Puella Magi Madoka Magica

Ketika aku mendengar berita bahwa sutradara Akiyuki Shinbo dari studio SHAFT ingin menghasilkan seri anime yang orisinil dan bertema mahou shoujo (gadis penyihir), aku sudah punya perasaan bahwa hasilnya pasti bakal lain dari yang lain. Sekurang-kurangnya layak diperhatikan. Terlebih sesudah mendengar bagaimana beliau mendiskusikannya dengan penulis Urobuchi Gen, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu penulis di perusahaan game Nitroplus sekaligus pengarang seri novel Fate/zero.

Gagasan tentang sebuah anime mahou shoujo yang bertema serius ini (sesuai gaya Urobuchi Gen) saja sudah menarik perhatian. Lalu sesudah mengikutsertakan Ume Aoki, pengarang manga Hidamari Sketch, sebagai desainer karakter awal, tak butuh lama sampai karya yang membuat penasaran para otaku ini keluar: Mahou Shoujo Madoka Magica, atau Puella Magi Madoka Magica, sebuah seri mahou shoujo yang di balik desain imutnya, bernuansa cukup gelap dengan tema cerita lumayan berat.

Bagi yang belum mendengar atau tahu apa-apa tentang orang-orang di balik pembuatannya, promo gencar Madoka mengesankan anime gadis penyihir ringan yang biasanya disukai oleh anak-anak perempuan. Namun pada kenyataannya, ini sebuah seri dramatis dengan adegan-adegan aksi keren yang secara konsisten menampilkan tema-tema pengorbanan dan kepahlawanan, membuatnya mungkin lebih cocok untuk konsumsi masyarakat seinen (cowok-cowok berusia sekitar 20 tahunan).

Seri ini pertama keluar pada masa tayang musim dingin 2011. Namun penayangan dua episode terakhirnya sempat tertunda hingga pertengahan April menyusul terjadinya bencana gempa tsunami di Jepang pada Maret 2011, yang diikuti kegentingan reaktor nuklir Fukushima. Episode-episode terakhir Madoka memang agak bernuansa apokaliptik, sehingga penundaan penayangannya bisa dikatakan masuk akal (terlebih studio SHAFT sendiri kemudian mengakui bahwa mereka memang mengharapkan waktu lebih untuk pengerjaannya). Tapi yang keren dari hal ini adalah desas-desus soal bagaimana dua episode tersebut belakangan menjadi inspirasi para sukarelawan untuk berpartisipasi mempertaruhkan nyawa demi membantu penuntasan permasalahan Fukushima di atas.

Bahkan untuk ukuran anime SHAFT, Madoka jelas bukan anime biasa. Ini benar-benar salah satu seri yang membuatku lebih terkesima dari bayanganku.

Dekonstruksi Genre Mahou Shoujo

Kalau menilik episode-episode awalnya, alur cerita Madoka sekilas memang terkesan seperti tipikal anime mahou shoujo kebanyakan.

Kaname Madoka adalah seorang siswi SMP ceroboh/baik hati/agak rendah diri karena merasa biasa-biasa saja, yang berharap dirinya bisa diandalkan agar dapat lebih membantu orang-orang di sekelilingnya. Sampai suatu pagi, ia terbangun dari sebuah mimpi di mana dirinya memandangi sesosok gadis berambut hitam panjang yang tampak tak asing, yang balas memandanginya dalam suatu lingkungan penuh kehancuran. Secara mengejutkan, gadis tersebut pada hari yang sama muncul dalam kehidupan Madoka sebagai murid pindahan baru yang bernama Akemi Homura.

Madoka yang ketua kelas berupaya berteman dengan Homura, tetapi Homura terbukti bersifat dingin dan menjaga jarak. Madoka bertanya-tanya tentang bagaimana Homura bisa muncul dalam mimpinya sebelumnya, padahal seingatnya baru sekali itu mereka bertemu.

Indikasi bahwa ada sesuatu yang ajaib pada diri Homura terbukti saat Madoka, bersama sahabat sekelasnya, Miki Sayaka, ketika membeli CD sepulang sekolah, tiba-tiba mendengar suatu panggilan telepatis memohon bantuan dari sesosok makhluk ajaib imut yang bernama Kyubey. Upaya Madoka dan Sayaka untuk menemukan dan menolong Kyubey membawa mereka sampai terperangkap dalam dimensi lain yang dikuasai seorang majou (‘wanita penyihir’, witch, kasarnya, ‘nenek sihir’), satu dari makhluk-makhluk jahat dari kegelapan yang bertanggung jawab atas segala bentuk pembunuhan dan keputusasaan. Hanya berkat pertolongan Tomoe Mami saja, kakak kelas mereka yang seorang mahou shoujo, keduanya bisa selamat. Pada kesempatan yang sama, terungkap pula bahwa Homura seperti Mami adalah seorang mahou shoujo, dan ternyata sosok misterius yang sebelumnya mengejar-ngejar Kyubey tidak lain adalah Homura sendiri!

