Megami Ibunroku: Persona

Aaargh. Aku menyerah.

Kurasa sudah waktunya aku mulai menulis tentang game-game Persona keluaran Atlus.

Kurasa kebanyakan orang sudah tahu, tapi seri Persona merupakan spin-off dari seri RPG Atlus yang utama, Shin Megami Tensei, yang lazimnya mengetengahkan soal kiamat, elemen cyberpunk, munculnya demon dan ikon-ikon dari berbagai agama dan mitologi ke muka bumi, serta pilihan-pilihan moral.

Persona dibuat dengan sedikit terinspirasi oleh game Super Famicom lain berjudul Shin Megami Tensei IF, semacam gaiden bagi cerita seri Shin Megami Tensei, yang memberi penekanan sedikit lebih banyak pada interaksi antara  tokoh-tokohnya dengan setting lingkungan sekolah (lebih banyak tentang ini akan kujelaskan nanti).

Game aslinya sendiri berjudul lengkap Megami Ibunroku: Persona (‘megami ibunroku‘ kurang lebih berarti ‘kisah lain tentang sang dewi’, yang menyatakan statusnya sebagai ‘percabangan’ dari Shin Megami Tensei, yang terjemahannya sendiri kurang lebih berarti ‘kelahiran kembali sang dewi’) dan dirilis pada tahun 1996 di konsol Sony Playstation.

Game ini kemudian dirilis dalam bahasa Inggris dengan judul Revelations: Persona, dengan banyak sekali elemen yang sayangnya terpotong dan di-Amerika-nisasi (globalisasi masih belum terjadi dan budaya visual Jepang secara umum belum sepopuler sekarang). Tetapi belakangan, game ini juga dirilis kembali untuk Sony PSP baik di Jepang maupun Barat dengan bentuk yang lebih dekat ke versi aslinya, ditambah dengan beberapa bonus dan polesan. Kali ini dengan judul sederhana Shin Megami Tensei: Persona.

Apakah kupu-kupu menjadi Zhuang Zi ataukah Zhuang Zi menjadi kupu-kupu?

Sebenernya, Persona bisa dibilang merupakan sebuah game yang filosofis. Meski mungkin penceritaannya belum sebaik game-game zaman sekarang, ceritanya termasuk salah satu yang mengandung makna dan nilai moral yang cocok untuk setiap zaman. (Meski itu juga akan bergantung pada seberapa TAHAN kalian memainkannya sih. Lebih banyak soal itu juga akan kubahas di bawah.)

Sayangnya, buat ukuran sekarang, game ini memang udah terbilang retro. Game ini tak memiliki nuansa cyberpunk seperti Shin Megami Tensei, karena itu latar dunianya menjadi terasa sangat 90an (zaman ketika telepon umum kartu masih banyak digunakan). Di samping itu, mengingat ini salah satu game pertama yang mencoba mengimplementasi grafis tiga dimensi, tampilan artistiknya juga masih belum dapat dikatakan bagus. Tapi, gimana ya? Terlepas dari segala kekurangannya yang mencolok, tetap ada sesuatu pada game ini yang meninggalkan kesan sangat mendalam kalau kau sanggup menikmatinya.

Ceritanya, kita sebagai tokoh utama (laki-laki), bersama teman-teman sekolah kita dari SMA St. Hermelin di kota Mikage, pada suatu ketika sepulang sekolah secara iseng memainkan sebuah ritual ramalan bernama ‘Persona-sama.’ Ritual ramalan ini konon dapat mengungkapkan masa depan pelakunya, dan bahasan tentang ‘impian dan masa depan’ ini secara berulang boleh dibilang akan menjadi tema khas seri ini.

Ritual yang semula dilakukan secara iseng itu ternyata menjadi titik balik takdir mereka. Suatu fenomena supernatural ternyata benar-benar terjadi, yang kemudian berakhir dengan apa yang mereka sangka merupakan semacam ‘gempa.’

Si tokoh utama dan teman-temannya secara terpisah kemudian mendapati diri mereka berada di sebuah dunia lain, ‘di batas antara kesadaran dan ketidaksadaran,’ dan bertemu dengan sesosok bertopeng misteris yang menyebut dirinya Philemon.

Philemon sesungguhnya merupakan sosok yang menjadi personfikasi alam bawah sadar setiap orang (tokoh ini dicomot langsung dari tulisan-tulisan Carl Jung). Kemudian sebagai penghargaan atas kesanggupan mereka mengenali diri masing-masing di alam lain ini, Philemon menghadiahi masing-masing dari mereka kekuatan untuk memanggil ‘Persona,’ ‘sisi lain’ diri mereka yang terselubung di dasar hati, yang dapat menjadi seagung dewata atau sekeji iblis, tapi pastinya memiliki kekuatan melebihi bayangan mereka. Philemon kemudian menutup perjumpaan tersebut dengan memperingatkan bahwa dunia terancam bahaya, dan kekuatan baru mereka tak lama lagi akan dibutuhkan untuk menyelamatkannya.

Tersadar dari ‘pingsan bersama’ mereka, dan sama-sama kebingungan karena kesemuanya mengalami ‘mimpi’ yang sama, sang tokoh utama (aku baru ingat, dia tak memiliki nama default jadi kita bisa memilihkan nama untuknya; di manganya ia dinamai Toudou Naoya, di drama CD ia dinamai Narumi Yuuya, dan di novel ia dinamai Suzakuin Jihei; yang pasti dia orangnya keren kok) dan teman-temannya kemudian disuruh oleh Takami Saeko-sensei, wali kelas mereka, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan sekalian menjenguk teman mereka yang sudah lama dirawat inap: Sonomura Maki.

Teman-teman si tokoh utama yang ikut bersamanya waktu itu meliputi: Inaba ‘Maku’ Masao, teman sekelas yang ceria dan berbakat seni serta diam-diam menaruh perasaan terhadap Maki;  Nanjou Kei, pewaris perusahaan konglomerasi besar yang perfeksionis tetapi merasakan kesendirian; serta Mayuzumi Yukino, remaja perempuan ramah yang sebenarnya pernah menjadi berandalan.

Maki ini dikisahkan adalah gadis bertubuh lemah yang telah sakit-sakitan semenjak kecil. Meski beberapa kali sempat membaik, keadaannya sebenarnya tak mengalami banyak peningkatan, dan selama setahun terakhir dirinya harus dirawat di rumah sakit. Ditambah lagi, meski sekilas ia tampak ceria, teman-temannya menyadari betapa ia sebenarnya menderita dan kesepian karena terisolirnya ia dari dunia luar.

Di tengah perbincangan, keadaan Maki tiba-tiba saja memburuk, dan ia sampai harus dibawa ke UGD. Lalu saat itu pula, sebuah ‘gempa’ kembali tiba-tiba terjadi. Begitu gempa usai, sang tokoh utama dan teman-temannya dikejutkan oleh kenyataan bahwa susunan ruangan di rumah sakit telah berubah. Ruangan UGD di mana Maki berada tiba-tiba saja lenyap. Lalu seisi rumah sakit dilanda kepanikan akibat  monster dan mayat hidup.

“Aku adalah diri lain yang bersemayam dalam dirimu. Aku adalah kau, dan kau adalah aku…”

Dalam situasi genting itu, si tokoh utama dan teman-temannya berhasil menyelamatkan diri berkat kebangkitan kekuatan yang sebelumnya telah Philemon berikan: Persona, yang merupakan manifestasi  ‘diri lain’ mereka masing-masing. Yukino mendapatkan Vesta, Masao mendapatkan Ogun, Kei mendapatkan Aizen Myouou, sedangkan si tokoh utama mendapatkan Seimen Kongou.

Tetapi dalam insiden di rumah sakit itu, terlanjur banyak korban jiwa yang jatuh. Salah satunya adalah Yamaoka, pelayan terpercaya keluarga Nanjou yang telah mengasuh Kei semenjak kecil, yang kebetulan saja tengah berada di sana untuk menjemputnya. Sesudah mengatasi rasa sedih dan terkejut mereka, si tokoh utama dan kawan-kawannya menelusuri jalan keluar mereka dari rumah sakit. Mereka berhasil menemukan para dokter dan perawat yang menangani Maki, tetapi Maki sendiri didapati hilang tanpa jejak.

