Moshidora

Sewaktu aku pertama mendengar tentangnya, seketika saja aku langsung tertarik pada premisnya.

Moshidora, atau yang berjudul lengkap Moshi Koko Yakyu no Joshi Manager ga Drucker no “Management” o Yondara (kurang lebih berarti ‘gimana seandainya manajer cewek tim bisbol SMA ngebaca “Management” karangan Drucker), pada awalnya keluar sebagai novel berjudul sama karangan Natsumi Iwasaki, dengan ilustrasi buatan Yukiusagi dan Bamboo, yang diterbitkan penerbit Diamondosha menjelang akhir tahun 2009. Novel ini kudengar cukup digemari, dan menjadi salah satu novel terlaris yang dijual di Jepang pada masanya.

Versi animenya diproduksi oleh Production I.G. dan berdurasi total 10 episode. Masa penayangannya di saluran NHK adalah pada musim semi 2011, meski penayangannya tersebut sempat tertunda oleh bencana gempa besar yang menerpa Jepang pada waktu itu.

Eniwei, Moshidora berkisah tentang sepak terjang sang tokoh utama, gadis periang bernama Kawashima Minami, sebagai manajer pengganti dari klub bisbol sekolahnya, SMA Hodokubo. Minami ceritanya menjadi manajer untuk sementara menggantikan sahabat karibnya, seorang gadis lemah lembut pecinta bisbol bernama Miyata Yuki, yang pada waktu itu, karena kondisi tubuh lemah yang dideritanya, harus memulai rawat inap di rumah sakit.

Minami ceritanya pergi ke toko buku untuk mencari petunjuk tentang apa persisnya peran yang harus dijalaninya sebagai manajer klub, dan karena suatu kesalahpahaman, ia akhirnya membeli buku Management karangan Peter Drucker (FYI, orang ini beneran ada lho) yang sebenarnya merupakan buku panduan bisnis bagi orang-orang yang mau berwirausaha. Meski disadarkan akan kekeliruannya oleh Yuki, karena sudah terlanjur beli, Minami memutuskan untuk tetap membaca buku itu juga. Dan di luar dugaan keduanya, di dalam buku tersebut ternyata terkandung kunci-kunci petunjuk yang mungkin saja mengubah tim bisbol SMA mereka yang lemah menjadi tim yang mampu berlaga di Koshien, di mana kejuaraan bisbol nasional SMA di Jepang dilangsungkan.

Keju Inovasi

Seperti seri-seri anime lain yang ditayangkan di NHK, Moshidora mengandung muatan pendidikan dan terbebas dari fanservice yang tak berguna. Materi yang diusung jelas-jelas soal penerapan prinsip-prinsip manajemen untuk meningkatkan kinerja sebuah tim bisbol (istilah ‘manajer’ untuk sebuah klub olahraga SMA di Jepang memiliki makna yang agak berbeda dari ‘manajer’ dalam dunia bisnis).

Minami, dengan didukung Yuki di rumah sakit, menghadapi satu per satu tantangan yang membuat tim bisbol sekolah mereka sulit berkembang: pelatih yang kesulitan berkomunikasi, pitcher yang kehilangan kemampuannya untuk melempar strike, shortstop yang mentalnya sering jatuh di bawah tekanan, hingga kapten yang merasa tak lagi mampu memfokuskan perhatiannya untuk memimpin. Tentu saja dengan petunjuk dari ajaran-ajaran Drucker.

Materi manajemen yang disampaikan dalam anime ini mungkin agak disederhanakan. Tapi itu bukan berarti materi yang disampaikannya tidak aplikatif. Belum lagi penyampaiannya bukan dalam bentuk ceramah, melainkan nyata-nyata dalam bentuk pemaparan contoh-contoh. Sehingga filosofi ajarannya, bagi mereka yang cukup bersabar untuk menyimak baik-baik, jadi lumayan mudah diserap.

Sayangnya, dari sudut pandang umum, Moshidora (kayak kebanyakan anime NHK lain pula) bukanlah salah satu seri anime yang menonjol. Visual dan desain karakternya untuk ukuran sekarang bisa dibilang teramat sederhana. Serupa dengan beberapa seri anime drama keluaran Production I.G. lain belakangan, seperti Kimi no Todoke dan Bungaku Shoujo, sebagian besar animasi di Moshidora dibuat menggunakan tangan. Penggunaan CG-nya sangat terbatas. Tak ada nuansa ‘wah’ yang bakalan kau lihat di dalamnya. Sebagai gantinya, warna-warna sederhana yang memberikan nuansa lembut (kayak pastel?) banyak dipakai sebagai penghiasnya–secara tak langsung membuat penonton memberi perhatian lebih pada apa yang berusaha disampaikan dalam cerita alih-alih pada gambarnya.

Musiknya, di sisi lain, menurutku bisa dibilang bagus. Pembuka dan penutupnya yang dibawakan Azusa (yang juga nyanyiin intro Amagami SS) cukup kusuka. Tapi adalah BGM seri ini yang beberapa kali bikin aku terkesima. BGM-nya itu kayak yang sering dipakai di seminar-seminar motivasional gitu, yang secara perlahan membangun kerasaingintahuan peserta akan apa selanjutnya yang bisa dilakukan.

Ada sedikit drama di Moshidora, terutama menjelang akhir. Lalu meski tak ada romansa, sayangnya, eksekusi sejumlah adegannya berakhir agakĀ cheesy. Tapi pesan yang disampaikan seri ini benar-benar positif.

Kalau ada temanku yang memintaku untuk diajari soal manajemen, kurasa aku akan menyarankannya nonton Moshidora terlebih dahulu.

(Ah, dan yang mengisi suara Yuki adalah Kana Hanazawa. Kali-kali ada salah satu dari kalian yang menggemarinya juga.)

Penilaian

Konsep: A+; Visual: C; Audio: A-; Eksekusi: B-; Perkembangan: C+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry