Tabi and Fellow Travellers

Tabi and Fellow Travelers (berjudul asli Tabi to Michizure, kurang lebih berarti ‘Tabi dan Sesama Pengelana’) karya Tanakanoka belum lama ini diterbitkan oleh MnC. Aslinya diterbitkan oleh MAG Garden Corporation, komik satu ini menarik perhatianku di toko buku berkat gaya desain karakter serta nuansa penggambaran latar kota di sampulnya.

Aku punya … seorang teman dekat yang suka karakter-karakter pettanko. Jadi gara-gara bergaul dengannya aku enggak bisa enggak ikut-ikutan memperhatikan tokoh-tokoh yang digambar dengan gaya seperti ini. Memang awalnya aku tak begitu tertarik sih, tapi memperhatikan latar kota di sampulnya yang digambar secara apik, aku langsung merasa bahwa Tanakanoka-sensei ini punya sesuatu yang lebih dari sekedar tokoh-tokoh yang digambar secara imut doang.

Jadi, aku mencoba membeli komiknya, dan untuk beberapa minggu hanya kubaca beberapa halaman saja karena kesibukan pekerjaan dan lain sebagainya. Ditambah lagi, premis ceritanya di luar dugaan agak abstrak, jadi biar bisa menilai objektif, aku sengaja enggak mau membacanya selama keadaanku enggak mood.

Untungnya, pas akhirnya sempat kubaca belum lama ini, ceritanya di luar dugaan lumayan bagus. Jauh lebih bagus dari bayanganku. Aku sudah banyak baca komik-komik drama sejenis yang berusaha mengangkat tema abstrak seperti komik ini, tapi jarang ada yang berhasil menyajikan tema itu dengan cara seapik yang satu ini.

Singkat cerita, Tabi and Fellow Travellers adalah sebuah komik drama berbau fantasi yang lumayan mengangkat tema filosofis. Latarnya di musim panas, di sebuah kota yang terletak ‘di ujung peta jalur kereta’ yang karena suatu sebab misterius, terus mengulangi hari yang sama secara berulang-ulang. Yang sadar akan hal ini dan bisa mempertahankan ingatan tentangnya hanya dua orang: Yukita-kun, seorang remaja cowok berusia 18 tahun yang berharap bisa meninggalkan kota, serta Nishimura-san, seorang petugas polisi berusia 30 tahun yang bertugas di sekitar stasiun kereta kota. Keduanya diceritakan terjebak di seputaran stasiun dan rel kereta kota karena seluruh jalanan lain di sekeliling stasiun tak bisa mereka lalui.

‘Hari yang sama berulang’ dalam artian apa-apa yang terjadi pada satu hari akan kembali terjadi pada hari berikutnya, dengan hanya sedikit perbedaan dari satu hari dan hari lainnya. Untungnya, keadaan ini membuat stok makanan di toko dekat sana ‘penuh kembali’ pada keesokan harinya, sehingga Yukita-kun dan Nishimura-san tak pernah sampai terancam mati kelaparan.

Alasan mereka tak bisa melaluinya adalah karena bila mereka mencoba lalui, jalanan itu dapat ‘memakan’ mereka berdua. Tiba-tiba saja permukaan jalan yang mereka lalui dapat menganga lebar menjadi lubang tak berdasar begitu. Atau variasi lain di mana permukaan jalan itu mendadak berubah menjadi seperti pasir isap. Yukita-kun pernah mencoba menelusuri rel kereta untuk bisa keluar. Tapi begitu memasuki terowongan, ia mendapati dirinya malah akan keluar dari ujung terowongan yang satunya lagi dan malah kembali ke arah kota. Hal misterius lain adalah tak pernah adanya kereta yang singgah di stasiun itu lagi semenjak fenomena itu terjadi.

Tapi semua berubah pada saat suatu ketika, kereta yang dinanti akhirnya datang, membawa hanya satu orang penumpang: seorang gadis kecil berusia 15 tahun yang bernama Tabi

Berikan tangan kananmu untukku…

Yukita-kun secara antusias menyambut Tabi sebagai harapan baru untuk meloloskan diri dari situasi ini. Tapi Tabi pun sama bingungnya dengan apa yang terjadi seperti mereka. Pada dasarnya, Tabi suatu hari memutuskan membolos sekolah dan naik kereta ke arah yang salah untuk datang ke kota ini untuk menemui seseorang yang ia sebut Kou-chan. Lalu tak ada petunjuk yang mereka dapatkan dari kereta tersebut karena bukan hanya tak ada penumpang lain, masinis dan kondektur yang semestinya ada di kereta tersebut pun secara misterius menghilang.

