Fate/stay night – Unlimited Blade Works

(Catatan: Bukan, ini bukan entri blog untuk seri TV FSN – UBW yang keluar tahun 2014. Untuk yang itu, ulasannya ada di sini. Trims.)

Fate/stay night – Unlimited Blade Works (aku baru nyadar cara penulisan judulnya yang semestinya) merupakan film animasi layar lebar yang mengadaptasi rute Tohsaka Rin, dari game/visual novel sangat terkenal, Fate/stay night.

Dirilis awal tahun 2010 oleh panitia Fate-UBW Project, dengan animasi yang diproduksi oleh Studio DEEN, movie ini mewujudkan pengharapan  fans untuk bisa melihat rute UBW dalam bentuk animasi.

“I am the bone of my sword, steel is my body, and fire is my blood…”

Permulaan UBW mengisahkan awal keterlibatan sang tokoh utama, remaja lelaki yang suka menolong, Emiya Shirou, dalam kompetisi Holy Grail War (perang cawan suci) yang berlangsung di kota tempat tinggalnya, Fuyuki.

Tujuh orang penyihir terpilih yang disebut ‘Master‘ akan mulai saling membunuh, sesudah ketujuh penyihir tersebut berhasil memanggil semacam roh pahlawan legendaris yang disebut ‘Servant.’ Servant pada dasarnya akan digunakan sebagai familiar dan menjadi faktor utama kekuatan mereka. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih tersisa akan memenangkan artefak sihir Cawan Suci, yang konon berpotensi mengabulkan permohonan apapun yang diminta oleh pasangan yang memenangkannya.

Pada suatu malam, Shirou tanpa sengaja menyaksikan pertarungan yang berlangsung antara Servant Lancer dan Servant Archer.

Akibat aturan bahwa tak ada saksi mata yang boleh dibiarkan hidup, sasaran Lancer beralih ke Shirou, dan Shirou segera menjadi korban kekuatan tombak Gae Bolg yang Lancer miliki.

Merasa bertanggung jawab atas keterlibatannya, dan didorong perasaan mendalam yang dipendamnya, Tohsaka Rin, teman sekolah Shirou yang ternyata merupakan Master dari Archer, dengan nekat melanggar aturan untuk mencoba menyelamatkan nyawanya. Menggunakan sisa kekuatan kristal ajaib, yang sebelumnya telah ia gunakan sebagai katalis untuk memanggil Archer, Rin berhasil menyelamatkan nyawa Shirou. Tapi tindakan Rin malah turut menyeret Shirou ke dalam pertarungan hidup mati yang kemudian mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.

Lancer kembali memburuh Shirou. Tapi Shirou dengan tanpa sengaja kemudian berhasil memanggil sekaligus mengikat kontrak dengan Servant Saber. Kini diakui secara resmi sebagai seorang Master, Shirou, yang sebenarnya enggan bertarung, jadinya harus berhadapan dengan Rin sebagai sesama Master dalam Perang Cawan Suci.

Namun sesudah melihat sendiri ketidakberdayaan mereka sampai menghadapi Servant Berserker yang dimiliki Illyasviel von Einzbern, Shirou dan Rin memutuskan untuk menjalin kerjasama sampai Berserker kelak berhasil mereka kalahkan. Bersama, keduanya berhadapan dengan serangkaian Servant lain. Dimulai dengan Servant Rider, yang hendak menjadikan para siswa di sekolah mereka sebagai tumbal kekuatan; Servant Caster, yang ternyata merencanakan hal serupa; serta Servant Assasin, yang memiliki kesetiaan tidak lain kepada sesama Servant, yakni Caster.

Bersama Saber, Shirou dan Rin terikat kesepakatan untuk meminimalkan sebisa mungkin korban dari pihak orang-orang tak berdosa. Tujuan mereka adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan besar seperti yang pernah menimpa Fuyuki dalam tragedi kebakaran misterius sepuluh tahun sebelumnya. Namun tingkah laku Archer—yang menyatakan diri telah kehilangan ingatan akan jati dirinya yang asli—semakin lama semakin mencurigakan.

Meski Shirou dan Rin berhasil bertahan dalam persaingan yang terjadi, kekuatan Caster seiring dengan waktu ternyata semakin tak terbendung. Tapi situasi tiba-tiba berkembang ke arah tak terduga dengan kemunculan Gilgamesh, Servant kedelapan yang semestinya tak ada. Dengan terkuaknya kelicikan Kotomine Kirei yang menjadi juri Perang Cawan Suci, serta kenyataan bahwa artefak Cawan Suci sebenarnya telah korup, harapan terakhir untuk menyelamatkan semuanya jatuh ke tangan Shirou dan Rin.

Shirou harus berhasil menguasai Reality Marble yang dipelajarinya dari Archer, Unlimited Blade Works, yang merupakan satu-satunya kekuatan yang mampu menandingi Noble Phantasm Gates of Babylon yang dimiliki Gilgamesh, yang kini hanya memiliki satu keinginan tunggal untuk menghancurkan segala-galanya.

“…Unknown to death, nor known to life…”

Di game-nya, Unlimited Blade Works dipandang sebagai rute paling sarat aksi dan paling penuh kejutan di Fate/stay night. Tokoh utama wanita rute ini, Tohsaka Rin tak diragukan merupakan salah satu tokoh anime paling populer dalam dekade terakhir. Dua hal tersebut menjadikan rute ini secara argumentatif lebih ‘dikenang’ dibandingkan dua rute lainnya.

