IS – Infinite Stratos

Anime Infinite Stratos, atau biasa disingkat IS, dibuat berdasarkan seri ranobe karangan Izuru Yumizuru yang berjudul sama. Ceritanya seputar kehidupan sang tokoh utama, remaja laki-laki tak terlalu peka yang jago membereskan pekerjaan rumah tangga, Orimura Ichika, yang menjadi satu-satunya siswa lelaki di boarding school internasional elit: IS Academy.

Anime ini keluar di masa tayang musim dingin tahun 2011 (musim dengan cukup banyak anime yang lumayan), dan kalau aku tak salah, menjadi seri anime pertama yang dikeluarkan studio animasi 8-bit. Terdiri atas 12 episode, sebagaimana yang bisa tertebak dari premisnya, ini seri yang pada dasarnya bergenre harem love comedy, meski ada bumbu-bumbu mecha yang menjadi bagian dari daya tarik utamanya juga.

Semua Teman Sekelasku Perempuan

Berlatar lumayan jauh di masa depan, dikisahkan bahwa telah ditemukan suatu sistem persenjataan exoskeletal canggih yang kemudian merevolusi ‘balapan senjata’ di seluruh dunia. Sistem yang semula dikembangkan untuk penjelajahan antariksa ini dikenal sebagai Infinite Stratos (IS), dan sesudah potensinya sebagai alat perang diketahui, suatu kesepakatan internasional sampai dicanangkan untuk membatasi penggunaannya di bidang olahraga saja. (bayangkan IS sebagai versi futuristik dari jubah-jubah perisai di Saint Seiya dengan persenjataan sinar dan perisai energi, yang bisa terpasang di tubuh pemiliknya kapanpun dibutuhkan, yang dengan demikian menjadikan para gadis yang memakainya agak-agak mirip mecha musume…)

Sekolah internasional IS Academy yang setara SMA kemudian didirikan di Jepang sebagai lembaga yang mendidik para calon pengguna IS. Di sini, remaja-remaja yang dipandang berpotensi sebagai pilot IS dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia.

Tapi terlepas dari seluruh kehebatannya, ada satu kekurangan(?) yang IS miliki. Untuk suatu alasan, penggunaannya hanya terbatas untuk kaum perempuan! Tak ada seorangpun lelaki di dunia yang mampu mengaktifkan sistem IS, dan kenyataan ini secara tak langsung telah merombak struktur sosial berkenaan gender di seluruh dunia.

Karena itu, menjadi suatu kejutan luar biasa tatkala di hari ujian saringan masuk SMA, Ichika secara tak sengaja mendapati dirinya bisa mengaktifkan sistem sebuah IS. Icihika langsung menjadi buah bibir dalam semalam, dan dirinya sampai diperiksa dan diinterogasi orang-orang misterius yang mengklarifikasi kebenaran hal ini. Pemerintah Jepang secara sepihak kemudian memaksa Icihika untuk masuk IS Academy, dan demikian, kehidupannya sebagai satu-satunya siswa lelaki di sana pun bermula.

Kukira Tiga Sudah Cukup!

Sebagai orang yang lain sendiri, Ichika harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan materi-materi pelajarannya dibandingkan teman-teman sekolahnya yang lain. Terlebih saat ia mengetahui bahwa wali kelasnya tak lain adalah Orimura Chifuyu, kakak perempuannya sendiri, yang selama ini telah merahasiakan profesinya sebagai pilot sekaligus instruktur IS sangat andal yang berwatak keras. Sebagai timbal baliknya, Ichika juga menjadi murid paling dikenal di sekolah itu, yang senantiasa menarik perhatian teman-teman sekolahnya yang lain (ehem!), dan mau tak mau harus menjadi ‘hebat’ agar tak mengecewakan pengharapan orang-orang di sekitarnya. Terlebih saat Ichika dipercaya sebagai pengguna IS melee custom Byakushiki, yang bersenjatakan pedang sinar yang sama dengan yang dulu pernah digunakan Chifuyu, Yukihira Niigata.

Untungnya, membantu Ichika, adalah teman masa kecilnya, gadis berwatak keras bernama Shinonono Houki, yang telah terpisahkan darinya sesudah delapan tahun. Houki, yang pernah menjadi juara kendo nasional, meski semula enggan karena malu, secara teratur melatih ulang fisik Ichika dan sekaligus membantunya dalam soal pelajaran. Houki belakangan juga menjadi salah satu murid yang paling dikenal saat terungkap bahwa dirinya tak lain adalah adik kandung dari Shinonono Tabane, ilmuwan wanita super jenius penemu teknologi IS yang melegenda karena keberadaannya yang misterius dicari-cari oleh berbagai pemerintahan dan agensi rahasia di seluruh dunia.

Aspek harem seri ini mulai muncul saat kepopuleran(?) Ichika mengundang perhatian Cecilia Alcott, gadis bangsawan asal Inggris yang tak bisa menerima orang dari kalangan ‘rendahan’ seperti Ichika menjadi ketua kelas. Dengan IS-nya yang custom, Blue Tears yang dilengkapi berbagai persenjataan sinar dan bit, Cecilia menantang Ichika untuk berduel dalam pertandingan IS. Sebagaimana yang bisa ditebak, belakangan keduanya bisa berteman juga.

