Salad Days

Aku menulis tentang ini sekarang karena kebetulan sedang berpikir tentangnya saja. Bukan karena sekarang sudah menjelang pertengahan Feburari atau apa kok.

Eniwei, Salad Days (secara harfiah: ‘hari-hari selada,’ metafora untuk ‘masa muda’, diambil dari salah satu kutipan Julius Caesar… atau Antonius?) adalah seri manga romansa karangan Shinobu Inokuma yang lumayan dikenal pada tahun-tahun awal dekade 2000-an. Secara lokal, seri ini menjadi salah satu judul paling menonjol yang pernah diterbitkan oleh m&c, dan beberapa bulan sebelum tulisan kubuat, bahkan sempat dicetak lagi.

Formatnya mirip Boys Be, di mana masing-masing buku merupakan kumpulan cerita cinta terpisah dengan tokoh-tokoh utama yang berbeda-beda. Karena tiap bab biasanya berdiri sendiri (kecuali bab-bab yang bersambung), ada lumayan banyak tokoh dan cerita yang dipaparkan di dalamnya. Terkadang secara sepintas tokoh-tokoh lama dimunculkan sebagai ‘pemeran pendukung’ dalam cerita-cerita baru. Tapi seandainya ada yang bisa dikategorikan sebagai tokoh utama untuk seri ini, maka mereka adalah pasangan Kawamura Futaba dan Kamiyama Yuuki yang mulai diperkenalkan pada pertengahan seri. Hanya keduanya yang secara berkala ditampilkan sebagai pasangan tokoh utama dalam rangkaian cerita-cerita mereka sendiri. Dan kalau aku tak salah ingat, seri Salad Days inipun ditutup dengan acara pernikahan mereka.

Cerita Salad Days semula berkisar soal bagaimana seorang cowok bertemu seorang cewek dan apa selanjutnya yang terjadi (mirip Boys Be). Tapi seiring dengan waktu, bahasannya juga mulai meliputi soal masalah-masalah yang dihadapi pasangan-pasangan yang sudah ‘jadi.’  Ada berbagai problema pasangan yang diangkat sepanjang seri: mulai dari kecemburuan, salah paham, perpisahan, pertemuan dengan cinta lama, dan lainnya. Lalu meski tak pernah sampai digali sampai sangat mendalam, kalau kupikir sekarang, variasi temanya yang lumayan banyak cukup membuat penasaran tentang topik apa selanjutnya yang cerita berikutnya akan bahas.

Sayangnya, menurut pendapatku pribadi, seri ini memiliki kecendrungan kualitas yang lumayan menurun. Buku-buku awalnya memilki kualitas cerita yang sangat solid. Ide-ide yang ditampilkannya menarik dan situasi-situasi yang dialami para tokohnya terasa segar. Tapi menjelang pertengahan seri, kesegaran itu mulai berkurang, dan perkembangan jalan ceritanya secara garis besar menjadi mudah tertebak. Di beberapa bagian, bahkan agak terkesan dibuat-buat. Kualitas desain karakter Inokuma-sensei sepanjang seri anehnya juga tak mengalami perkembangan. Artwork-nya menurutku pribadi bahkan sampai kehilangan ciri khas yang sebelumnya beliau miliki pada buku-buku awal.

Kehadiran dua tokoh Yuuki dan Futaba sedikit memperbaiki keadaan. Pertemuan awal mereka sebagai sesama penghuni di sebuah rumah susun, kenyataan mereka adalah teman sekolah, komplikasi masalah keluarga, serta kehadiran tokoh-tokoh lain di sekeliling mereka, memberi warna tersendiri meski secara sporadis. Tapi bagi beberapa orang, mungkin itu masih belum cukup untuk menciptakan cerita yang memukau dalam genre romansa.

Terkadang ada adegan-adegan tangis ala sinetron. Lalu ada adegan-adegan fanservice yang lumayan memaksa. Tapi kau tahu? Jujur saja, aku tetap tak bisa sepenuhnya membenci seri ini.

Aku sedang memasuki hari-hari terakhir masa SMA-ku saat seri ini pertama m&c terbitkan. Dan di tengah masa-masa yang berisi kegalauan dan perpisahan itu (aku serius!), volume pertama seri ini hadir dan lumayan memberiku semangat. Makanya, hingga kini, buku-buku pertamanya masih kujaga dengan baik di suatu tempat di salah satu sudut kamarku yang berantakan.

Ngomong-ngomong, aku kerap bertanya-tanya. Sesudah seri terakhir Boys Be dan berakhirnya Salad Days, kenapa tak pernah ada seri manga macam ini lagi ya? Atau ini cuma aku-nya saja yang tak tahu?


About this entry