Jojo’s Bizarre Adventure

Meski tak bisa dikatakan pernah ‘meledak’, Jojo’s Bizarre Adventure, atau Jojo no Kimyou na Bouken, merupakan salah satu manga ‘legendaris’ karena memiliki cult following yang sangat kuat. Kegemaran fans terhadap seri ini bahkan bisa dikatakan merupakan suatu fenomena tersendiri.

Aku tahu ini kedengaran agak enggak bertanggung jawab. Tapi alasan aku enggak nulis belakangan adalah gara-gara keasyikan baca kedelapan puluh(!) jilid manga ini!

Eniwei, dibuat oleh Hirohiko Araki, manga ini pertama keluar di majalah komik Shonen Jump terbitan Shueisha pada tahun 1980-an. Agak sulit menjelaskan daya tariknya, sebab saking uniknya, kurasa tak ada judul manga lain yang bisa dijadikan bahan perbandingan terhadapnya. Daya tarik manga ini yang pasti begitu kuat, sampai-sampai seri ini masih terus ‘berlanjut’ bahkan hingga sekarang. Rentang cakupan penggemarnya luas. Aku konon pernah dengar bahwa sesama pengarang komik seperti Akira Toriyama dan para tante di CLAMP pun sangat menggemari seri ini. Terlebih ini manga aksi, bukan manga komedi seperti Kochikame, yang disebut-sebut merupakan manga terpanjang yang pernah ada.

Manga ini secara umum berkisah tentang perselisihan antara garis keturunan keluarga Joestar melawan entitas jahat yang bernama Dio. Sekilas, temanya memang terdengar agak seperti Castlevania. Apalagi mengingat keberadaan elemen-elemen vampir di dalam cerita. Tapi bukan, manga ini berkembang jauh lebih dalam daripada itu. Karakterisasinya yang sangat kuat dan segala ‘keanehannya’ benar-benar membuatnya menjadi sesuatu yang lain daripada yang lain.

Sebelum mengulas lebih lanjut, kalau kamu tanya aku, satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan manga ini hanyalah ‘bizarre.’ (bahasa Inggris: aneh, tak wajar, sukar dipercaya, sulit dijelaskan, dsb.) Kurasa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengikuti sekaligus menikmati manga ini. Tema dan gaya pemaparan ceritanya tak lazim. Lalu sejujurnya, memang ada banyak sekali elemen di dalamnya yang akan membuat pembaca merinding, mual, lalu berkata “Oh my God.” Tapi kombinasi ajaib antara horor dan aksi ini juga yang membuatnya begitu menarik sih…

Dari generasi ke generasi

Manga ini memang sudah sangat panjang. Tapi ceritanya sendiri terbagi ke dalam beberapa ‘bab.’ Satu bab dan bab lainnya dibedakan oleh nuansa khasnya masing-masing (apakah itu di gaya gambarnya, inti ceritanya, dsb). Sehingga meski ada kesinambungan cerita di dalamnya, masing-masing bab juga bisa dipandang sebagai sebuah cerita yang berdiri sendiri.

  • Phantom Blood; bab paling pertama dalam cerita. Berlatar di Inggris pada abad ke-19, mengisahkan awal pertemuan Johnathan Joestar atau biasa dipanggil Jojo, seorang putra bangsawan, dengan saudara angkatnya yang berasal dari latar keluarga miskin namun berhati jahat, Dio Brando. Johnathan mendapatkan banyak perlakuan tak adil akibat ulah Dio, dan akhirnya harus menentukan sikap tatkala terkuak kenyataan bahwa Dio telah meracuni ayahnya dan ayahnya sendiri. Berada dalam pelarian, Dio kemudian dihubungi seorang pedagang aneh yang menyatakan pada Dio bahwa dirinya adalah ‘seseorang yang terpilih,’ dan memiliki potensi untuk menggunakan artefak topeng batu yang telah ayah Johnathan (seorang arkeolog) temukan. Berkat kekuatan topeng itu, Dio berubah menjadi vampir, dan kini tak segan membunuhi siapapun yang menghalangi upayanya untuk menguasai dunia. Johnathan kemudian mempelajari ilmu tenaga dalam hamon (ripple, ‘riak’) dari seorang lelaki misterius bernama Will A. Zeppeli, yang memungkinkannya untuk menghadapi Dio. Bersama kawan barunya, bekas penjahat bernama Robert E. O. Speedwagon, Johnathan dan Zeppeli menyerbu markas Dio dan menghadapi tentara mayat hidupnya untuk menuntaskan permusuhan antara mereka untuk sekali dan selamanya.
  • Battle Tendency, bab kedua yang berlatar di paruh awal abad ke-20. Dikisahkan bahwa Speedwagon telah kaya raya berkat bisnis minyak bumi. Dengan kekayaannya, ia mendirikan yayasan untuk menyelidiki lebih jauh tentang misteri topeng batu yang pernah ayah Johnathan temukan dulu. Di penghujung usianya, yayasan miliknya menemukan situs kuno di Amerika Selatan yang diyakini berkaitan dengan topeng tersebut. Di situs itu, diketemukan sebuah tiang berbentuk manusia, yang setelah diselidiki ternyata ‘hidup.’ Namun Straights, satu-satunya kawan lama Zeppeli yang masih tersisa, ternyata mengkhianatinya karena tergoda oleh kekuatan topeng batu. Harapan untuk menyingkap kebenaran akan apa yang menimpa Speedwagon jatuh ke tangan Joseph Joestar, cucu Johnathan yang selama bertahun-tahun diasuh oleh neneknya, Erina Pendleton. Joseph secara alami telah mewarisi bakat hamon, sehingga ia mampu mengkonfrontasi Straights. Tapi akibat intervensi pihak Nazi, manusia di dalam tiang itu terlepas dan menimbulkan kekacauan. Joseph nantinya harus menghadapi tiga manusia tiang lain lain: Cars, Wham, dan ACDC, yang mencari-cari Batu Merah Asia yang diyakini dapat menyempurnakan kekuatan mereka sebagai ras manusia super pencipta topeng tersebut. Untuk itu, Joseph harus menyempurnakan ilmu hamon-nya. Ia berkelana ke Italia untuk menjumpai Caesar Zeppeli, keturunan Zeppeli yang membantu Johnathan, serta Lisa Lisa, murid Straights yang akan melatihnya untuk pertarungan yang akan ia hadapi.
  • Stardust Crusaders, bab ketiga yang berlatar menjelang tahun 1990an sekaligus bab yang paling dikenal dari keseluruhan seri. Dikisahkan bahwa Joseph yang telah berusia lanjut mengunjungi keluarga putrinya, Holly Joestar, di Jepang karena cucu lelakinya yang masih SMA, Kujo Jotaro, menghadapi masalah. Jotaro sengaja membuat dirinya dipenjara agar ‘roh’ misterius liar yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya tidak membuat masalah. Umd Avdol, kawan lama Joseph, menjelaskan bahwa ‘roh’ yang ‘merasukinya’ tersebut sesungguhnya adalah sebuah Stand, bentuk kekuatan baru yang muncul sebagai implikasi atas bangkitnya kembali Dio. Dio, yang raganya hanya tersisa kepala, akhirnya telah bangkit kembali dengan mengambil alih jasad Johnathan yang dihormatinya. Dengan bantuan seorang perempuan tua bernama Enya Geil, Dio memperoleh kekuatan Stand. Akibat keterikatan aneh antara sesama pemilik darah Joestar, baik Joseph, Holly, maupun Jotaro pun mengembangkan kekuatan tersebut. Namun karena Holly hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang tak memiliki naluri pertarungan, kekuatan Stand miliknya yang timbul sebagai akibat bangkitnya Stand Dio justru menjadi ‘racun’ baginya. Sesudah mendapat ancaman langsung dari Noriaki Kakyoin yang pikirannya dikendalikan oleh Dio, Jotaro, Joseph, beserta kawan-kawan mereka yang baru melakukan perjalanan penuh marabahaya ke Mesir untuk mengalahkan Dio sekaligus menyelamatkan nyawa Holly.