Tabi ceritanya adalah seorang gadis yang mengalami kesulitan dalam pergaulan. Di awal cerita, ia diperlihatkan kesulitan ‘memanggil’ Yukita karena sama sekali tak memiliki bayangan apakah ia harus memanggilnya dengan imbuhan ‘-san’ atau ‘-kun’. Kebingungan yang membebani Tabi tentang persahabatan dan bahasan-bahasan lainnya seputar hubungan antar orang menjadi suguhan utama manga ini, seiring dengan dipaparkannya upaya tiga orang di atas dalam menyelidiki tentang apa sebenarnya yang tengah terjadi.

Tema yang Tanakanoka-sensei angkat semula memang agak sulit dicerna sih, dan mungkin sebenarnya lumayan berat. Tapi dengan artwork yang rapi dan enak dilihat, begitu kau ngeh dengan karakteristik tokoh-tokohnya, narasinya pun mengalir dan jadi lumayan gampang diikuti. Nuansanya pun dibikin agar tak sampai menjadi terlalu serius dan gelap.

Seiring perkembangan cerita, Tabi secara kebetulan bertemu seorang anak SD bernama Kurone saat ia terdampar di salah satu ‘jalan yang memakan.’ Darinya, Tabi kemudian tahu tentang Tegata, suatu cap lambang di tangan kanan yang akan memungkinkan pemiliknya melewati jalan-jalan kota tertentu. Para pemilik Tegata disebut Sekimori, dan sebuah Tegata konon memiliki kekuatan untuk mengabulkan permohonan apapun dari sang pemiliknya.

Tanpa disadarinya, Tabi pun telah menjadi salah satu Sekimori (Tegata yang dimilikinya diberikan oleh kondektur kereta?). Tapi Tegata yang dimilikinya masih belum memungkinkannya melewati jalanan manapun di sekitar stasiun.

Pengetahuan baru akan Tegata ini menumbuhkan harapan Yukita dan Nishimori. Terlebih saat mereka juga mengetahui bahwa apa-apa yang Tabi lakukan, takkan sampai ter-reset saat esok hari. Di sisi lain, mereka juga sadar bahwa ini berarti makanan yang Tabi makan takkan ‘kembali’ ke toko keesokan harinya, dan ini berarti mereka jadi memiliki batas waktu untuk menuntaskan misteri ini karena bahan makanan yang bisa mereka punyai jadi terbatas.

Mungkinkah fenomena ‘hari berulang’ dan ‘jalan memakan’ ini diakhiri? Apakah Yukita akan berhasil mewujudkan cita-citanya untuk meninggalkan kota dan pergi ke Tokyo? Apakah Tabi akan berhasil menemukan Kou-chan yang tersayang? Lalu, siapa pula Tuan Bintang yang disebut-sebut merupakan orang yang membagikan Tegata pada para Sekimori? Apakah fenomena ini memang diakibatkan oleh permohonan seseorang yang ingin hari itu terus ‘berulang’?

Menara Babel

Persahabatan. Inti cerita Tabi and Fellow Travelers hanyalah tentang itu. Ada banyak metafora soal ini yang dicerminkan dalam cerita.

Premisnya yang ajaib memang agak sukar dipahami. Tapi Christina Hiumanbrata yang jadi alih bahasa dkk menurutku lumayan berhasil membuat ceritanya bisa diikuti kok. Ada pemakaian bahasa Inggris dalam penamaan bab yang mungkin bisa membuat enggak nyaman mereka yang belum mahir, dan sedikit pengetahuan tentang tata krama budaya Jepang akan diperlukan untuk menikmati komik ini. Tapi selebihnya benar-benar oke kok.

Ah, jilid keduanya ternyata sudah beredar di toko buku. Baiknya aku cepat-cepat beli.


About this entry