Selain Houki yang menjaga jarak dan Cecilia yang percaya diri, jumlah gadis yang berebut menjadi sasaran perhatian Ichika bertambah dengan kehadiran Huang Lingyin (Fan Rinin), teman masa kecil lain Ichika yang berasal dari China, yang sudah lama naksir padanya. Teman sekamar Ichika sekaligus murid pindahan baru, Charles Dunois, keturunan termuda keluarga Dunois asal Perancis yang menjadi penghasil IS terbesar di dunia, belakangan terungkap jati dirinya sebagai perempuan bernama asli Charlotte Dunois, saat maksud sebenarnya menghadiri IS Academy diketahui Ichika. Charlotte yang relatif lebih level-headed pun tanpa segan-segan menunjukkan bahwa Ichika telah menjadi orang yang ia sukai. Para pemeran utama terkumpul lengkap dengan hadirnya Laura Boedwig, perwira khusus muda asal Jerman, yang mengkonfrontasi Ichika karena menyalahkannya sebagai alasan Chifuyu berhenti menjadi pilot IS.

Ketiga gadis di atas, sebagai perwakilan negara masing-masing, juga memiliki IS custom mereka sendiri-sendiri. Rinin memiliki Shen Long, IS melee untuk jarak dekat ke menengah, yang bersenjatakan sepasang Impact Cannon yang memanipulasi tekanan udara serta sepasang liuyedao (golok kembar) yang dapat disatukan. Charlotte menggunakan Rafale Revive Custom II, modifikasi canggih dari IS produksi massal yang paling banyak digunakan, yang memungkinkan dirinya sekaligus teman-temannya menggunakan berbagai jenis senjata dalam jumlah banyak. Laura memiliki Schwarzer Regen, IS tipe artileri untuk jarak menengah dan jauh, yang menyimpan daya ofensif dahsyat dan fitur khusus medan AIC yang melumpuhkan gerakan lawan.

Menjelang akhir cerita, Houki pun mendapatkan IS custom miliknya sendiri, yakni Akatsubaki pemberian Tabane yang sejauh ini menjadi IS paling mutakhir yang pernah tercipta. Meski Houki belum mahir menggunakannya, Akatsubaki dinilai setara dengan Byakushiki. Persenjataannya meliputi sepasang katana yang Houki gunakan bersamaan serta kemampuan unik untuk memulihkan energi IS lain.

Mungkin… Jumlah Ceweknya Masih Akan Bertambah

Sebagai anime, aku tak bisa berkomentar banyak tentang IS dari segi cerita. Dua belas episode ini memaparkan berbagai pengalaman Ichika dalam bertemu dan berhadapan dengan bermacam tantangan dan orang yang hadir di IS Academy, hingga puncak seri ini ketika Ichika dan kawan-kawannya secara mendadak harus menghentikan amukan Silverio Gospel, IS tak berawak buatan Israel yang lepas kendali.

Plot ceritanya lumayan tertebak dan pada beberapa bagian, sejujurnya, agak tak masuk akal. Tapi meski para produsernya jelas-jelas memberi penekanan lebih pada sisi interaksi antar karakter (sisi harem-nya…), sejumlah poin cerita penting tak dikesampingkan kok. Masa lalu ‘ajaib’ para karakternya, terutama Ichika dan Chifuyu, dipaparkan. Lalu sejumlah misteri dimasukkan pula ke dalamnya. Ada kemunculan IS tak berawak misterius di IS Academy yang ternyata memiliki core tak dikenali, serta keberadaan sosok misterius dalam benak Ichika (Byakushiki?) yang bisa jadi merupakan ‘ksatria putih’ yang Chifuyu dan Tabane pernah sebut-sebut. Masih banyak sisi dari dunia futuristik di dalam ceritanya yang belum terjamahi. Agak sayang juga bila cerita dengan latar semenarik ini dibiarkan hanya sampai sini.

Dari segi visual, meski desain dan konseptualisasi karakternya tak istimewa, tampilannya tajam kok. Animasinya halus dan enak dilihat. Setiap adegan pertempuran IS terlihat keren dan seru, meski sejujurnya aku merasa koreografi pertempurannya masih bisa lebih baik.

Aku agak malu mengakuinya, terlebih dengan tingkat fanservice-nya yang berada di ambang batas, tapi adegan-adegan komedi saat para gadis berebut perhatian Ichika benar-benar menjadi sisi paling menarik dari seri ini. Adegan-adegan komedinya tereksekusi baik. Aspek ini diperkuat dari kualitas seiyuu-nya serta jenis musik yang digunakan yang memantapkan nuansa cerah(?) yang dimiliki seri ini.

Aku tak tahu banyak soal versi ranobe-nya, mengingat aku belum menemukan info lebih banyak. Tapi seperti biasa memang ada perbedaan detil cerita di antara keduanya (di LN misalnya, Silverio Gospel dikisahkan diawaki oleh seorang perempuan bernama Natasha Fairs).

Singkat kata, aku kecewa tentang banyak hal yang ada di seri ini. Tapi di sisi lain, ada sejumlah hal yang membuatku terpuaskan juga. Ini jelas bukan seri buat semua orang, dan lagi-lagi aku mengikutinya karena minat khususku semata. Tapi asal kau tahu apa yang kau mau, ini bisa jadi sesuatu yang kau anggap lumayan kok.

(Sial, aku terlalu sensitif terhadap nyanyian Kuribayashi Minami…)

Penilaian

Konsep: D; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B-


About this entry