Mawaru-Penguindrum

Waktunya adalah menjelang musim panas, tahun 2011. Desas-desus beredar tentang kembalinya seseorang bernama Ikuhara Kunihiko, yang tangan dinginnya telah melahirkan sekaligus membentuk seri anime (aneh) legendaris Shoujo Kakumei Utena. Utena banyak dikenang sebagai sebuah seri yang belum ada duanya hingga saat ini. Mengangkat tema tentang ‘perubahan dunia’ yang secara kontroversial mempertanyakan kembali norma-norma umum yang berlaku saat ini, Utena berakhir sebagai salah satu anime paling artistik sekaligus abstrak pada masanya, dengan intepretasi akhir yang dibiarkan terbuka untuk setiap orang.

Waktu itu, dampak dari Star Driver: Kagayaki no Takuto yang dipenai oleh Enokido Youji, sang penulis skenario Utena, masih belum hilang. Hanya dalam waktu setengah tahun, sebuah seri anime baru lain yang juga mengingatkan akan Utena akan kembali hadir.

Anime tersebut adalah Mawaru-Penguindrum. Anime ini terdiri atas 24 episode dan diproduksi oleh studio animasi Brain’s Base.

Seizon Senryaku Shimashoka!

Mawaru-Penguindrum berkisah tentang tiga bersaudara keluarga Takakura: si sulung Kanba, si tengah Shoma, serta adik perempuan tersayang mereka, Himari. Ketiganya hidup tanpa orangtua mereka. Tetapi mereka rukun dan saling menyayangi satu sama lain. Kanba dan Shoma seumur (kembar, meski mereka tak mirip satu sama lain), dan sama-sama bersekolah di SMA yang sama dan di kelas yang sama. Sedangkan Himari, karena tubuhnya yang lemah telah lama membuatnya sakit-sakitan, sudah lama sekali tak bersekolah.

Pada suatu ketika, penyakit yang menggerogoti Himari akhirnya sampai memakan nyawanya. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, Himari pada akhirnya tetap meninggal dunia. Tetapi melalui intervensi sebuah ‘entitas’ ajaib yang hidup dalam topi berbentuk penguin yang merupakan oleh-oleh dari akuarium, Himari kemudian dihidupkan kembali. Entitas ini akan mengendalikan tubuh Himari setiap kali ia mengenakan topi. Tapi nyawa baru yang Himari miliki ini datang dengan syarat:  Kanba dan Shoma mesti mencarikan sesuatu yang disebut Penguin Drum untuk si entitas ini, sebuah benda yang hanya diketahui sebatas nama, yang bentuk dan gunanya saja tidak diketahui.

Tempat Tujuan Takdir

Aku tak bisa membeberkan kisahnya lebih dari itu. Bukan hanya karena akan spoiler, tapi juga karena apa-apa yang seterusnya terjadi hingga akhir benar-benar bisa diintepretasi dengan banyak cara oleh masing-masing orang.

Yang pasti, satu-satunya petunjuk yang entitas ajaib tersebut berikan mengenai Penguin Drum hanyalah bahwa Kanba dan Shoma bisa mulai mencarinya dengan menyelidiki Oginome Ringo, seorang siswi cantik di sekolah khusus putri yang sepertinya terobsesi dengan diari yang selalu dibawanya ke mana-mana. Kepada masing-masing dari ketiga bersaudara Takakura juga diberikan tiga ekor penguin(?) yang hanya dapat dilihat oleh mereka. Penguin-penguin yang juga menjadi maskot seri ini akan senantiasa menemani dan membantu mereka dalam melaksanakan tugas ini. (Himari tak memiliki ingatan apapun akan saat tubuhnya diambil alih, karenanya ia juga tak tahu apa-apa soal Penguin Drum dan penguin miliknya lebih banyak membantu dalam mengerjakan urusan-urusan rumah tangga saja.)

Sama halnya seperti Utena, cerita Mawaru-Penguindrum mengandung banyak simbolisme yang mungkin bermakna dan mungkin juga tidak. Seri ini dibuat oleh pencipta Utena! Jadi aku sudah mempersiapkan diri untuk tak menanggapi ceritanya dengan terlalu serius. Tapi tak kusangka, semenjak awal seri, cerita Mawaru-Penguindrum secara mengejutkan terus melemparkan perkembangan-perkembangan plot yang tak terduga. Pengamatan Kanba dan Shoma terhadap Ringo membawa penelusuran mereka terhadap tokoh-tokoh lain. Semakin banyak hal aneh yang kemudian terjadi. Sehingga pada pertengahan seri, saat jalan ceritanya (sesuai dugaanku) bertambah sureal dengan detil-detil cerita yang semakin sulit diikuti, aku sudah enggak peduli lagi dengan segala keanehannya karena sudah terlanjur ‘sayang’ dan ingin tahu terhadap nasib para tokohnya.

Misalnya, di episode pertama, ada adegan di mana ada dua orang anak lelaki secara kebetulan lewat di depan rumah keluarga Takakura, dan membicarakan sesuatu yang secara menakutkan mengimplikasi apa yang kemudian akan dialami oleh para tokoh utama. Adegan ini benar-benar keren dan menumbuhkan rasa penasaran. Dan rasa penasaran ini, meski mungkin takkan sepenuhnya terjawab, pada akhirnya terus bertambah dan bertambah gitu. Makanya, dari pencarian terhadap Penguin Drum, cerita secara mengesankan berkembang menjadi… semacam pengkajian terhadap makna kehidupan tokoh-tokohnya?

Entahlah. Pastinya, kekuatan utama seri ini terletak pada bagaimana nasib para tokohnya dipaparkan secara dramatis ala di panggung teater. Atau meminjam kata-kata Tokikago Yuri, dipaparkan dengan cara yang sangat fabulous max.

Jadi begini, bila kau merasa tak mengerti apa-apa yang sedang terjadi dalam anime ini, maka itu wajar. Karena toh, pada akhirnya, latar belakang setiap tokohnya akan dipertanyakan ulang. Banyak misteri terungkap, semakin banyak pertanyaan bermunculan. Sehingga pada paruh akhir seri, sebagaimana yang sudah harus kau kira, dunia yang dipaparkan sudah sama sekali berbeda dengan apa yang dipaparkan di awal. All is really not as it seems. Dan apa yang sebenarnya terjadi dalam seri ini, dan apa maknanya, (seperti halnya Utena juga) benar-benar tergantung pada intepretasi masing-masing orang.

Kenyataan bahwa tema ceritanya sama sekali tak sekontroversial Utena juga turut membantu. (paling hanya diselingi beberapa episode yang membuatmu ingin berteriak, “Oh my God~~!”)

Dear My Future

Berbicara soal hal teknis, presentasi seri ini keren.

Kita bisa melihat bahwa desain para tokohnya ‘cantik.’ Tapi bukan dengan cara yang membuat kita merasa muak. Dan lagipula, desain karakter cantik ini dikontraskan dengan latar belakang dunia yang bermotif jaringan kereta subway Tokyo, di mana para tokoh yang tak penting tak digambar wajahnya, melainkan hanya digambar sebagai latar belakang. Lalu meski sekilas terlihat biasa, detil visual seri ini sebenarnya banyak. Menurut pendapatku, salah satu hal terbaik dari seri ini adalah bagaimana ia menggambarkan nuansa perkotaan Tokyo sebagai semacam dunia lain yang… entahlah, enggak biasa. Banyak desain aneh dan bentuk yang kalau dipikir-pikir abstrak. Dan cara masing-masing frame dipresentasikan, sesuai dengan dialog atau narasi yang tengah berlangsung, benar-benar memikat mata dan bisa membuatmu terpana selama beberapa jenak.

Musiknya, man, musiknya agak susah dijelaskan. Tapi nuansanya benar-benar cocok dengan nuansa aneh seri ini. Dan lambat laun, musiknya lumayan jadi enak didengar setelah kau terbiasa. Yang pasti, ada dua nama yang perlu disebut, yakni Yakushimaru Etsuko yang membawakan dua lagu pembukanya yang bagai dongeng serta grup girl band fiktif Triple H yang sedikit banyak juga memiliki peranan dalam cerita.

Aspek presentasi seri ini membangun nuansanya yang menyerupai semacam dongeng sureal. Lalu kesurealan seri ini benar-benar nyata, karena dikisahkan ada hal-hal tertentu dalam dunia seri ini yang agak… takkan langsung dimengerti sekalipun dikatakan (semisal: broiler anak-anak). Nuansanya benar-benar sesuai dengan tema ceritanya yang berhubungan soal… yah, hal-hal filosofis yang mendasar tapi berat.

Semua elemennya benar-benar menyatu seiring dengan memuncaknya cerita, saat Takakura bersaudara mengingat kembali masa lalu mereka yang nyaris terlupakan dalam kedamaian serta berupaya mengubah takdir penuh kesedihan yang mereka jalani.

Ah, aku beneran ga bisa berkata banyak soal aspek itu, karena lebih baik kalian lihat saja sendiri.

Eh? Intepretasiku sendiri soal ceritanya? Hmm, mungkin di postingan lain. Soalnya beneran ribet. Soalnya menyangkut dosa keluarga Takakura, hubungan mereka dengan keluarga Oginome, hubungan mereka dengan gadis misterius yang nampak juga mengejar Penguin Drum bernama Natsume Masako, serta sosok supernatural misterius yang nampak berupaya mempermainkan nasib mereka. Oh, belum lagi jika membahas simbolismenya! (Aku pribadi merasa Triple H merupakan representasi dari tiga dewi takdir…)

Akhir kata, ini tontonan alternatif yang keren dan menghibur. Temanya memang agak berat, mengenai makna takdir, pengorbanan, kehilangan, serta cinta. Tapi asal kau tak terlalu serius mendalami ceritanya dan tak mengharapkan aksi terlalu banyak, kurasa kau bisa lumayan menyukainya. Oh ya. Ketiga penguin itu juga jadi daya tarik dengan tingkah mereka yang ada-ada saja.

Penilaian

Konsep; X; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry