Sword Art Online – Fairy Dance

Lama tak berkunjung ke situs Baka-Tsuki, aku ke sana beberapa hari lalu. Ternyata buku ketiga dan keempat dari seri light novel Sword Art Online karangan Kawahara Reki sudah selesai diterjemahkan. Aku langsung menyimpan halaman-halamannya di kompi dan membacanya malam itu juga. (memang penerjemahan buku keduanya belum selesai sih, tapi mengingat isinya adalah cerita-cerita sampingan, kita bisa langsung membawa buku ketiga asal sudah menamatkan buku pertama)

Buku ketiga dan keempat seri ini yang bertajuk Fairy Dance melanjutkan cerita SAO sesudah tamatnya buku pertama. Buku pertama berakhir agak menggantung dengan tersadarnya kembali Kirigaya Kazuto, alias Kirito, di dunia nyata, sesudah berakhirnya perjuangan penaklukkan kastil raksasa Aincrad secara prematur.  Melalui usaha keras, Kirito mengalahkan pemimpin Knights of the Blood Heathcliff, yang sebenarnya adalah alter-ego dari pencipta SAO, Kayaba Akihiko sendiri. Dengan kalahnya Heathcliff, seluruh pemain yang kesadarannya tertawan dalam SAO terbebaskan, dan Aincrad secara perlahan hancur. Menjelang tuntasnya kehancuran itu, Kirito berjanji pada kekasihnya, Asuna (bernama asli Yuuki Asuna), bahwa di dunia nyata mereka akan berjumpa sekali lagi.

Fairy Dance dibuka dengan pemaparan tentang kehidupan Kazuto seusai masa rehabilitasinya berakhir. Fisiknya telah pulih sesudah masa penawanannya selama dua tahun di dunia virtual SAO. Perusahaan yang sebelumnya mendanai SAO, Argus, kini bangkrut, dan teknologi virtual reality-nya telah diambil alih oleh RECTO Progress, perusahaan yang ternyata dimiliki ayah Asuna, seorang pengusaha kaya raya. Kita diperkenalkan kepada Kirigaya Suguha, adik perempuan Kazuto (yang sebenarnya adalah sepupunya, karena Kazuto adalah anak angkat) yang sebenarnya telah lama memendam perasaan kepadanya (bab-bab awal cerita diambil dari sudut pandangnya).

Lalu kita dibeberkan kenyataan mengejutkan bahwa ada sekitar 300 pemain SAO yang untuk suatu sebab yang belum diketahui masih belum berhasil logout. Perangkat NervGear masih menyala di kepala mereka, dan salah satu dari 300 pemain itu tak lain adalah Asuna.

Plot utama dua buku ini mulai bergerak saat Kazuto mendapat petunjuk dari kawan lamanya, Egil, yang mengindikasikan bahwa kesadaran Asuna yang belum kembali mungkin tertawan di sebuah VMMORPG lain bernama ALfheim Online  (ALO), yang dikelola oleh RECTO. Pertemuan Kazuto dengan saudara angkat Asuna, Sugou Nobuyuki, kemudian mendorongnya untuk memasuki dunia virtual asing ini demi mencari tahu tentang apa sesungguhnya yang terjadi.

To the World Tree!

Mereka-mereka yang merasa agak ‘terganggu’ dengan perkembangan cerita di paruh akhir buku pertama kurasa akan jauh lebih menyukai cerita di dua buku ini. Perkembangan ceritanya itu benar-benar menarik, dan meski masa rentang waktu ceritanya tak panjang, pemaparan akan dunia ALO di dua buku ini benar-benar memikat. Plotnya tak kalah seru dibandingkan dengan dua buku pertama, dengan beragam tokoh menarik yang dipenuhi drama persahabatan dan pengkhianatan. (kayak di buku pertama, ada beberapa aspek ‘dewasa’ di buku empat, tapi tidak dalam porsi yang terlalu kupermasalahkan)

Ceritanya, ALO secara komersil dimaksudkan untuk digunakan dengan konsol VR baru bernama Amusphere. Tapi karena diadopsi dari kerangka permainan SAO, Kazuto bisa mengaksesnya dengan NervGear lama miliknya, dan hal tersebut secara tak terduga menyebabkan sejumlah hal aneh terjadi.

