Zegapain

Zegapain adalah anime mecha keluaran Sunrise berdurasi 25an episode, yang dibuat di pertengahan awal dekade 2000an. Anime ini dibuat berdasarkan sebuah seri game aksi tembak-tembakan berjudul sama yang dibuat sebagai salah satu game pertama konsol Xbox 360 (kapanpun aku teringat akan hal ini, aku suka bertanya-tanya sendiri tentang sudah berapa lama persisnya konsol ini ada).

Sebelumnya perlu kukatakan: ini anime yang benar-benar aneh. Anime ini jelas-jelas dibuat dalam rangka untuk mempromosikan game-nya. Tapi semakin kuperhatikan, semakin terasa sentuhan pribadi yang para pembuat berikan untuknya. Seri anime Zegapain pada akhirnya berkembang dari apa yang tampak sebagai sekedar ‘iklan’ bagi game-nya menjadi sebuah anime mecha yang bener-bener lain dari yang lain. Tolong perhatiin juga bahwa aku ngatain ini dari sudut pandangku sendiri di tahun 2011, nyaris setengah dekade sesudah anime ini dibuat.

Sejauh yang aku tahu, belum ada anime lain yang memiliki nuansa seperti Zegapain. Kombinasi sains fiksi dan drama individunya itu bener-bener belum ada yang nyamain. Jadi meski ini bukan jenis anime yang bisa dinikmati semua orang, Zegapain benar-benar jenis anime langka yang belum ada duanya. Karena itu, meski mungkin tak bisa dikatakan bagus, Zegapain boleh dikatakan merupakan salah satu anime yang paling berkesan buatku sepanjang masa.

Disorientasi Realita

Premis ceritanya sebenarnya sederhana. Remaja SMA bernama Sogoru Kyo pada suatu ketika mengetahui bahwa seluruh dunianya adalah dunia virtual (ala The Matrix).

Bumi yang sesungguhnya telah kehilangan nyaris seluruh peradabannya akibat serangan ras Gards-Ohm (sp?)–ras non-manusia misterius yang semenjak kemunculan pertama mereka mencemari planet melalui penciptaan apa yang disebut Deutera Area. Segala kenangan Kyo akan kehidupannya yang damai di kota Maihama sebenarnya tidak lain hanyalah simulasi kehidupan semu yang dijalankan sebuah program komputer kuantum yang menyimpan ‘data’ dari seluruh manusia yang tinggal di dalamnya.

Dengan kata lain, keberadaan Kyo sendiri hanyalah ‘data’, dan dirinya hanya memiliki tubuh ‘fisik’ dalam kehidupannya di server Maihama itu.

Mirip seperti di The Matrix, Kyo yang tersadar akan hal ini (sebagai salah seorang Celebrant—sebutan untuk para penduduk dunia virtual yang secara acak akan tersadar akan kenyataan dunia yang sebenarnya) kemudian bergabung dalam organisasi Celebrum (sp?)—sisa-sisa umat manusia yang masih melakukan perlawanan terhadap Gards-Ohm. Kyo, bersama seorang partner, kemudian mengemudikan Zegapain Altair, mecha humanoid mutakhir dengan persenjataan cahaya, dan menjadi salah satu harapan terakhir umat manusia untuk menyelamatkan kenangan-kenangan peradaban mereka yang masih tersisa.

Déjà Vu?

Zegapain pada gampangnya berkisah tentang perjuangan Kyo dan kawan-kawannya di kapal Oceanus–satu dari beberapa kapal induk terakhir yang umat manusia Celebrum miliki di dunia nyata. Tapi dalam pengeksekusiannya, alur penceritaan Zegapain benar-benar tak sesederhana itu. Bahkan untuk ukuran cerita sains-fiksi pun, di samping aksi, Zegapain menawarkan drama kehidupan yang agak-agak lain dari yang lain…

Jadi bagi Kyo, semua dimulai dengan munculnya seorang kakak kelas baru bernama Misaki Shizuno, gadis cantik yang suatu hari dilihatnya sedang berenang di kolam renang klub renang sekolahnya.

