Umineko no Naku Koro ni (VN4)

Aku lupa cerita. Di akhir episode pertama, sebelum kedua epilog, dikisahkan bahwa jenazah setiap anggota keluarga Ushiromiya akhirnya ditemukan para penduduk sekitar yang datang untuk menengok di Rokkenjima sesudah badai berakhir. Mirip seperti kasus surat wasiat Maebara Keiichi pada episode pertama Higurashi, tak ada satupun orang luar yang bisa menjelaskan apa kira-kira yang telah terjadi.

Tapi beberapa bulan berikutnya, dikatakan bahwa sebuah surat dalam botol ditemukan di suatu wilayah lepas pantai. Surat tersebut rupanya surat wasiat yang konon ditulis dan ditanda tangani oleh Maria Ushiromiya di akhir hayatnya, yang memohon agar siapapun yang menemukan dan membaca surat tersebut bisa menemukan kebenaran dari peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarganya.

Pada awalnya, aku mengernyit saat membaca keterangan soal surat ini. Ada sesuatu yang jelas-jelas tak beres tentangnya (seperti: apa benar dengan semua yang terjadi, Maria yang menulis surat tersebut?), dan akhirnya hanya berpikir bahwa ini hanya menjadi semacam ‘tanda pembuka’ misteri semata.

Tapi siapa sangka surat ini nantinya justru akan memainkan fungsi yang begitu besar di dalam cerita….

Revelations

Pada episode kedua, Turn of the Golden Witch, Ushiromiya Battler menantang Beatrice untuk membuatnya mengakui bahwa para penyihir benar-benar ada.  Sesudah segala yang terjadi di episode pertama, hanya Battler seorang yang masih tersisa dalam menghalangi kebangkitan Beatrice secara sepenuhnya. Beatrice takkan membiarkan Battler begitu saja, dan berjanji akan menyiksa dan membuat dirinya begitu menderita, sampai pendiriannya akhirnya goyah dan hancur.

Sesudah dibawa ke ‘alam sementara’ bernama Purgatorio (dan secara mengerikan dibunuh kemudian dihidupkan kembali secara berulangkali) Battler bersama Beatrice menghadiri permainan ‘reka ulang’ dari masa dua hari dirinya di Rokkkenjima, di mana waktu seolah berulang dan Battler berkesempatan melihat dirinya dan keluarganya di masa lalu sebelum peristiwa pembantaian, yang mungkin saja akan berakhir dengan cara yang berbeda dari ‘sebelumnya’…

Ini mungkin agak membingungkan bagi yang belum tahu. Tapi intinya, Battler dan Beatrice saling duduk berhadapan di sebuah meja, dan mereka akan saling bertukar teori tentang segala perkembangan yang terjadi di ‘papan permainan’.

Syarat kemenangan Battler adalah sepenuhnya membuktikan pada Beatrice bahwa segala trik pembunuhan yang berlangsung di Rokkenjima dapat dilakukan dengan tangan manusia, sama sekali tanpa campur tangan ‘sihir.’ Sebaliknya, syarat kemenangan Beatrice hanyalah membuat Battler sepenuhnya menerima bahwa penyihir dan kekuatan sihir benar-benar ada. Ada implikasi lebih mendalam dari kedua syarat kemenangan ini. Tapi soal itu akan kubahas lebih lanjut lagi.

‘Papan permainan’ yang dimaksud adalah Rokkenjima sebagai ‘panggung drama’ di mana peristiwa pembantaian dua hari itu kemudian dilangsungkan. Di dalam ‘papan permainan’ itu, waktu dimulai dari hari kedatangan Battler dan keluarganya di Rokkenjima. Lalu insiden-insiden aneh mulai terjadi seperti dalam episode sebelumnya, dan seterusnya. Di ‘papan permainan’ ini, ada ‘Battler lain’ yang berbeda dar Battler yang sedang berada di Purgatorio. ‘Battler’ inilah yang jadi pion langsung Battler karena memiliki sifat, pembawaan, serta ingatan masa lalu sama persis dengannya. ‘Battler’ ini sepertinya memang tak bisa dikendalikan langsung oleh Battler di Purgatorio. Karena meski Battler di Purgatorio, seperti Beatrice, dapat melihat segala yang terjadi secara omniscient,dalam permainan logika ini, ‘Battler di papan permainan’ harus bergerak mengikuti kerangka hukum kewajaran yang berlaku. Tapi argh, kau perlu berdiskusi untuk bisa memahami konsep ini. Jadi pembahasan ceritanya untuk sekarang kulanjutkan dulu saja.

