Onani Master Kurosawa

Belum lama ini, aku mendapat sebuah program keren yang memungkinkan semacam koneksi yang enggak pernah terbayangkan sebelumnya dengan Internet, tapi bukan soal itu yang mau kutulis sekarang.

Di luar sana, ada sebuah manga aneh berjudul Onani Master Kurosawa. Aku mendengar tentangnya dari cerita teman, dan begitu mendengar tentangnya, aku menjadi penasaran, dsb. dsb. dsb. Pokoknya, berkat program keren itu, aku berhasil tahu lebih banyak tentang manga ini. Dan… man, aku belum pernah terpukau sesudah membaca manga seperti ini sebelumnya. Sensasi aneh yang kudapat sesudah membaca seri ini bukanlah jenis sensasi yang sering kutemukan dari membaca manga lain.

Pertama mesti kujelaskan, sebagaimana yang bisa ditebak melalui judulnya, manga ini mengangkat premis yang lumayan menjijikkan. Sang tokoh utama, Kurosawa Kakeru, adalah seorang siswa kelas III SMP yang memiliki hobi rahasia bermasturbasi (atau onani/coli/nge-fap/jerk off/hitori ecchi) di ruang WC cewek terbengkalai di sekolahnya setiap hari. ‘Materi’ hobinya ini adalah teman-teman perempuan sekelasnya sendiri. Ia penyendiri, pemuram, tak pandai bergaul, dsb. Hingga ia suatu ketika berhadapan dengan Kitahara Aya, seorang gadis kecil teman sekelasnya yang kerap di-bully.

Aku enggak bisa jelasin lebih lanjut soal itu, dan perlu kukatakan juga ini jelas bukan manga untuk semua orang. Tapi penuturan perkembangan psikologisnya buatku memukau dan… aku enggak bisa enggak menyukainya, sekalipun enggak bisa dibilang puas dengan seri ini secara menyeluruh.

Seri ini intinya mengetengahkan hubungan aneh antara Kurosawa dengan Kitahara sebagai sesama ‘orang terpinggirkan,’ kekuatan tekad untuk berubah, serta keberanian untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar dalam tahun ajaran terakhir yang mereka lalui bersama di SMP. Memang ada lumayan banyak adegan ‘berbahaya’ yang membuat seri ini lebih cocok buat pembaca dewasa, tapi seri ini tak bisa dikategorikan seri H kok. Dan ya, keahlian masturbasi Kurosawa, boleh percaya atau tidak, memegang faktor penting dalam cerita.

Meski desain karakternya tak buruk, Yoko sebagai penggambar entah benar-benar kurang pandai dalam mewarnai atau terlalu malas untuk melakukannya. Dengan arsiran/tone yang berantakan, sebagian besar artwork-nya sangat terlihat seperti sketsa pensil. Tapi narasinya bagus dan ekspresi para karakternya—yang menjadi sorotan utama seri ini—benar-benar tersampaikan secara kuat.

Ini masih belum kukonfirmasi sih, tapi gaya gambar ini sebenarnya bisa dimaklumi karena kabarnya, seri ini tidak lain adalah sebuah doujinshi, sebuah proyek yang dikerjakan secara independen. Hal itu akan menjelaskan pula durasinya yang tak panjang (hanya 30 bab, ditambah satu bab ekstra di akhir) serta konsep ceritanya yang berhasil dibuat benar-benar tuntas.

Sebelum aku lupa, penulis ceritanya adalah Ise Katsura, dan aku sama sekali tak punya bayangan pengalaman masa lalu macam apa yang pernah ia alami sampai dirinya kepikiran buat bikin cerita kayak gini.

Intinya, aku… benar-benar terkesan dengan seri ini, dan aku agak menyesal karena seri dengan tema seperti ini sepertinya takkan mungkin diterbitkan di sini. Ini cerita langka yang nunjukin konsekuensi-konsekuensi tak disangka dari sebuah perbuatan buruk. Argh, aku cuma enggak tahan untuk enggak menuliskan sesuatu tentangnya saja.


About this entry