Sesudah bimbang sejenak, keempatnya memutuskan untuk kembali ke sekolah, meskipun itu juga berarti harus menjelajahi kota yang kini dipenuhi monster dan iblis (demon, atau majin, pada dasarnya secara harfiah berarti ‘makhluk-makhluk sihir/ajaib’). Dari sana, mereka kemudian mendapati bahwa di luar bayangan siapapun, sekeliling kota Mikage telah dilapisi semacam tembok tak terlihat yang secara harfiah telah memisahkan mereka dari dunia luar.

Pada titik ini pula, cerita akan bercabang sesuai dengan urutan tempat yang kita kunjungi dan keputusan-keputusan yang kita pilih. Melalui berbagai desas-desus yang beredar serta pertemuan mereka dengan ibu Maki, tokoh utama dan teman-temannya mengetahui bahwa semua pada akhirnya terkait dengan perusahaan energi, listrik, dan bioteknologi besar milik grup konglomerat Saeki, SEBEC, yang dipimpin oleh Kandori Takehisa yang ambisius.

Be Your True Mind

Sistem permainan di Persona termasuk salah satu yang maju untuk zamannya, karena mengetengahkan lebih dari sekedar sistem yang turn-based. (Walau masih belum matang. Jadi game ini tetap takkan kurekomendasikan, kecuali jika kau hardcore.) Antarmukanya masih sama seperti game-game Shin Megami Tensei klasik, jadi sebagian besar navigasinya benar-benar masih dilakukan dari sudut pandang orang pertama. Pengecualian dari hal ini hanya pada penjelajahan ruangan-ruangan tertentu di mana kita bisa berbicara dengan anggota-anggota kelompok kita serta pas battle.

Sama seperti Shin Megami Tensei pula, setiap karakter yang kita mainkan memiliki dua jenis senjata, yakni satu jenis senjata fisik (pedang, tombak, panah, dan sebagainya) dan satu jenis senjata api. Kesamaan lainnya adalah bagaimana proses ‘negosiasi’ dengan musuh juga memegang peranan penting dalam game ini, yang melaluinya menjadi satu-satunya cara kita untuk memperoleh Spell Card yang menjadi materi utama kita untuk menghasilkan Persona-Persona baru.

Persona yang kita miliki (seharusnya, setidaknya) memegang peranan penting dalam permainan, karena hanya melaluinya, kita bisa menggunakan sihir yang diperlukan untuk melawan para demon. Buat yang belum tahu, game-game Shin Megami Tensei cukup dikenal dengan kerumitan sistem elemen yang dipergunakannya—jadi selain kelemahan, terdapat musuh-musuh yang sepenuhnya kebal (atau bahkan dapat mementalkan kerusakan) yang ditimbulkan jenis-jenis elemen tertentu. Apalagi jika mengingat bagaimana untuk game Persona paling pertama ini terdapat tak kurang dari 16(!) jenis serangan yang dapat dilakukan dalam battle (yang termasuk kategori jenis serangan fisik saja ada enam!).

Perbedaan terbesar dari segi sistem yang Persona miliki dibandingkan game-game utama Shin Megami Tensei lain adalah bagaimana Persona yang kita pasangkan pada satu karakter secara nyata akan memodifikasi statistik dan atribut karakter tersebut. Jadi bukan hanya akan meningkatkan atau mengurangi(?) kekuatan serangan atau pertahanan yang seorang karakter punya, Persona yang seorang karakter gunakan juga akan menentukan terhadap jenis-jenis serangan apa ia akan kuat dan terhadap jenis-jenis serangan apa ia akan lemah! Ini… lumayan berbeda dibandingkan game-game Shin Megami Tensei klasik yang mengandalkan pemanggilan demon yang telah kita tundukkan untuk aplikasi sihir. Ditambah lagi, set sihir dan serangan yang dapat seorang karakter gunakan sepenuhnya ditentukan oleh Persona apa yang tengah ia pakai.

Masing-masing karakter dalam satu waktu dapat memegang sampai tiga Persona. Kalian yang mengenal seri ini dari Persona 3 dan game-game sesudahnya mungkin akan kaget saat mendapati bahwa semua karakter yang kita mainkan dapat mempergunakan lebih dari satu Persona.

Sistem bertambah rumit oleh kenyataan bahwa Persona juga dapat level up semakin sering kita gunakan, dan bergantung pada golongan arcana-nya (setiap Persona digolongkan sesuai arcana Tarot major), ada beberapa jenis Persona yang hanya dapat dipergunakan oleh karakter-karakter tertentu.

Jadi pada dasarnya, prosesnya (seharusnya) seperti ini: kita didorong untuk mempergunakan Persona yang kita miliki sesering mungkin dalam battle, sehingga Persona tersebut akan bertambah kuat dan menguasi jurus-jurus dan serangan baru yang dapat dimilikinya. Lalu selanjutnya, Persona yang sudah mentok pertumbuhannya ini kita ‘bebastugaskan’ di toko misterius Velvet Room, yang akan menukarnya untuk item-item yang terkadang langka (kita bisa saja menyerahkan Persona kita yang belum mentok, tapi kita takkan memperoleh apa-apa sebagai imbalan). Menggantikan Persona tersebut, masih di Velvet Room (yang, omong-omong, ditangani seorang pria tua misterius berhidung panjang bernama Igor), kita bisa menciptakan Persona baru dari kombinasi Spell Card yang kita dapatkan dari para demon (prosesnya serupa seperti demon fusion di Shin Megami Tensei), yang meskipun pada titik itu mungkin lebih lemah dari Persona yang sebelumnya kita punya, memiliki potensi untuk berkembang menjadi jauh lebih kuat.

Begitu terus-menerus, dan kita didorong bereksperimentasi untuk melihat Persona yang bisa kita dapatkan dari kombinasi-kombinasi Spell Card yang kita punya. Ada skala perkiraannya, jadi sistemnya tak sesulit itu. Hanya saja kita sering akan dilanda keraguan soal apakah Persona baru yang kita ciptakan akan sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak. Apalagi bila mengingat masing-masing dari kelima karakter hanya dapat membawa tiga macam Persona, dan tak ada dua karakter yang bisa sama-sama memegang satu Persona yang sama!

Tapi sayangnya, sistem permainan dengan learning curve lumayan tinggi ini sebenarnya bukan hal yang mutlak dikuasai untuk menyelesaikan permainan.

Di Shin Megami Tensei, para tokoh utama dibedakan dari para bawahan demon dengan kemampuan mereka menggunakan dua jenis serangan (fisik dan senjata api), kenetralan pertahanan elemen, serta sihir dalam jenis terbatas bagi tokoh-tokoh manusia tertentu. Tapi di Persona, kelima tokoh yang kita punya dapat melakukan serangan fisik, serangan senjata api, serta sihir sekaligus, ditambah adanya pertahanan elemen—sehingga tentu saja para tokoh kita pada kebanyakan kasus memiliki keunggulan teramat besar dibandingkan para demon!

Jujur saja, tantangan terbesar Persona dari segi battle lebih terdapat pada proses negosiasi untuk memperoleh Spell Card, serta tingginya kemungkinan random encounter dapat terjadi. Mengikuti kekhasan Shin Megami Tensei, proses negosiasi ini turut dipengaruhi oleh fase-fase bulan, dan negosiasi ini dilakukan mengikuti keahlian bicara masing-masing tokoh, jadi prosesnya benar-benar semakin terkesan untung-untungan. Ditambah kenyataan bahwa keragaman jenis serangan ini benar-benar sulit untuk dimanfaatkan, dengan banyaknya peluang kombinasi yang dapat terjadi antara kelemahan musuh dan jenis sihir yang kita bawa. Ujung-ujungnya, pada kebanyakan kasus, kita kembali cukup hanya mengandalkan berondongan peluru dari pistol dan senapan mesin untuk bisa bertahan hidup.

Meski sistem permainannya, kayak yang aku sebelumnya bilang, masih cacat, game ini masih memberi keasyikan dengan denah-denah dungeon yang sadis serta plot cerita yang… benar-benar enggak biasa.

