali, dalam satu lingkaran tanpa akhir. Baik apakah kekuatan pemulihanmu yang habis atau mentarinya menghilang dulu—engkau tetap akan sampai mencicipi seperti apa rasanya neraka. Dus, itulah arti menjadi vampir berkekuatan abadi.”

“Eh———–eh?”

Vam——-pir?

Kalau begitu, sudah jelas—ini, bukanlah mimpi atau salah pengertian.

“Kalau, kalau begitu, kau… kau…?”

Rambut pirang, gaun.

Lalu sepasang mata yang dingin.

Tidak, usianya terlalu beda—sosok sekaratnya yang aku lihat, sekalipun aku tak bisa memastikan usianya, tapi—bila hanya menilai penampilannya semata, sekurangnya berusia 27 tahun.

Terlalu berbeda dibandingkan sosok berusia sekitar sepuluh tahun yang hadir saat ini.

Terlebih lagi, tungkai-tungkainya.

Tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri, gadis pirang ini memilikinya.

Gadis berusia sepuluh tahun ini, memiliki tungkai-tungkai di atas seperti tongkat-tongkat terbalut daging.

Dibandingkan dirinya yang kehilangan tungkai-tungkainya—keadaannya jelas terlalu berbeda.

Tapi—-

Tapi tetap saja kemiripan-kemiripan di antara mereka ada.

Misalnya, bagian dalam mulutnya saat ia berbicara, ada deretan giginya yang putih—dan sebagainya.

“Ehem.”

Dia menganggukkan kepalanya.

Tiba-tiba memasang sikap percaya diri, dirinya membusungkan dadanya dan berucap.

“Inilah beta, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade. Tapi engkau boleh memanggil beta Heart-Under-Blade.”

Lalu dia melanjutkan ucapannya dengan perkataan mengejutkan.

“Beta hanya pernah ciptakan dua bawahan selama empat ratus tahun—hm, menilai dari kekuatan pemulihanmu, nampaknya engkau berubah menjadi cukup baik. Tiada tanda-tanda engkau akan mengamuk pula. Hanya saja sedikit mencemaskan saat engkau tak jua membuka mata.”

“Ba—bawahan?”

Benar, jadi engkau—hm. Setelah beta pikirkan sekarang, beta masih belum tahu nama dikau. Uhm, jadi. nama yang sebelumnya engkau miliki tidak mengandung banyak arti bagi diri dikau nan sekarang. Jadi bagaimanapun, Pelayan.”

Dirinya tertawa.

Secara menyedihkan tertawa.

“Selamat datang, di Dunia Malam.”

“…”

Hidup Araragi Koyomi yang baru sedikit melebihi rentang 17 tahun, semestinya berakhir begitu saja.

Tapi, apa yang kemudian terjadi tidaklah seperti itu.

Hanya saja, dari satu sudut pandang tertentu, memang berakhir.

Aku—sebagaimana makna kata ini secara harfiah, telah terlahir kembali.

Vampir.

Komik, film, game, seperti pembuluh yang tersebar tiada akhir—bagi lebih dari separuh orang yang ada di muka bumi, vampir merupakan suatu sosok kuno dari masa lampau yang telah lama dikenal.

Tapi bagiku, seorang pelajar SMA dari generasi ini, vampir merupakan sesuatu yang jarang terdengar.

Kau bahkan bisa bilang itu sesuatu yang tak pernah kuketahui sama sekali.

Seperti yang namanya indikasikan, setan penghisap-darah.

Paling baik, makhluk tersebut tak menyukai matahari, tak memiliki bayangan—sejauh itu aku sudah tahu, terlebih itu sesuatu yang kusadari sesudah berbicara dengan Hanekawa.

Selain itu—apa lagi ya? Oh ya, tidak menyukai bawang?

Aku tak yakin.

Itu makanya aku bilang—-aku tak tahu apa-apa.

Saat seorang vampir mengisap darah—-tentang bagaimana yang dihisap akan ikut diubah menjadi vampir.

Jika darah terisap, kau menjadi rekanannya.

Jika darah terisap, kau menjadi bawahannya.

Untuk memaksa manusia menanggalkan kemanusiaannya—aku benar-benar tak tahu.

Jika jumlah darah yang dikandung seseorang sampai ditawarkan maka tentu saja kau akan mati—karena aku punya kesiapan untuk mati itulah, aku menjulurkan leherku kepadanya.

