Steins;Gate

Beberapa tahun lalu, aku pernah menulis sesuatu tentang anime Chaos;Head. Ini seri anime fiksi ilmiah yang diangkat dari game visual novel berjudul sama hasil kerjasama dua pengembang 5pb. dan Nitroplus.

Cerita Chaos;Head tentang misteri pembunuhan yang diwarnai elemen-elemen budaya otaku, dengan perkembangan plot yang benar-benar membuat penasaran. Sayang penuntasan misterinya agak tak sebagus yang aku harap. Game-nya sendiri tetap menuai perhatian yang lumayan sih, dan kerjasama kedua pengembang tersebut dalam mengembangkan game-game bertema fiksi ilmiah (science adventure) sampai saat ini masih terus berlanjut (Chaos;Head sebenarnya memiliki porsi fantasi yang lumayan besar sih, tapi ya sudahlah).

Sejauh ini, hadir dua judul lain yang dikerjakan dalam genre yang sama. Yang terkini adalah Robotics;Notes, yang pada saat ini kutulis, masih berada dalam tahap pengembangan.  Yang satunya lagi adalah Steins;Gate, yang pada masa tayang musim semi 2011 lalu, adaptasi anime-nya yang ditangani studio White Fox mulai mengudara sepanjang 24 episode.

Jadi, agak terkesan dengan premis Chaos;Head, aku mencoba menonton adaptasi animasi Steins;Gate. Hasilnya benar-benar melebihi bayanganku.

“Jika memang ini adalah ketetapan dari Steins Gate…!”

Steins;Gate mengangkat tema soal perjalanan waktu. Fokus ceritanya adalah sekelompok teman di Akihabara–distrik Tokyo yang dikenal dengan barang-barang elektronik dan ‘ke-otaku-annya’–yang menjadi anggota dari Mirai Gadget Lab (‘lab perangkat masa depan’), tempat para anggotanya hobi bereksperimentasi untuk menciptakan ‘peralatan-peralatan masa depan’ yang canggih.

Adegan-adegan awal seri ini memang terkesan sangat enggak jelas. Kita diperlihatkan bagaimana pemimpin Mirai Gadget Lab, seorang mahasiswa tahun pertama bernama Okabe ‘Okarin’ Rintarou, sangat suka memproklamirkan dirinya sebagai mad scientist Houoin Kyouma dengan suara tawanya yang membahana. Ia hampir senantiasa ditemani oleh teman masa kecilnya yang beberapa tahun lebih muda, gadis manis bernama Shiina ‘Mayushii’ Mayuri, yang adegan kemunculan pertamanya lumayan membuat kening berkerut. Terus, satu-satunya anggota yang di mataku terlihat ‘bisa diterima’ sebagai anggota lab di awal cerita, hanyalah teman gemuk Okarin bernama Hashida ‘Daru’ Itaru, seorang teknisi sekaligus super hacker. Tapi dirinya pun seorang otaku yang memiliki kecendrungan untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang bermakna agak mesum.

Okarin dan Mayushii ceritanya hendak menghadiri seminar ilmiah yang diprakarsai Professor Nakabashi di Gedung Radio. Tapi lalu… serangkaian hal aneh terjadi. Bermula dengan apa yang Okarin kira sebagai insiden pembunuhan terhadap gadis ilmuwan jenius, Makise Kurisu, kemudian berlanjut dengan disorientasi(?) ingatan Okarin, serta jatuhnya satelit misterius dari langit yang akhirnya membatalkan acara.

Okarin, dari sudut pandangnya, berusaha mencerna apa-apa persisnya yang baru terjadi. Semuanya ternyata berhubungan dengan peralatan baru yang tengah mereka kembangkan: suatu gabungan ponsel dan sebuah oven microwave yang mereka namai ‘telepon microwave’. Bersama Makise Kurisu yang kemudian menjalin kerjasama dengan mereka karena tertarik dengan fenomena gel yang dihasilkan oleh telepon microwave, Okarin dan kawan-kawannya kemudian mengetahui bahwa telepon microwave yang mereka ciptakan ternyata memiliki kemampuan untuk  mengirimkan pesan-pesan teks lewat ponsel ke masa lalu!

Mungkinkah dengan ini mereka bisa memanipulasi kemenangan lotere? Apakah teori yang melandasi penemuan ini dapat menjadi kunci untuk membuka tabir penjelajahan aliran waktu?

