Fate/Zero

Anime-nya sudah mau keluar, jadi baiknya aku menulis sesuatu tentang ini.

Aku yakin semua orang sudah tahu; seri Fate/Zero adalah seri prekuel dari seri visual novel terkenal Fate/stay night yang diciptakan pengembang game TYPE-MOON. Pertama dikeluarkan dalam bentuk rangkaian novel yang terdiri atas empat buku , seri Fate/Zero menghadirkan cerita yang lebih ‘dewasa’ dan ‘keras’ dibandingkan  Fate/stay night.

Novel Fate/Zero sepenuhnya ditulis oleh Urobuchi Gen mengikuti plot cerita yang telah disetujui penulis skenario utama TYPE-MOON, Nasu Kinoko. Bagi yang belum tahu, Urobuchi-sensei sebelumnya dikenal sebagai salah satu penulis skenario untuk perusahaan game Nitroplus. Desain karakter yang menghiasi halaman-halaman ilustrasi novel ini masih ditangani oleh partner lama Nasu-sensei, yakni ilustrator Takeuchi Takashi.

Berbicara soal adaptasi anime-nya, studio yang bertanggung jawab dalam pembuatannya adalah ufotable. Studio ini sebelumnya menarik perhatian berkat penanganannya atas rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai—adaptasi anime dari suatu seri novel lain keluaran Nasu-sensei yang berjudul sama.

Studio ini berbeda dari studio yang sebelumnya menangani adaptasi anime Fate/stay night  (studio DEEN), jadi perbedaan nuansa dan gaya eksekusi cerita sudah menjadi suatu hal yang diharapkan.

Bagi Mereka yang Tak Mengikuti Fate/stay night…

Serupa dengan seri induknya yang sama-sama mengangkat insiden Perang Cawan Suci (‘holy grail war,’ ‘seihai no sensou’), Fate/Zero mengisahkan Perang Cawan Suci keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya, masih di kota Fuyuki, Jepang. Bagi mereka yang tak mengikuti Fate/stay night, ‘perang’ ini pada dasarnya semacam kompetisi rahasia untuk memperebutkan artefak sihir Cawan Suci yang berkekuatan dahsyat dan diyakini mampu mengabulkan permohonan apapun dari pemiliknya.

Memperebutkan hak kepemilikan atas Cawan Suci, adalah tujuh orang penyihir (magus) yang disebut para Master. Ketujuhnya ditemani suatu roh pahlawan legendaris (‘heroic spirit’, ‘eirei’) yang disebut Servant. Antara keduanya terjalin kontrak kerjasama yang terwujud dalam bentuk tiga rajah Command Seal (‘reiju’?) pada salah satu tangan setiap Master.

Setiap Command Seal ini memungkinkan Master memberikan tiga perintah absolut kepada Servant-nya, termasuk perintah-perintah yang lazimnya berada di luar kapasitas kemampuan ataupun kemauan mereka. Habisnya ketiga Command Seal ini akan menandai gugurnya seorang Master dari Perang Cawan Suci.

Setiap pasangan Master-Servant memiliki tujuan menjatuhkan keenam pasangan Master-Servant lain. Baik itu dengan membunuh atau dengan memaksa Master pasangan lain menghabiskan Command Seal yang ia punya. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat kehormatan untuk mewujudkan satu permohonan mereka dengan kekuatan Cawan Suci.

Para Servant ini ceritanya makhluk-makhluk astral yang memiliki kemampuan jauh melebihi manusia-manusia kebanyakan. Sekalipun demikian, kekuatan mereka turut dipengaruhi pula oleh kapasitas kekuatan sihir yang Master-nya miliki.

Setiap Servant juga memiliki senjata/pusaka/kemampuan khas mereka masing-masing yang secara umum disebut Noble Phantasm, yang sekaligus juga menjadi semacam perlambang identitas mereka.

Ada tujuh kelas Servant yang mungkin dapat dipanggil—setiap kelas hanya bisa ada pada satu waktu.

Sesudah salah satu roh pahlawan menjadi Servant, roh pahlawan tersebut akan mulai disebut dengan nama kelasnya agar identitasnya terahasiakan. Alasannya agar kerahasiaan identitas seorang Servant tak sampai bocor. Karena identitas asli mereka akan membeberkan segala hal tentang kekuatan dan kelemahan mereka (para Servant merupakan figur-figur ternama yang ada dalam mitolgi-mitologi terkenal dunia).

Countdown

Inti cerita Fate/Zero sama saja dengan Fate/stay night, yaitu soal bagaimana ketujuh pasangan ini saling memburu dan bunuh. Tapi yang membuatnya menarik adalah ‘para pemerannya’ yang berbeda serta bagaimana ceritanya dituturkan dari sudut pandang ketujuh pasangan Master-Servant yang ada.

Kelas-kelas Servant yang ada beserta pasangan Master mereka dalam Perang Cawan Suci kali ini antara lain:

  • Saber, pengguna pedang yang memiliki statistik paling seimbang di antara kelas-kelas Servant lain. Dipandang sebagai kelas Servant yang paling difavoritkan menjadi juara. Identitas asli Servant Saber adalah Arturia, perempuan muda yang merupakan identitas sebenarnya dari raja ksatria yang dulu pernah memimpin Britania Raya. Master-nya adalah Emiya Kritsugu,  ‘pemburu magus’ profesional yang mewakili pihak Einzbern, salah satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini. (Ya, tokoh Saber ini sama dengan yang muncul di Fate/stay night.)
  • Archer, spesialis serangan-serangan jarak jauh. Memiliki keunggulan untuk bersikap independen tanpa tergantung pada keberadaan Master-nya. Master Servant Archer adalah Tohsaka Tokiomi yang mewakili pihak Tohsaka, satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini. Sebagaimana yang dibeberkan dalam perkembangan cerita Fate/stay night, identitas asli Servant Archer ini adalah raja para raja dari Babylon, Gilgamesh.
  • Lancer, spesialis pengguna tombak yang memiliki fokus lebih ke kelincahan. Master dari Servant Lancer yang gentleman ini adalah Kayneth El-Melloi Archibald, figur bangsawan ambisius dari pihak Mage’s Association yang mengawasi ritual.
  • Rider, spesialis pengguna ‘tungganggan’ yang memungkinkannya  memiliki daya hancur besar. Identitas asli dari Servant Rider adalah Alexander, raja pemberani yang pernah nyaris menguasai seluruh dunia. Master-nya adalah Waver Velvet, murid muda Kayneth yang menyimpan rasa antipati terhadap gurunya. Waver turut serta dalam kompetisi ini dengan mencuri artefak yang sebelumnya hendak Kayneth gunakan sebagai katalis pemanggilan Servant. Dengan demikian, Waver menjadi Master dari Rider, dan menjalin hubungan tak biasa dengan Servant-nya itu.
  • Caster, spesialis pengguna sihir. Identitas aslinya adalah Giles de Rais alias Bluebeard, penyihir keji yang konon pernah menjadi orang kepercayaan Joan of Arc sebelum kewarasannya hilang. Master-nya adalah Uryu Ryunosuke, pemuda tampan yang sebenarnya adalah pembunuh berantai anak-anak yang belakangan menghantui Fuyuki.
  • Berserker, Servant yang menukar kewarasannya dengan amarah dan kekuatan besar, karenanya sulit dikendalikan. Wujud berupa ksatria hitam yang dimilikinya mampu menggunakan apapun yang diraihnya sebagai senjata setingkat Noble Phantasm. Master Servant misterius ini adalah Matou Kariya, teman masa kecil dari istri Tokiomi,  Tohsaka Aoi, yang mengambil resiko teramat besar untuk menjadi Master untuk suatu alasan yang teramat pribadi. Kariya merupakan wakil pihak Makiri, salah satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini.
  • Assassin, spesialis kerahasiaan dan pergerakan sembunyi-sembunyi. Master Servant Assassin adalah Kotomine Kirei, pendeta executioner muda yang meski berasal dari pihak Gereja yang semestinya berperan sebagai ‘juri’ yang netral, tetap telah diutus secara khusus oleh ayahnya, Kotomine Risei, untuk membantu Tohsaka Tokiomi. (Ya, ini Servant yang  serupa/sama dengan True Assassin yang muncul dalam rute Heaven’s Feel di Fate/stay night. Demikian pula dengan Kotomine Kirei.)

