Sacred Seven

Sejumlah batu meteroit terjatuh ke Bumi pada masa lampau dan memberikan kekuatan ajaib yang sulit dikendalikan pada orang-orang tertentu. Ada dua jenis kekuatan batu itu, yakni jenis yang membawa pada kehancuran, Batu Kegelapan, dan jenis yang memberikan perlindungan, Batu Cahaya. Belakangan, secara menyeluruh, kekuatan bebatuan tersebut dikenal dengan nama ‘Sacred Seven.’

Di masa kini, remaja SMA Tandoji Arma (Alma?), yang memiliki kesulitan bergaul akibat badannya yang tinggi besar serta kekuatan misterius yang dimilikinya, direkrut oleh gadis muda Aiba Ruri, yang sekaligus merupakan CEO dari Yayasan Aiba yang sangat berkuasa, untuk membantu mencegah kerusakan yang diakibatkan Batu Kegelapan yang dari waktu ke waktu memanifestasi wujud monster-monster buas.

Itulah premis sederhana namun potensial dari ‘drama aksi tempur sekolahan’ Sacred Seven yang dibuat oleh studio animasi Sunrise. Terdiri atas 12 episode dan keluar pada musim panas 2011, ceritanya kurasa memiliki ide orisinil, dan dikemas secara benar-benar baik.

Sutradaranya adalah Ohashi Yoshimitsu, Yoshida Shin menangani skenario, desain mekanis dibuat oleh Ippei Gyobu (ini serius?), dan desain karater orisinil secara tak disangka oleh Mutsumi Inomata. (Aku memperhatikan daftar nama pada stafnya dan tak bisa tak dibuat bertanya-tanya tentang sejumlah hal…)

Maid Commando?!

Sacred Seven punya konsep cerita yang bagi beberapa orang mungkin sedikit konyol. Kekuatan super dari bebatuan yang sulit dipahami ini pada awalnya juga sempat membuat keningku berkerut. Lalu bagaimana semua ini hendak dimasukkan ke dalam seri yang berfokus di sekolahan benar-benar juga sempat membuatku bertanya-tanya.

Arma, yang semula enggan melepas kekuatannya, kemudian memperoleh wujud baru dari kekuatan Batu Cahaya yang dimiliki Ruri. Ia menjadi semacam tokoh superhero bertenaga hebat dengan tujuh macam kemampuan yang agak mengingatkanku akan seorang jagoan biru dari sebuah game buatan Capcom. Dengan wujud barunya ini, ia berulangkali melawan monster-monster Batu Kegelapan. Lalu seiring dengan waktu, Arma semakin memahami bagaimana semestinya ia menyikapi perannya di dunia ini.

Di samping dengan Ruri, Arma juga mulai menjalin persahabatan dengan gadis-gadis dari Klub Batu (geologi?) di sekolahnya yang diketuai oleh gadis bernama Wakana Ito, satu-satunya teman sekolahnya yang tak memusuhinya sejak awal. Ia juga mulai bisa menyikapi kehidupan masa lalu sulit dan sepi yang dulu pernah ia jalani.

Plot ceritanya… benar-benar sederhana. Mungkin agak dangkal? Sama sekali tak bisa dikatakan mengesankan. Pokoknya, segala yang terkait soal batu dan filosofinya itu sempat membuatku…

…Begitu.

Tapi di sisi lain, aku tak bisa tak memperhatikan bagaimana seri ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Sebab eksekusi seluruh adegannya benar-benar bagus.

Mereka yang lebih tertarik akan bobot cerita dalam sekejap mungkin akan langsung bosan karena ketiadaan penggalian karakter yang believable. Tapi mereka yang hanya ingin terhibur oleh hal-hal sederhana, seperti kesalahpahaman sepele namun lucu ataupun adegan-adegan aksi yang lebih dari sekedar keren, bisa menemukan lebih dari apa yang mereka harapkan di seri ini.

Dan ya, untuk ukuran sebuah seri berdurasi hanya 12 episode, adegan-adegan aksinya dibuat dengan seapik itu. Oke, penanganan build-up dan adegan-adegan klimaksnya bisa lebih baik lagi. Tapi tak bisa kusangkal koreografi pertarungan-pertarungannya benar-benar keren.

