Kizumonogatari

Kizumonogatari adalah buku ketiga dari seri Monogatari karangan Nisio Isin. Jadi dengan kata lain, seri ini merupakan kelanjutan cerita Bakemonogatari, sebelum ‘bab’ Nisemonogatari keluar animenya awal tahun depan nanti.

Sebagaimana yang mungkin sebagian di antara kalian tahu, Kizumonogatari (yang arti judulnya kurang lebih ‘cerita tentang bekas luka, atau barang cacat’) lebih tepat dibilang prekuel daripada sekuel sih. Ceritanya sepenuhnya tentang pertemuan pertama antara si tokoh utama, Araragi Koyomi, dan Kiss-shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, perempuan vampir legendaris yang nantinya dikenal pula dengan nama Oshino Shinobu.

“Mestinya yang kamu tanya itu soal apa alien benar-benar ada apa enggak!”

Berlatar di liburan Golden Week beberapa bulan sebelum Bakemonogatari, cerita Kizumonogatari sebenarnya lebih dalam daripada kelihatannya sih.

Di awal cerita, digambarkan betapa galaunya Koyomi yang seumur hidupnya ia jalani dengan nyaris tanpa teman.

Koyomi memaparkan betapa ia merasa sesuatu yang tak beres dengan situasi kehidupannya di rumah, dan betapa keluarganya mungkin sebuah keluarga yang disfungsional. (suatu hal yang pada cerita-cerita lanjutan dibantah mentah-mentah oleh kedua adik perempuannya)

Lalu terjadi sebuah adegan agak konyol, yang sebenarnya serius, dan Koyomi bertemu dengan si gadis serba tahu Hanekawa Tsubasa, dan itulah awal hubungan yang terjalin di antara mereka.

Dari Bakemonogatari kita ketahui sebenarnya Hanekawa juga menyimpan rahasia-rahasianya sendiri. Tak dinyana keduanya, perkenalan keduanya inilah yang justru menjadi pemicu situasi gila yang Koyomi alami dalam buku ini. Situasi gila yang kemudian mengubah hidupnya, dan kelak, hidup teman-temannya, untuk sekali dan selama-lamanya.

Koyomi secara kebetulan(?) menemukan Kiss-shot dalam keadaan ditinggalkan sekarat menanti pagi dengan sebagian anggota tubuhnya telah ‘diambil’ oleh tiga pemburu. Ketiga pemburu vampir yang bertanggung jawab atas hal ini adalah DramaturgieEpisode, dan Guillotincutter, yang masing-masing sebenarnya bekerja terpisah.

Satu dan lain hal terjadi. Lalu Koyomi dijadikan vampir bawahan Kiss-shot yang bertanggung jawab mengalahkan ketiga pemburu vampir di atas dan menemukan bagian-bagian tubuhnya kembali.

Situasinya sempat kembali kacau. Tapi untungnya, dalam prosesnya, Koyomi sempat ditolong pula oleh Oshino Meme, si om-om dengan psychadelic aloha t-shirt dan segala pengetahuannya tentang hal-hal gaib yang misterius.

Oshino berperan sebagai semacam negosiator antara kedua belah pihak.

Dari sana, cerita kemudian bergulir dengan harapan-harapan Koyomi untuk bisa menjadi manusia kembali (kalau bisa sebelum masa liburan sekolah berakhir), awal persahabatan anehnya dengan Hanekawa, konfliknya dengan ketiga pemburu vampir, serta teka-teki besar tentang isi hati sang vampir hot-blooded, cold-blooded, dan iron-blooded, Kiss-shot, yang sebenarnya…

“Ini mungkin cuma perasaanku, atau penjelasan tentangnya dalam pikiranmu barusan sampai mencapai empat halaman?”

Sebagai prekuel yang menjelaskan awal-mula, Kizumonogatari menurutku lumayan berhasil. Sebenarnya, ini bukan cerita yang perlu diikuti untuk sekedar bisa sepenuhnya menikmati Bakemonogatari sih. Ceritanya dalam dan matang, namun statusnya tetap sebagai cerita lepas.

Alasan itu yang mungkin menjadi alasan mengapa studio animasi SHAFT memutuskan untuk mengangkatnya sebagai movie alih-alih seri TV. Ditambah lagi, kalian-kalian yang jeli mungkin akan mengingat bagaimana menit-menit awal episode pertama Bakemonogatari sebenarnya menampilkan cuplikan beberapa adegan dari cerita ini. Apalagi lagi, kalau mengingat bagaimana tokoh Senjougahara Hitagi yang para fans gemari juga masih belum berperan di dalamnya. Tapi soal itu lebih baik kita bahas lain kali.

Kembali bicara soal Kizumonogatari, bagi mereka-mereka yang penasaran dengan Shinobu, serta hubungan apa yang sebenarnya ia miliki dengan Koyomi, cerita ini bakalan menjawab semua pertanyaan itu. Nuansanya lebih sombre dibandingkan buku-buku sebelumnya. Tapi selingan humor-humornya yang suka out of topic, adegan-adegan aksinya yang secara tak terduga seru, masih menjadikan cerita ini benar-benar menarik.

Ceritanya masih digerakkan dialog, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, tokoh-tokohnya adalah tokoh-tokoh yang sekilas tak menonjol, tapi sebenarnya sama sekali tak biasa.

Oya, ini pertama kalinya pula aku mendapat pengalaman langsung menikmati gaya narasi Nisio-sensei, dan… yah, anggap saja aku jadi mengerti tentang apa persisnya yang membuatnya menjadi penulis yang unik.

Satu buku ini telah selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh fans di situs Baka-Tsuki. Tapi perlu kuperingatkan: terjemahannya sendiri enggak begitu bagus. Jadi buat membaca sekaligus menikmatinya, terus terang diperlukan sedikit upaya lebih.

Aku masih dengan sabar menanti saat aku kesampaian menonton adaptasi layar lebarnya. Soalnya sesudah ini takkan ada lagi insiden yang menampilkan Shinobu dalam wujud dewasa. (<–bohong)


About this entry