Radiant Historia

Belum lama ini, aku mencoba memainkan Radiant Historia keluaran Atlus untuk konsol NDS.  Untuk sebuah game berbasis 2D, ini lumayan keren lho. Ini adalah satu-satunya RPG yang mengkorporasi penjelajahan waktu ke dalam gameplay-nya semenjak Chrono Trigger keluaran Squaresoft belasan tahun lalu.

Ceritanya, dunia di game ini dilanda suatu fenomena aneh yang membuat jumlah tumbuhan dan tanah subur semakin berkurang untuk digantikan padang pasir gersang yang semakin meluas. Sisa-sisa tanah subur akhirnya diperebutkan yang berujung pada perang berkepanjangan antara negara-negara yang berkepentingan.

Kita bermain sebagai Stocke, seorang lelaki tangguh yang menjadi agen intelegensi khusus untuk pemerintahan Alistel. Sebelum suatu misi yang belakangan terbukti berbahaya, atasannya, Heiss, memberinya sebuah buku kosong yang dikatakannya sebagai jimat pembawa keberuntungan.

Tak dinyana, pada saat misi tersebut berakhir kacau, buku tersebut melepaskan suatu kekuatan ajaib dan Stocke mendapati dirinya berada di sebuah dunia lain di perbatasan sejarah yang bernama Historia. Di sana Stocke bertemu dua anak kecil yang menjelaskan padanya bahwa dunia yang dihuni Stocke saat ini berada di ambang kehancuran, dan hanya Stocke, dengan menggunakan kekuatan menjelajah waktu yang diberikan oleh White Chronicle (buku misterius yang Stocke dapat), yang bisa mencegah hal tersebut.

Stocke kemudian bisa kembali ke masa lalu untuk mengulang kembali kejadian-kejadian yang pernah dialaminya, dan mengambil keputusan-keputusan ‘alternatif’ yang akan membuka peluang terjadinya kejadian-kejadian baru. Stocke kemudian harus menemukan penyebab sekaratnya alam dan semakin meluasnya gurun pasir seraya mewujudkan pengharapan dua anak kecil ini untuk membawa dunia kembali ke ‘sejarah yang seharusnya.’

Dari segi cerita, game ini juga benar-benar keren kok. Jumlah eventnya banyak, dan secara tak disangka, ada banyak sekali tokoh dan intrik yang bermain di dalamnya. Secara berkala, Stocke diharuskan mengambil keputusan antara dua pilihan. Pada titik-titik inilah Stocke bisa ‘berkunjung kembali’ untuk mencoba mengambil pilihan yang satunya. Seperti di visual novel, ada dua timeline yang kemudian akan terbentuk, dan dengan pengetahuan yang Stocke dapat dari keduanya, masing-masing timeline atau dunia paralel ini akan saling mempengaruhi. Ada banyak teka-teki di cerita yang bisa diungkap, ada peluang kejadian-kejadian baru yang bisa kita buka, serta ada banyak subquest yang bisa tuntaskan. Tak berlebihan bila ada yang bilang bahwa sistem penjelajahan waktu di Radiant Historia membuat sistem penjelajahan waktu di Chrono Trigger terkesan kacangan.

Karakterisasinya mungkin bisa dibuat lebih hidup, dan terkadang gameplay-nya yang ‘sibuk’ bisa mengalihkan perhatian kita dari cerita. Dari segi eksekusi, game ini memang masih belum sebagus Chrono Trigger. Ada beberapa bagian yang menyebalkan dan membosankan darinya. Terlebih saat kita harus membaca ulang adegan (setiap dialog yang ada bisa kita skip kok). Tapi percaya deh, rasanya sudah lama sekali aku tak menemukan RPG Jepang yang semenarik ini.

Kasarnya, game ini seperti kombinasi yang bagus dari sebuah game Chrono dengan sebuah game Mana. Ya, ada kemiripan dengan game-game Mana dari segi grafis dan gameplay. Terlebih dengan musik yang dikomposisi oleh Yoko Shimamura. Atlus benar-benar seolah terkesan ‘meneriaki’ Square soal cara membuat game Chrono dan game Mana yang benar. (belum ada game Chrono lain selain Chrono Cross, yang jelas tak sesukses Chrono Trigger; dan sebagian besar game Mana selain dari segi grafis bisa dikatakan ‘gagal’ tanpa ada yang bisa menyamai keberhasilan Secret of Mana)

Battle systemnya juga cukup seru. Berbasis combo dan perpindahan posisi. Agak menyusahkan di beberapa bagian, tapi tak sampai keterlaluan karena durasinya biasanya cuma sebentar. Emang terkesan rumit pada awalnya. Tapi lama-lama terkesan tak jauh dari Breath of Fire IV.

Aku sudah lama menggemari game-game keluaran Atlus. Tapi dengan Radiant Historia, pengharapanku akan apa yang bisa mereka buat tampaknya telah meluas lagi.


About this entry