Suram dan Pelik

Semua yang sempat mengikuti Fate/stay night pasti tahu bagaimana Perang Cawan Suci keempat ini akan berakhir. Tapi sebagaimana harapan para penggemar, inti cerita Fate/Zero lebih kepada detil bagaimana persisnya semua terjadi daripada soal akhir ceritanya sendiri. Jadi mungkin cerita Fate/Zero bakal lebih bisa dinikmati oleh mereka yang tak asing dengan Fate/stay night.

Dalam narasinya, sudut pandang masing-masing tokoh diangkat secara bergantian. Intrik dan rencana setiap pihak dipaparkan, beserta keterangan orang-orang yang terkait dengan mereka. Ujung-ujungnya, kita akan memahami motivasi dan latar belakang masing-masing tokoh, dan ceritanya ditulis sedemikian rupa sehingga kita sulit untuk tak simpati terhadap setiap tokohnya, termasuk yang ‘sakit’ sekalipun.

Cerita tragis Fate/Zero dalam kurun waktu hanya empat buku benar-benar berkembang ke arah yang gelap. Kita melihat bahwa sekalipun segalanya telah diupayakan, suatu hal yang tak terduga ujung-ujungnya pasti terjadi. Terus rasa simpati apapun yang sebelumnya kita miliki terhadap para tokohnya bisa jadi malah hanya membuat kita semakin depresi.

Hal ini paling terlihat dari sifat para tokohnya sih.

Emiya Kiritsugu—tokoh sentral yang kelak dikisahkan menjadi ayah angkat dari tokoh utama Fate/stay night, Emiya Shirou—digambarkan sebagai pribadi yang ‘menyedihkan.’ Dalam artian, dia mau usaha kayak gimanapun juga, dirinya pasti bakal ‘kalah’ dari satu segi, dan Kiritsugu sepenuhnya sadar tentang hal ini tapi merasa tak bisa berbuat apa-apa tentangnya.

Kesan Kiritsugu di Fate/Zero sangat berlawanan dari imejnya yang ramah dan hangat di adegan-adegan kilas balik Fate/stay night. Ideologi kepahlawanannya yang sebelumnya sekilas terkesan kekanak-kanakan digambarkan sebagai semacam fanatisme yang menakutkan di Fate/Zero. Di satu sisi dirinya adalah seorang pria sederhana yang ingin meraih kebahagiaan bersama keluarganya: istrinya, Irisviel von Einzbern, dan putrinya, Illyasviel. Tapi di sisi lain, Kiritsugu seorang pembunuh berdarah dingin yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya—termasuk mencabut nyawa banyak orang bila hal tersebut diyakininya dapat menyelamatkan nyawa lebih banyak orang lagi.

Mengimbangi Kiritsugu adalah versi muda Kotomine Kirei. Kotomine ceritanya seorang pria ‘kosong’ yang kemudian merasa bisa menemukan makna keberadaannya dalam jati diri Kiritsugu. Semenjak awal, Kotomine dan Kiritsugu menetapkan satu sama lain sebagai ‘target yang perlu diawasi’ dan dinamisnya hubungan keduanya menurutku menjadi salah satu daya tarik utama seri ini.

Sifat dan kedudukan keduanya juga digambarkan berpengaruh terhadap orang-orang di sekitar mereka: Kiritsugu terhadap Saber (terutama karena perbedaan prinsip mereka dalam menggapai tujuan) dan asistennya, wanita muda veteran perang bernama Maiya Hisau. Sedangkan Kirei terhadap ayahnya dan Servant Archer, yang ternyata diam-diam menaruh minat mendalam terhadapnya.

