Hoshi no Samidare

Hoshi no Samidare (‘hoshi’ yang berarti ‘bintang’ juga dapat dibaca sebagai ‘wakusei’ yang berarti ‘planet,’ sehingga kadang aku juga enggak yakin soal apa judul manga ini yang asli), atau dikenal juga sebagai The Lucifer and the Biscuit Hammer, adalah salah satu manga yang penah diceritakan temanku beberapa waktu lalu. Meski aku lumayan tertarik dengan premisnya, sebelumnya, aku tak terlalu tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya. Sebab manga karya Satoshi Mizukami ini sepintas benar-benar terlihat seperti gag manga biasa.

Maksudku, sulit untuk menanggapi ceritanya secara serius bila adegan pembukanya sebagai berikut.

Sang tokoh utama, pemuda kuliahan Amamiya Yuuhi, terbangun suatu pagi dan mendapati ada kadal yang bisa berbicara di sebelah tempat tidurnya. Kadal tersebut lalu mengatakan bahwa dirinya telah terpilih sebagai salah satu ksatria yang akan melindungi tuan putri dari ancaman penyihir yang hendak menghancurkan dunia. Yuuhi, yang mengira dirinya masih bermimpi, serta merta melempar kadal tersebut ke luar jendela. Tapi kadal tersebut sedetik kemudian entah bagaimana muncul lagi di sampingnya, dan kembali menegaskan pada Yuuhi kalau dirinya adalah ksatria yang telah terpilih untuk melindungi sang tuan putri, dsb. dsb.

Keadaan semakin aneh karena si tuan putri tidak lain ternyata adalah gadis remaja enerjik sekaligus tetangga sebelah rumahnya sendiri, Asahina Samidare, yang tinggal hanya berdua dengan kakak perempuannya yang kebetulan saja tidak lain adalah dosen Yuuhi. Samidare ini, semenjak terangkat sebagai tuan putri (karena di dalamnya bersemayam roh tuan putri yang sesungguhnya, yakni Anima), telah mendapati dirinya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Dia jadi bisa melakukan lompatan-lompatan setinggi gedung dengan mudah dan menyimpan tenaga penghancur yang luar biasa di dalam tinjunya.

Si kadal, Noi Cressant, baru mulai ditanggapi secara serius oleh Yuuhi saat dirinya kemudian menjadi incaran makhluk batu utusan sang penyihir, Animus, yang bertujuan untuk membunuhnya. Untungnya, Yuuhi terpilih sebagai ksatria bukan tanpa balas jasa. Selain kesempatan bagi Yuuhi untuk mendapatkan satu permohonannya dikabulkan Noi, melalui cincin yang Noi berikan padanya,Yuuhi juga diberkahi kekuatan kendali domain, yang pada dasarnya merupakan semacam kekuatan psikis telekinetis. Tapi tetap saja makhluk batu itu terlalu kuat untuk dilawan Yuuhi sendirian, sehingga pada akhirnya malah dihancurkan sendiri oleh Samidare. (pada titik ini, aku langsung “…Hah?”)

Yuuhi pun akhirnya mulai bisa melihat bahaya sesungguhnya yang mengancam bumi, yakni keberadaan sebuah palu mega-raksasa bernama Biscuit Hammer yang akan menghantam dan menghancurkan bumi seandainya Yuuhi dan ksatria-ksatria lainnya dikalahkan oleh sang penyihir, yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Lalu beragam kekonyolan rutin, isu-isu soal keluarga, teman dekat, hubungan antar manusia, serta tokoh-tokoh sampingan yang untuk suatu alasan lebih menonjol dari biasa mulai mewarnai seri ini, dan tahu-tahu saja kita telah disuguhi cerita yang mencapai level epic!

Tidak, aku tidak sedang bercanda. Ini seri manga luar biasa yang kualitasnya benar-benar di atas rata-rata! Terlebih bila mempertimbangkan ide cerita awalnya yang terkesan ngasal.

Soalnya, dalam perkembangannya, cerita seri ini benar-benar tak sesederhana itu. Yuuhi ternyata orang yang introvert. Tapi dia memiliki alasan kuat yang menyebabkannya menjadi demikian. Lalu Samidare ternyata bermaksud melindungi bumi dari Biscuit Hammer hanya semata-mata agar bumi nantinya bisa dihancurkannya sendiri. Beragam tokoh lain yang unik dengan ciri khas masing-masing muncul, terlebih saat diketahui total jumlah ksatria yang melindungi sang putri ada 12, ditambah dengan hewan yang menemani mereka masing-masing, serta latar belakang pertikaian ini yang sesungguhnya. Semua ini digambarkan tanpa menghilangkan nuansanya yang jenaka. Lalu tahu-tahu saja selain komedi kita juga disuguhi drama slice of life, adegan-adegan aksi seru dengan berbagai bentuk kekuatan super, serta jalinan-jalinan intrik tanpa menghilangkan aspek tragedi. Artwork-nya yang ‘seadanya’ mungkin memang tak terlalu berkesan. Tapi meski agak stereotipikal, karakterisasinya yang bagus benar-benar membuat seri ini menonjol. Aku serius, agak sulit untuk tak jatuh cinta terhadap karakter-karakter seri ini.

Meski digolongkan sebagai manga seinen yang eksentrik (sebelumnya manga ini diserialisasikan di majalah Young King), aku tak menemukan hal ‘berbahaya’ dalam seri ini (selain sejumlah panty-shot). Sehingga sekalipun sudah tamat, agak disesalkan mengapa seri in belum diterbitkan di sini juga. Yah, ceritanya yang aneh mungkin memang tak akan membuatnya terlalu populer sih. Tapi rasanya aneh juga karena hingga kini juga masih belum ada studio yang mengadaptasi manga ini ke bentuk anime.

Ini benar-benar seri yang unik lho. Seandainya diterbitkan di sini, pastikan sempatkan diri untuk periksa!


About this entry