Episode kedua ini sebenarnya dimulai dengan pembeberan sejumlah hal yang tak disinggung dalam episode pertama.

Hubungan kasih antara George dan Shannon ternyata dimulai oleh Shannon bertahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana yang telah diindikasikan pada episode pertama, perasaan cinta Shannon ditentang oleh Kanon. Tapi alasan Kanon menentang perasaan itu ternyata lebih dari sekedar karena status keduanya sebagai pelayan saja…  (buat yang belum tahun, alasannya yang pasti bukan cemburu; hubungan antara Kanon dan Shannon sepenuhnya adalah hubungan kakak-beradik)

Terungkap bahwa kedudukan Shannon dan Kanon memang rendah, karena keduanya di permukaan dipungut dari panti asuhan, dilatih dan diberi pendidikan secara khusus oleh Kinzo untuk menjadi pelayan bagi keluarga Ushiromiya sampai masa pensiun mereka yang telah ditetapkan.

Dilanda kesedihan akibat cintanya yang nyaris dipastikan kandas, Shannon (entah hanya di episode ini atau di seluruh episode juga) ternyata kemudian didekati oleh roh Beatrice, yang lalu menggodanya dengan peluang untuk memuluskan cintanya. Prasyarat yang Beatrice minta hanyalah agar Shannon pergi ke kuil kecil di salah satu tanjung Rokkenjima, dan memecahkan cermin yang tersimpan di sana.

Kuil kecil ini tidak lain adalah kuil yang Maria keluhkan hilang setibanya ia dan keluarganya di Rokkenjima pada episode pertama! Kuil ini dikatakan hancur tersambar petir dalam hujan deras yang terjadi beberapa lama sebelum acara pertemuan keluarga ini dilangsungkan.

Ada indikasi bahwa cermin ini menjadi semacam segel yang menahan Beatrice untuk bisa keluar dari Rokkenjima. Sepertinya, dengan pecahnya cermin tersebut, Beatrice menjadi semakin bisa memanifestasikan dirinya secara materil.

Kanon marah besar pada Shannon tatkala ia akhirnya mengetahui tentang pecahnya cermin ini. Terungkap pula bahwa Shannon, Kanon, beserta Genji (sang kepala pelayan) sesungguhnya adalah ‘perabot’ yang dibuat Kinzo dengan tujuan untuk melayaninya. Ketiganya adalah hasil dari percobaan Kinzo dalam mempraktekkan ilmu sihir yang tengah dipelajarinya. Kenyataan bahwa mereka ‘bukan manusia’ dan memiliki takdir (masa pensiun?) mereka sendiri inilah yang membuat Kanon begitu menentang perasaan Shannon. Kanon lebih marah lagi karena Shannon membuat kesepakatan dengan Beatrice, yang Kanon yakini entah bagaimana kelak akan memanfaatkan suatu celah dalam kesepakatan mereka dan akhirnya membuat Shannon menderita.

Tapi keadaan sudah terlambat, karena George (berkat jimat pemberian Beatrice?) telah membalas perasaan Shannon. Sebagaimana yang diceritakan di episode pertama, George tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, bahkan telah berniat untuk melamar Shannon ke jenjang pernikahan. Shannon pun di sisi lain menegaskan bahwa asalkan ia berkesempatan untuk bisa bersama George, ia tak peduli kemalangan apapun yang menantinya di masa depan karena percaya ia pasti akan bisa melaluinya. Shannon juga menyanggah pendapat Kanon soal bagaimana mereka ‘bukan manusia,’ karena sekalipun dibuat sebagai ‘perabot,’ keduanya sama-sama memiliki hati yang punya kemampuan untuk mencinta. Shannon pun balas menyinggung soal perasaan Kanon sendiri yang dipendamnya terhadap Jessica.

Kanon sadar bahwa pada akhirnya ia hanya bisa berupaya melindungi Shannon dari Beatrice sebisa mungkin. Tapi ketakutannya terbukti nyata saat melihat Beatrice sendiri hadir sebagai tamu undangan ke-19 pada hari dilangsungkannya pertemuan keluarga.

Orang Kesembilan Belas

Kehadiran Beatrice secara ragawi di Rokkenjima memicu perkembangan cerita yang berbeda dari apa yang terjadi di episode pertama.

