Shin Angyo Onshi

Belum lama ini—oke, mungkin bukan ‘belum lama’ sih—manga Berserk karya Kentaro Miura memasuki bab Fantasia. Di dalamnya, dikisahkan bagaimana Griffith,  sang tokoh antagonis(?), merusak dan menciptakan kembali ‘logika’ dunia.

Pada saat aku tahu tentang bab tersebut, sesuatu mengusik perasaanku; aku merasa seperti pernah mendengar ungkapan soal ‘rekonstruksi logika’ itu sebelumnya. Lalu tak lama kemudian aku sadar, aku pernah membaca ungkapan serupa dalam manga (manhwa) Shin Angyo Onshi karya Youn In-wan dan Yang Kyung-il yang dulu di sini sempat diserialisasikan oleh Level Comics.

Seri yang juga dikenal secara internasional dengan judul Blade of the Phantom Master ini pada dasarnya merupakan bentuk upaya dua pengarangnya yang asal Korea Selatan untuk memasuki pasar komik Jepang. Melalui penerbit Shogakukan, seri ini kemudian terbit di paruh awal tahun 2000an, dan berkat nuansanya yang unik serta kualitas artwork-nya yang kuat, seri ini menuai perhatian lumayan besar.

Aku pribadi pertama kenal seri ini melalui anime-nya. Di sekitar tahun 2004, entah persisnya gimana, studio Oriental Light and Magic dan Character Plan bekerjasama dalam mengangkat dua dari beberapa bab awal komik ini ke bentuk animasi layar lebar. Durasi total film akhirnya mencapai sekitar 90 menit, dan proyek ini menjadi kolaborasi pertama dua negara, Jepang dan Korea Selatan, dalam membuat sebuah film animasi secara komersil. Hasilnya lumayan bagus, dan itu yang membuatku cukup antusias saat mengetahui bagaimana Level Comics, yang pada saat itu baru berdiri, mulai menserialisasikan manganya.

“Amen-osa Datang!”

Shin Angyo Onshi, gampangnya, berkisah tentang petualangan Munsu, amen-osa terakhir dari kerajaan Jushin yang telah hancur; dalam menegakkan keadilan di negeri yang kini dilanda kejahatan dan kekacauan ini; bersama teman-teman seperjalanannya, Sando, pengawalnya, dan Bangja, pembantunya.

Amen-osa, atau Angyo Onshi, merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut agen-agen rahasia pemerintah yang berkelana ke penjuru negeri atas nama raja, untuk menghukum para penguasa lalim dan menegakkan keadilan bagi rakyat. Munsu, sebagai amen-osa, memiliki sebuah medali dengan lambang tiga kuda, yang dengan kekuatan sihir yang terkandung di dalamnya, sesudah ia menyatakan kehadirannya, sanggup memanggil pasukan hantu Jushin untuk menjatuhkan hukuman kepada para penjahat di mana ia berada.

Tapi sesudah ibukota Jushin hancur, yang memicu terjadinya kekacauan di seluruh negeri, ditambah hadirnya ancaman penyerbuan tentara dari negeri asing di sebelah barat, masih adakah harapan bagi keadilan untuk ditegakkan?

Munsu, sang amen-osa, ironisnya adalah seorang anti-hero yang tak segan menggunakan cara-cara licik untuk mencapai tujuan. Cerita animenya hanya memaparkan awal pertemuannya yang penuh darah dengan Sando; gadis muda pendiam, pemalu, dan naif namun sangat ahli bela diri, yang kemudian menjadi pengawalnya; dilanjutkan dengan pembeberan akan hadirnya seorang tokoh bernama Ajitae, sosok misterius yang diasumsikan sebagai dalang dari kehancuran Jushin, yang Munsu tengah buru dalam perjalanannya.

Cerita di manganya tentu saja berkembang jauh lebih dalam daripada itu. Cerita berlanjut dengan pertemuan Munsu dan Sando dengan kawan-kawan lama Munsu semasa Jushin berjaya; dilanjutkan dengan pertemuan Munsu dengan amen-osa lain; pertemuan Munsu dengan Bangja; serta misteri awal mula permusuhan antara Munsu dan Ajitae dan bagaimana Jushin hancur, yang berakibat pada bagaimana Munsu disalahkan atas segala yang telah terjadi.

