H2

Aku menamatkan H2 belum lama ini. Aku tahu manga bisbol terbitan Adachi Mitsuru ini sudah diterbitkan sejak lama, tapi baru belakangan aku kesampaian membacanya sampai tamat.

Versi lokalnya sudah diterbitkan Elex di awal-awal tahun 2000an (yea, jadul, dan bayangin aku mulai ngebacanya sejak itu). Tapi dibandingkan karya-karya Adachi-sensei lainnya (kayak Rough atau Slow Step), manga ini terhitung salah satu karya beliau yang relatif ‘baru.’ Gaya gambar beliau di karya ini telah mencapai level kerapiannya yang khas, dan desain karakter yang beliau buat telah jauh lebih atraktif dibandingkan sebelum-sebelumnya. Mohon diperhatikan pula bahwa manga ini keluar dan berlatar di pertengahan awal dekade 90an.

H2, seperti halnya Touch, manga bisbol tahun 80an yang melambungkan nama beliau, berkisah tentang drama bisbol dan cinta segitiga anak-anak SMA. Agak berbeda dari Touch, H2 memiliki lebih banyak plot dan karakter (dan fanservice) sehingga menjadi salah satu seri terpanjang (338 bab) yang pernah beliau buat hingga saat ini. Melalui manga ini, Adachi-sensei, seperti biasa, berusaha mengangkat suatu perkembangan situasi kehidupan yang begitu ‘gila’ secara bertahap.

The Story of 2 Heroes and 2 Heroines

Berlatar di awal dekade 90an, inti cerita H2 berpusar di sekeliling empat tokoh utama:

  • Kunimi Hiro, pitcher andal yang karena suatu keadaan, terdampar di SMA Senkawa yang tak memiliki klub bisbol;
  • Koga Haruka, gadis manis penggemar bisbol yang nantinya memegang peranan penting dalam pendirian klub bisbol Senkawa;
  • Amamiya Hikari, gadis cantik teman masa kecil Hiro yang masuk sekolah berbeda;
  • Tachibana Hideo. sahabat terbaik sekaligus rival terbesar Hiro semenjak SMP, sekaligus pacar Hikari.

Cerita H2 dibuka dengan bagaimana Hiro dan rekannya semenjak SMP, catcher gemuk Noda Atsushi, memasuki SMA Senkawa dengan maksud untuk bisa melupakan baseball. Semua karena diagnosa dokter (gadungan) yang mengatakan keduanya telah mengalami cedera permanen yang menyebabkan mereka tak bisa bermain lagi.

Di sana, Hiro kemudian bertemu dengan Haruka, yang berupaya membentuk klub bisbol di Senkawa bersama sejumlah siswa lain yang antusias. Lalu pertemuan tersebut membuat Hiro dan Atsushi menyadari betapa mereka belum bisa melepaskan bisbol.

Cerita kemudian berkembang dengan upaya membangun impian mereka untuk bertanding di Koshien dari awal akibat ketiadaan klub bisbol di Senkawa. Berkat bakat hebat yang keduanya miliki, ditambah dengan kerja keras Haruka, langkah awal mereka untuk mendirikan klub bisbol akhirnya tercipta. (Termasuk dengan munculnya orang aneh sebagai pelatih, yang belakangan terungkap adalah kakak Haruka.)

Tapi akibat hal itu, keduanya tertunda untuk mengikuti kejuaraan tahun itu, dan selama masa itu, Hideo, yang kini terpisah dari mereka di SMA, telah menanjak sebagai bintang bisbol SMA di tim unggulan SMA Meiwa Daiichi di mana ia bersekolah bersama Hikari.

Perjuangan Senkawa berlanjut dengan upaya mengumpulkan anggota-anggota tim baru. Tokoh-tokoh baru diperkenalkan dengan beragam situasi mereka, baik sebagai kawan maupun lawan. Lalu semakin banyak pula yang kita ketahui tentang keempat tokoh utama.