Shizuno seketika menarik perhatian Kyo bersama hadirnya suatu sensasi déjà vu. Kyo, yang sedang mengalami dilema karena klub renang sekolahnya terancam dibubarkan karena kekurangan anggota (ada sebuah insiden di masa lalu yang menjadi pemicu mengapa rekan-rekan seklubnya dulu meninggalkannya), menjadi tertarik untuk mencari tahu tentang Shizuno lebih lanjut. Tapi dengan heran Kyo mendapati bahwa selama beberapa lama yang tahu tentang Shizuno hanya dirinya seorang…

Sesudah serangkaian kejadian aneh yang membingungkan persepsi Kyo akan realita (seperti kenyataan bahwa meninggalkan Maihama dengan kereta hanya akan membawamu ke Maihama kembali), Kyo, yang masih kebingungan, secara terpaksa harus dibawa oleh Shizuno ke dunia nyata, karena bakatnya yang terpendam dibutuhkan Celeblum sebagai partner Shizuno dalam mengendalikan Zegapain Altair; Kyo di posisi depan sebagai Gunner (pengendali utama), dan Shizuno di posisi belakang sebagai Wizard (pengendali dukungan).

Bakat keahlian (lama) Kyo sebagai Gunner dengan cepat terlihat. Tapi Kyo, yang disorientasinya masih parah, selama beberapa lama masih mengira pengalamannya di dunia nyata sebagai bagian dari fitur permainan VR Pain of Zega yang belakangan populer di Maihama (salah satu faktornya adalah karena Dewan Siswa sekolahnya di Maihama ternyata adalah awak-awak kunci Oceanus, dengan Shima, sang ketua, sebagai salah satu komandan berpangkat tinggi di Celebrum.) Intinya, Kyo ini sebenarnya merupakan Celebrant yang agak istimewa, karena ia sebenarnya memiliki kehidupan ‘terdahulu’ sebagai pilot Zegapain Altair. Sampai pada suatu ketika, ia mengorbankan diri demi menyelamatkan Shizuno, dan akhirnya harus direkonstruksi keberadaannya dan kehilangan seluruh ingatan masa lalunya (susah menjelaskannya!). Yah, pokoknya, situasi inilah yang melahirkan banyak dilema di episode-episode awal.

Lalu, inti cerita yang sesungguhnya dari Zegapain sendiri adalah tentang proses pemahaman Kyo tentang dunia tempat ia tinggal, bagaimana ia menyikapi realitanya yang kini terbagi dua—dengan sebagian besar orang yang dikasihinya terperangkap di satu sisi, serta penemuannya akan ingatan lamanya yang telah hilang dan keberadaan masa lalunya yang nyaris terhapus.

Ceritanya sendiri semakin berkembang dengan pembeberan konsekuensi dari kehidupan Kyo dkk sebagai ‘data holografis,’ semakin bertambahnya orang yang menyadari keanehan-keanehan realita di Maihama, serta kenyataan akan apa persisnya ras Gards-Ohm yang sesungguhnya.

Entangle!

Jujur saja, dengan premisnya yang membingungkan dan eksekusinya yang agak… tak terlalu baik, agak sulit menjabarkan daya tarik anime ini ada di mana. Daripada aksi mecha, sisi yang anime ini tonjolkan lebih ke drama. Tapi dramanya sendiri, untuk ukuranku, bukan jenis drama yang bisa dikatakan berkualitas. Jadi, kalau kau tak bisa menerima hal ini, kurasa tak ada artinya seri ini kau coba. Lebih baik kau menonton yang lain. Tapi, yah, kau tahulah.

Lalu berbicara soal adegan-adegan aksinya, adegan-adegan pertempuran di seri ini sebenarnya ada lumayan banyak. Cuma, karena seri ini dibuat ketika animasi 3D masih berkembang, hasil adegan-adegan tempurnya masih belum optimal. Animasi mecha-mechanya, meski lumayan halus untuk ukuran efek khusus pada zamannya, masih memiliki kesan statis yang kurang nyaman diikuti bahkan pada zaman itu.

