The Vision of Escaflowne

Pertengahan tahun 90-an (bagiku) merupakan salah satu era ‘keemasan’ anime. Bukan cuma karena banyak seri menarik yang keluar di masa ini. Tapi juga karena anime secara umum telah mulai mendapatkan perhatian di luar Jepang. Ada pangsa pasar baru mulai terbuka. Sejumlah trend lama mulai ditinggalkan. Lalu sebagai gantinya, semakin banyak ide dan cara pendekatan baru yang digarap. Internet masih terbatas cakupannya. Dan belum, gelombang moe masih belum berlangsung pada masa ini.

Eniwei, berhubung Sakamato Maaya, salah satu seiyuu favoritku, belum lama ini menikah dengan sesama seiyuu, Suzumura Kenichi, aku kepikiran untuk menulis tentang seri ini: anime mecha The Vision of Escaflowne (‘visi Escaflowne’; ‘visi’ dalam arti ‘gambaran’, ‘penglihatan’, atau ‘ramalan’) salah satu bentuk olahan baru yang mencoba memadukan elemen-elemen paling kontras dari nuansa shonen sekaligus shoujo. Seri berjudul asli Tenkuu no Escaflowne (‘Escaflowne dari langit’) ini merupakan hasil produksi studio animasi Sunrise (spesialis anime-anime mecha pada masanya) pada tahun 1996 (ketika ponsel masih belum banyak dan pager masih lebih digandrungi) dengan Akane Kazuki sebagai sutradara.

Anime ini yang melambungkan nama Sakamoto Maaya-san sebagai penyanyi sekaligus pengisi suara. Tidak hanya menyanyikan lagu pembuka ‘Yakusoku wa Iranai’ (‘tak perlu berjanji’)—yang digarap secara apik oleh komposer terkenal Kanno Yoko—di sini ia juga mendapatkan debutnya sebagai pengisi suara tokoh utama Kanzaki Hitomi, seorang siswi SMA yang dikisahkan terlempar ke suatu dunia lain yang ajaib.

Ya, Escaflowne merupakan anime jadul. Ya, sekilas, temanya seperti sudah basi digarap sampai berulang kali. Lalu ya, ini termasuk salah satu seri yang tak terlalu menonjol pada masanya. Tapi ini termasuk salah seri paling berkesan buatku. Ditambah lagi Escaflowne memiliki kalangan penggemar yang benar-benar sangat berat pada masanya.

Lebih banyak soal detilnya akan kubahas lebih lanjut di bawah.

Your mystic eyes are turning me on fire

Kanzaki Hitomi dikisahkan merupakan seorang gadis remaja tomboi yang memiliki kemampuan meramal. Bakat melihat masa depan ini ceritanya ia warisi dari neneknya, yang diimplikasikan berasal dari luar negeri  Dengan kemampuannya ini, Hitomi dengan senang hati membantu masalah teman-temannya dengan memberikan ramalan-ramalan melalui kartu Tarot, terutama yang berkenaan soal cinta. Tapi Hitomi sendiri baru terdorong untuk menggunakan bakat ini untuk kepentingannya sendiri saat ia terpikir untuk menyatakan pada kakak kelasnya di klub atletik, Amano Susumu.

Pada suatu sore, berkat bantuan sahabat karibnya, Yukari, Hitomi akhirnya berkesempatan untuk menyatakan cinta pada Amano-sempai. Hitomi secara khusus meminta pada Amano agar menghadiahinya ciuman pertamanya seandainya Hitomi berhasil memecahkan rekor pribadinya dalam lari jarak pendek 100 meter. Permintaan tersebut dengan senyuman kemudian disepakati Amano. Hitomi yang bahagia dengan tegang untuk pertama kalinya kemudian mencoba meramalkan nasibnya sendiri—tapi dengan terkejut ia mendapati bahwa takdir perpisahan (dilambangkan oleh kartu yang menara tersambar petir) menanti nasib mereka berdua.

Meski agak goyah dengan hasil ramalan ini, Hitomi memantapkan semangatnya untuk berlari. Tapi belum sempat 100 meter itu usai Hitomi tempuh, bayangan seorang remaja misterius berpedang muncul di hadapannya disertai hadirnya cahaya dari langit. Itulah kali pertama Hitomi berjumpa dengan Van Fanel.

Hikari no naka e

Cerita berlanjut dengan terbawanya Hitomi secara tiba-tiba ke dunia asal Van, Gaea, melalui portal ajaib yang di langit—yang diimplikasikan terkait dengan liontin permata yang Hitomi warisi dari mendiang neneknya.

Di Gaea, yang juga dihuni ras-ras manusia binatang, planet Bumi terlihat menggantung di langit dan dikenal oleh para penduduk setempat sebagai Maboroshi no Tsuki (Mystic Moon; ‘bulan ilusi’ atau ‘bulan mistis’). Van, yang ketus, pemarah, dan secara misterius bahasanya hanya dipahami oleh Hitomi selama mereka di Bumi, adalah pangeran muda negeri Fanelia, salah satu negeri di Gaea yang meski kecil, dikenal berkat kepahlawanan para samurai-nya. Lalu Van baru saja menjalani ritual pembunuhan naga yang menjadi ujian kedewasaan dirinya pada saat dirinya terlempar ke Bumi.