  • Diamond is Unbreakable, bab keempat yang berlatar sekitar lima tahun sesudah bab ketiga di sebuah kota bernama Morioh, Jepang. Jotaro yang kini dewasa berkunjung ke kota ini untuk mencari seorang remaja bernama Higashikata Josuke, yang diyakininya merupakan anak Joseph yang lahir di luar nikah, tanpa sepengetahuan keluarga mereka. Sesuai dugaan Jotaro, Josuke ternyata juga adalah seorang pengguna Stand. Tapi beragam kejadian aneh yang berlangsung di Morioh membuat Jotaro tinggal lebih lama di sana untuk menyelidiki apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Josuke, yang juga mendapat kekuatan Stand sesudah kebangkitan Dio, lolos dari ancaman pembunuh maniak Angelo, yang kekuatan Stand-nya secara misterius telah dibangkitkan. Josuke kemudian mengetahui bahwa bertambahnya jumlah pengguna Stand di Morioh adalah akibat ulah Nijimura Keicho, yang menggunakan artefak panah batu yang dulu Enya gunakan untuk menghasilkan pengguna Stand yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan ayahnya. Perselisihan antar pengguna Stand untuk beberapa lama berlangsung, karena ada suatu kuasa bawah sadar yang menarik sesama pengguna Stand terhadap satu sama lain. Josuke dan kawan-kawannya pada akhirnya mengetahui ada pembunuh berantai lain yang secara bertahun-tahun telah menghantui Morioh. Pencarian mereka berujung pada seorang pegawai kantoran bernama Kira Yoshikage. Tetapi roh ayah Yoshikage, yang masih bertahan di dunia dan memiliki salah satu artefak panah batu, ingin melindungi anaknya dan tak membiarkan upaya mereka berjalan begitu saja.
  • Vento Aureo, bab kelima yang berlatar di Italia pada penghujung abad ke-20. Tokoh utamanya adalah pemuda agak misterius bernama Giorno Giovanna, yang sesungguhnya terlahir dari Dio sesudah ia mendapatkan raga Johnathan Joestar. Giorno bercita-cita untuk mengambil alih kekuasaan kelompok mafia Pasione yang mengendalikan Napoli, demi memperbaiki taraf hidup masyarakat dan memutuskan peredaran obat-obatan terlarang. Tapi untuk itu ia harus mengetahui terlebih dahulu identitas dan wajah asli sang bos yang teramat misterius. Sesudah pertemuannya dengan Bruno Bucciarati, salah satu anggota Pasione yang kemudian diajaknya bekerjasama dan merekrutnya, Giorno kemudian mengetahui bahwa kelompok mafia mereka ternyata memanfaatkan kekuatan para pengguna Stand. Sesudah membuktikan kesetiaan mereka, kelompok Bucciarati secara tak terduga dipercaya mengemban tugas khusus yang diberikan langsung dari sang bos. Mereka harus mengawal Trish Una, gadis remaja yang ternyata merupakan putri sang bos, yang sebelumnya tak diketahui keberadaannya. Trish hendak dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang ingin berkhianat terhadap kekuasaan ayahnya. Giorno dan kawan-kawannya semula hendak memanfaatkan situasi ini. Tapi mereka terkejut saat mengetahui apa tujuan misi mereka yang sesungguhnya. Dari Jean-Pierre Polnareff, salah satu kawan lama Jotaro, mereka mengetahui identitas asli sang bos sesungguhnya adalah Diavolo, penemu asli dari artefak-artefak panah batu. Namun sesudah namanya diketahui, Diavolo tak lagi bisa membiarkan mereka tetap hidup.
  • Stone Ocean, bab keenam yang bisa dikatakan ‘menuntaskan’ cerita yang asli. Berlatar di paruh akhir tahun 2011 di Amerika Serikat, Jolyne Cujoh, putri Jotaro, dipenjara di Green Dolphin Street Prison atas tuduhan kejahatan yang sebenarnya tak dilakukannya. Sesudah terluka tak sengaja oleh jimat kiriman ayahnya yang telah lama menghilang, Jolyne mulai mengembangkan kekuatan Stand miliknya sendiri. Jolyne kemudian ‘dihantui’ seorang bocah misterius bernama Emporio yang memperingatkannya akan hal-hal aneh yang berlangsung di penjara tersebut. Jolyne kemudian mendapati bahwa dirinya tidak lain hanyalah umpan untuk memancing kemunculan Jotaro, dan segala kesulitan yang dialaminya didalangi sebuah sosok misterius yang menggunakan Stand bernama White Snake. Di dalam ingatan Jotaro rupanya tersimpan rahasia penting yang ditinggalkan oleh Dio, musuh lama keluarga Joestar. Ingatan tersebut rupanya hendak diambil oleh White Snake yang memiliki kemampuan untuk mengambil Stand sekaligus ingatan dari dalam diri orang lain. Demi memulihkan ingatan sekaligus nyawa ayahnya, Jolyne beserta kawan-kawan barunya memutuskan untuk bertahan di G. D. Street dan menyelidiki apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Upaya mereka membawa mereka pada Enrico Pucci, pastor yang bekerja di penjara, seorang ‘sahabat’ Dio yang bermaksud menuntaskan apa yang dulu Dio mulai. Sedikit demi sedikit pula Jolyne mulai memahami pribadi ayahnya serta alasan sesungguhnya ia terpaksa meninggalkan dirinya dan ibunya…