Kekhawatiran Okarin akan hal-hal aneh yang terjadi di sekelilingnya kemudian memuncak saat ia menyadari bahwa dirinya dan kawan-kawannya ternyata tengah diawasi oleh suatu pihak misterius yang bernama SERN. Di permukaan, mereka adalah lembaga keilmuwan yang memegang perangkat hadron-particle collider terbesar di dunia. Tapi mungkinkah dengan pengawasan penuh mereka atas aliran informasi, mereka sebenarnya hendak memanfaatkan teknologi manipulasi waktu yang Okarin dkk temukan untuk menguasai dunia?

Pencarian IBN 5100

Meski cerita Steins;Gate terkesan berat, pemaparannya sebenarnya tak seberat itu kok. Salah satu daya tarik utama anime ini justru terletak pada interaksi konyol antara Okarin dan kawan-kawannya, di saat mereka belum sepenuhnya memahami apa sebenarnya yang telah mereka temukan. Ceritanya nanti memang berkembang ke arah yang agak gelap sih, tapi itu terjadi belakangan.

Sebagai tokoh utama, Okarin dengan segala tingkahnya adalah tokoh yang benar-benar aneh. Mayushii yang kapasitas keilmuwannya tak setinggi Okarin dan Daru jelas-jelas tidak jelas mengapa ia berada di sini. Lalu Kurisu yang seorang ilmuwan muda ternama ternyata adalah tsundere yang benar-benar manis. Tapi mereka semua (bersama tokoh-tokoh pendukung lain yang takkan kusebutkan di sini) akan berkembang menjadi jauh lebih dalam daripada itu. Lalu eksekusi adegan-adegan yang ada, dan bagaimana satu adegan menyambung ke adegan yang lain, terlaksana dengan benar-benar bagus. Mulai dari fokus cerita, cara pemaparan latar belakang karakter, serta bagaimana cerita mentahnya diedit agar cukup dengan durasi episode. Semua terutama didukung juga berkat keberadaan tim seiyuu yang benar-benar menghidupkan para karakternya (Mamoru Miyano? Kana Hanazawa? Yukari Tamura? Heh, yang jadi Daru itu Tomokazu Seki!?). Ada beberapa episode yang agak lemah sih. Tapi dengan semua keunggulan yang ada, soal kekurangannya kau mungkin takkan peduli.

Soal ceritanya sendiri… aku agak susah ngasi tau lebih karena benar-benar akan menjadi spoiler. Ide awalnya memang mungkin terkesan konyol. Tapi perkembangan situasi dan implikasi dari penemuan ini benar-benar tergarap dengan sangat serius.

Jadi intinya, segala keanehan yang Okarin saksikan ternyata diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang ia dan kawan-kawannya lakukan melalui perangkat D-Mail (nama baru dari telepon microwave) temuan mereka, terhadap masa lalu. Baik secara sengaja maupun tidak. Detil-detil kejadian di masa kini dan di masa lalu mengalami rekonstruksi, dan pergeseran ‘garis dunia’ yang membentuk realita kemudian terjadi setiap kali ada pesan teks yang mereka kirim ke masa lampau. Hal ini kemudian Okarin bersama Kurisu berusaha manfaatkan secara mati-matian untuk mencegah suatu bencana besar yang secara mutlak diyakini akan terjadi di masa depan.

Dalam garis dunia telah yang bergeser, mereka harus menemukan kembali perangkat komputer kuno IBN 5100 yang basis pemrogramanannya menjadi kunci untuk meng-hack basis data SERN, yang menjadi harapan mereka untuk mencegah terwujudnya distopia yang hendak SERN ciptakan. Semakin banyak tokoh baru yang diperlihatkan kemudian terlibat dengan lab mereka, dan semakin kental pula misteri soal siapa akan berkepentingan terhadap siapa. Salah satu aspek paling keren dari Steins;Gate adalah gimana tokoh antagonis yang harus Okarin dan kawan-kawannya hadapi tak pernah benar-benar jelas. Kita sebagai penonton terus ditantang untuk memahami bagaimana persisnya setiap perkembangan cerita yang baru bisa sampai terjadi.

Lalu tak seperti Chaos;Head, ada teori-teori fisika nyata (dan enggak sepenuhnya ngaco) yang melatari apa yang Okarin dan teman-temannya lakukan. Kerr black hole, attractor field theory, dan bahkan referensi-referensi terhadap legenda self-proclaimed time-traveller dunia nyata John Titor turut dimunculkan dalam cerita. Meski plotnya jelas-jelas terinspirasi oleh postingan-postingan yang dilakukan John Titor (silakan cek Wikipedia tentang hal ini), eksekusi animenya benar-benar bagus. Sehingga meski beberapa bagian plotnya tertebak pun, cara penggambarannya tetap membuatnya berkesan.