Sesudah kita sampai kembali ke St. Hermelin, Yukino akan meninggalkan tim dengan alasan ingin memastikan ada orang-orang yang dapat diandalkan untuk melindungi siswa-siswa yang mencari perlindungan di sekolah. Tiga cowok tersisa, termasuk sang tokoh utama, kemudian akan turut diiringi oleh sosok Sonomura Maki yang secara mengejutkan tiba-tiba saja muncul kembali di sekolah. Ia bahkan secara misterius memiliki tubuh sehat dan sifat riang yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, serta ketiadaan ingatan dari masa-masa ketika ia sakit.

Yea, sebagaimana yang mungkin kalian duga, Maki-chan sebenarnya merupakan tokoh yang memegang peran sentral dalam cerita, karena  keterkaitannya dengan D-VA System yang tengah dikembangkan SEBEC tanpa sepengetahuannya sendiri.

Anggota tim kita yang kelima bersifat opsional, satu di antara teman-teman sekolah kita yang turut memainkan ritual Persona-sama pada hari itu. Pilihan-pilihan yang dapat kita ambil sebagai berikut:

  • Uesugi ‘Broun’ Hidehiko, si pencari perhatian berisik yang menjadi biang kerok dilakukannya ritual Persona-sama. Dia bisa direkrut sesudah kita membebaskannya bersama Masao dari kantor polisi. (Persona awal: Nemain)
  • Kirishima ‘Elly’ Eriko, gadis cantik cerdas dari kalangan atas yang belum lama ini baru kembali dari studi di luar negeri. Dia bisa direkrut bila kita menjumpainya di pintu masuk subway Mikage. (Persona awal: Nike)
  • Yuka Ayase, seorang kogal yang memiliki pembawaan agak egois dan kekanakan. Kita secara otomatis akan mendapatkannya bila tak mendapatkan tokoh lain dalam perjalanan ke pabrik yang menjadi pintu masuk rahasia ke SEBEC. (Persona awal: Huris)
  • Kido Reiji, murid pindahan sangar dan penyendiri yang memiliki minat mendalam terhadap SEBEC. Ia semacam tokoh rahasia yang sulit direkrut dengan syarat perekrutan yang panjang dan rumit, tapi ia merupakan karakter yang benar-benar kuat seandainya kita berhasil mendapatkannya. Apabila seluruh syarat perekrutannya terpenuhi, Ayase takkan memaksa bergabung di pabrik dan kita akan bisa membujuk Reiji bergabung sekembalinya kita ke St. Hermelin(?) dari SEBEC. Belakangan terungkap bahwa ia sebenarnya adalah saudara Kandori Takehisa dari ibu yang berbeda, dan bersama Kandori, kekuatan Persona miliknya ia peroleh. (Persona awal: Bres)

Cermin, Cermin

Meski pada awalnya mungkin agak susah dinikmati (asal tahu saja,  aku menghabiskan waktu dua jam hanya untuk menemukan jalan ke rumah sakit di awal game…), apabila  kau bisa menikmatinya, maka Persona bisa menjadi lumayan berkesan kok. Konsepnya benar-benar orisinil, dan apa yang para pembuatnya inginkan darinya benar-benar ‘masuk.’ Lalu, ya itu, plot ceritanya benar-benar enggak biasa.

Pengalaman yang berusaha dibawakan game ini bener-bener berkesan kok. Gimana kita menjadi remaja SMA dan teman-temannya yang menjelajahi kota yang telah begitu dikenal baik tapi dalam versi twisted.  Latar urban Mikage yang Persona hadirkan memberikan kekhasan yang tak banyak dimiliki RPG lain pada masanya.