Tapi—–siapa yang akan mengira.

Kesiapan untuk menjadi vampir, aku sama sekali tak punya.

Tapi, tak ada artinya lagi mengatakan ini—persis seperti penyesalan yang hadir di depanmu.

Diriku sesudah membiarkan dirinya mengisap darahku, secara jelas-jelas absurd, diubahnya menjadi vampir.

Tak perlu ada bukti lagi.

Tubuh ini yang akan membara saat berada di bawah matahari.

Tubuh ini yang akan bisa terbakar dan secara instan pulih kembali.

Sepasang mata ini yang bisa melihat secara jelas dalam kegelapan.

Lalu gigi tajam di dalam mulutku—taring.

Hanya dengan adanya hal-hal ini, maka bukti-buktinya sudah cukup jelas.

Hal-hal seperti memiliki bayangan atau tidak—-itu sudah tak perlu dibahas.

“Ini… Ini di mana?”

Tapi…

Bagi si idiot Araragi Koyomi, itu aku, mari kita hadapi kenyataan ini dari awal, pertama dengan bertanya padanya tentang tempat kita berada.

Lantai kedua.

Tempat di mana kesadaranku pulih, tempat di mana kami berdua kembali.

Setidaknya tempat ini jelas-jelas puing-puing, di bangunan berlantai empat ini, dengan jendela-jendela yang disegel oleh papan—-dengan kata lain, ruangan di mana sinar matahari tak bisa masuk, tampaknya tak lain adalah tempat ini.

Uhm.

Walau aku memiliki kemampuan pemulihan alami, lebih baik jika aku terhindar dari letupan api lagi.

Bukannya tadi dia memakai istilah ‘menghablur’?

“Hm…”

Saat dia membalikkan rambut pirangnya, vampir tersebut mulai berbicara.

“Benar sekali, walau beta menyebut tempat ini ‘Bimbingan Belajar’—sekalipun beberapa tahun lalu tempat ini ditutup. Sekarang ini tempat ini hanya puing-puing. Seperti itulah, tempat ini menjadi tempat yang cocok untuk bersembunyi.”

“Hoooo…”

Jadi ini memang dulunya sebuah bimbingan belajar.

Lalu kini jadi puing-puing.

Tapi, tempat persembunyian? Ungkapannya aneh.

Seakan ada alasan kalau kami harus bersembunyi.

Untuk merawat diriku yang hilang kesadaran, dirinya memilih sebuah tempat kosong?

“Kalau begitu, Kiss-Shot, pertanyaan berikutnya…”

“Sebentar.”

Dirinya…

Kiss-Shot menghentikanku.

“Bukannya beta tadi membolehkanmu memakai Heart-Under-Blade untuk panggilanku?”

“Kepanjangan. Heart-Under-Blade? Lidahku sudah tergigit dua kali hanya karena mengucapkannya. Gimana bisa kamu punya nama yang bikin kamu sampai menggigit diri kamu sendiri? Jadi, Kiss-Shot lebih pendek… Atau, kau keberatan jika aku menggunakan panggilan itu?”

“…Tidak.”

Kiss-Shot tampaknya sempat mengatakan sesuatu, tapi dirinya menggeleng.

Rambut pirangnya dengan ringan berguncang.

“Baik, boleh, engkau boleh memanggil beta apa yang engkau mau—tiada alasan apapun bagi beta untuk menolak.”

Itu ucapan yang menarik.

Ah, nama belakang orang asing, itu Kiss-Shot atau Acerola-Orion? Dengan itu, apa tak apa bila memanggilnya begitu saja dengan cara seperti itu? …Tapi apakah cara berpikir seorang manusia akan sesuai dengan seorang vampir?

“Jadi, kalau begitu apa pertanyaan berikutnya?”

“Yah… Aku jadi… berubah menjadi vampir?”

Pertanyaan kedua, itulah pertanyaan yang paling perlu kutanyakan.

Untuk menghadapi kenyataan, itu sebuah pertanyaan yang sangat berarti. Jika tak seperti ini, aku tak bisa sungguh-sungguh menerimanya.

Tapi yang paling ingin kutanyakan, adalah pertanyaan lain.

“Tentu saja.”

Kiss-Shot menjawab secara jelas.

