Sousei no Aquarion

Ada baiknya aku bicara soal Sousei no Aquarion. Anime yang juga dikenal sebagai Genesis of Aquarion ini merupakan seri anime mecha yang dibuat oleh studio Satelight dan pertama mengudara pada tahun 2005. Aspek yang membuat seri ini menonjol adalah keterlibatan Kawamori Shoji, pencetus seri Macross, sebagai penulis cerita sekaligus sutradara, serta bagaimana seri ini memberi ‘penghormatan’ terhadap anime-anime super robot jadul dari era 70an dan 80an (seperti Mazinger Z, Getter Robo, Combattler V, serta berbagai macam tiruan lainnya yang amat sangat menjamur pada dua dekade itu).

Teknik animasi yang canggih serta elemen-elemen modern(?) di dalamnya juga menjadikan seri ini memiliki nilai plus besar(?) pada masanya. Hingga masa kini, seri ini merupakan salah satu anime mecha yang secara estetik paling enak dilihat. Tapi, uh, lebih banyak soal itu dan elemen-elemen yang terkandung di dalamnya akan kuceritakan nanti.

Hari Ketika Dunia Bermula

Inti cerita Sousei no Aquarion sederhana. Dikisahkan pada masa lampau, umat manusia sebenarnya dikuasai oleh ras kuno bersayap yang dikenal sebagai Shadow Angels (‘Datenshi’). Mereka ceritanya adalah penguasa-penguasa bumi pada masa lampau gitu, yang berusia panjang dan mempunyai teknologi teramat canggih. Dan mereka  ‘memanen’ prana (semacam energi kehidupan) dari manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, untuk dijadikan sumber nutrisi bagi diri mereka sendiri dan untuk sesuatu yang mereka sebut sebagai Pohon Kehidupan (Tree of Life, Seimei no Ki).

Era kekuasaan mereka berakhir sesudah salah seorang dari mereka, yang dikenal sebagai Apollonius (si ‘sayap matahari’), jatuh cinta kepada seorang perempuan manusia yang bernama Celiane, menjadi kehilangan dua belah sayapnya sendiri, dan memulai pemberontakan besar-besaran untuk membebaskan kaum kekasihnya dengan menggunakan mechanical angel legendaris, Aquarion.

Sekitar 12.000 tahun sesudah perjuangan itu, diimplikasikan bahwa sebagai akibat pencemaran lingkungan (sebenernya, aku juga enggak yakin soal ini…), para Shadow Angels bangkit kembali dari tidur panjang mereka di bawah permukaan bumi dan memulai masa penaklukkan baru terhadap umat manusia. Kota-kota besar dihancurleburkan dan manusia-manusia yang tersebar secara massal ditangkap oleh mesin-mesin shuukajuu (harvesting beasts, makhluk panen), untuk dijadikan material pembangun Pohon Kehidupan sekaligus sumber makanan. Kekuatan tempur yang dimiliki manusia tak berdaya menghadapi tentara mecha Cherudim yang mampu melintasi dimensi dan menjadi penjaga mesin-mesin shuukajuu ini.

Sampai suatu ketika, sebuah lembaga rahasia bernama DEAVA (Division of Earth Vitalization Advancement) menelusuri jejak dari legenda tentang Shadow Angels dan berhasil mengekskavasi tiga mesin kuno yang dikenal sebagai Vector Machines. Harapan untuk menang melawan Shadow Angels serta-merta kembali saat diketahui ketiga mesin berbentuk pesawat tersebut sebenarnya merupakan bagian-bagian pembentuk Aquarion.

Namun ketiga Vector Machine tersebut ternyata hanya dapat digerakkan oleh orang-orang terpilih yang memiliki kekuatan istimewa, yang disebut Elements. DEAVA mulai mengumpulkan para Element dari seluruh dunia dan secara khusus mendidik mereka untuk dijadikan pilot-pilot Aquarion, sekaligus harapan terakhir umat manusia untuk bisa selamat dari para Shadow Angels.

Surat Cinta Dari 12.000 Tahun Lampau

Inti ceritanya memang sederhana. Tapi terus terang, eksekusinya agak aneh.

Awalnya, aku juga enggak menyadarinya. Karena presentasinya yang keren sama sekali enggak mencitrakannya demikian. Tapi sebenarnya, Sousei no Aquaion itu, gamblangnya, di samping aksi-aksi mecha, (*drum roll*)juga diisi elemen-elemen filosofi pembelajaran hidup yang dipadukan aspek-aspek yuri dan yaoi.

Enggak, aku enggak bercanda.