Movie ini pada dasarnya merupakan ringkasan apa-apa yang terjadi dalam game-nya. Segala adegan aksi yang hanya tergambar ‘statis’ dalam game secara memuaskan tertuang dalam animasi halus dan cepat. Adegan-adegan aksi keren ini menjadi daya tarik utama movie ini. Sedangkan kekurangannya, mungkin terdapat pada eksekusi cerita. Sebab dengan durasinya yang terbatas, hanya mereka-mereka yang sebelumnya sudah memiliki pengetahuan tentang cerita Fate/stay night yang bisa menikmati sisi-sisi positif movie ini secara penuh.

Kelemahan lain yang movie ini adalah bagaimana ia mengandalkan rute-rute lainnya untuk menjelaskan aspek-aspek cerita yang tak terjelaskan di dalamnya. Pertanyaan-pertanyaan menyangkut siapa sebenarnya Saber, mengapa ia memiliki kesetiaan penuh terhadap Shirou, atau soal mengapa Cawan Suci kini tak dapat mengabulkan permohonan lain selain kehancuran, sejak awal memang hanya diceritakan pada dua rute Fate/stay night lainnya: Fate (rute pertama) dan Heaven’s Feel (rute ketiga). UBW sendiri merupakan rute kedua yang sedikit detil plotnya memiliki kaitan langsung dengan apa yang telah diceritakan dalam Fate. Hal ini mungkin akan memunculkan kebingungan bagi penonton baru. Tapi karena yang film layar lebar ini tonjolkan sejak awal adalah aksinya, hal ini jadi bukan suatu kekurangan yang mayor.

Dalam implementasi ke movie ini, perkembangan hubungan antara Shirou dan Rin sebagai teman seperjuangan terkesan sedikit dipaksakan. Masa lalu Rin dengan ayahnya, yang melandasi motivasinya yang kompleks,  pada akhirnya tak banyak disinggung. Demikian pula landasan keterikatan antara Shirou dengan Saber dan Ilya, yang sebenarnya berawal dari keterlibatan mendiang ayah angkat Shirou sendiri. Adegan kejar-mengejar terkenal antara Shirou dan Rin di sekolah sialnya sepenuhnya absen (padahal itu adegan kesukaanku). Lalu penggambaran sederhana Rin sebagai tsundere sayangnya sepenuhnya menghapus keengganan dan sikap ofensifnya untuk melibatkan Shirou dan Saber dalam perang. Interaksi antara Rin dan Shirou—yang dilandasi rumitnya perasaan Rin terhadap idealisme Shirou—sayangnya kurang ditonjolkan. Padahal menurutku di situlah konflik utama yang menjadi daya tarik terbesar rute UBW; yaitu pada bagaimana Shirou menemukan ‘kompromi’ antara idealisme yang ia usung dengan kenyataan yang dihadapinya di dunia.

Ilya hanya ditampilkan sebagai karakter loli. Masa lalunya bersama Berserker juga tak disinggung.

Dua tokoh Matou Sakura dan Fujimura Taiga juga hanya tampil sekedarnya sebagai tokoh minor.

Untungnya, fokus lain dari UBW, yakni hubungan persaingan antara Shirou dan Archer, lumayan diangkat ke permukaan. Bagaimana Archer membenci Shirou dengan segala kenaifannya lumayan tertuang. Tapi rasa permusuhan alami keduanya dengan Gilgamesh menurutku semestinya bisa digali lebih dalam lagi.

Titik positif film ini, yakni adegan-adegan pertarungannya, sekali lagi, benar-benar layak mendapat perhatian. Adegan-adegan pertarungan pedang pada saat Reality Marble UBW diaktifkan benar-benar menjadi tontonan aksi yang memuaskan dan enak dilihat. Melihat adegan-adegan pertarungan ini saja sudah cukup mengatakan anime ini memuaskan.

…Seenggaknya, demikian kasusnya buatku.

“So as I pray, ‘Unlimited Blade Works.’ “

Kurasa, cuma ada dua alasan utama mengapa UBW dianimasikan. Satu, karakter Tohsaka Rin. Dua, teka-teki tentang identitas asli Archer—yang dengan sedikit menyebalkan tak diceritakan dalam seri TV anime-nya. Mengacu pada dua alasan tersebut, sudah jelas sekali bahwa film layar lebar ini lebih diperuntukkan bagi para fans. Tapi mereka-mereka yang sedang ingin melihat sesuatu yang keren, atau sekedar ingin tahu sedikit banyak tentang garis besar FSN, mungkin akan terpuaskan saat menonton ini juga kok.

Dari kualitas cerita, kepuasan mengikuti cerita UBW di film ini sama sekali tak sebanding dibandingkan kepuasan menamatkan rute UBW di game-nya. Tapi mereka-mereka yang gregetan karena merasa UBW di game semestinya lebih ‘keren’ lagi (bukan berarti yang di game masih belum cukup keren sih), kurasa akan terpenuhi keinginannya melalui film ini.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: B+; Eksekusi: C+; Perkembangan: B-; Kepuasan Akhir: B-

(Buat yang mau tahu, Reality Marble merupakan sebutan untuk sihir dahsyat yang mewujudkan ‘dunia’ di dalam diri seseorang. Ini agak serupa dengan kemampuan Marble Phantasm yang Arcueid miliki di Tsukihime, yang mampu memanifestasikan visi di dalam alam. Tapi penjelasannya bakal panjang dan ribet, jadi kucukupkan saja sampai di sini.)

(Archer sebenarnya adalah wujud ‘masa depan’ potensial Emiya Shirou sesudah keberhasilannya menyelamatkan dunia dan menjadi pahlawan dengan memenangkan Perang Cawan Suci, karena pemilihan Servant tak terkekang zaman dan melampaui batasan waktu.)


About this entry