“Tak ada gunanya menjelaskan sekarang—engkau adalah bawahanku, pelayanku. Berbanggalah.”

“Pelayan…”

Walau itu sudah dikatakan.

Hmm… pelayan.

Untuk suatu alasan, aku tak merasa benci akan kenyataan tersebut.

“Kalau begitu—kenapa kau berubah ke wujud anak-anak? Malam kemarin… bukan, dua malam lalu? Waktu aku bertemu denganmu—kau terlihat seperti orang dewasa…”

“Maaf jika beta terlihat sebagai anak-anak.”

“Bukan, maksudku bukan itu.”

Seperti orang dewasa.

Meskipun—-tungkai-tungkainya telah terpotong darinya.

Itu yang ingin kutanyakan.

“Darahmu, kuhisap seluruhnya.”

Dia memperlihatkan giginya—kemudian ia tertawa.

Itu bukan sesuatu yang patut ditertawakan, ahaha.

“Tapi sebatas ini saja masih tak cukup—itulah alasan mengapa kita terhubung. Bahkan sesudah itupun, yang berhasil kupertahankan tetap hanyalah nyawa. Kekuatan keabadian beta hanya sanggup dipertahankan sesedikit mungkin, bahagian besar kekuatan vampir yang beta punya menjadi terbatas—sungguh menyulitkan.”

Bahkan sesudah itu.

Hanya nyawanya yang berhasil ia pertahankan—itulah katanya.

Tak ingin mati.

Bayangan dirinya menangis dan meratap—-tiba-tiba saja terlintas dalam benakku.

Sekarang ini di balik ucapan Kiss-shot, bayangan itu tak bisa kulihat sama sekali.

Sekarang ini aku sadar…

Sekarang ini saja aku baru sadar…

Bahwa perempuan ini—-benar-benar pada akhirnya kuselamatkan.

Kuselamatkan… seorang vampir.

Dengan nyawaku sendiri sebagai pengorbanannya.

“Tungkai-tungkai beta seperti ini, hanya bentuk luarnya saja yang tumbuh. Bagian-bagian dalamnya masih hampa—tapi meski begitu pun, seharusnya takkan masalah… namun, hubungan tuan dan pelayan antara kita perlu diperjelas, Pelayan. Walau beta kini berada dalam keadaan seperti ini, beta adalah vampir yang telah hidup selama lima ratus tahun. Hubungan tuan-pelayan antara kita hendaknya jelas, engkau yang baru saja diubah menjadi vampir, tidak sepatutnya berbicara seakan-akan kita setara.”

“Ha… haha…”

“Hm? Jawabanmu ambigu—apa engkau sungguh paham apa yang baru beta ucapkan?”

“Um, umm—aku paham.”

“Kalau begitu, sebagai tanda kepatuhanmu terhadap beta, kuperintahkan agar engkau mengelus kepala beta!”

Dengan penuh keagungan dirinya memerintah.

Mengelus kepala…

Uwaa… rambutnya benar-benar lembut!

Walau rambutnya benar-benar tebal dan lebat, permukaannya benar-benar terasa halus.

“Sudah cukup.”

“…I, itu saja tanda kepatuhannya?”

“Itu saja engkau tak tahu?”

Dia memandangiku dengan tatapan merendahkan.

Kurasa vampir dan manusia benar-benar memiliki aturan tata krama yang berbeda.

“Dasar tak tahu adat. Tapi meskipun tak tahu adat, engkau telah bersikap bijak dengan kepatuhanmu atas beta—beta benar-benar telah menciptakan pelayan yang baik rupanya. Tapi, Pelayan…”

Kiss-shot terus berbicara.

Ia memandangiku dengan sorot mata yang teramat dingin.

“Engkau sungguh telah menyelamatkan nyawa beta. Beta yang lemah dan terkuak, telah diselamatkan oleh engkau. Jadi, secara khusus akan beta izinkan ketaksopananmu, dan mengizinkan pemanggilan beta dengan nama Kiss-shot.”

“Pemanggilan, maksudnya memanggil hanya seperti itu—-?”

Jadi, memanggilnya Acerola-Orion sebenarnya merupakan pilihan yang lebih baik?

Itu bukan nama yang susah… tapi, melihat keadaan sekarang, kurasa tak ada artinya aku membahas soal ini lagi.

Tapi…

…Aku cermati kembali apa yang baru Kiss-Shot katakan.

—Tungkai-tungkai yang seperti ini.

—Dengan bentuknya saja yang tumbuh.

Benar juga, walau tubuh gadis berusia sepuluh tahun relatif kecil, tapi Kiss-Shot yang sekarang mempunyai tangan dan kaki.

Tapi hanya bentuknya saja?

Maksudnya, di dalam kedua pasang kaki dan tangannya itu—kosong dan tak berisi?

“Terlebih lagi… di masa mendatang, beta mungkin masih akan memerlukan tenaga engkau.”

“Ha?”

Apa tadi?

Dia tadi berbicara sesuatu soal apa yang sedang kupikirkan?

“Hei… jadi intinya.”

“Bukan, tak selayaknya kau bersikap gembira, Pelayan. Dengan engkau sebagai pelayan maka sudah jelas kau bertugas melayani tuanmu. Jika engkau telah mengelus kepala, bukankah itu pertanda kau mengabdikan kepatuhan hanya pada beta?”

Dia mengatakannya dengan dada membusung.

Yah, walau aku bilang dadanya membusung, badannya hanyalah badan seorang anak berusia sepuluh tahun. Sama sekali tanpa ada dada sama sekali.

Jadi walau aku bilang dada membusung, di perbuatannya berusan juga ada kesan seperti merentangkan punggung.

…Juga, ungkapan ‘membusungkan dada’ bisa diartikan sebagai ‘mengangkat dadamu ke atas dan berbicara’. tapi makna ini sama sekali tak bisa kutemukan dari perbuatannya.

Tapi… tak ada gunanya berapa kalipun aku mencoba membantah.

Tak ada satu pun jawaban normal yang kuterima darinya.

Soal ini, lebih baik kubiarkan untuk lain waktu—sudah saatnya aku mengajukan apa yang paling ingin kutanyakan. Landasan yang sebelumnya perlu kusiapkan sebelum mempertanyakan ini kini telah ada.

“Kenapa—kau mengubahku menjadi vampir?”

“Hmmm?”

“Aku sebenarnya sudah siap mati—sewaktu kau mengisap darahku.”

Dan bahkan lampu lalu lintasnya pada waktu yang sama berubah warna juga.

Wajah-wajah dari orang-orang yang pernah kukenal bahkan sempat terlintas dalam kepala—walau jumlahnya hanya empat orang.

Ah, ataukah itu lima?

Aku tak bisa ingat.

“…Bukan apa-apa, tak ada alasan. Saat darahmu terhisap oleh vampir, tak peduli engkau siapa engkau pasti akan diubah menjadi vampir. Itu saja.”

“Jadi—-seperti itu.”

Seperti itu.

Aku—menjulurkan leherku kepadanya?

Dengan kesiapan penuh untuk dihisap darahnya sampai kering.

Dengan kesiapan penuh yang juga dengan mudahnya dipatahkan…

Tapi—-

…Kesiapan untuk menjadi sesuatu yang bukan manusia, apa itu aku punya?

“Aaah, buat beta ini persis dengan apa yang beta butuhkan, apa engkau tahu mengapa?”

Bagi Kiss-Shot tentu saja tak ada yang berubah—dirinya bahkan berbicara dengan nada yang arogan.

“Bagi engkau, ada sesuatu yang harus dilakukan.”

“…Maksudmu, kayak yang tadi dibilang, kau perlu meminjam tenagaku?”

—Urusan yang membuatmu memerlukan tenagaku.

“Benar sekali. Walau darah yang engkau berikan menyanggupi pemulihan badan beta—beta yang saat ini, masih berada dalam keadaan jauh dari kekuatan penuh. Jadi mulai dari sekarang, engkaulah yang harus bertindak.

Mulai—mulai dari sekarang?

“Tentu saja. Selesaikan tugasmu sebelumnya dulu, baru engkau boleh melangkah. Yaitu aku, vampir berdarah-logam, berdarah-panas, berdarah-dingin, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.”

“…”

Gelar yang dimilikinya kepanjangan.

Dengan namanya ditambahkan, total hurufnya tadi sampai berapa?

Secara pribadi kupikir hanya ‘berdarah-dingin’ saja yang cocok dengannya.