Semua ternyata terkait dengan masa lalu Munsu sebagai seorang jendral, saat ia masih melayani raja termuda Jushin yang menjadi sahabatnya, Hae Mosu, dan hidup bahagia bersama kekasihnya, Gye Wolhyang. Masa lalu itu berakhir dengan mimpi buruk yang ditandai kematian massal sesudah hadirnya pengelana misterius, Ajitae…

“Takkan ada keajaiban bagi mereka yang hanya menantikannya!”

Seakan mematahkan nuansa roman di premisnya, Shin Angyo Onshi secara blak-blakan menggambarkan ‘sisi gelap’ dari ceritanya. Dipaparkan bagaimana monster-monster liar sampai berkeliaran di padang-padang tak bertuan, penjahat berkuasa di kota-kota, serta bagaimana masyarakat sampai berada dalam kondisi ‘sakit’ dan tak berbuat apa-apa. Tetapi yang menbuat Shin Angyo Onshi bagus untukku adalah bagaimana di balik semua itu tetap ada semacam ‘kelembutan’ yang berusaha ditampilkan.

Kalian tahu ungkapan yang mengatakan bagaimana ‘tragedi itu indah’? Nuansa yang Shin Angyo Onshi hadirkan kurang lebih kayak gitu.

Secara berulang, keputusasaan yang mendalam akan dipaparkan dalam bab-bab Shin Angyo Onshi. Lalu di tengah semua itu, Munsu kemudian akan hadir dan membukakan pintu akan datangnya kebebasan—tapi itu selalu dengan bayaran pahit yang setiap orang harus bayar.

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, sekalipun kesannya juga sedikit klise, Munsu ini berdarah dingin. Ia tak segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan—yang membuatnya sering dimusuhi Sando yang senantiasa bersikap terhormat. Tapi seiring perkembangan cerita, kita mulai bisa mengerti kenapa si Munsu menjadi orang kayak begini. Dia ‘enggak sepenuhnya’ berdarah dingin. Dia hanya beranggapan bahwa orang-orang yang pantas mati memang lebih baik dibiarkan mati—dan itu termasuk orang-orang yang tak mau berjuang memperbaiki nasib mereka sendiri.

Berulangkali dalam cerita, para tokoh seakan dihadapkan pada pilihan untuk beralih pada jalan yang ‘mudah’ atau tetap bertahan di jalan yang ‘benar.’ Munsu, dengan segala penderitaan yang dialaminya, memilih untuk tetap berada di jalan ‘benar’ sekalipun itu membuatnya dimusuhi dan ditinggalkan oleh semua orang—termasuk orang-orang yang sebelumnya ia sayangi dan kasihi.

Shin Angyo Onshi secara muram tapi realistis memaparkan kenyataan ini. Soal bagaimana orang-orang yang menyerah pada nasib pada akhirnya takkan ke mana-mana, serta bagaimana orang-orang yang terus bertahan—sekalipun harus mati—pada akhirnya akan menemukan suatu makna dan kepuasan dalam usaha mereka. (Ya, Shin Angyo Onshi berulang kali menunjukan bagaimana orang-orang yang berbuat benar pada akhirnya juga bisa mati.)

Hal lain yang kusukai dari Shin Angyo Onshi adalah penggambarannya terhadap pertobatan dan penebusan dosa. Munsu, ceritanya sebenarnya tengah berusaha menebus kesalahannya sebagai penyebab tak langsung kehancuran Jushin. Dan ia tak menyerah dalam upayanya, sekalipun harus membasuh kedua tangannya dengan darah. Contoh lain yang bagus adalah penebusan yang harus dilalui Wonsul, sang jago pedang, yang di sebagian besar cerita dikisahkan ‘terikat’ di batas antara kehidupan dan kematian.

Meski narasi dan perkembangan karakternya enggak bisa dibilang bagus-bagus amat, jarang-jarang ada komik yang mengangkat tema macam begini. Kurasa itu alasan utama kenapa aku penasaran untuk menamatkan seri ini sampai akhir.