Pertama, meski sistem permainannya berbeda, Kazuto sebagai Kirito mempertahankan nilai-nilai parameter statnya yang tinggi serta penguasaannya atas beberapa skill serupa dari yang pernah dimilikinya di SAO. Kedua, meski ia memulai permainan baru sebagai pemain dengan ras Spriggan (kelebihan khusus: sihir status), Kirito mendapati dirinya terdampar di wilayah ras Sylph (kelebihan khusus: kecepatan dan kelincahan) dan secara tak sengaja terlibat konflik ras tersebut dengan ras Salamander (kelebihan khusus: parameter kekuatan). Ketiga, Kirito bertemu kembali dengan gadis AI yang menjadi ‘putri’nya selama beberapa hari di SAO, Yui, yang ternyata tertransfer data dan ingatannya bersama data-data SAO Kirito lainnya yang tersimpan di NervGear (cerita tentang Yui dikisahkan di buku kedua, dan saat ini kutulis, masih belum tuntas diterjemahkan).

Mirip dengan game-game Saga, ALO dikisahkan tak memiliki sistem leveling. Parameter stat dan sebagainya didapatkan melalui proses latihan secara berulang dan kemampuan fisik alami para pemain. Berbeda dari SAO, ada elemen sihir di dalamnya yang dapat pemain gunakan. Berbeda dari SAO pula, ALO berlatar di sebuah dunia teramat luas dengan bermacam medan dan tempat. Ciri khas ALO dibandingkan VMMO lain adalah fitur khas yang memungkinkan para pemain yang menjadi ras-ras peri untuk ‘terbang.’ Lalu karena tak ada media teleportasi instan, Kirito, dengan ditemani Yui (sebagai navigationl pixie) dan Lyfa–pemain Sylph yang ditolongnya, yang tanpa ia sadari sebenarnya adalah Suguha, mesti menempuh perjalanan panjang dari wilayah para Sylph menuju pohon raksasa Yggdrasil di tengah dunia, yang puncaknya menjadi sasaran pendakian yang merupakan tujuan utama semua pemain ALO, sekaligus tempat Asuna diyakini tertawan.

Benih Dunia Baru

Buku ketiga SAO mengisahkan awal mula Kazuto memasuki ALO, penjabaran latar belakang keluarganya yang rumit, dan berakhir pada separuh perjalanan Kirito di mana ia dan kawan-kawannya mencegah intrik dari para pemain dari ras Salamander. Buku keempat mengisahkan kelanjutan perjalanan mereka bertiga, meloloskan diri dari dunia bawah, dan kenyataan tentang hilangnya kesadaran sisa 300 pemain SAO yang sesungguhnya.

Tamat bagian cerita ini… gimana mengatakannya ya? Intinya, benar-benar memuaskan. Ceritanya mendebarkan. Agak dramatis di beberapa bagian, tapi sama sekali enggak jelek. Aku terus terang kaget karena kelanjutan cerita SAO tak kalah bagusnya dibandingkan buku pertama-nya.

Sekali lagi, dunia ALO sangat memikat. Suguha adalah tokoh yang sulit untuk tak disukai. Lalu klimaks cerita yang berlanjut dengan konfrontasi di dunia nyata, ditambah dengan pembeberan lebih banyak tentang Kayaba Akihiko, benar-benar mengesankan. Padahal berbeda dari SAO di mana nyawa dipertaruhkan, bab cerita ALO hampir seperti cerita permainan MMORPG biasa.

Aku benar-benar tak tahu bagaimana Kawahara-sensei melakukannya. Sebagai pembuat cerita, terlepas dari beberapa keanehan di seleranya, beliau benar-benar luar biasa.

Argh, aku jadi semakin tak sabar menunggu selesainya terjemahan buku-buku SAO yang berikutnya!

You translators at BT really rock!


About this entry