Gundam Unicorn OVA 3: The Ghost of Laplace

Episode ketiga dari seri OVA Mobile Suit Gundam Unicorn, The Ghost of Laplace, dibuka dengan penyerangan pasukan ECOAS atas asteroid Palau, yang diyakini sebagai markas dari kelompok pemberontak The Sleeves.

Berpusat pada kapal induk Nahel Argama, rencana pasukan Federasi secara tak terduga mendapat perlawanan sengit dari pasukan lawan. Lalu di tengah pertempuran yang berlangsung, Banagher Links memutuskan untuk melarikan diri dari keramahtamahan keluarga Gilboa karena meyakini keberadaannya semata dapat mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Ia bersimpangan jalan dengan Unicorn Gundam; dan tanpa mengetahui bahwa sensor psychoframe MS tersebut telah disadap, memutuskan untuk melarikannya sekali lagi demi menghentikan jalannya pertempuran.

Sesuai judul episode ini, cerita kemudian berlanjut dengan persetujuan Banagher mengikuti usulan Daguza Mackle mengenai langkah mereka selanjutnya untuk menemukan Kotak Laplace. Dengan dikawal pasukan MS dari ECOAS dan Nahel Argama, keduanya membimbing Unicorn Gundam mengikuti arah navigasi Program Laplace, yang ternyata membawa mereka ke puing-puing stasiun luar angkasa Laplace yang hancur oleh serangan teroris pada tahun baru UC 0001. Suatu perkembangan tak terduga terjadi, dan pertempuran sengit sekali lagi pecah di ambang batas tarikan gravitasi Bumi.

Padat

Bila sebelumnya aku mengatakan episode kedua agak ‘memadatkan’ cerita asli di versi novelnya, episode ketiga secara gila-gilaan lebih ‘memadatkannya’ lagi. Hanya saja, hasil akhir episode ini menurutku malah lebih bagus dibandingkan episode-episode sebelumnya.

Adegan-adegan pertempuran awal di Palau, meski tak berdurasi panjang, sama serunya dengan babak pertempuran terakhir di seri Gundam manapun. Ada berbagai jenis MS yang muncul untuk saling menjatuhkan, dengan bermacam jenis manuver dan armamen, termasuk sejumlah MS lama dari seri-seri Gundam terdahulu. Koreografi pertempuran-pertempurannya—yang berlatar di permukaan asteroid, reruntuhan koloni, dan akhirnya, agak tipikal untuk sebuah seri Gundam di pertengahan cerita, di atas atmosfer Bumi—benar-benar enak dilihat; dengan didukung kualitas visual dan audio yang benar-benar keren.

Perkembangan ceritanya juga semakin menarik. Jalinan subplotnya yang semakin banyak entah bagaimana berhasil disertakan dalam durasi satu jam episode ini. Audrey Burne dan Riddhe Marcenas menjalankan rencana pelarian diam-diam mereka di tengah kancah pertempuran Palau dengan menggunakan MS Delta Plus ke Bumi; Marida Cruz yang tertawan berupaya dibebaskan oleh awak-awak Garanceries, namun Alberto Vist dan komplotannya seperti memiliki maksud mereka sendiri terhadapnya.

Seorang tokoh baru, Martha Vist Carbine, diperkenalkan sebagai rekan kolaborasi rahasia Alberto. Martha yang sebenarnya adalah bibi Banagher diindikasikan memegang sikap bertentangan dengan anggota-anggota keluarga Vist lain, dan memiliki rencananya tersendiri berkenaan Kotak Laplace. Masa lalu Marida sebagai Cyber Newtype juga sedikit banyak diungkap. Lalu sekali lagi kita bisa melihat betapa menakutkannya Full Frontal sebagai lawan, terlebih sesudah kini ia membawa lagi Rewloola sebagai kapal induknya sendiri.

Terus terang, sesudah mendengar bahwa Gundam Unicorn pada awalnya direncanakan hanya sebagai OVA empat episode, aku sama sekali tak bisa membayangkan apakah kebagusan penggarapan ceritanya bisa melebihi yang sekarang ini. Penceritaan episode ini benar-benar padat. Mungkin diperlukan menonton ulang lebih dari sekali untuk bisa sepenuhnya mencerna ceritanya, sebab ada beberapa bagian tertentu yang mungkin terasa berlangsung terlalu cepat. Tetapi sesudah beberapa kali menonton ulang, buat yang suka, kebagusan penggarapan ceritanya akan semakin terlihat kok.