Song With No Name

Sejalan dengan konsep awalnya, seri ini mengkorporasikan elemen-elemen budaya dan cerita rakyat Korea. Tapi latar fantasinya itu agak… uh, kurang cocok untuk sebagian orang. Ada cukup banyak bab di seri ini yang didasarkan pada sejumlah dongeng dan cerita rakyat Korea. Tapi adaptasinya dilakukan dengan sedemikian rupa ‘gelap’ sehingga ada kesan bahwa para pengarang Shin Angyo Onshi memiliki ‘selera yang buruk.’

Terlepas dari itu, bicara soal hal-hal seru, di samping menampilkan plot yang di dalamnya bisa terjadi apapun, seri ini juga diisi adegan-adegan aksi yang seru.

Munsu, sebelum kekuatan medalinya dapat digunakan, secara badass bertarung menggunakan senjata-senjata api dan peledak. Dirinya pun digambarkan sebagai ahli siasat tingkat tinggi—sekalipun tubuhnya digerogoti oleh kutukan misterius yang melemahkan tubuhnya dan memunculkan gejala-gejala asma.

Adegan-adegan aksi sesungguhnya tentu saja hadir melalui Sando. Sando—yang untuk suatu alasan, mengenakan pakaian sangat revealing di balik jubahnya yang sangat tebal—digambarkan sebagai gadis lemah lembut sangat cantik yang sebenarnya teramat berbahaya dengan senjata pedang dan cakar raksasanya. Meski ia sanggup melakukan lompatan-lompatan setinggi gedung, Sando memiliki fobia yang tak terjelaskan terhadap tebing-tebing dan jembatan. Sisi naif yang dimilikinya juga terkadang menyulitkannya membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Sando dikisahkan mulai melayani Munsu karena menganggapnya sebagai keinginan terakhir mendiang kekasihnya, dan hubungannya dengan Munsu mendapat porsi pemaparan cukup banyak dalam cerita ini.

Bicara soal pakaiannya, Sando di mataku sebenarnya lebih terkesan ‘indah’ daripada ‘seksi’. Tapi, uh, tolong jangan buat aku berkomentar lebih jauh dari itu…

Eniwei, seiring perkembangan cerita, aksi-aksi sihir yang sebanding dengan kekuatan medali  Munsu mulai diperlihatkan. Adegan-adegan aksinya terkadang bisa begitu chaotic, terlebih dengan artwork-nya yang indah dan detil tapi ramai.

Agak susah ngejelasinnya, tapi sebagai pembaca, kita akan mulai dibuat mempertanyakan apakah sebuah adegan benar-benar terjadi atau tidak.  Tema ‘dunia nyata’ dan ‘dunia tidak nyata’  menjadi sesuatu yang berulangkali dimunculkan seiring tampilnya Ajitae di dalam cerita. Ini mungkin membuat para pembaca kasual agak sulit menikmati arah perkembangan seri ini. Pemaparannya itu juga sedemikian rupa, sampai-sampai kita sering dibikin ragu apakah Munsu benar-benar adalah tokoh yang ‘benar’ atau bukan.

Tapi kalau kau bisa bertoleransi terhadap segala yang membuatmu heran, kau bisa menikmati cerita ini kok. Aku tak bisa menjamin  dampaknya bagi mentalmu sih. Tapi kurasa itulah alasan mengapa seri ini diterbitkannya oleh Level.

Bicara soal Level, terjemahan bahasa Indonesianya lumayan tidak konsisten. Tapi editan tulisannya rapi dan sebagian besar daya tarik seri ini tetap terjaga. Ini seri yang benar-benar lebih cocok bagi pembaca dewasa BTW, jadi mereka yang sensitif terhadap isu-isu moral baiknya berjaga-jaga.

Apa ini seri yang bagus? Yah, entah ya.

Apa seri ini berkesan? Buatku iya.

Tapi bila kau tak tahan terhadap segala kesuraman seri ini, mungkin lebih baik kau mengikuti karya Bung Youn dan Bung Yang yang lebih baru, Defense Devil, saja.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: X; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry