Mobile Suit Gundam: The Origin

Mobile Suit Gundam: The Origin, yang diterbitkan oleh Kadokawa (‘origin‘ berarti ‘awal mula’), pada dasarnya merupakan satu dari beberapa manga (ya, kalo ga salah ada lebih dari satu) yang merupakan penceritaan ulang dari seri animasi Kidou Senshi Gundam buatan Sunrise yang orisinil.

Alasan manga satu ini istimewa adalah karena dibuat oleh Yasuhiko Yoshikazu, ilustrator sekaligus animator kunci dari seri yang asli. Kualitas artwork-nya, meski pada beberapa bagian terkesan klasik, bisa dibilang gila. Lalu ceritanya dikomposisikan ulang sedemikian rupa agar lebih cocok dalam bentuk manga dan lebih konsisten dengan ide awalnya. Dan yang pasti, sama seperti seri anime aslinya, seri manga ini pun sarat sampai penuh dengan elemen-elemen aksi dan drama.

Mungkin karena alasan-alasan tersebut, belum lama ini seri ini diputuskan untuk diangkat ke dalam bentuk animasi. Memang kedengarannya sedikit aneh sih, ada manga yang mengadaptasi sebuah anime, kemudian balik diadaptasi lagi ke bentuk anime. Tapi memang begitu kenyataannya. Karena jujur saja, menurutku, manga ini memang sebagus itu.

The War… again.

Aku berasumsi semua yang baca udah tahu. Tapi bagi yang belum, manga ini berkisah tentang perjuangan sekelompok pengungsi dari koloni luar angkasa Side 7 saat tempat tinggal mereka secara tak terduga berubah menjadi medan perang.

Senjata baru pihak Federasi Bumi yang tengah transit diketahui keberadaannya oleh pihak Zeon yang merupakan musuh. Tokoh utamanya, Amuro Ray, adalah seorang remaja yang secara kebetulan menjadi pilot utama senjata tersebut, yang berupa sebuah MS (mobile suit-gampangnya, robot humanoid) sangat kuat yang bernama Gundam.

Ceritanya berlatar di suatu masa ketika jumlah populasi manusia sudah sedemikian besarnya, hingga migrasi ke koloni-koloni luar angkasa sampai dilakukan karena planet Bumi sudah terlanjur penuh. Diskriminasi orang-orang Bumi terhadap orang-orang yang tinggal di koloni kemudian memicu munculnya faksi Zeon yang menyatakan perang terhadap pemerintahan Federasi. Seri ini menuturkan bagaimana Amuro dan kawan-kawannya berubah dari relawan pengungsi menjadi pahlawan-pahlawan perang yang secara tak adil menjadi andalan pihak Federasi.

Mengingat seri aslinya keluar di tahun 1979, di samping penataan ulang ceritanya, ada lumayan banyak sentuhan modern yang diberikan pada seri manga ini.

Pertama, meski sekilas terkesan tak terlalu menonjol,  semua mecha di seri ini digambarkan jauh lebih keren dibandingkan seri aslinya. Aku tak tahu apa persisnya yang membuat kesannya berbeda. Tapi segala sesuatu yang digambarkan di manga ini benar-benar terlihat lebih ‘wah’ dibandingkan di anime-nya. Artwork-nya,bagi yang belum lihat, mirip dengan yang ada di manga Gundam Unicorn: Bande Desinee, hanya saja jauh lebih luwes dan alami. Peralatan-peralatan yang digunakan mecha-mecha di seri ini juga terlihat lebih bagus. Mungkin karena detil yang ditambahkan ke dalamnya lebih banyak dibandingkan yang ada di seri aslinya.

Lalu soal karakter.  Tokoh antagonis utama, Char Aznable, perwira Zeon yang mengejar-ngejar kelompok Amuro, digambarkan karismatik dan diabolical seperti di seri aslinya. Tapi Amuro dan banyak tokoh lain digambarkan lebih riil dan kehilangan sisi kartun yang sebelumnya mereka punya. Kemuraman Amuro di seri ini terlihat lebih nyata. Bright Noa, sesuai usianya yang terbilang muda, digambarkan mudah bimbang akibat tanggung jawab barunya sebagai kapten pengganti kapal induk White Base.  Ketengilan Kai Shiden dan perasaan inferior Hayato Kobayashi juga terkesan lebih alami di seri ini. Aku bahkan sampai terkesima sendiri saat sadar betapa aku lebih menyukai penggambaran para tokoh di sini ketimbang di seri aslinya.

Terakhir, soal ceritanya sendiri, memang ada beberapa modifikasi. Tapi seri ini ternyata tak hanya memberi modifikasi, melainkan juga ekspansi. Segala sesuatunya menurutku kayak terkesan jauh lebih ‘gede’ dari sebelumnya. Mungkin karena beberapa babak cerita jadi digabung dan dipadatkan untuk mempersingkat cerita.

Hebatnya, pemaparan ceritanya yang mengikuti alur yang sama masih tetap efektif. Amuro misalnya, digambarkan sudah curiga lebih dulu tentang keberadaan Gundam, sesudah diam-diam (dengan gaya hikkikomori) mengintip isi komputer ayahnya. Pertemuan pertama antara Char dan adik perempuannya, Sayla Mass, juga dialihkan dari babak awal di Side 7 ke ketegangan insiden sabotase di markas militer Luna II, menghasilkan sebuah adegan pertemuan keren yang benar-benar berbeda sekaligus berkesan. Lalu jumlah MS yang dimiliki White Base di awal cerita secara signifikan ditambah, membuat skala pertempuran-pertempuran yang mereka lalui terkesan lebih besar. Pokoknya ada lebih banyak hal yang digambarkan dimiliki oleh kedua belah pihak, yang pastinya berujung ke lebih banyak aksi pertempuran yang dramatis dan keren.

An anime… again.

Sesudah ‘kekecewaan’ yang melingkupi sebagian fans lewat pengumuman seri baru Gundam AGE, adaptasi anime dari The Origin kurang lebih menjadi pengobat kerinduan penggemar lama akan hadirnya cerita Gundam baru yang bernuansa klasik. Meski aku pribadi tak punya masalah dengan konsep Gundam AGE, aku lumayan menantikan saat anime ini jadi juga, meski aku lebih berharap aku bisa menamatkan versi manga-nya sebelum itu (ya, versi manga-nya ini memang baru tamat).

Aku juga agak berharap nanti akan ada tambahan epilog di ending-nya sih. Atau sebuah tamat yang berbeda sekalian. Tapi soal itu biar kita lihat nanti.


About this entry