Pada Madoka dan Sayaka, Mami kemudian menjelaskan segala sesuatunya tentang Kyubey dan mahou shoujo. Dengan satu permohonan yang dapat dikabulkan secara ajaib sebagai imbalan, Kyubey dapat menjalin kontrak dengan gadis-gadis seusia mereka untuk menjadikan mereka mahou shoujo yang bertugas memburu para majou. Madoka terkesan dengan kehebatan Mami sebagai mahou shoujo dan berharap bisa menjadi satu seperti dirinya. Sebaliknya, Mami menasehati Madoka dan Sayaka untuk memikirkan baik-baik permohonan apa yang akan mereka minta pada Kyubey.

Madoka, yang terlahir dalam keluarga sederhana yang sangat berkecukupan dan bahagia, sempat kebingungan dengan permohonan apa yang sebaiknya ia minta. Namun Homura, mengetahui hubungan baru mereka dengan Mami, secara misterius menentang minat Madoka dan Sayaka untuk menjadi mahou shoujo juga. Cerita kemudian berkembang dengan terungkapnya satu demi satu konsekuensi dari kontrak yang dilakukan dengan Kyubey, yang ternyata sama sekali tak ‘seindah’ bayangan para tokoh utama. Pertanyaan tentang siapa sebenarnya Homura, bagaimana hubungan antar sesama mahou shoujo, asal usul para majou, mewarnai semakin gelapnya seri ini.

Tetapi meski mengetahui kebenaran segalanya, Madoka, yang masih belum menemukan permohonannya, mendapati diri tak mampu mengalihkan mata saat mengetahui bahwa Walpurgisnacht, majou terkuat, tak lama lagi akan mendatangi kota mereka. Kebimbangan Madoka semakin memuncak seiring dengan semakin kuatnya godaan Kyubey yang menyatakan bahwa Madoka telah ditakdirkan untuk menjadi mahou shoujo terkuat sepanjang masa…

Tamerai wo nomohoshite! Kimi ga nozomu MONO ha nani? Konna…

Madoka memang lebih berat ke aspek drama dan misteri. Tapi saat ada adegan-adegan aksi, adegan-adegan aksinya itu benar-benar keren kok. Dibandingkan anime-anime keluaran SHAFT lain, pada banyak bagian, visualisasinya terbilang sedikit lebih cerah. Daya tarik visual Madoka terutama tampak pada penggambaran bangunan-bangunannya serta eksekusi adegan-adegan aksinya, yang biasa terjadi dalam dimensi para majou yang secara eksotis dianimasikan dalam bentuk potongan-potongan kertas dan kolase.

Yuki Kajiura, yang terkenal dengan komposisi-komposisi dramatisnya, turut dipilih untuk menangani aransemen musik. Grup musik yang beliau gawangi, Kalafina, berkontribusi pula dengan menyanyikan lagu penutup berjudul ‘Magia’ yang menurutku secara pribadi sangat menggambarkan intisari cerita seri ini. Animasi pembukanya sendiri diiringi lagu ‘Connect’ yang dinyanyikan Claris. Berlawanan dengan kesan umum seri, animasi pembuka ini bernuansa cerah sampai setidaknya detik-detik terakhir yang menampilkan Madoka dan Homura saling berhadap di puncak sebuah bangunan, yang menurutku memberi kesan luar biasa keren.

Singkat kata, meski mungkin agak berat untuk penonton awam dan tak akan cocok dengan sebagian orang, Madoka benar-benar seri yang layak ditonton. Ada pesan berharga agar kita berpantang menyerah sekalipun saat dihadapkan pada keputusasaan, dan pesan tersebut dipaparkan dengan cara yang benar-benar berkesan. Pengaturan tempo ceritanya benar-benar gila. Sekalipun hanya 12 episode, ceritanya luar biasa padat dan benar-benar dituturkan secara efektif.

Yah, tak dapat disangkal, ada ke-moe-an tingkat tinggi di dalamnya sih. Tapi kurasa untuk sekali ini hal tersebut bisa kuterima tanpa banyak masalah.

Oh ya, dikabarkan sejumlah spin off tengah dikerjakan berkenaan seri ini. Tapi soal itu lebih baik kuceritakan lagi nanti.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A


About this entry