Di Purgatorio, Beatrice seakan mengejek Battler dengan menunjukkan secara jelas bahwa orang kesembilan belas secara nyata ada. Seiring perkembangan yang terjadi di Rokkenjima, Beatrice juga menantangnya untuk membuat argumen tentang bagaimana orang kesembilan belas tersebut bisa membunuh delapan belas orang lainnya tanpa menggunakan kekuatan sihir.

Untuk membatasi argumentasi Battler, menjaganya dari berargumentasi ngawur dan membuat permainan berjalan di tempat, Beatrice membuat ketetapan bahwa dirinya akan menandai dengan warna merah setiap pernyataannya yang merupakan kebenaran. Dengan kata lain, setiap kalimat yang diucapkan Beatrice dengan warna merah merupakan kebenaran mutlak yang tak boleh ditentang lagi.

Urusan kalimat merah ini mungkin agak sulit dipahami. Tapi pada dasarnya, meski sekilas kelihatan seperti dapat digunakan sembarangan, ada batasan-batasan tertentu bagi Beatrice untuk menggunakan kalimat-kalimat merah ini, sebagaimana yang Battler kemudian sadari nanti. Sejauh yang bisa kutangkap, kalimat-kalimat merah ini tak boleh menyinggung apapun soal sihir, dan hanya boleh menyinggung soal kebenaran dari akibat atau fakta yang sudah terjadi. Sebagai contoh kalimat-kalimat merah yang valid: Ruangan ini hanya dapat dimasuki lewat pintu dan jendela. Saat ditemukan, seluruh pintu dan jendela di ruangan ini berada dalam keadaan terkunci. Tak ada jalan keluar rahasia yang tersembunyi. Pintu tak dapat didobrak paksa atau dibuka dengan cara selain dengan menggunakan kunci, dsb. Menyatakan ‘sihir itu ada’ atau ‘si Anu dilenyapkan dengan kekuatan sihir’ dengan warna merah hanya akan menghasilkan pernyataan tak berarti, karena pernyataan-pernyataan seperti itu masih belum cukup untuk Battler takluk, dan hanya akan berakibat pada bekunya permainan, membuatnya berakhir tanpa hasil. Asal tahu saja, meski butuh sedikit waktu untuk mencerna, pertarungan argumentasi yang berlandaskan pada kalimat-kalimat merah inilah yang justru menjadi daya tarik utama cerita Umineko.

Beatrice yang kini hadir sebagai tamu dengan segera menuai kegemparan di kalangan anggota-anggota keluarga Ushiromiya. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan. Apakah benar dirinya Beatrice yang menuliskan surat pernyataan pengambilan hutang itu? Ataukah surat itu tetap akal-akalan buatan Kinzo, dan Beatrice ini orang lain yang menyaru sebagai dirinya? Apakah Beatrice ini kerabat wanita idaman lain yang didesas-desuskan pernah dimiliki Kinzo? Bagaimana mungkin ia bisa secara tiba-tiba hadir di sini sekarang? Tahukah ia tentang keberadaan emas tersembunyi itu?

Beatrice disambut oleh para pelayan lama yang dengan segera melihat kesamaan wajahnya dengan potret Beatrice yang telah disiapkan Kinzo. Ia ditempatkan di ruang VIP rumah utama yang secara keras tak boleh digunakan oleh siapapun sebelumnya. Genji, Shannon, dan Kanon—pelayan-pelayan lama yang memiliki izin untuk memasuki ruangan tersebut—meski memiliki reaksi mereka sendiri-sendiri, dengan segera mengenali dirinya sebagai penyihir yang telah mengikat kontrak dengan Kinzo.

Kanon tersadar bahwa Beatrice ingin tertawa kegirangan saat nanti melihat hubungan cinta yang sudah susah payah Shannon ciptakan diakhiri secara paksa melalui ritual kematian Kinzo.

Lalu seperti halnya dalam episode pertama, pada saat badai menyerang pulau dan memerangkap mereka yang berada di sana, namun kini di gereja kecil (chapel) yang ternyata dimiliki keluarga Ushiromiya di belakang rumah utama Rokkenjima, Krauss, Natsuhi, Eva, Hideyoshi, Rudolf, dan Kyrie terpilih sebagai enam korban persembahan untuk senja yang pertama.


About this entry