Lebih banyak soal Newtype disebutkan beserta soal makna keberadaan mereka. Tapi, yah, tetap saja mungkin ceritanya terlalu sulit bagi para penggemar yang tak suka berpikir terlalu menjelimet.

Atmospheric Re-entry

Melanjutkan bahasan ke soal mecha, seperti yang sebelumnya kubilang, beberapa MS lama dari masa Perang Neo Zeon kembali muncul dalam bentuk animasi baru dengan desain yang telah sedikit disesuaikan.

Berbicara soal mecha-mecha utama, di episode ini Delta Plus memperlihatkan aksi pertamanya sebagai MS dengan persenjataan standar yang sangat tangguh berkat kemampuannya berubah bentuk menjadi pesawat. Bentuk ini pula yang memungkinkan MS hitam ini memasuki atmosfer Bumi tanpa dukungan peralatan bantu. Bagi yang belum tahu, Delta Plus merupakan bentuk modifikasi dari rancangan awal ‘Delta Gundam,’ yang pada masa seri Zeta Gundam batal dibuat karena fitur transformasinya yang melemahkan rangka. Hasil rancangan gagal ‘Delta Gundam’ ini akhirnya dibuat menjadi MS Hyaku Shiki berwarna emas, yang sempat digunakan oleh Char Aznable dalam pertempurannya bersama pihak AEUG. Dengan kata lain, Delta Plus pun merupakan salah satu dari sekian banyak homage Gundam Unicorn terhadap seri-seri Gundam yang telah lalu.

Keganasan Unicorn Gundam sekali lagi terlihat dalam pertarungan ulangnya melawan Sinanju milik Full Frontal, tapi lebih banyak tentang rahasianya juga terungkap pada beberapa adegan sebelumnya. Berbeda dari Nu Gundam atau Sazabi yang terbatas di sekitar kokpit, psychoframe Unicorn Gundam terdapat di sekujur badan, memungkinkan pergerakan fleksibel secara menyeluruh serta pembangkitan gelombang otak yang jauh melebihi kapasitas MS-MS lain dengan sistem persenjataan Newtype sejenis. Dampak dari hal tersebut baru diperlihatkan dalam episode ini.

Selain mengakibatkan bertambahnya beban mental bagi pilot, Marida juga mengomentari adanya ‘sesuatu’ pada sistem NT-D Unicorn Gundam yang hadir dengan tujuan untuk mendatangkan ‘kehancuran mutlak,’ yang sejauh ini berhasil tertahan berkat kekuatan pikiran Banagher semata. Daguza juga menilai bahwa saat terciptanya teknologi yang secara terang-terangan ‘mematikan’ evolusi manusia akan menjadi saat terjadinya titik balik dalam sejarah; yang semakin memperdalam teka-teki tentang untuk tujuan apa sebenarnya Unicorn Gundam dibuat.

Sebagai tambahan, di episode ini kita juga disuguhi aksi Unicorn Gundam dalam menggunakan persenjataannya yang baru: hyper bazooka yang Banagher andalkan untuk melumpuhkan lawan serta beam gatling gun yang diperolehnya dari Kshatriya. Menilai kualitas animasinya, hasilnya benar-benar mantap.

Fear to Sorrow

Aku sekali lagi merasa perlu berbicara khusus soal musik. Meski episode ini penuh dengan aksi menghebohkan, di luar dugaan sebagian besar musik latarnya bernuansa netral dan kurang begitu melarutkan seperti episode-episode sebelumnya. Aku sempat keheranan dengan hal ini. Tapi sesudah mengerti jalan ceritanya, aku mulai paham bahwa pilihan ini dimaksudkan untuk menggambarkan betapa makna pertempuran-pertempuran di episode ini dipertanyakan. Musik di episode ini bernuansa datar dan menggambarkan ketidakpastian, yang semakin memuncak dengan keputusasaan yang Banagher rasakan menjelang menit-menit akhir episode. Jadi meski durasi penceritaannya terbatas, penggambaran suasana dan situasinya benar-benar masuk, dan sekali lagi kupikir itu berkat kualitas musik yang disertakan di dalamnya.

Bagi yang penasaran dengan ceritanya dan tak sabar untuk menemukan jawaban semua pertanyaan di atas, kita selalu bisa menelusuri keping-keping informasi dari novelnya di Internet. Memang masih belum ada kejelasan kapan sih, tapi untuk suatu alasan aku benar-benar lebih memilih menanti dengan sabar hingga episode berikutnya dari seri OVA ini keluar.


About this entry