Kebingungan dan rasa takjub Hitomi mengenai apa yang baru terjadi semakin bertambah saat mengetahui bahwa Gaea tengah dilanda peperangan yang dikobarkan Kekasiaran Zaibach pimpinan Kaisar Donkirk. Perang ini dilakukan melalui penggunaan Guymelef, baju-baju zirah mekanik yang digerakkan secara langsung oleh pergerakan badan penggunanya hingga terlihat seperti mecha raksasa. Lalu jantung kristal dari naga yang telah Van kalahkan diperlukan sebagai energist yang menjadi sumber tenaga bagi Guymelef pusaka Fanelia, Escaflowne. Dengan dipersembahkannya batu itu kepada Escaflowne, maka Van secara resmi diakui sebagai pemilik Guymelef tersebut sekaligus calon raja berikutnya dari Fanelia.

Namun belum sempat perayaan atau upacara apapun dilangsungkan, pasukan Guymelef elit dari Zaibach pimpinan Dilandau Albatau melakukan agresi terhadap Fanelia. Tentara Guymelef milik Fanelia bukan tandingan pasukan Guymelef yang memiliki kemampuan untuk menjadi tak kasat mata. Dalam waktu singkat, Fanelia diluluhlantakkan. Lalu Hitomi, beserta Van, terpaksa diungsikan begitu diketahui bahwa sasaran Zaibach ternyata tak lain adalah Escaflowne.

Di perbatasan negeri tetangga, Asteria, mereka berjumpa pendekar pedang handal Allen Schezar yang kemudian membantu mereka—yang secara mengejutkan bagi Hitomi memiliki wajah dan pembawaan sangat mirip dengan Amano. Pada saat itu, Hitomi belum mengetahui betapa takdirnya telah terkait dengan takdir Van, Allen, Escaflowne, sekaligus Gaea secara menyeluruh.

Berkembang dan Berkembang Lagi

Inti cerita Escaflowne pada awalnya adalah tentang pelarian Hitomi dkk mengelilingi Gaea dari Zaibach, sekaligus upaya mereka mengungkap rahasia-rahasia yang Escaflowne miliki. Tema ini sudah berulangkali diangkat dalam banyak seri mecha lain. Tapi yang membuat Escaflowne istimewa—dan tetap menjadikannya unik hingga sekarang—adalah jenis pendekatan karakter yang dilakukannya, yang banyak mengandung elemen-elemen shoujo.

Sepanjang cerita, Hitomi berusaha memahami dunia baru di sekelilingnya, dan kerap bertanya-tanya tentang perasaan dan masa lalu yang tersembunyi dalam benak dan hati Van dan Allen. Van di awal-awal memiliki sikap begitu menyebalkan. Tapi ia sulit untuk tak bersikap demikian karena tanggungan beban emosi berkenaan kedudukannya sebagai pangeran yatim piatu, sekaligus kenyataan kakaknya yang hilang, Folken Fanel, adalah putra mahkota ‘gagal’ yang kini malah bersebrangan dengannya sebagai ahli siasat Zaibach. Allen, yang begitu mempesona di mata Hitomi dan semua orang, sedikit demi sedikit terungkap traumanya karena hilangnya adik perempuannya secara misterius. Ditambah lagi adanya sejarah kegagalan hubungan-hubungan yang berusaha ia bangun di masa lalu. Cinta segitiga terjalin di antara mereka di sepanjang cerita, melibatkan pula hubungan-hubungan dengan banyak tokoh lain. Dan meski ini bakal agak membuat penggemar mecha kebanyakan merasa ‘aneh,’ perkembangan plotnya memang menarik untuk diikuti, dan nuansa ceritanya yang ajaib seakan bisa menarik para pemerhati untuk mengikuti lebih dan lebih banyak lagi.

Cerita semakin berkembang dengan terungkapnya alasan mengapa Escaflowne yang merupakan warisan ras kuno Ispano begitu diburu. Tema ‘takdir’ dan intepretasi seri ini akan maknanya akan banyak diangkat. Lalu semua itu terkait dengan latar belakang sesungguhnya Kaisar Donkirk yang misterius serta hubungan semua ini dengan garis keturunan yang dimiliki Hitomi, yang menjadi alasan mengapa dirinya dipanggil ke dunia ini.

Pendek kata, Escaflowne merupakan seri mecha dengan porsi perkembangan karakter paling gila-gilaan yang pernah kutahu. Apalagi jika mengingat karena terbentur rating, Escaflowne sempat dipotong durasi penayangannya (seperti pada kasus Gundam dan Ideon) menjadi hanya 26 episode, jauh lebih sedikit dari 39 yang semula direncanakan. Tapi dengan keterbatasan episode itu, berkat kepiawaian Akane-san sebagai sutradara, Escaflowne berhasil menyajikan plot utamanya sampai benar-benar tuntas dengan semua pertanyaan utama bisa dikatakan terjawab. Itu menjadi salah satu alasan mengapa untuk menikmati Escaflowne, orang benar-benar harus memperhatikan jalan cerita yang disajikan per episodenya, agar bisa mencerna sendiri kesimpulan apa yang dicapai Hitomi dan kawan-kawannya di episode akhir.

 Kimi o, kimi o, aishitru. Kokoro de mitsumete iru…

Aku katakan secara jelas bahwa lebih baik kau tak mencoba menonton Escaflowne karena aksinya. Karena bukan itu suguhan utama yang seri ini tonjolkan. Sekalipun demikian, kalau bicara soal aksi, sebenarnya ada banyak sekali elemen keren di Escaflowne.

Mecha-mecha Guymelef di Escaflowne itu, singkat kata, keren. Bentuk mereka menyerupai baju zirah ksatria abad pertengahan gitu, lengkap dengan jubah dan senjata pedang logam, tapi dibentuk secara eksotis dengan motif-motif ajaib. Desain mereka menjadi sesuatu yang ‘menyegarkan’ karena bebas dari senjata-senjata proyektil jarak jauh berkekuatan dahsyat seperti yang ada dalam anime-anime mecha kebanyakan. Terutama Escaflowne, yang dapat berubah menjadi bentuk naga dengan Van menunggangi sembari memegang ‘tali kekang’ di punggung, dan pada saat yang sama jubah yang dimiliki Escaflowne menjadi lapisan pembentuk sayap-sayapnya. Guymelef lain yang seri ini tonjolkan, seperti Schezarade yang dimiliki Allen, juga keren kok. Hanya saja kuantitasnya mungkin tak sebanding dengan screen time masing-masing secara menyeluruh.

Perlu diperhatikan, karena alasan yang sama pula, kau perlu waktu agak lama untuk terbiasa dengan implementasi jenis desain ini. Karena elemen-elemen pertarungan antar Guymelef di sepanjang seri secara alami menyerupai duel-duel pedang klasik, dan elemen-elemen aksi perorangan non-Guymelef tak ketinggalan pula mendapat sorotan. Intinya, kau takkan menemukan banyak ledakan dan tembak-tembakan seperti halnya dalam Gundam Wing atau anime-anime mecha kebanyakan, sekalipun kau akan melihat adegan-adegan di mana ada banyak darah tertumpah.

Bicara soal presentasinya, Escaflowne menghadirkan salah satu kualitas animasi terbaik pada masanya, dengan frame-frame yang ramai dan berganti secara cepat. Visualnya jadi terkesan menakjubkan karena seakan ada banyak sekali yang coba diperlihatkan dalam satu waktu.  Desain karakternya mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Tapi lambat laun kau akan terbiasa, apalagi begitu menyadari itu jenis desain yang sempurna untuk menyeimbangkan nuansa kontras shonenshoujo yang seri ini angkat.

Soal musik, di sinilah Escaflowne sangat menonjol. Alunan musik yang mengisi seri ini bernuansa Celtic dan secara indah mewarnai dunia Gaea. Lalu lagu pembukanya itu, sial, sampai sekarang aku masih sering merasa lagu itu terlalu pendek sekaligus terlalu bagus. Komposisi-komposisinya terkesan eksotis bila didengar secara individu. Substansinya mungkin tak akan terlalu menonjol di luar seri (dengan pengecualian ‘Yakusoku wa Iranai’ tadi). Tapi sama sekali tak bisa dibilang jelek kok.

Menjelang paruh akhir, cerita memang menjadi terkesan abstrak dan agak dikebut karena alasan yang sudah kupaparkan di atas. Tema yang diangkatnya juga bisa agak membuat dahi berkerut. Tapi keunggulan seri ini di sisi para karakternya menjadi penyeimbang hal tersebut. Jadi tidak, kasusnya sama sekali tak seekstrim kasus seri TV Evangelion. Terlebih dengan semakin ditonjolkannya identitas sesungguhnya Dilandau, serta adanya adegan pertarungan terakhir antara dua rival besar, Van dan Allen—yang super pendek tapi luar biasa keren!—di penghujung seri ini.

Kesuksesan seri ini di kalangan penggemar kemudian memunculkan film layar lebar The Vision of Escaflowne: A Girl in Gaea, yang merupakan reintepretasi ulang dari jalan cerita di seri TV. Film layar lebar ini menghadirkan premis cerita yang serupa, tapi dengan sifat tokoh dan nuansa yang sama sekali berbeda. Soal satu ini mungkin lebih baik kubahas lain waktu.

Escaflowne itu jenis anime yang bila kau suka, kau akan suka banget. Tapi bila kau biasa, maka kau akan biasa saja. Mengingat belum ada lagi anime sejenisnya yang hadir sampai sekarang, kurasa ini salah satu seri yang akan kurekomendasikan. Itu pun jika kau tak keberatan dengan kualitas video yang jadul.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A; Audio: S; Perkembangan: A+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A


About this entry