Si tokoh utama dan teman-temannya dapat menjelajahi mall-mall dan kompleks pertokoan yang ada dan berbelanja, yang di dalamnya ada restoran, toko-toko serba ada, arcade, dan hal-hal normal lain yang sekilas kau kira tak akan ada gunanya ada di RPG. Tapi sesudah berjuang susah payah dengan equipment seadanya (seperti tongkat pel dan pedang anggar untuk ekskul) menembus kepungan demon, lambat laun kau akan sadar bahwa toko barang antik yang kau temui di jalan akan menjual pedang-pedang sungguhan. Lalu toko baju di tikungan mulai menjual rompi anti peluru. Kemudian hadiah yang kau menangkan dari permainan video di arcade bisa digunakan untuk memperkuat Persona-mu. Ditambah semua barang aneh yang dijual di apoteker kodok itu (yang untuk suatu alasan tak dijelaskan kegunaannya di game aslinya; BGM di toko ini tak terlupakan btw) ternyata bermanfaat dalam memulihkan luka dan kelelahan akibat pemakaian Persona! Paling parah adalah sesudah kita mencapai separuh permainan. Senjata-senjata api seperti pistol dan senapan mesin, yang sebelumnya dengan susah payah kita kumpulkan dari polisi atau dungeon, akan mulai dijual bebas di minimarket!

Ada perasaan “Hah? Oh gitu?” akibat semua perkembangan aneh ini yang aku rasain waktu mainin game ini pertama kali. Perasaan ini terus bertambah seiring perkembangan game karena dungeon-dungeon yang kita lalui dan orang-orang yang kita temui semakin lama juga semakin aneh dan aneh.

Velvet Room pada awalnya terkesan sebagai toko terbengkalai di sudut mall yang entah kapan akan buka. Tapi begitu terbuka, toko(?) tersebut berubah menjadi lounge dengan penyanyi dan pianis yang hanya dapat dinikmati orang-orang tertentu (kita), yang dilengkapi tirai yang menyembunyikan peralatan-peralatan aneh yang Igor gunakan untuk memfusikan Persona.

Gilanya, Velvet Room secara misterius juga akan hadir pula di dungeondungeon. Serupa dengan kolam penyembuhan ajaib Fountain of Youth yang dikelola seorang peri bernama Trish, yang akan meminta bayaran benar-benar berlebihan untuk sepenuhnya menyembuhkan seluruh anggota kelompok (harganya yang pasti jauh lebih mahal dibandingkan jika kita memulihkan diri di klinik atau rumah sakit). Oh ya, tempat save game ini berupa sebuah pohon yang bisa bicara bernama Agastya Tree. Yang membuat semuanya aneh adalah bagaimana gaya berbicara pohon ini akan berubah seiring berlangsungnya permainan…

Mikage yang kita jelajahi awalnya juga masih biasa saja. Tapi distorsi dimensi yang D-VA System ciptakan kemudian menghadirkan tempat-tempat baru yang… gimana ya?

Intinya, semakin jauh kita menyelami dunia manifestasi kejiwaan Maki—yang karya seninya sebelum ia sakit dijadikan basis penciptaan dunia baru oleh Kandori—situasi yang kita hadapi akan makin ‘luar biasa.’ Kita juga makin akan mengetahui kebenaran dari setiap desas-desus yang beredar dan kejadian aneh yang terjadi. Mulai dari munculnya hutan sampai kastil sampai tiran tak jelas yang menguasai salah satu pusat perbelanjaan, plot cerita Persona, sekali lagi, bisa benar-benar mengangkat alis.

Bergantung dari pilihan-pilihan yang kita ambil di sepanjang permainan, perjalanan kita dapat berakhir di benteng Deva Yuga di mana kita akan mengkonfrontasi Kandori untuk terakhir kali. Terungkap bahwa Kandori selama ini ternyata dikendalikan oleh Nyarlathothep, Persona miliknya sendiri, yang selanjutnya mengambil alih tubuhnya dan menjadikannya boss terakhir. Tapi tokoh utama dan teman-temannya sesudahnya akan gagal memulihkan jiwa Maki dan sepenuhnya mengembalikan dunia ke kondisi semula.

Hanya bila pilihan-pilihan yang kita ambil benar (tak terlalu susah, tapi tetap bisa salah), tokoh utama dan kawan-kawannya akan menjelajahi dunia paralel Maki sekali lagi dan menuntaskan pertentangan yang dimilikinya dengan dua bagian dirinya yang lain, gadis kecil berbaju hitam Aki—wujud kedengkiannya yang sebelumnya dimanfaatkan Guido Kandori; serta gadis kecil berbaju putih Mae—perlambang harapan dan semangatnya yang hilang. Tokoh utama dan Maki kemudian akan dibimbing Philemon dalam memperoleh Persona terkuat mereka masing-masing, sebelum kembali ke St. Hermelin untuk pertempuran terakhir yang harus mereka lakukan dengan bagian diri Maki yang terakhir, Pandora, perwujudan dari keinginannya melenyapkan dunia, yang bersemayam di Avideya World (dungeon terakhir yang menjadi satu-satunya alasan mengapa aku enggan memainkan game ini lagi).