“Oraoraoraoraora!”/“Mudamudamudamuda(x12)!!/ Wrrrryyyyyyyyy!!!

Soal komentarku terhadap cerita, maka akan kukatakan seri Jojo dipenuhi adegan-adegan aksi yang sangat seru. Itu sudah pasti. Tapi apakah kau bisa mencerna adegan-adegan aksi ini, itu soal yang lain sama sekali. Sekali lagi, semua bergantung pada apakah kau bisa mencerna/menikmati gaya gambar/bercerita sang pengarang yang khas.

Bila mengikuti seri ini, kau akan mendapati bahwa gaya gambar Araki-sensei terus berkembang sepanjang cerita. Dua bab pertama yang ceritanya berhubungan erat memiliki gaya gambar mirip yang dipenuhi garis-garis tinta tebal dan tokoh-tokoh yang berotot ala Hokuto no Ken. Para pembaca cewek bahkan mungkin akan mimisan karena saking banyaknya massa otot yang ditampilkan. Ini juga cocok dengan latar ceritanya yang jadul dan suasananya yang serius—meski harus diakui Battle Tendency memiliki momen-momen kocaknya sendiri.

Gaya gambarnya mulai berubah ke tipikal shonen manga ala Dragon Ball pada bab Stardust Crusaders. Hal ini sesuai dengan nuansa ceritanya yang sedikit lebih ringan bersama beragam kekuatan aneh (dan konyol) yang muncul seiring dengan diperkenalkannya konsep Stand. Setahuku, bab ini juga menjadi satu-satunya bab yang sempat diangkat ke media animasi dan game. Karenanya bab ini relatif lebih populer dibandingkan bab-bab lain. Di bab ini kita juga bisa melihat kematangan Araki-sensei menggali cerita, karena meski kini ada aspek-aspek komedi melebur ke dalamnya, bobot ceritanya yang sebenarnya cukup berat sama sekali tak berkurang.

Pada bab berikutnya, Diamond is Unbreakable, barulah segalanya benar-benar mulai jadi aneh. Ceritanya lebih episodik dan tak serius dibandingkan bab-bab lain. Gaya gambarnya sedikit berubah ke gaya kartun. Lalu tak seperti bab-bab sebelumnya yang berlatar di tempat-tempat eksotis, bab ini terfokus sepenuhnya di satu wilayah saja.  Karenanya, aku awalnya agak gimanaa gitu saat pertama membaca bab ini. Tapi menjelang akhir, aku mendapati diriku ternyata cukup bisa menikmatinya karena jalinan plot dan banyaknya karakter yang ditampilkan.

