Kizumonogatari – IND (001)

Tiba-tiba aku terpikir membuat ini pada saat membaca komik Q&A karya Adachi Mitsuru (yang diterjemahin dengan sangat baik oleh Dudi Yudia Permana dkk dari Elex). Aku membuat ini benar-benar secara iseng, dan di luar dugaan ada kepuasan tersendiri saat aku melakukannya.

Singkat kata, biar sekalian jadi disclaimer, ini jelas-jelas BUKAN ceritaku. Ini adalah terjemahan bahasa Indonesia dari terjemahan bahasa Inggris dari ranobe Kizumonogatari karya Nisio Isin yang dipajang di situs Baka-Tsuki. Dibuat bukan untuk dibajak atau mencari keuntungan dan segala macam. Semata-mata hanya untuk latihan menulis dan kepuasan diri belaka. Jadi misalnya novelnya diterbitkan secara legal di sini, postingan ini (dan mungkin postingan terjemahan lain yang mungkin menyusul) akan kuhapus.

Eniwei, ini bab paling pertama dari terjemahan bahasa Indonesia dari terjemahan bahasa Inggrisku atas Kizumonogatari, buku ketiga dari seri Monogatari Nisio-sensei yang sebelumnya didahului oleh dua buku Bakemonogatari. Agak nakal dan menyulitkan di beberapa bagian, tapi aku benar-benar suka ceritanya.

Soal terjemahannya sendiri, ada beberapa kalimat dan ungkapan yang maknanya tersamar, jadi terjemahan secara harfiah kuhindari karena benar-benar akan membuatnya kurang nikmat dibaca. Aku coba menulis ulang dengan intepretasiku sendiri. Banyak kalimat tak lengkap, dan karenanya nuansa penekanannya bisa salah. Karena itu dengan seenaknya kugunakan huruf miring di beberapa bagian.

Semoga bisa dinikmati.

————————————–

Kizumonogatari

Nisio Isin

‘Koyomi Vamp’

001

Kurasa sudah waktunya aku bercerita tentang Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade. Aku merasa itu sudah menjadi hal yang selayaknya kulakukan. Aku pertama bertemu dengannya pada liburan musim semi antara tahun kedua dan tahun ketigaku di SMA. Pertemuan tersebut berdampak besar, dan sekaligus mengacaukan. Bagaimanapun, aku sampai berpikir bahwa nasibku pasti buruk sekali—tentu saja, mungkin aku takkan sampai berpikir begini seandainya bukan aku yang di sana, tetapi malah orang lain yang berada dalam situasiku. Lalu, aku juga merasa agak tak bertanggung jawab bila mengatakan bahwa hanya nasib buruk semata yang menyeretku ke dalam semua ini, dan mungkin saja aku mesti menerima bahwa semua yang terjadi itu memang adalah salahku. Pada akhirnya, aku percaya bahwa keberadaanku di sana waktu itulah yang kemudian memulai seluruh rangkaian kejadian itu.

Rangkaian kejadian itu.

Terlepas dari segala hubungannya dengan kecerobohanku, mengungkapannya seperti itu—sekedar untuk menyebutnya sebagai suatu ‘rangkaian kejadian,’ aku sejujurnya tak tahu seberapa besar persisnya rangkaian kejadian ini sesungguhnya. Kejadian apa yang memulai segalanya, dan kejadian apa yang kemudian mengikutinya, serta bagaimana semua itu kemudian berakhir—aku tetap tak punya bayangan pasti tentangnya. Dan hal itu mungkin saja dikarenakan hingga saat ini pun seluruh rangkaian kejadian yang kumaksud masih belum juga berakhir, atau sebaliknya, bahkan masih belum dimulai—itulah pikiranku yang sejujurnya, sama sekali tanpa maksud untuk berpura-pura atau bermain kata.

Pada akhirnya, aku tak bisa memastikan bagaimana semua ini terjadi dari sudut pandang selain sudut pandangku sendiri, dan aku akhirnya malah jadi membuat orang-orang lain bertanya-tanya, tentang makna apa sesungguhnya rangkaian kejadian ini miliki—sekaligus juga makna apa sesungguhnya yang rangkaian kejadian ini tidak miliki. Seandainya aku bisa bertanya pada orang lain tentang apa yang terjadi menurut versi mereka, mungkin aku bisa memahami bahwa cerita ini memang jenis cerita yang memberi kesan seperti itu—tapi persis karena itu pula, aku jadi takkan bisa membedakan apakah cerita mereka adalah apa yang sesungguhnya terjadi atau bukan.

Bukan kebenaran yang akan aku temukan, melainkan hanya kenyataan yang mereka ketahui.

Dan mungkin saja itu sebenarnya sudah mencukupi.

Yang pasti, untuk memulainya (dan hanya ini pula yang dengan pasti bisa kusimpulkan), perempuan itu adalah jenis sosok yang menjadi pusat dari segala-galanya—Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Memiliki makna yang berbeda hanya bagi si pengamat.

Memiliki perbedaan makna dari si pengamat.

Dan makna tersebut tak memiliki hubungan apapun dengan si pengamat.

Dan itu adalah—kenyataan bahwa dirinya seorang vampir.

Sesudah berbicara begitu, mungkin tak ada artinya menjelaskan vampir adalah makhluk macam apa. Yang namanya vampir bisa ditemukan dalam buku-buku komik, film-film bioskop, game; sebuah konsep yang secara usang telah terpakai berulang-ulang kali. Konsep vampir ini mungkin sudah dipandang sebagai sesuatu yang sangat akrab dengan sebagian besar orang Jepang—mengingat konsep itu tidak terlalu berhubungan dengan budaya yang berasal dari negara ini. Aku rasa itu adalah sebuah konsep tua yang telah dari waktu ke waktu diperbincangkan belum lama ini.

Tapi, pada musim semi itu.

Aku diserang seorang vampir, konsep yang telah diperbincangkan dari waktu ke waktu itu.

Kau bisa bilang kejadiannya konyol.

Aku sendiri berpikir bahwa kejadiannya memang konyol.

Dan karena kekonyolan yang diakibatkan tiada lain oleh diriku sendiri itu—aku mengalami neraka yang berlangsung selama dua minggu.

Pada musim semi itu, dari awal hingga akhir—yang kualami tiada lain hanyalah neraka.

Kejadian apa yang memulainya, kejadian apa yang mengikutinya, dan bagaimana kejadian itu berakhir—walau mungkin aku agak memaksakan diri bila mengatakan ini, bagiku kejadian tersebut untuk selamanya akan menjadi sebuah tanda tanya besar; sebuah paradoks yang takkan pernah berakhir. Meski demikian, yang aku tahu pasti, adalah kapan semua nerakan ini berawal dan kapan semua neraka ini berakhir.

Tanggal 26 Maret sampai tanggal 7 April.

Itu adalah—masa libur musim semiku.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade—sesudahnya, aku memahami istilah-istilah apa yang digunakan untuk menyebut keanehan yang berhubungan dengan eksistensi seperti dirinya.

Abnormal.

Monster.

Terbuang.

Dengan demikian, pada waktu itu, di tempat itu, mengamatinya dengan cara itu—aku berpikir itulah alasan utama yang menyebabkanku terseret ke dalam neraka ini.

Apa yang kulihat waktu itu tak sepenuhnya terpahami olehku sebagai pengamat.

Dengan begitu, mungkin pada akhirnya itu berarti aku-nya saja yang memang tolol.

Mengingat dirinya, mungkin sudah tak terelakkan bila ketololanku sepenuhnya terungkap—dan walau pada dasarnya ini akan terlihat seperti menyiksa diri, kurasa aku benar-benar harus berbicara tentang vampir itu.

Kisah tentang bagaimana aku sampai dilukai olehnya.

Kisah tentang bagaimana aku sampai melukai dirinya.

Kurasa aku memang harus berbicara tentang ini.

Aku percaya bahwa itu merupakan sesuatu yang sudah seharusnya aku lakukan.

Tanggung jawabku.

…Lalu walau pendahuluan ini agak bertele, ada beberapa bagian cerita di mana kuharap kalian bisa bersabar—sebab sekalipun aku menyatakannya sebagai tanggung jawabku, pada awalnya semuanya hanyal sikap main-main konyoku belaka. Aku tak tahu awal salahnya di mana, dan merasa kecil hati tentangnya, jujur saja, aku tak percaya diri bisa mengutarakan cerita ini sampai tuntas. Itulah alasan mengapa aku menguraikannya berputar-putar begini, dan bukannya langsung menyampaikan inti pendahuluan ini secara jelas.

Dan walaupun kita sudah mendekati akhir bab pendahuluan ini, sekalipun cerita ini sebenarnya baru saja mau dimulai, kenyataannya adalah segala sesuatunya sudah terlanjur bergulir dan terlampau sulit untuk dihentikan lagi, tapi buat berjaga-jaga saja, seandainya aku ternyata memang tak cukup siap, mungkin lebih baik kukatakan saja bagaimana cerita ini akan berakhir sekarang juga.

Cerita ini berakhir dengan buruk, dengan aku menjadi harus berhubungan dengan seorang vampir.

Sebuah akhir cerita yang di dalamnya semua pihak yang terlibat pada akhirnya mendapatkan nasib buruk.

Persis karena itu, meski neraka yang kuceritakan ini telah berakhir, rangkaian kejadian yang mengiringinya mungkin belum, dan toh sejak awal, tanggung jawabku untuk mengurusi wanita itu mungkin memang takkan pernah berakhir seumur hidup.


About this entry