Adegan penutup yang kita dapatkan kemudian akan sedikit ditentukan oleh siapa karakter opsional yang kita pilih sebagai anggota kelompok kita yang terakhir. Tapi akhir cerita yang dikisahkan bagi Kei, Masao, Maki, dan si tokoh utama akan tetap sama kok.

Lalu entah karena paruh terakhir game ini berasa sadis atau apa, meski secara sederhana hanya memperlihatkan bagaimana tokoh utama dan teman-temannya mewujudkan kesepakatan mereka untuk merayakan keberhasilan mereka menyelamatkan dunia, aku benar-benar mendapati tamat Persona berkesan.

The Snow Queen Quest

Buat yang sudah membaca sejauh ini, makasih sekaligus sori karena tulisan kali ini panjang dan bertele-tele.

Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, game pertama Persona ini berusaha mengangkat latar sekolahan seperti halnya Shin Megami Tensei IF. Latar sekolahan itu memang terasa di sepanjang game-nya sih, dengan banyaknya tokoh teman sekolah kita yang memegang andil dalam cerita. Tapi latar sekolahan dari Persona yang sesungguhnya sebenarnya dibawakan dalam ‘sisi lain’ game ini. Sebuah ‘mode’ lain yang bisa dibilang sebagai sebuah percabangan cerita bersifat ‘gaiden’, yang dikenal dengan nama Snow Queen Quest. (bayangin ini kayak mode permainan ‘The Answer’ di Persona 3 FES, tapi dengan cerita berbeda dan enggak berperan sebagai epilog)

Intinya, ini semacam percabangan cerita yang dapat kita ambil di seperempat pertama permainan. Alih-alih ke SEBEC, si tokoh utama dan kawan-kawannya bisa memilih untuk bertahan di sekolah (apabila sejumlah persyaratan terpenuhi), dan di sana mereka akan menghadapi situasi berbahaya lain di mana Saeko-sensei diambil alih kesadarannya oleh topeng Ratu Salju, yang ditemukan dari situs reruntuhan kuno yang terdapat di Mikage. Di bawah pengaruh topeng tersebut, Saeko-sensei membekukan sekaligus menghempaskan seluruh kompleks bangunan St. Hermelin ke dimensi lain. Lalu untuk membebaskan diri mereka, si tokoh utama dan kawan-kawannya harus berjuang menghadapi siswa-siswa ‘bermasalah’ yang telah diberi Persona dan dijadikan kaki tangan si Ratu Salju di menara-menara misterius yang telah didirikan di sepenjuru sekolah.

Oh ya. Mode permainan ini sebelumnya gagal disertakan dalam versi Amerika game PSX-nya. Tapi disertakan dalam remake versi PSP yang keluar belakangan ini.

Soal cerita, plot cerita utama Persona memang agak enggak jelas. Tapi plot cerita kisah sampingan ini jauh lebih enggak jelas lagi.  Yang pasti, tokoh-tokoh seperti Yukino (yang memiliki ikatan emosional dengan Saeko-sensei) dan Ayase memainkan peranan lebih banyak di dalamnya. Lalu tokoh-tokoh ‘warga sekolah’ yang di cerita utama hanya berada di ‘latar belakang’ ditampilkan lebih menonjol di sini (terutama Wakil Kepsek Hannya yang sangat menyebalkan). Tokoh utama dan kawan-kawannya menjelajahi menara-menara Hypnos, Nemesis, dan Thanatos (hm, ada lagi enggak ya?) dan berhadapan dengan masing-masing ‘penjaga’ di sana: Hirose Kumi yang pemurung dan selalu dijadikan bahan olok-olokan, Matsudaira Michiko yang keji dan negatif, serta Yamamoto Yuriko yang populer tapi merasa tak terpuaskan dan dibayang-bayangi keinginan untuk bunuh diri. Di penghujung cerita baru terungkap bahwa roh mendiang Fujimori Tomomi, yang merupakan sahabat sekolah Saeko-sensei yang meninggal secara tragis, menjadi dalang sesungguhnya dari insiden ini, dan Persona miliknya, Night Queen, menjadi lawan terakhir yang tokoh utama dan kawan-kawannya harus hadapi.