Waktu aku pertama menonton ini, aku masih teramat innocent sehingga enggak terlalu memahami innuendo yang sebenarnya terjadi. Tapi elemen-elemen itu ada, benar-benar memainkan semacam peranan dalam cerita, dan mungkin sebenarnya lebih dimaksudkan sebagai bahan lelucon.

Heh. Setelah kupikir lagi. Bahkan keseluruhan isi anime ini mungkin sebenarnya memang dimaksudkan sebagai bahan lelucon. Hanya saja animasinya yang benar-benar wah dan musiknya yang benar-benar keren (Yoko Kanno at her best, lho!), serta tingkah para karakternya yang amaaaat sungguh-sungguh, sangat membuat kita berpikir sebaliknya.  (Aku cuma bisa ngebayangin para pengisi suaranya di balik layar saling berpandangan dengan heran saat membaca naskah-naskah skenario yang mereka terima untuk pertama kalinya.)

Kisah Sousei no Aquarion bermula sebelas tahun sesudah ‘kehancuran besar’ yang ditandai dengan muncul kembalinya Atlandia, ibukota para Shadow Angels. Para Element diyakini sebagai keturunan umat manusia yang mewarisi gen Apollonius dan Celiane. Lalu hal tersebut bagi sebagian orang berujung pada teori bahwa ada sepasang Element yang merupakan reinkarnasi Appolonius dan Celiane, yang akan membawa pembebasan sekali lagi dari para Shadow Angels.

Di awal cerita, reinkarnasi Apollonius dan Celiane diyakini (tapi belum dipastikan) adalah pasangan pemuda aristokrat Sirius de Alisia serta adik perempuannya(!) Silvia de Alisia. Sirius adalah bishonen dingin berambut pirang panjang dengan harga diri tinggi yang sangat mengagumi segala sesuatu yang indah serta piawai dalam menggunakan pedang. Sedangkan Silvia, adalah gadis periang yang sesudah mengetahui tentang dugaan ini, segera mengidap brother complex yang nyaris menjadi incest terhadap kakak laki-lakinya ini.

Tapi saat Apollo, seorang remaja yatim piatu liar yang terlibat dalam upaya pertama DEAVA dalam menyatukan Aquarion di medan perang, masuk ke dalam cerita, situasi berubah teramat drastis. Ia semula dicari oleh agen-agen DEAVA karena diduga memiliki bakat sebagai seorang Element. Tapi ketika upaya penyatuan Aquarion untuk pertama kali itu gagal, ia secara tak terduga sampai mengambil alih kendali Vector Sol, lalu ‘memaksa’ dua Vector Machine lainnya (Vector Luna dan Vector Mars) untuk secara sukses membentuk Solar Aquarion untuk pertama kalinya dan membawa kemenangan pertama umat manusia atas prajurit Cherudim.

Rupanya pada saat itu, karena desakan situasi, kesadaran Apollo telah diambil alih oleh kesadaran Apollonius yang bersemayam dalam dirinya, dan menggerakkannya untuk mengambil alih Aquarion. Kenyataan bahwa Apollo-lah reinkarnasi sesungguhnya dari sang sayap mentari segera menuai dilema. Sebab Apollo adalah anak jalanan yang tak tahu sopan santun dan sulit sekali diajak bekerjasama dengan para Element yang lain. Motivasinya bergabung bersama DEAVA di awal cerita hanyalah karena tersedianya tempat untuk tidur dan makan, serta harapan ia kelak akan bisa membebaskan Baron, sahabat dekatnya, bersama anak-anak jalanan lain di kelompok mereka dari cengkraman Shadow Angels yang telah ‘memanen’ mereka. Ia juga disalahkan oleh sebagian orang atas kondisi Glen, pilot semula dari Vector Sol, yang menderita koma karena kegagalan dalam penggabungan Vector Machine.

Kemunculan Apollo segera menarik perhatian Toma, salah satu petinggi Shadow Angels (juga seorang bishonen) yang sekaligus merupakan orang terdekat dengan Apollonius di masa lalu. Ia merasa Celiane telah ‘merenggut’ Apollonius dari dirinya, dan karenanya, Toma secara khusus menciptakan situasi-situasi yang sulit bagi Apollo agar kepribadian dan kenangannya sebagai Apollonius secepatnya kembali ke permukaan. (Salah satu adegan paling terkenal sekaligus kocak di awal seri memperlihatkan bagaimana Toma berhasil memperangkap dan menyiksa Apollo bersama Solar Aquarion dalam suatu medan energi, kemudian menutup perkataannya dengan berkata, “… Apollonius, satu-satunya LELAKI yang pernah kucintai!” yang segera ditanggapi Apollo dengan teriakan ngeri, “HUUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”)

Tak hanya sekali pula, kesadaran Apollo justru bentrok dengan kesadaran Apollonius yang Apollo tuduh telah menyeret-nyeret dirinya ke dalam masalah. Tapi sedikit demi sedikit, masalah kepribadian Apollo dan teman-teman Element lainnya mulai teratasi berkat bimbingan Gen Fudou, pria misterius yang merupakan penemu asli Vector Machine, yang seakan kembali ke DEAVA setelah lama menghilang karena mendengar kemunculan kembali sang sayap matahari.