Pada bab Vento Aureo, atau Golden Wind, gaya gambarnya berubah lagi dan gaya gambar khas Araki-sensei yang bertahan hingga kini mulai terbentuk. Beliau mulai beralih dari tokoh-tokoh berotot ke tokoh-tokoh (cowok-cowok) ‘cantik’ yang khas, dengan renggangan-renggangan ototnya, tanpa menghilangkan sisi kemaskulinan mereka. Cerita pada bab ini benar-benar lebih berat ke arah aksi. Meski menjelang paruh akhir, sisi misteri mulai disodorkan  seperti pada bab-bab sebelumnya. Sekali lagi, aku terkesan karena bisa terpuaskan oleh ceritanya—meskipun seperti biasa tak ada eksposisi lebih banyak tentang kelanjutan hidup tokoh-tokohnya.

Bab ‘terakhir,’ Stone Ocean, serasa seperti gabungan seluruh nuansa bab-bab sebelumnya. Tetapi ceritanya yang ‘ajaib’ benar-benar membuatnya terkesan sureal. Mengikuti tren bab sebelumnya, bobot ceritanya kembali semakin berat dan penuh ketegangan. Lalu tamatnya…! Ya ampun, hingga kini aku masih enggak tahu mesti mengatakan apa tentang tamatnya atopun bab-bab terakhirnya! Memang memukau sih, tapi… argh! Pokoknya, sulit dikomentari dengan kata-kata.

Eniwei, seri ini dipenuhi adegan-adegan pertarungan aksi yang memaparkan segala macam kemampuan aneh yang bisa terbayang. Menghilangkan waktu, menciptakan ilusi, mengubah tubuh menjadi benang, membuka muka orang lain selayaknya buku—semua terjelaskan dengan konsep Stand, yang bisa digambarkan sebagai semacam ‘roh penjaga’ bagi tiap-tiap tokoh. Roh-roh ini akan biasanya ‘menempel’ pada tubuh penggunanya dan bergerak sesuai dengan gerakan mereka gitu. Kau benar-benar harus melihat sendiri bagaimana persisnya konsep ini dieksekusi, sebab penjelasannya akan rumit. Hebatnya, semua ‘keanehan’ dalam cerita ini dipaparkan secara realistis, seolah kesemuanya memang merupakan bagian dari sejarah—sekalipun semua keanehan ini pada kenyataannya benar-benar konyol. Suspens cerita yang terbangun bisa diserupakan dengan ketegangan urat saraf yang ditampilkan dalam Hunter x Hunter, meski pada beberapa bagian, adegan aksinya memang akan agak mengingatkan pada Hokuto no Ken.

Di samping itu, di seri ini terdapat banyak sekali referensi terhadap musik dan budaya pop yang berlangsung di dunia. Itu salah satu alasan mengapa seri ini agak sulit dilisensi sih. Tapi soal itu kurasa tak perlu kubahas lebih lanjut.

Intercontinental

Seperti yang sebelumnya kukatakan, seri ini masih berlanjut dengan bab terbarunya, Steel Ball Run, yang Araki-sensei rilis lewat kerjasamanya dengan Lucky Land Communications (mohon jangan tanggapi hal ini secara serius).

Bab ini sekali lagi berlatar di paruh akhir abad ke-19, besar kemungkinan di ‘dunia baru’ yang tercipta sesudah akhir Stone Ocean. Sebuah balapan lintas alam dengan menggunakan kuda dengan hadiah uang teramat besar diselenggarakan oleh promotor ternama Stephen Steel untuk menjelajahi wilayah-wilayah pedalaman yang belum terjamah dari benua Amerika. Balapan ini dinamakan Steel Ball Run dan akan diliputi secara langsung oleh berbagai media. Dimulai dari pantai pesisir barat San Diego dan akan berakhir di New York di pesisir timur.

