Kekkaishi

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti seri anime Kekkaishi (‘kekkai’ : medan pelindung, ‘kekkaishi’ : pengguna kekkai) sampai tamat di saluran TV langganan Animax. Terdiri atas 50-an episode dan pertama ditayangkan dari perempat akhir tahun 2006 hingga awal tahun 2008, kudengar seri ini lumayan sukses di negara asalnya saat pertama ditayangkan. Versi manga aslinya dibuat oleh Tanabe Yellow untuk majalah mingguan Shonen Sunday terbitan Shogakukan. Versi manga-nya sendiri tamat belum lama ini dengan jumlah bab total mencapai sekitar 350.

Buat yang belum tahu (mengingat versi komiknya masih diserialisasikan di sini), ceritanya seputar berbagai petualangan sepasang sahabat sejak kecil, siswa kelas 3 SMP Sumimura Yoshimori dan siswi kelas 2 SMA Yukimura Tokine sebagai kekkaishi yang secara turun-temurun melindungi tanah Karasumori di mana sekolah mereka berdiri dari serangan ayakashi (siluman) setiap malam hari. Tanah Karasumori secara berkelanjutan mengalirkan semacam energi spiritual yang akan memberi kekuatan lebih pada ayakashi. Karenanya, dengan ilmu kekkai yang mereka miliki, ayakashi yang berdatangan mencari kekuatan harus dikendalikan agar kekacauan tidak terjadi.

Bab-bab awal cerita mengisahkan tentang keseharian tak lazim mereka sebagai kekkaishi, sekaligus menggambarkan bagaimana keduanya yang begitu dekat saat masih anak-anak perlahan terpisahkan saat beranjak remaja (salah satu faktor berpengaruh adalah perselisihan keluarga mereka sih). Tapi intrik semakin bertambah dengan diperkenalkannya Urakai, organisasi misterius yang mewadahi segala hal berbau supernatural di Jepang, hadirnya pihak-pihak misterius yang sepertinya memiliki kepentingan terhadap Karasumori, serta tekad Yoshimori sendiri untuk menyegel kekuatan Karasumori untuk sekali dan selama-lamanya agar tak ada seorangpun yang terluka lagi.

Kehidupan Seorang Kekkaishi

Proses pembuatan kekkai cukup sederhana sekaligus unik. Teriakan ‘Hoi!’ dan ‘Joso!’ disertai gerakan jari telunjuk dan jari tengah untuk membidik ayakashi sasaran, ‘Ketsu!’ untuk menciptakan kekkai yang lazimnya berbentuk kotak dan mengurung ayakashi tersebut, lalu ‘Metsu!’ untuk melepaskan energi penghancur yang akan menghancurkan ayakashi terkurung hingga berkeping-keping. Barulah dengan teriakan ‘Tenketsu!’ dan dengan menggunakan tongkat yang mereka miliki, serpih-serpih ayakashi yang hancur akan diserap ke dalam sebuah lubang angin agar tidak beregenerasi lagi. Dengan demikian, bisa kau bayangkan sendiri betapa uniknya adegan-adegan pertarungan di Kekkaishi berlangsung.

Yoshimori digambarkan tidak memiliki kendali yang baik di awal-awal. Tapi ia memiliki stamina dan kekuatan luar biasa. Di sisi lain, Tokine memiliki akurasi dan teknik. Sehingga saat mereka bekerjsama, ceritanya benar-benar menjadi seru karena keduanya digambarkan menjadi nyaris tak terkalahkan.

Menariknya, sesudah setiap pertempuran, Yoshimori dan Tokine bertanggung jawab pula untuk memperbaiki segala kerusakan yang terjadi. Dengan batas waktu yang hanya sampai fajar, keduanya mesti memperbaiki semua bangunan pecah dan sebagainya dengan bantuan shikigami dan mantera pemulihan. Baru belakangan saja terungkap bahwa hal ini dimungkinkan karena kemampuan para kekkaishi yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk mengendalikan dimensi ruang.

Di samping itu, ada suatu tanda lahir aneh berbentuk kotak yang akan muncul pada keturunan-keturunan Sumimura dan Yukimura. Tanda lahir ini disebut ‘houin,’ dan tanda lahir inilah yang untuk alasan yang baru dijelaskan belakangan, menandai pemiliknya sebagai pewaris sah ilmu kekkaishi keluarga terkait.