Adegan-adegan tempur di episode-episode awalnya malah bisa dikatakan  membosankan—terlebih mengingat bahwa ketiga unit Zegapain yang Oceanus gunakan (Zegapain Altair, Zegapain Garuda, dan Zegapain Hraesvelg–yang kebetulan pula memiliki bentuk dasar sama) memang dikisahkan sebagai senjata terhebat umat manusia menjelang kemusnahan mereka. Musuh-musuh Gards Ohm yang Kyo dkk hadapi selama beberapa lama pun kalah dengan agak terlalu gampang, sekalipun ada banyak kegentingan yang terjadi, semisal semakin sedikitnya server kuantum yang masih berfungsi atau semakin meluasnya wilayah polusi Deutera Area ciptaan Gards Ohm yang harus Celebrum cegah.

Sekalipun demikian, ‘nuansa’ yang seri ini miliki benar-benar kuat. Entah karena musiknya atau karena desainnya, setiap episode Zegapain hampir selalu bisa menampilkan kota Maihama dan kapal induk Oceanus dengan cara yang betul-betul berkesan. Mungkin gara-gara kesan itu, aku jadi terus mengikuti episode-episode seri ini. Lalu ditambah lagi, suasana sendu yang seri ini bawa membuatku jadi benar-benar bersimpati terhadap tokoh-tokoh seri ini. Meski pada awal-awalnya aku kurang bisa menyukai mereka, belakangan kita bisa memahami alasan elemen drama remaja ini ada karena semuanya akan dikontraskan dengan sifat dunia Maihama yang bagaimanapun nyatanya, tetap saja ‘semu.’

Ceritanya sendiri, sesudah melewati titik pertengahan, meski tak sampai bisa dikatakan heboh, secara agak tak terduga memang berkembang menjadi lumayan seru. Drama pribadi para tokohnya mulai mengiringi suatu upaya untuk menyelamatkan dunia. Lalu bagusnya, agak jarang-jarang untuk sebuah anime mecha, motivasi penyelamatan dunia ini benar-benar tergambar secara baik sebagai suatu kepentingan yang benar-benar pribadi. Ceritanya baru mulai bisa dikatakan seru sesudah munculnya mecha Anti-Zega Coatilique yang dikendalikan secara pribadi oleh dua tokoh antagonis Sin dan Abyss yang sangat misterius. Tapi jika kau tahan menonton seri ini sampai sejauh itu, maka kurasa kau sanggup bertahan untuk menikmati seri ini sampai tamat.

Wasurenai, kono omoi…

Akhir kata, aku belajar lumayan banyak hal dari menonton Zegapain. Terutama soal bagaimana hal-hal kecil dan sederhana dalam jangka panjang bisa menjelma menjadi hal-hal yang teramat berharga dan berarti. Mungkin aku mengatakannya dengan cara yang lebay, jadi efeknya enggak kena. Tapi aku benar-benar merasa begitu terhadap seri ini.

Animasinya monoton. Eksekusi ceritanya kerap kali aneh. Sikap para karakternya pun agak sulit dimengerti. Sekalipun Sunrise yang bikin, ini bukanlah sebuah seri anime yang bisa dikatakan bagus. Tapi sekali lagi, tetap saja ini seri yang berakhir berkesan dengan tamat yang anehnya, lumayan memuaskan.

Kalau kalian sedang mencari sebuah tontonan yang memiliki nuansa sentimentil kuat, kusarankan untuk menonton ini.

Kaminagi

Ah, hampir lupa.

Zegapain juga menjadi seri anime debut bagi seiyuu Hanazawa Kana (Sengoku Nadeko, Bakemonogatari; Amano Touko, Bungaku Shoujo) di mana ia berperan sebagai tokoh gadis teman masa kecil Kyo yang hobi membuat film, Kaminagi Ryoko. Perkembangan hubungan Kyo dan Ryoko menjadi salah satu hal paling menarik dari seri ini, terlebih dengan bagaimana mereka pada akhirnya menjadi pengendali Zegapain bersama-sama dan saling jatuh cinta.

FYI, gaya rambut default Kana-san juga sama persis dengan gaya rambut Ryoko. Ahahaha…

Penilaian

Konsep: X; Visual: B-; Audio: A-; Eksekusi: C; Perkembangan: A-; Kepuasan Akhir: A-


About this entry