Tokoh utamanya kali ini adalah Gyro Zeppeli, pria flamboyan misterius yang memiliki kemampuan untuk memutar bola-bola baja miliknya yang seukuran kepalan tangan dalam kecepatan teramat tinggi, yang dapat digunakannya sebagai alat bantu sekaligus senjata. Gyro kemudian bertemu dengan Johnny Joestar, bekas joki tenar yang kini menderita kelumpuhan kaki akibat sebuah konflik remeh dengan pria bersenjata. Johnny tertarik pada Gyro dan tanpa sengaja menyentuh bola-bola baja miliknya, dan pada saat itu, ia mendapati otot-otot kakinya bergerak kembali. Bersikeras ingin mengetahui rahasia dari putaran bola-bola baja itu, Johnny menyusul jejak Gyro sebagai peserta dan terlibat balapan berbahaya bersama ratusan peserta dari berbagai belahan dunia lainnya.

Masalah timbul pada saat didapati ada orang-orang tertentu yang mengincar nyawa Gyro. Serangkaian hal-hal aneh pun turut terjadi, yang diduga berkaitan dengan wilayah misterius bernama Devil’s Palm, yang menurut legenda suku-suku Indian akan memberikan ‘kutukan’ (Stand?) bagi orang-orang yang melintasinya. Belakangan pun terkuak bahwa bisa jadi balapan ini memiliki suatu maksud lain, dan Gyro yang sempat berada di peringkat puncak kini menjadi incaran banyak pihak.

Kisah pendewasaan diri Gyro dan Johnny ini pada awalnya dirilis secara terpisah dari seri Jojo, sebelum belakangan dimasukkan kembali. Tanpa menghilangkan kekhasannya, karakterisasi dan artwork Araki-sensei di sini benar-benar semakin matang. Konsep Stand dan ‘tenaga dalam’ diperkenalkan kembali, tapi tidak lagi dengan cara-cara ‘konyol’ seperti sebelum-sebelumnya. Di samping itu, siapapun bisa menikmati bab ini tanpa perlu membaca terlebih dahulu bab-bab Jojo yang sebelumnya (sejujurnya, kurasa lebih baik demikian). Meski begitu, mereka-mereka yang telah membaca akan terkesima saat mendapati beragam tokoh referensi yang dihadirkan Araki-sensei terhadap bab-bab Jojo terdahulu. Di sini ada joki-joki saingan bernama Diego Brando, Umd Abdul,dan sebagainya, yang bisa menjadi kawan maupun lawan bagi Gyro dan Johnny. Mereka, tentunya di samping Gyro dan Johnny, jelas-jelas didasarkan pada tokoh-tokoh lama yang telah muncul di bab-bab terdahulu.

Aku belum membaca banyak dari bab terbaru ini, jadi aku belum bisa berkomentar banyak. Tapi kalau kau ingin mencari manga yang panjang dan lain dari yang lain, aku benar-benar akan merekemondasikan yang satu ini.

Edit, 15 September 2013

Sekedar info, bab Steel Ball Run telah berakhir, dan tamatnya menurutku lumayan enggak terduga. Adegan-adegan aksinya beneran keren sih.

Bab terbaru dari seri ini, yakni Jojolion, telah muncul dan pada saat ini kutulis tengah berlanjut (dan hiatus). Ceritanya nyambung dengan linimasa Steel Ball Run, dan kembali berlatar di Morioh yang memiliki suatu fenomena alam tertentu yang agak sulit dijelaskan secara ilmiah. Fokus ceritanya ada pada seseorang bernama Higashikata Jousuke/Kira Yoshikage yang kehilangan ingatan masa lalunya, dan untuk suatu alasan diadopsi oleh keluarga Higashikata, yang nampaknya merupakan keluarga ternama di sana karena usaha perkebunan buah yang mereka miliki. Tapi semakin ditelusuri, ada semakin banyak hal aneh yang kemudian ia temukan pada situasi keluarga maupun kotanya.

Stand masih berperan sentral dalam ceritanya, walau adegan-adegan aksinya kini lebih berat pada intrik dan saling memperdaya ketimbang bentrokan terbuka secara langsung.

Kapan-kapan kuulas dengan selayaknya deh.

(Oya, soal anime yang dibikin oleh David Production belum lama ini juga belum kuulas.)


About this entry