Gundam Sousei

Gundam Sousei karya Owada Hideki (dia pernah bikin manga apaa gitu, tentang judi–dia lumayan terkenal) pada dasarnya merupakan ‘fiksionalisiasi’ dari proses pembuatan seri anime mecha Kidou Senshi Gundam dan pertumbuhan franchise-nya yang sangat terkenal.

Oke, deskripsinya mungkin membuatnya terdengar seperti semacam biografi. Tapi bukan. Gundam Sousei sama sekali BUKAN biografi. Gundam Sousei adalah DRAMATISASI habis-habisan dari salah satu bagian terpenting dari sejarah anime. Para tokoh utamanya (dengan pengecualian satu-dua orang) adalah tokoh-tokoh yang benar-benar ada.

Tak main-main, sutradara sekaligus penggagas Gundam, Yoshiyuki Tomino, dikasih peran sentral. Di sini, ia digambarkan sebagai seorang pria botak agak pervert yang tak segan-segan ‘membengkokkan’ peraturan dan teramat sangat bad-ass dengan kacamata hitamnya dan otot-otot perutnya yang six-pack. Aku memang pernah dengar bahwa beliau bukan tipe orang yang senang diajak kompromi tentang idealismenya sih. Tapi man, penggambarannya di seri ini bukan hanya ‘nyambung’ ama sejarah, melainkan sungguh-sungguh bikin kagum sekaligus ketawa.

Aku langsung… “OMG…” karena secara tampang Tomino yang digambar di manga ini memang agak-agak mirip dengan Tomino-sensei yang asli…

Eniwei, Tomino, dengan ditemani seorang gadis manis bernama Kasukari Momoi, program director studio animasi Sunrise yang masih hijau (tokoh ini fiksi)–yang ia seret ke mana-mana dalam rencana-rencana gilanya dan menjadi sumber aspek moe dalam seri ini–bersama kawan-kawan mereka yang lain berupaya melakukan hal-hal besar untuk mengubah nasib dunia per-anime-an untuk selama-lamanya. Inilah manga yang mengisahkan perjuangan mereka!

Para penggemar Gundam, terutama seri Kidou Senshi Gundam asli yang berlatar di tahun 0079 UC, akan menemukan banyak sekali referensi seiring perkembangan cerita. Bisa jadi pula manga ini dibuat khusus untuk para penggemar Gundam.

Studi Kasus

Berawal di paruh akhir dekade 70an, seorang sutradara idealis bernama Yoshiyuki Tomino dari studio animasi Sunrise (yang saat itu belum setenar sekarang) berusaha mengubah standar anime robot raksasa dengan menghadirkan sesuatu yang lain dari yang lain. Dia memulai proyek anime baru yang menentang segala norma yang lazim saat itu. Anime tersebut adalah seri Gundam paling pertama dengan tokoh utamanya, si remaja 14 tahun, Amuro Ray (yang suaranya diisi Furuya Tohru). Setelah adegan pembuka di mana Tohru diberi inspirasi oleh Tomino soal seperti apa karakter Amuro yang sesungguhnya, kita dibawa lebih jauh ke masa lalu yang menjadi awal mula dari segalanya…

Alih-alih acara ‘gulat mingguan’ antar robot-robot raksasa untuk anak-anak, Gundam menghadirkan drama dan perkembangan karakter mendalam. Yah, intinya, hal-hal  yang juga akan menarik perhatian orang-orang dewasa. Bukan cuma anak-anak. Tapi paradigma sosial terhadap anime membuat seri ini pada masanya sulit untuk diterima. Bukan hanya menghadapi banyak kendala–terutama dari pihak sponsor yang sampai beberapa kali harus dikibuli’– Tomino dkk juga harus menghadapi kenyataan bahwa pada awalnya, rating seri Gundam ini sama sekali tak sesukses bayangannya.

Manga ini pada dasarnya menggambarkan seberapa jauh Tomino dan orang-orang di sekitarnya rela ‘berperang’ agar Gundam bukan hanya tetap tayang, melainkan juga menjadi populer.

“Itu bukan desain mainan! Itu adalah peninggalan dari Peradaban Keenam!”

Pernah ada masa ketika aku menggali setiap halaman di MAHQ untuk mencari tahu sebanyak mungkin yang aku bisa tentang anime-anime mecha klasik. Karenanya, aku terkagum-kagum sendiri selama membaca manga ini.

Bukan hanya Tomino seorang yang dipelesetin dan dibuat berlebihan. bahkan sang desainer karakter awal sekaligus animator, Yoshihiko Yoshikazu, turut muncul sebagai seorang bishounen jenius yang menjadi rekan pertama Tomino. Lalu Hajime Yatate, pseudonim untuk menyebut keseluruhan staf studio Sunrise pada umumnya, dengan kocaknya ditampilkan sebagai satu karakter bertopi koboi ga jelas yang menjadi atasan Tomino. Lalu bukan hanya Gundam. Anime-anime lain yang sempat memberi pengaruh atau terpengaruh turut disebutkan di anime ini. Mulai dari Space Battleship Yamato yang landasan perbandingan kesuksesan anime saat itu (di bab-bab lanjutan tiba-tiba saja dipelesetan sebagai ‘Kamato,’ entah mengapa) sampai ke (sejauh yang aku udah baca) Space Runaway Ideon, karya lain Tomino dalam upayanya membuat anime mecha yang tak ‘tolol.’ Ichiro Itano, yang pengaruh ‘Itano Circus’-nya melambungkan Macross, baru kuketahui ternyata berperan juga dalam sejarah Gundam. Ia tampil di sini sebagai animator muda berdarah panas(?!) yang terpukau oleh idealisme Tomino dan sampai pindah kerja untuk menjadi pengikutnya.

Artwork manga ini sendiri kurasa hanya bisa kukatakan bergaya ‘klasik.’ Cocok dengan latar era 80a, dan cukup komikal buat bikin kita ketawa sambil memahami apa-apa yang terjadi.  Beberapa detil ceritanya agak berlebihan sih. Tapi secara mengejutkan, adegan-adegan ‘besar’-nya sepertinya sesuai sejarah. Bahkan ada… sejumlah kejadian minor(?) yang diceritakan di manga ini, yang sejauh yang kutahu tampaknya tak diungkap dalam sejarah formal. Hal-hal seperti itu yang benar-benar membuat manga ini menarik.

Pokoknya, yang ingin kukatakan adalah, manga ini KEREN! Tapi aku mengatakan ini bukan hanya sebagai penggemar Gundam. Ini… keren dalam artian sesungguhnya!

Yah, oke. Keren enggaknya sesuatu memang relatif sih. Jadi aku enggak akan bicara lebih banyak soal itu.

Manga ini kelihatannya masih berlanjut, dan terus terang, aku enggak punya bayangan ini bakal sepanjang apa. Saat ini, ceritanya baru membahas soal adaptasi seri TV aslinya ke layar lebar. Tapi bila kalian mengaku menggemari seri-seri Gundam klasik (sampai semaniak aku, seenggaknya), kurasa kalian juga bakal menganggap seri ini sebagai sesuatu yang betulan menarik.


About this entry