Yah, oke. Plot ceritanya emang luar biasa aneh. Tapi premisnya benar-benar bisa dibilang menarik. Lalu gilanya, tema ‘pencarian jati diri’ yang merupakan tema utama game ini masih juga berhasil diangkat dalam mode permainan ini. Kalau kau perhatikan baik-baik event-event yang berlangsung di dalamnya, maka kau akan sadar bahwa cerita mode ini sebenarnya masih nyambung dengan cerita utama game. Tapi serius, aku… aku enggak bisa menjelaskannya karena terlalu aneh.

Satu hal yang jelas dari SQQ adalah meski ceritanya lebih pendek, permainannya lebih susah!

Ada 12 pecahan cermin yang ceritanya mesti bisa kita kumpulkan untuk melepaskan topeng itu dari Saeko-sensei. Lalu saat kita menghadapi ketiga menara, 1) kita tak bisa nge-save permainan, 2) kita tak bisa keluar sesudah memasuki salah satu menara sampai urusan kita di menara itu tuntas, dan 3) kita dikasih tenggat waktu, dalam artian ada batas waktu yang benar-benar dihitung mundur semenjak kita memasuki menara itu! Game utama secara alami memaksa kita menjadi kuat dengan denah dungeon yang gila. Tapi di sini, apabila persiapanmu terbatas, bisa dikatakan bahwa kau sudah pasti bakal mati (belum, aku belum nyebutin semua tantangan yang ada dalam mode ini).  Lalu urutan kita menghadapi ketiga menara itu dan secepat apa kita menanganinya akan berpengaruh terhadap sekuat apa bos-bos yang kita lawan! Makanya, walaupun gaje, ada suatu kepuasan tersendiri bila kau berhasil menamatkan mode permainan yang susah ini.

Sayangnya, game pertama Persona ini masih belum memiliki fitur ‘New Game +’. Tapi keberhasilanmu menamatkannya akan membuka dua buah dungeon opsional untuk masing-masing mode (Mikage Ruins dan Devil’s Peak). Dua tempat yang akan lumayan memudahkanmu untuk level grinding.

Adaptasi-adaptasi Lain

Mengingat sebagian tokoh yang muncul di game ini muncul kembali di Persona 2, cerita game ini mungkin akan menarik rasa ingin tahu sebagian orang. Sekali lagi, ini bukan game yang akan aku rekomendasikan ke orang lain. Jadi kalau hanya sekedar ingin tahu tentang cerita dan mengenal para tokohnya lebih jauh, lebih baik memeriksa versi-versi adaptasi lainnya saja.

Aku jelas enggak tahu apa-apa soal novel ataupun drama CD-nya. Tapi adaptasi manga-nya yang dibuat oleh Ueda Shinshuu secara enggak terduga beneran keren. Maksudku, keren dalam artian, dia secara menakjubkan berhasil mengadaptasi cerita yang berkesan ‘hambar’ dalam game menjadi sesuatu yang lumayan seru, dan dia berhasil menghidupkan kepribadian-kepribadian dalam para karakternya dan sekaligus menggambarkan mereka berkembang (narasi cerita dalam game-nya lumayan gagal melakukan ini). Kau bisa menemukan terjemahan bahasa Inggris beberapa babnya di Internet. Cuma ya itu, hanya beberapa bab.

Makanya, andai ada penerbit lokal yang berhasil melokalisir manga ini, aku pasti akan bahagia! Kuharap ga akan susah mengingat ini manga lama.

Hmm, apa lagi yang perlu dikata ya? Kayaknya udah semua.

Ini game pertama yang mengajariku soal betapa pentingnya kita mengenali diri kita dan menemukan jati diri, dan tentu saja bukan yang terakhir. Karena masih ada Persona 2


About this entry