Seperti halnya Silvia yang mulai memperoleh potongan-potongan kenangan akan kehidupannya sebagai Celiane, Apollo perlahan memperoleh kenangannya akan kehidupan lampaunya sebagai Apollonius pula. Rasa sebal yang sebelumnya ada di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain, seiring dengan mulai terlibatnya pihak New United Nations (PBB Baru) ke dalam cerita, yang kemudian memuncak pada perang terbuka besar-besaran melawan pihak Atlandia.

A Sad Journey

Remaja-remaja yang dikumpulkan oleh DEAVA sebagai Element sebenarnya sangat banyak. Tapi mereka yang berperan dalam cerita dan berkesempatan menggunakan Aquarion hanyalah lingkar dalam kawan-kawan Apollo dan Silvia. Selain mereka berdua dan Sirius, terdapat juga Hong Lihua (Reika), seorang gadis mandiri yang pemuram karena kehadirannya semata seakan selalu membawa kesialan bagi orang lain; Pierre Vieira, mantan pesepakbola Amerika Latin yang memakai sifat easy going-nya untuk menutupi kesedihannya; Tsugumi Rosenmeier, gadis berkacamata yang pemalu; serta Jun Lee, remaja berkacamata yang ramah dan ahli komputer.

Masing-masing dari mereka memiliki suatu kekuatan istimewa tersendiri, yang akan turut termanifestasikan saat mereka mengendalikan Aquarion. Dan salah satu aspek bagus seri ini (meski masih dengan cara agak aneh) adalah bagaimana Gen Fudou melatih mereka agar memiliki keadaan mental yang memungkinkan manifestasi kekuatan ini di dalam pertempuran. Apollo dengan keyakinannya yang kuat mampu menghasilkan tinju memanjang (khas super robot) Infinity Punch, Silvia memiliki tenaga besar, Sirius memiliki ilmu pedang sekaligus kekuatan es, Pierre memiliki tendangan bola api Fire Kick, dan lainnya.

Soal mecha, desain dan animasi mecha ini menurutku salah satu yang paling keren di sepanjang masa. Terlepas dari aspek pertempurannya yang terkadang enggak jelas, animasi perubahan wujud dan penggabungan ketiga Vector Machine menjadi Solar Aquarion, Aquarion Luna, dan Aquarion Mars benar-benar keren, halus, sekaligus memukau. Idenya memang sama dengan ide penggabungan tiga pesawat pada Getter Robo, hanya saja untuk kasus Aquarion, masing-masing pilotnya dapat dipertukarkan, dan sekalipun wujudnya sama, kekuatan serta kemampuan yang Aquarion miliki akan berubah tergantung pada siapa yang memilotinya itu.

Berbicara soal masing-masing wujud, Solar Aquarion (warna dasar: merah) merupakan bentuk paling seimbang sekaligus bentuk asli sesungguhnya dari Aquarion. Hanya pada wujud ini, sayap matahari(?) di punggungnya dapat dimanifestasikan. Spesialisasinya adalah pertarungan melee dan menggunakan Vector Sol sebagai penyusun bagian kepala. Wujud ini nyaris selalu dikendalikan oleh Apollo.

Aquarion Luna (warna dasar: hijau) yang menggunakan Vector Luna sebagai bagian kepala, berbentuk ramping dan unggul dalam gerak refleks dan serangan jarak jauh. Wujud ini bersenjatakan semacam busur dan panah, meski dapat juga melakukan serangan-serangan melee. Aquarion pada wujud ni biasanya dikendalikan oleh Silvia dan Reika.

Aquarion Mars (warna dasar: biru) menggunakan Vector Mars sebagai pembentuk kepala dan konon merupakan wujud paling cepat dari Aquarion, dengan badan kekar dan kaki panjang. Sirius karena pedangnya sering menggunakan wujud ini, dan demikian juga Pierre dengan keterampilan sepakbolanya.