Arma dalam wujud supernya secara aneh benar-benar enak dilihat sebagai action hero. Kagami Makoto, butler setia Ruri, turut menciptakan aksi dengan sebuah mecha besar yang disebut Engagement Suit. Tentu saja, hadir pula tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan Sacred Seven lain, baik yang didapat secara alami ataupun artifisial.

Konflik sepanjang seri ini hanyalah seputar soal hubungan Arma dan Ruri, yang pada mereka terjalin lebih dari hubungan saling percaya; upaya Ruri memulihkan Aoi, saudari kembarnya yang karena suatu insiden di masa lalu, terkurung dalam kristal akibat kekuatannya sendiri; konflik dengan Kijima Naito, pemuda lain yang memiliki kekuatan serupa Arma, yang senantiasa ditemani gadis kecil bernama Fei-yu; serta bagaimana semua akan berujung pada konfrontasi dengan Kenmi dan lembaga penelitiannya yang bermaksud menggali kekuatan penuh Sacred Seven dengan cara-cara yang tak berperikemanusiaan.

Semua tokoh di seri ini bisa dikatakan tokoh-tokoh stereotip yang mungkin diciptakan untuk kesenangan fans. Dan yea, bahkan ada pasukan komando maid di dalamnya yang bekerja untuk Yayasan Aiba. Tapi soal itu kayaknya tak perlu terlalu kita bahas.

Love is such a lonely thing…

Pastinya, cerita Sacred Seven lebih berat ke ‘aksi’ daripada ‘drama’ dan secara menyeluruh seri ini tak bisa dikatakan meninggalkan kesan. Lalu mungkin karena dinilai tak begitu menarik perhatian, atau terkesan terlalu eye-candy, maka seri ini memang dibatasi hanya sampai dua belas episode?

Entah ya. It’s not that bad. Setidaknya menurutku begitu.

Seri ini pada akhirnya benar-benar tak jelek. Penyelesaiannya memang terasa agak prematur, tapi lebih bagus dari ukuran prematur yang biasa. Meski tak dalam, desain tokoh-tokohnya benar-benar menarik. Arma yang tinggi dan tampan sebenarnya kuat tapi tampak agak gugup. Kagami cool dan perhitungan. Lalu Ruri tampak seperti karakter loli, padahal bukan.

Dengan elemen-elemen yang menarik perhatian pemirsa cewek maupun cowok, seri ini semestinya benar-benar menarik. Lalu musiknya, yang menangani lagu pembuka dan penutupnya adalah Kajiura Yuki! Musik latarnya itu benar-benar sesuai dengan aksinya. Bahkan Kenmi dan SP perempuannya (yang tak pernah kuingat namanya?) cukup melekat di kepala untuk alasan tak jelas.

Jadi entah ya. Apalagi dengan eksekusi perkembangan hubungan Arma dan Ruri yang sangat manis, aku cuma bisa bilang bahwa seri ini mungkin tak lebih menuai perhatian semata karena ceritanya yang agak klise dan kurang berisi. Konsepnya terlalu gado-gado, kurasa. Padahal ada banyak sekali sentuhan menarik yang diberikan di dalamnya.

Kembali soal musik, aku tak selalu cocok dengan musik Kajiura Yuki, tapi aku menyukai dua lagu yang beliau siapkan untuk seri ini. Keduanya digarap sedemikian rupa hingga cocok dan bahkan memberi ‘isi’ pada nuansa seri ini. ‘Stone Cold’ terutama, yang dilantunkan grup FictionJunction, adalah lagu keren yang memiliki efek benar-benar aneh. Tapi lagu ini semata yang kurasa menjadi alasan mengapa sebagian besar orang mencoba melihat seri ini. Kalian benar-benar mesti mencoba melihat klip videonya di YouTube.

Penilaian

Konsep: D; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: C+;  Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: C+

(Nilai X di sini karena sangat bagus dalam eksekusi adegan, tapi agak aneh dalam memberi arah pada komposisi cerita.)

(Oh ya, aku lupa menyebut soal Onigawara yang menjadi maskot. Tapi ya sudahlah.)


About this entry