Seiring dengan waktu, Haruka yang menjabat sebagai manajer klub jatuh cinta secara mendalam kepada Hiro. Tapi ia sadar bahwa Hiro belum bisa menerima perasaannya akibat rasa suka yang masih dipendamnya terhadap Hikari.

Sementara Hikari, yang menjadi saksi pertumbuhan Hiro yang terlambat, perlahan tersiksa saat menyadari bahwa ia tak bisa terus-terusan memperlakukannya sebagai adik begitu saja. Hideo di sisi lain mempertanyakan kepantasannya terus menjalani hubungannya dengan Hikari, karena resiko menyakiti sahabatnya sendiri. Semuanya memuncak dalam duel penentuan antara Hiro dan Hideo di atas lapangan Koshien.

“Mau apel?”

H2 adalah karya pertama Adachi-sensei yang kubaca. Aku juga tak yakin kenapa, tapi hingga kini H2 masih menjadi favoritku di antara semua karya beliau. Ada sesuatu yang membuatku menganggap H2 benar-benar istimewa. Yea, aku mengatakan ini bahkan sesudah aku menamatkan Cross Game.

Kurasa manga ini juga yang membuatku belajar tentang peraturan main bisbol. Berkat manga ini juga aku menjadi tertarik pada Ookiku Furikabute. Aku jadi semakin serius menanggapi seri-seri olahraga lainnya, menghapus bias yang telah lama ada semenjak aku menamatkan seri Slam Dunk yang legendaris (meski notabene, seperti halnya manga-manga olahraga Adachi-sensei yang lain, H2 lebih berat ke drama kehidupan para karakternya daripada ke soal permainannya sendiri).

Buat yang belum tahu, gaya eksekusi cerita Adachi-sensei agak unik. Beliau mengangkat tema-tema berat dengan cara jenaka, dan biasanya ini agak tak cocok dengan sebagian orang. Jadi bila kau termasuk orang yang merasa tak cocok, kusarankan agar tak memaksakan diri.

Cerita H2 tak selamanya muram kok. H2 masih bisa dibilang lebih cerah dibandingkan Cross Game. Ada cerita tentang bagaimana ayah Haruka ternyata tak lain atasan ayah Hiro (yang agak tak bertanggung jawab). Ada beragam kekonyolan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman. Ada rentetan-rentetan kebetulan yang sulit untuk dipercaya.  Ada lelucon-lelucon khas Adachi-sensei yang membuat pembaca nyengir (yang sekali lagi, belum tentu bisa dinikmati semua orang).

Yang pasti, aku sulit untuk tak bersimpati terhadap para karakternya, dan itu saja sudah menjadi suatu pencapaian yang hebat.

Tamatnya seri ini memang terkesan tiba-tiba. Tapi kalau diperhatikan, sebenarnya ada makna lumayan mendalam. Adegan percakapan terakhir antara Hikari dan Hideo secara jelas menggambarkan akhir segala konflik. Tapi adegan terakhir antara Haruka dan Hiro yang samar-samar mengindikasikan kelanjutan nasib para tokohnya.

Membandingkan dengan manga-manga Adachi-sensei lain, tamat H2 membuatku tercenung melebihi reaksiku dari manga-manga beliau yang lain. Aku kurang bisa menjelaskannya sih. Intinya, meski diwarnai rasa sendu, aku tak bisa tak bilang kalau tamatnya memuaskan.

Eh? Soal adegan-adegan bisbolnya? Yah, Adachi-sensei jago sih meramu adegan-adegan pertandingan bisbol yang seru. Aku agak malu mengatakan ini, tapi bisbol di salah satu manga Adachi-sensei buatku seringkali terasa lebih seru dibandingkan liputan-liputan pertandingan bisbol di ESPN.

Tapi entahlah. Mungkin itu juga cuma aku.


About this entry