Tsugumi dan Jun sama-sama sempat mengemudikan Vector Machine, tapi dalam cerita mereka lebih banyak berpartisipasi melalui ruang kendali. Apabila detak jantungnya meninggi, Tsugumi dapat memicu distorsi ruang yang akan menghasilkan letusan secara spontan. Sedangkan Jun memiliki kemampuan untuk menganalisa dan membaca struktur dari benda-benda di hadapannya.

Ada juga beberapa tokoh pendukung lain, seperti ibu guru Sophia yang perhatian dan komandan Jerome yang kurang kompeten. Tapi peran mereka terbilang kecil dibandingkan tokoh-tokoh lain. Oh ya, ada seorang tokoh Element lain bernama Rena, seorang gadis cantik buta berkursi roda yang kerap melontarkan kalimat-kalimat yang tak jelas maknanya dan diimplikasikan adalah seorang vampir. Uh, dia juga merupakan tokoh favoritku di seri ini.

Omna Magni

Fanservice di seri ini sebenarnya tak banyak. Hanya saja seri ini punya banyak … kecendrungan aneh.  Di samping soal Apollo dan Toma yang sudah disebutkan di atas, ada juga ketertarikan kuat yang Tsugumi rasakan terhadap Reika. Lalu yang paling jelas terlihat, kenyataan merisihkan saat ketiga Vector Machine bergabung. Jadi, masing-masing Element yang memegang kemudi perlu mensinkronkan gelombang prana mereka dan menyatukannya agar Aquarion terbentik. Lalu pada saat prana mereka menyatu itu, ada sensasi luar biasa yang reaksinya agak-agak menyerupai …  uh, yah, kau tahu.

Bicara soal presentasi, musik yang digunakan dalam seri ini sangat, sangat bervariasi. Mulai dari jazz sampai nada-nada balada yang sendu. Tapi yang jelas, lagu pembukanya semata yang dinyanyikan oleh Akino sudah lebih dari cukup untuk mendorong orang sampai tertarik pada seri ini.

Serius. Lagu pembuka yang pertama dan arti lirik-liriknya memang sekeren itu.

Mechanya memang keren. Tapi gaya visual dan dunianya sendiri mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Latar dunianya di mataku kayak … latar dunia yang ditampilkan dalam lukisan-lukisan zaman Renaissance? Ajaib, Latin, bernuansa coklat dengan bentuk-bentuk latar yang mengingatkan dunia mimpi, kurang lebih kayak gitu. Desain karakternya juga tak terlalu menonjol. Tapi semua elemennya tetap bisa nyatu dengan baik. Sampai menjelang akhir seri, seenggaknya.

Seperti seri-seri super robot zaman dulu, ceritanya lumayan mengikuti format ‘monster mingguan.’ Meski hal itu agak berubah menjelang akhir-akhir seri. Ada fokus ke kejadian-kejadian yang dialami oleh para karakternya. Tapi pemaparan kejadian-kejadiannya agak enggak jelas terkait ceritanya secara garis besar. Mungkin bakal ada yang agak terganggu juga dengan koherensinya (beberapa episode kadang tak jelas benar-benar ada maknanya atau tidak). Apalagi bila menilai akhir ceritanya, di mana semacam kesepakatan tercapai antara kaum manusia dan Shadow Angels demi terselamatkannya dunia, serta terpisahnya Apollo dan Silvia sampai reinkarnasi mereka berikutnya 12.000 tahun lagi mendatang. Tapi terlepas dari itu, ini benar-benar sebuah seri yang lumayan menonjol pada masanya (apapun alasan sebenarnya yang membuatnya menonjol).

Yah, aku cuma merasa perlu sedikit mengulas lagi seri ini bersama kemunculan seri Aquarion Evol yang baru.

Oh ya. Di samping seri TV Sousei no Aquarion yang terdiri atas 26 episode, sempat keluar juga versi OVA yang mengangkat inti konflik yang sama, tapi memberikan pendekatan cerita berbeda. Di samping porsi hubungan antara karakter-karakter Apollo, Toma, Sirius, serta Silvia seperti yang ada di seri TV-nya; karakter Reika mendapat porsi perkembangan lebih banyak. Serta ada juga penambahan karakter legendaris Scorpius, yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Apollonius di masa lalu, yang identitas reinkarnasinya di masa kini banyak dipertanyakan.

Versi OVA ini memiliki nuansa yang agak berbeda dibandingkan seri TV-nya, dan lumayan untuk dilihat bila kau suka tema mitologinya secara umum, tapi ingin melihat penggaliannya secara lebih mendalam.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: C+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B-


About this entry