Konflik-konflik kepentingan serupa juga dialami oleh para Master yang lain. Waver yang lemah tapi arogan ingin menjatuhkan Kayneth. Tapi dirinya sulit bekerjasama dengan Rider yang barbar. Kayneth yang perhitungan memiliki masalah dengan tunangannya sekaligus penyuplai kekuatan sihir untuk Lancer, Sola-Ui Nuada-Re Sophia-Ri, yang memandang Kayneth tidak terhormat. Caster terkesima sekaligus frustrasi oleh Saber, yang diyakininya sebagai reinkarnasi dari Joan of Arc yang ia puja. Lalu Kariya, yang sebenarnya tidak memiliki bakat sihir, setiap hari terus digerogoti nyawanya akibat kontrak yang ia jalani dengan Servant Berserker, ditambah lagi dengan dendam pribadi yang ia miliki terhadap figur misterius Matou Zouken yang berada di balik keluarga Matou. Tohsaka Tokiomi pun, yang tidak lain merupakan ayah dari Tohsaka Rin, salah satu heroine di Fate/stay night, ternyata adalah seorang oportunis brengsek yang sangat berlawanan dengan kesan terakhir yang Rin miliki terhadapnya.

Aku masih belum menyebut semua tokoh. Tapi percayalah bahwa alur cerita Fate/Zero, sesudah kau terbiasa dengan temponya, bisa sangat seru sekaligus menyayat hati.

Dengan adegan-adegan aksi keren yang turut diwarnai intrik dan strategi, kurasa kalian yang merindukan jenis drama dan ketegangan yang dibawakan Code Geass: Hangyaku no Lelouch akan tertarik dengan adaptasi anime cerita ini.

“…What lies there is just cold despair and a sin called victory, built on the pain of the defeated.”

Sekali lagi, Fate/Zero itu paling baik diikuti sesudah tahu sedikit banyak tentang cerita Fate/stay night. Atau setidaknya pernah mengikuti versi anime-nya hingga akhir. Ada beberapa spoiler bagi mereka yang belum menamatkan Fate/stay night di seri ini. Jadi saranku, bagi yang belum tahu cerita sekuelnya, ikutinya dengan hati-hati.

Di mataku, cerita ini kayak lukisan perjuangan hidup orang-orang yang berusaha memperbaiki nasib. Kalau kau sanggup merenungkan dan mencernanya, mungkin kau akan terkesima karena ceritanya bisa membuat pikiranmu semakin terbuka. Tapi kalau kau benci cerita-cerita kayak gini, atau menganggapnya enggak guna, menjauhinya juga bukan masalah kok.

Keempat novel Fate/Zero telah usai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh para fans dan dapat ditemukan di Internet. Gaya tulisan novel Urobuchi Gen memang berbeda dari gaya cerita game Nasu Kinoko. Aku sendiri perlu waktu lama agar terbiasa dan tak menganggapnya bertele-tele. Tapi garis besar nuansa yang dibawakannya kurang lebih sama kok.

Satu hal menarik di postface buku pertama; Urobuchi Gen mengakui betapa dirinya sebenarnya ingin menjadi penulis yang menghasilkan karya-karya yang menghangatkan hati. Bagi yang tahu tentang dirinya, upayanya ini jelas-jelas gagal total bila meninjau cerita-cerita di game-game Nitroplus. Karena itu dia merasa bahwa tawaran untuk menulis Fate/Zero merupakan kesempatan bagi dirinya untuk berubah menjadi ‘pahlawan cinta’ seperti Nasu. Jadi meski gelap, kayak kebanyakan cerita TYPE-MOON yang lain, ceritanya masih sebuah cerita yang menyisakan sedikit cahaya harapan di ujung sana.

Yah, gampangnya, kalau kau masih belum menemukan kepuasan dari Fate/stay night, cobalah Fate/Zero. Seenggaknya dijamin kau akan menemukan suatu sensasi yang lumayan berbeda.

(Aku jadi ngerasa kayak lagi ngiklanin minuman bersoda…)


About this entry