Star Driver: Kagayaki no Takuto (end)

Seri anime Star Driver: Kagayaki no Takuto, yang dimulai pada musim gugur 2010, belum lama ini tamat dengan durasi total 25 episode. (Omong-omong, bahasan soal movie dan lebih banyak soal tokohnya bisa dilihat di sini)

Saat yang dinantikan Head akhirnya tiba. Segel miko yang ketiga dipatahkan. Samekh, Cybody raja, bangkit. Lalu Tsunashi Takuto harus menghadapi pertarungan terakhirnya demi melindungi Agemaki Wako sekaligus dunia.

Soal kesanku, aku sependapat dengan sebagian orang soal bagaimana seri ini tidak berakhir se-epic yang dibayangkan. Ceritanya berkembang sesuai yang terbayangkan, dan konklusinya secara mengecewakan lumayan ‘terbuka.’ Tamatnya adalah jenis tamat yang membuatmu tak bisa tak berharap bakal ada epilog atau lanjutan. Pokoknya, OVA atau manga apaa gitu yang akan mengklarifikasi berbagai hal yang tersamar serta membeberkan kelanjutan nasib tokoh-tokohnya. Segala yang terjadi di episode terakhirnya benar-benar agak sulit dimengerti bagi mereka-mereka yang tak mencermati jalinan cerita episode-episode sebelumnya.

Star Driver sejauh ini bagus karena kedinamisan hubungan antar karakternya dan pembangunan situasinya yang berkesan. Ada banyak visualisasi yang benar-benar keren di dalamnya, tertuang dalam ganasnya pertempuran terakhir yang harus Tauburn lalui. Tapi kebagusan ini berakhir tak tuntas karena kesannya ada banyak unsur cerita yang terpaksa dibiarkan tak tergarap.

Eksekusinya luar biasa sih. Karena kedua puluh lima episode ini benar-benar berhasil mengangkat segala elemen yang mau diangkat dan memaparkannya secara menghibur.

Setidaknya di episode terakhir, segala konflik yang diwarnai segala pertentangan antara ambisi, cinta, dan persahabatan digambarkan berakhir. Wako mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Lalu adegan penentuan saat  Takuto dan Wako hanya saling bertukar pandang tanpa kata dan seketika saling memahami bagiku adalah adegan terbaik di sepanjang seri.

Indikasi-indikasi terselubung, seperti soal sekaratnya Sugata dan asal usul Sarina, sayangnya hanya bisa kita tebak penyelesaiannya. Sejauh ini tak ada penjelasan eksplisit yang diberikan untuk hal-hal tersebut.

Seri ini benar-benar berakhir sebagai cerita yang mengetengahkan soal drama remaja. Dengan segala warna dan sedikit fanservice yang dimilikinya, karakterisasi yang agak melompat-lompat, cerita abstrak yang penuh teka-teki tapi tanpa terjatuh menjadi ‘suram,’ dan ketiadaan ‘ambisi’ yang memajukan plot, aku bisa memaklumi bila seri ini memang tak cocok dengan sebagian orang. Ini seri yang kesan orang terhadapnya akan sangat subjektif. Tapi sebagai seri yang begitu mengingatkan akan betapa berartinya semangat hidup (dan dengan adegan-adegan aksi mecha yang keren, seenggaknya sampai pertengahan seri), tetap saja aku tak bisa tak menyukainya.

Sayang durasi seri ini tak bisa lebih panjang.

Penutup seri ini adalah kutipan dari Sakana-chan, yang meski agak menyebalkan, memang memberi nuansa pas sebagai penutup: Dengan demikian, petualangan kehidupan pun berlanjut…

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-


About this entry