Atelier Rorona

Adik perempuanku kemarin akhirnya mendapatkan true ending dari game RPG Atelier Rorona: The Alchemist of Arland di PS3. Aku yang kebetulan sedang berada di sana jadi ikut menyaksikannya.

Buat yang mau tahu, Atelier Rorona adalah game Atelier pertama buatan pengembang Gust yang keluar di konsol HD. Versi bahasa Inggrisnya diterbitkan oleh NIS America (atau Europe) di paruh akhir 2010, dan tidak seperti game-game Atelier sebelumnya, game ini menggunakan grafis 3D, menjadikannya agak istimewa dibandingkan pendahulu-pendahulunya.

Aku sebenarnya bukan penggemar seri ini (meski memang tertarik dengannya). Tapi adik perempuanku sejak dulu benar-benar menyukainya. Jadi mau tak mau aku jadi tahu sedikit banyak tentangnya.

Eniwei, inti cerita Atelier Rorona tak jauh berbeda dari game-game Atelier lainnya. Seorang gadis muda bernama Rorona, yang karena suatu masalah keluarga dan sebagainya, harus berjuang menjadi alchemist yang memenuhi berbagai kebutuhan item para penduduk kota Arland. Ia memiliki batas waktu tiga tahun (yang dibagi ke dalam periode-periode tiga bulan) untuk menyelesaikan misi-misi pembuatan item dan membuktikan kehandalannya sebagai murid Astrid, alchemist pendahulunya. Jika tidak, hak kepemilikan atas workshop mereka ‘terpaksa’ akan disita oleh pihak kerajaan.

Dari segi plot, memang tak banyak yang bisa dikatakan tentangnya sih. Tapi sepertinya sudah ditetapkan sejak awal bahwa dunianya yang hidup dan karakter-karakternya yang penuh warna yang akan menjadi daya tarik utama game ini. Dari segi grafis, untuk game PS3, meski rapi dan enak dilihat, grafisnya tak bagus-bagus amat. Tapi itu masuk akal mengingat sebagai game pertama dari seri yang dibuat dalam 3D, lebih baik tak memasang sasaran yang terlalu muluk-muluk. Meski (sangat) enak didengar (dengan aransemen yang kaya), sejujurnya, tak banyak variasi yang bisa ditemukan dari segi musik. Para seiyuu berhasil menghidupkan karakter mereka masing-masing. Tapi kau benar-benar harus menikmati gameplay-nya agar tak keberatan dengan jenis-jenis track yang berulang (seperti adikku >_<).

Sebagai Rorona, dengan ditemani teman-temannya, pemain akan menjelajah tempat-tempat di sekeliling Arland sembari melawan bermacam monster untuk mengumpulkan bahan-bahan mentah yang nanti akan diramunya sebagai item sesudah pulang. Ada sekian hari yang akan terpakai untuk perjalanan, dan jumlah barang yang bisa kau bawa sekali jalan terbatas, jadi kau benar-benar harus melakukan perencanaan untuk membagi waktu demi menyelesaikan tugas-tugasmu. Di samping itu, seperti game-game semi-VN lainnya, ada suatu tingkat persahabatan (rasa sayang) antara Rorona dengan tokoh-tokoh lain, yang akan meningkat semakin seringnya kau membantu menyelesaikan permintaan-permintaan mereka.

Beberapa orang berkomentar soal eksekusi aspek eksplorasi dan tenggat waktu. Tapi secara pribadi, garis besar game ini kusukai. Maksudku, ini game Atelier pertama yang grafis sprite dan dunianya secara penuh kunikmati. Lalu desain karakternya terlihat wajar dan sama sekali tak berlebihan (meski aku ga masalah sama desain-desain sebelumnya sih). Sedikit trivia lucu, desain karakter Rorona sempat diubah dari versi Jepang-nya agar terlihat lebih ‘remaja’ karena suatu… alasan di dalam cerita game-nya. Ahaha. (FYI, dalam sebuah polling yang dicantumkan di situs andriasang, dua pertiga pengisi polling lebih menyukai versi remaja ini)

Waktu melihat adikku menamatkan, aku merasa agak terpukau karena tamat game ini memiliki semacam nuansa hangat yang sudah lama tak kulihat dalam sebuah game sebelumnya. Aku jadi tak bisa ikut nyengir saat menyaksikannya.

Mudah-mudahan sekuelnya yang keluar nanti akan sebagus pendahulunya.


About this entry