Separuh Drama Kehidupan, Separuh Petualangan Supernatural

Daya tarik utama seri ini memang terdapat pada perkembangan hubungan antara Yoshimori dan Tokine, tentang urusan-urusan mereka dengan Karasumori, serta upaya keduanya untuk menjadi semakin kuat dan dewasa. Yoshimori yang senantiasa bertampang mengantuk dan kusut dikisahkan sejak dulu menyukai Tokine yang dikenal sebagai murid teladan. Sehingga ia sering kebingungan sendiri dengan sikap Tokine yang kini lebih memilih menjauhinya bila urusannya bukan soal ‘pekerjaan’ mereka. Tapi di sisi lain, Yoshimori sebenarnya trauma dengan suatu pengalaman masa kecil saat Tokine nyaris tewas saat melindungi dirinya dari ayakashi, dan ayah Tokine yang menjadi kekkaishi pendahulunya dulu meninggal di usia muda karena alasan yang sama.

Pemaparan segala sesuatunya di versi anime benar-benar down-to-earth dan begitu ‘kaya’ oleh emosi, meski intrik plotnya secara berangsur memang menjadi agak rumit, sehingga anime-nya begitu mudah dinikmati oleh banyak kalangan. Visualisasi efek khusus yang studio Sunrise berikan semakin menambah efek ‘keren!’ yang versi anime ini miliki. Seri anime-nya memang mencakup hanya sekitar sepertiga dari durasi manga-nya (tepatnya, sampai berakhirnya bab tentang organisasi misterius Kokuboro). Tapi aku benar-benar puas mengikuti hasilnya.

Di sisi lain, versi manga-nya itu… bisa dibilang merupakan sebuah ‘anomali’ untuk sebuah manga shounen. Gimana ngejelasinnya ya? Nuansa yang disampaikan dalam manga Kekkaishi ‘begitu lain dari yang lain,’ sehingga agak susah dicari perbandingannya. Ada intrik, ada adegan-adegan aksi, ada drama komedi sehari-hari. Tapi gilanya, elemen-elemen ini begitu kontras dengan satu sama lain dan disampaikan dengan tempo yang gila-gilaan. Menilai ceritanya secara keseluruhan, pada saat ceritanya sedang ringan, ceritanya benar-benar ringan. Tapi pada saat nuansa ceritanya sedang berat, maka ceritanya benar-benar berat sampai-sampai kau bisa jadi depresi. Lalu soal tempo cerita, Kekkaishi merupakan salah satu seri dengan tempo paling cepat yang pernah kulihat. Cerita di manganya berkembang dengan luar biasa cepat. Temanku bahkan pernah sampai berkomentar bahwa ada salah satu episode terbaik anime-nya yang sebenarnya hanya mencakup beberapa halaman dari manga-nya. Soal inti ceritanya sendiri, aku benar-benar enggan berkomentar.. Yang pasti, seri ini bukan soal perjuangan atau pertarungan atau romansa. Ini soal… hidup kali ya? Jadi mereka-mereka yang mengharapkan suatu benturan dua kekuatan dahsyat sebagai pertarungan terakhir, bersiap-siap saja untuk kecewa.

Terlepas dari itu, artwork Tanabe-sensei sendiri terbilang rapi dan enak dipandang, benar-benar sesuai dengan nuansa Jepang kuno yang Kekkaishi usung. Manga-nya bukan salah satu yang akan kukoleksi sih, meski aku tahu jelas beberapa kenalanku yang dengan setia mengikutinya. Aku puas menikmati anime-nya. Tapi manga-nya adalah soal yang sama sekali lain. Yang pasti, nuansanya yang agak sendu bukan buat semua orang.

Kekkaishi itu… ajaib. Benar-benar ajaib. Sama sekali tak mengherankan bila manga-nya sampai meraih penghargaan. Tapi karena berbagai alasan, aku sebenarnya enggan untuk menulis tentangnya. Hanya saja saat ini aku sudah tak ada pilihan lain.

Penilaian (untuk animenya)

Konsep: A+; Visual: A+; Audio: B; Eksekusi: B+; Perkembangan: B+; Kepuasan Akhir: A-


About this entry