Steins;Gate mungkin memang bukan anime terbagus di musimnya. Ada banyak judul anime lain yang bakalan lebih mudah dicerna orang. Chaos;Head, sekalipun absurd, bahkan mungkin masih mengalahkannya di soal porsi perkembangan cerita. Tapi dengan semua intriknya yang memikat dan karakter-karakternya yang begitu gampang disukai, jarang-jarang kau bisa mendapatkan kombinasi yang lebih hebat dari ini.

“Tuturuu!”

Sejumlah detil misterius di Steins;Gate sayangnya belum sempat terjelaskan sampai seri berakhir. Bagaimana Okarin memiliki kemampuan untuk mempertahankan ingatannya setiap kali garis dunia berganti, misalnya (yang dengan seenaknya dinamakannya ‘Reading Steiner‘), adalah salah satu contohnya. Tapi direncanakan akan ada film layar lebar Steins;Gate yang secara mengejutkan diumumkan penggarapannya di akhir seri. Sehingga mudah-mudahan semua jawaban yang belum terjelaskan di sepanjang seri TV kelak akan bisa ditemukan di sana.

Dari segi animasi, ini salah satu anime dengan presentasi visual paling baik yang aku tahu. Kebanyakan frame menggunakan warna kelabu untuk menggambarkan hiruk-pikuk Akihabara. Agak suram sih. Tapi ini lalu mereka kontraskan dengan nuansa-nuansa biru tajam untuk menggambarkan perubahan-perubahan ‘ajaib’ yang tengah terjadi. Secara menyeluruh, kesan visualnya yang dipadu dengan desain karakter ciptaan huke jadi benar-benar keren.  Musiknya mungkin jauh dari genre pop. Tapi keseluruhan audio di seri ini menggambarkan nuansa ketidakpastian perjalanan waktu Steins;Gate secara pas (kalian yang tahu lagu-lagu yang dinyanyikan tokoh penyanyi FES di Chaos;Head akan tahu, maksudku).

Lalu ada satu hal aneh. Aku belum tahu banyak soal game-nya. Paling hanya sebatas soal gimana pesan teks lewat hape dalam game beserta tanggapan kita terhadapnya akan sangat berpengruh pada jalan cerita. Tapi ada banyak–banyak sekali–yang bilang, bahwa plot cerita anime Steins;Gate masih belum ada apa-apanya dibandingkan game-nya. Ini suatu hal yang lazim untuk sebuah anime yang diadaptasi dari game sih. Tapi bahkan dengan penggarapan sebagus ini, reaksi para penggemar mengenai hal ini masih terkesan agak lebih ekstrim daripada biasanya.

Saking bagusnya, plot cerita game Steins;Gate bahkan pernah disebandingkan dengan 428: Fusa Sareta Shibuya de, visual novel sangat ternama yang meraih nilai penuh(!) dari majalah game Famitsu, dan belakangan menginspirasikan seri Canaan yang dipenai Kinoko Nasu. Intinya, Steins;Gate sedari awal memang memaparkan suatu konsep bagus yang sudah lama tak ditemukan sebelumnya.

Akhir kata, ini seri yang sangat memuaskan buatku. Dengan bobot kerumitan dan kesuraman(?)nya, mungkin cocoknya untuk penonton berusia dari akhir remaja hingga dewasa muda sih. Tapi kurasa yang paling akan menikmati Steins;Gate tetaplah kalangan penggemar anime secara umum.

Kalau kau tak menyukai Steins;Gate, kurasa memang itu karena pada dasarnya kau kurang cocok dengan temanya (atau bisa juga karena kamu kesulitan  mengikuti semua perkembangan ilmiahnya). Tapi jika sebaliknya, sangat mungkin kadar ketertarikanmu akan jauh melebihi ketertarikanmu atas seri-seri yang biasa. Ditambah lagi, tema cinta dan persahabatan di dalamnya tereksekusi dengan sangat baik BTW. Jadi seri ini tidak melulu soal konspirasi dan kegilaan menyelamatkan dunia. Dan, di akhir seri, kau enggak bisa enggak jadi menyukai Oka-, maksudku, Hououin Kyouma, dengan tawa membahananya.

Aku benar-benar cuma merasa seri ini merupakan sebuah pengalaman yang terlalu sayang untuk tak kau tonton.

Penilaian

Konsep: A+; Visual: A; Audio: A; Pengembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+


About this entry