Gundam Unicorn OVA 4: At the Bottom of the Gravity Well

Episode keempat dari seri anime Kidou Senshi Gundam Unicorn (subjudul berarti: ‘di dasar sumur gravitasi’) mengalihkan latar cerita ke Bumi. Riddhe Marcenas yang meloloskan Audrey Burne, agar dirinya mendapatkan perlindungan dari keluarga Marcenas yang berpengaruh, terguncang karena situasinya tak berkembang sebagaimana yang ia harapkan. Lalu  Banagher Links dan Unicorn Gundam, yang terseret gravitasi sesudah kehancuran puing-puing stasiun Laplace, mendapati dirinya terdampar bersama awak-awak kapal Garencieres yang sebelumnya menjadi lawannya.

Paruh pertama episode lebih banyak digunakan untuk memaparkan dilema masing-masing karakter dan perkembangan kepribadian yang mereka alami. Banagher menjadi tawanan Zinnerman, meski nyawanya tak terancam karena statusnya sebagai satu-satunya orang yang bisa menggerakkan Unicorn Gundam. Lalu meski diperlakukan keras karena ia secara tanpa sengaja telah membunuh Gilboa, melalui pengalaman mereka bersama, Banagher mulai belajar untuk melihat sudut pandang sejarah dari kaum Zeon. Audrey seorang diri berhasil lolos dari tawanan keluarga Marcenas. Tapi meski telah berusaha, jejaknya tetap terkejar oleh agen-agen Martha Vist yang bermaksud untuk menggunakannya sebagai umpan untuk memancing Unicorn Gundam. Sementara di latar belakang, sisa-sisa pasukan Zeon yang selama ini bersembunyi di Bumi akhirnya bergerak dan melakukan penyerangan besar-besaran ke ibukota Federasi Bumi di Afrika, Dakar, dengan maksud untuk mengalihkan perhatian mereka dari Unicorn Gundam dan Garencieres.

Cerita kemudian bergerak dengan upaya pelepasan segel kedua Kotak Laplace dengan menggerakkan Unicorn Gundam ke koordinat berikutnya yang Program Laplace tuju, yakni Pangkalan Torrington, Australia, di mana konfrontasi antara pasukan Federasi Bumi dan sisa-sisa pasukan Zeon mencapai puncaknya.  Episode ini diakhiri dengan misteri kemunculan tiba-tiba unit kedua Unicorn Gundam, Banshee, yang berwarna hitam ke tengah-tengah medan pertempuran.

The Distant Past

Seperti yang sudah diperkirakan, dampak dari ‘pemadapatan cerita’ dari versi novelnya benar-benar paling terasa di episode ini. Tapi sekalipun dengan kendala-kendala yang ada, perlu kuakui kalau ini tetap salah satu hasil adaptasi ke bentuk anime paling baik yang pernah aku lihat. Sebagian orang mungkin akan agak dikecewakan oleh situasi ceritanya yang tak banyak berkembang. Tapi menurutku pribadi, nuansa dan jalinan pemikiran yang disampaikan di bagian-bagian awal tetap merupakan hal penting yang harus disampaikan. Soalnya semua ‘filosofi’ yang berbenturan dan sejarah ‘bagaimana semua menjadi seperti ini’ tetap menjadi apa yang menggerakkan kejadian-kejadian dalam cerita. Dan jadinya agak disesali melihat gimana nuansa dan jalinan pemikiran ini menjadi sesuatu yang enggak gampang orang resap.

Melalui perkenalan karakter Loni, gadis Newtype Zeon yang menjadi penggerak MA Shamblo, lawan utama Federasi yang harus dijatuhkan di episode ini, sepertinya berusaha digambarkan bagaimana manusia sedemikian sulitnya terlepas dari ikatan masa lalu dan akhirnya jadi ‘sakit’. Segala konflik yang berlangsung, sebagaimana yang tersirat dalam percakapan antara Audrey dan si orang tua serta antara Banagher dan Zinnerman, semata-mata terjadi karena orang-orang punya pikiran berbeda-beda tentang cara mewujudkan keyakinan mereka masing-masing. Dan itu kemudian menimbulkan trauma, dan akhirnya itu semua berujung pada gimana orang-orang mengambil pilihan-pilihan hidup yang sulit dipahami oleh orang lain. Dan dengan durasi yang terbatas, komplikasi abstrak ini gilanya memang terpapar, tapi tetap mungkin hanya akan bisa dicerna oleh orang-orang pemikir saja.

Kalian tahu soal gimana sering ada adegan kontradiktif di mana ada pilot remaja dalam seri Gundam berargumen untuk menghentikan terjadinya perang, tapi ironisnya ia sendiri berada dalam kokpit sebuah senjata pemusnah massal? Aku sempat membaca sejumlah komentar soal gimana Banagher di episode ini membawa trope ini ke tingkat lebih lanjut. Tapi melihat sendiri adegan bersangkutan dan memikirkannya baik-baik, ini mungkin adegan ceramah protagonis Gundam paling mending yang pernah kulihat.

Jadi, emosi Loni yang mengendalikan Shamblo kembali labil saat ia diingatkan akan pembantaian yang pasukan Federasi lakukan saat memburu sisa-sisa Neo Zeon dalam perang terdahulu. Lalu dorongannya untuk membalas dendam termanifestasi dalam pembantaian dan penghancuran besar-besaran yang berlangsung di Torrington. Banagher kemudian berpendapat, asalkan segel program Laplace terbuka, maka pertempuran yang tengah berlangsung itu bisa terhenti. Tapi ia kemudian ditahan keberangkatannya oleh Zinnerman yang tak ingin ia keluar dulu sampai pasukan Federasi yang bertahan di pangkalan sepenuhnya telah dibereskan. Keduanya lalu bentrok, dengan Banagher yang bersikeras untuk segera keluar dengan Unicorn Gundam agar tak ada darah lagi yang tertumpah.

Ketegangan adu pemikiran ini benar-benar sampai ke tingkat mencengangkan saat Banagher mengkonfrontasi Loni, dan tampak seakan sia-sia dalam upaya membujuknya untuk berhenti. Lalu klimaks ini berakhir dengan cara yang aneh dengan Banagher yang sampai akhir enggan menarik pelatuk untuk menghancurkan Shamblo, sekalipun sudah jelas betapa besarnya kerusakan yang telah MA itu ciptakan baik di Dakar maupun Torrington.

Logikanya, asalkan Shamblo hancur, maka semua pembantaian itu akan terhenti ‘kan? Tapi terlepas dari hitungan korban yang jatuh, Banagher tetap tak dapat menghentikan Loni. Karena dengan membunuhnya, itu berarti Banagher membantah keyakinannya sendiri yang sebelumnya ia berusaha jelaskan ke Loni. Adegan ini sangat kontras dengan adegan-adegan serupa yang pernah terjadi di Gundam SEED Destiny dan aku tercengang-cengang sendiri dibuatnya.

Setidaknya sampai akhir, Banagher tetap berusaha teguh memegang pendiriannya untuk tak membunuh, dan dengan begitu tak bisa dikatakan sebagai munafik.

Salah satu perkembangan lain yang menarik adalah perkembangan Riddhe sebagai karakter, serta (agak tak terduga buatku) keterikatan yang dirasakannya terhadap Audrey berkenaan kemiripan situasi mereka. Riddhe dengan Delta Plus yang dibawanya, kemudian ditugaskan ke kapal induk Ra Cailum yang belum lama ini dipercayakan kepada komandan Bright Noa kembali.

Kemunculan kembali Bright dan Ra Cailum sesudah kejadian-kejadian di Char’s Counterattack, serta keterlibatan mereka dalam pertempuran di Torrington, juga menjadi daya tarik lain dari episode satu ini. Salah satu adegan yang agak menyentuh buatku adalah saat Riddhe menatap foto Amuro Ray yang terpajang di dinding ruang kerja Bright, yang seakan mengindikasikan betapa besarnya rasa hormat yang Bright miliki terhadap mendiang sahabatnya itu.

Go On A Foray

Berbicara mengenai hal-hal teknis, kualitas presentasi dan pengeditan di episode ini tetap memukau seperti di episode-episode sebelumnya. Terlepas dari apa-apa yang orang katakan, pengeditan ceritanya menurutku masih terhitung gila dan tanpa dibantah episode ini menjadi salah satu yang paling menonjol di seri ini.

Salah satu alasannya adalah adegan penyerbuan sisa pasukan Neo Zeon di Bumi ke Dakar dan Torrington dengan menggunakan beragam MS kuno dan lama. Ada terlalu banyak jenisnya untuk bisa aku sebutkan. Tapi percayalah bahwa desain-desain paling aneh dari seri-seri Gundam paling awal pun turut dihadirkan di episode ini, untungnya dengan modifikasi desain yang dibuat lebih riil dan keren.

Koreografi adegan-adegan pertempurannya tetap memukau. Salah satu yang patut diperhatikan adalah adegan kerjasama antara Unicorn Gundam dan Delta Plus dalam menaklukkan Shamblo. Lebih banyak aksi dari Delta Plus milik Riddhe diperlihatkan di episode ini, serta tentunya, kemunculan perdana dari kembaran Unicorn Gundam, yakni unit Banshee.

Shamblo yang banyak menjadi sorotan di episode ini adalah mobile armor raksasa yang (di versi anime ini) dikendalikan seorang diri oleh Loni semata. Kurasa diimplikasikan juga bahwa Loni adalah seorang Cyber Newtype (seperti halnya Marida) dan persenjataan Shamblo yang berbasis bit-bit reflektor ini memang turut dikendalikan oleh sistem psycommu yang sangat sensitif juga.

Episode kali ini memiliki paling banyak referensi terhadap seri-seri terdahulu. Di samping soal mecha-mecha klasik dan Ra Cailum yang disebutkan di atas, kota Dakar yang diketengahkan di Zeta dan Double Zeta juga banyak disorot. Tak lupa juga adalah pangkalan Torrington yang menjadi latar awal konflik di Gundam 0083. Serta, yang mungkin tak banyak dikenal orang, puing-puing kapal induk Gray Phantom yang sempat muncul di OVA War in the Pocket serta Gundam 0083 juga.

Akhir kata, separuh cerita telah dilewati dengan episode ini, dan dengan segala yang terjadi, mulai terasa betapa Banagher dan Audrey sama-sama telah menempuh perjalanan yang jauh. Kalau ada satu hal yang kusayangkan, mungkin itu keterbatasan durasi untuk membangun rasa ketertarikan di antara mereka berdua sih, yang sejauh ini hanya terjadi pada episode pertama. Soalnya dalam versi novel, katanya ada lebih banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu itu, dengan cerita yang lebih difokuskan pada perkenalan karakter dan pembangunan hubungan-hubungan yang ada di antara mereka.

Tetapi untuk sejauh ini, penggarapan versi anime ini dibandingkan versi novelnya benar-benar gila. Nama sutradaranya, Kazuhiro Furuhashi, benar-benar akan kuingat mulai saat ini. Seri Gundam Unicorn benar-benar bagaikan surat cinta bagi siapapun yang menggemari seri-seri Gundam di era Universal Century. Dan meskipun caranya terkesan aneh pada awalnya, ini benar-benar seri yang keren, dan episode ini semakin membuktikannya.


About this entry