“Jadi aku harus…”

Tanpa sadar, aku hendak bertanya—tapi bila keadaan begini, maka topik pembicaraan akan kembali melenceng ke arah lain. Bila itu memang yang dimaui Kiss-Shot, kurasa itu boleh juga—masalahnya, aku punya hal-hal penting lain yang ingin kutanyakan kepadanya.

Jadi sebagai jawaban-jawaban untuk landasan pertanyaan lebih lanjut, masih akan ada gunanya.

Jadi aku mengajukan pertanyaan yang paling ingin aku—tanyakan.

Penjelasan darinya yang paling ingin kudengar.

“Aku…”

Keputusannya sudah final, itulah yang tadi sempat kubilang.

Memandang lurus ke arahnya…

Memandang lurus terhadap jawaban yang aku cari—kesiapannya benar-benar telah kumiliki.

“Aku… jadi sudah tak mungkin bisa berubah jadi manusia lagi?”

“Hm.”

Jadi…

Kiss-Shot ternyata—-tak menjawab dengan reaksi yang sebelumnya kubayangkan.

Kupikir dirinya akan marah, atau menilai pertanyaanku aneh, atau bersikap seolah ada sesuatu yang salah kupahami—itulah reaksi-reaksi yang sebelumnya kubayangkan darinya, tapi, seakan hanya untuk membuatku mengerti, dirinya hanya menganggukkan kepala.

“Itu—yang sudah beta kira.”

Dirinya mengatakannya dengan cara seperti itu.

Perkiraan di sisi ini salah—tapi perkiraan di sisi satunya benar.

Bahkan sampai ke titik soal apa yang hendak kutanyakan.

Aku sudah terbaca secara jelas bahkan semenjak awal.

“Beta bisa paham mengapa engkau memiliki perasaan-perasaan itu.”

“Bisa paham?”

Sebuah keberadaan yang lebih tinggi.

Itu persis seperti yang Hanekawa katakan, setidaknya, melihatnya dari awal, kenyataan bagaimana dirinya yang seorang vampir benar-benar memandang manusia sebagai makhluk yang lebih rendah dari diri mereka.

Menurut dirinya—-manusia adalah makhluk hidup yang lebih rendah.

Maka—-

Mengapa aku harus tak bahagia bila diubah menjadi vampir? Perasaan-perasaan seperti itu.

Sampai memiliki keinginan untuk berubah lagi menjadi manusia? Perasaan-perasaan seperti itu.

Kukira dirinya akan mengatakan hal-hal seperti itu, tapi—-

“Beta paham.”

Kiss-Shot, secara jelas mengatakan itu.

“Beta juga pernah mendapat undangan untuk menjadi dewa, tapi beta menolak.”

“D, dewa?”

“Itu sesuatu dari masa lalu.”

Bagaimanapun, dirinya mengatakan itu.

Walaupun kini kami kembali ke topik semula, tampaknya bahasan ini menjadi sesuatu yang tak sebaiknya aku singgung.

“Keinginan untuk kembali lagi menjadi manusia—-dengan kata lain, ‘kembali menjadi keberadaan dirimu yang semula.’ Itulah yang beta pikir. Walau tadi beta mengatakan, ‘Selamat datang di Dunia Malam’, semenjak awal tak sedikitpun beta pikir engkau akan menerima keberadaan dirimu yang saat ini.”

“Jadi begitu—-“

Aku sekali lagi, menyadari bahwa aku masih belum juga mendengar jawaban dari pertanyaan yang kuajukan.

“Jadi, apa bisa kulakukan? Aku…”

“…bisa berubah kembali.”

Kiss-Shot dengan ringan berkata.

Soroty matanya memandang ke arahku, masih dengan tatapan dingin.

Kau bahkan bisa bilang bahwa tatapan matanya menusuk.

“Berubah kembali.”

Tapi—-memandangiku dengan sorot mata seperti itu, dirinya berkata ‘bisa berubah kembali’, karenanya dirinya menyatakannya kembali secara jelas.

“Beta bersumpah atas nama yang beta punya.”

“…”

“Tentu saja… Pelayan. Untuk mewujudkan itu, engkau harus dengarkan kata-kata beta, sebagai pelayan engkau tak perlu malu, tapi–ini bukanlah perintah melainkan ancaman—seandainya engkau ingin kembali berubah menjadi manusia, maka engkau harus patuhi kata-kata beta.”

Kemudian tentu saja—dirinya, secara menyedihkan tertawa.


About this entry