Super Robot Taisen – Original Generation (1)

Seri Super Robot Taisen, atau dikenal juga secara luas sebagai seri Super Robot Wars, pada dasarnya merupakan rangkaian game bergenre strategy role-playing game (SRPG) yang dirilis Banpresto (sekarang tergabung dalam Bandai-Namco) semenjak era konsol video game 16-bit. Seri ini menggabungkan berbagai tayangan anime ‘robot raksasa’ populer (Gundam, Getter Robo, dsb) dalam suatu kesatuan cerita yang sama, menghadirkan perang antar robot-robot raksasa yang telah lama diimpikan semua penggemar berat anime mecha.

Mungkin sebagai semacam upaya ‘penyegaran,’ Banpresto secara berkala memasukkan pula karakter-karakter dan mecha-mecha orisinil buatan mereka sendiri. Dilengkapi dengan cerita latar mereka masing-masing dan sebagainya, sehingga lambat laun, seiring dengan perkembangan gila-gilaan yang seri ini alami, jumlah karakter dan mecha orisinil yang telah Banpresto buat ternyata cukup untuk dihadirkan dalam satu game tersendiri.

Game tersebut adalah Super Robot Taisen: Original Generation, yang dibuat oleh Banpresto dan dirilis oleh Atlus untuk konsol GameBoy Advance, dan sekaligus menjadi game SRW pertama yang secara resmi diterjemahkan dalam bahasa Inggris (karena tak ada konflik antar pemegang lisensi masing-masing anime terkait di luar negeri). Game ini ‘dibintangi’ secara khusus oleh berbagai karakter dan mecha orisinil yang telah Banpresto buat dalam game-game SRW sebelumnya (jadi, enggak ada Gundam di dalamnya), dalam sebuah cerita ‘baru’ yang diadaptasi pula dari game-game SRW yang sudah ada..

Game ini terbukti cukup sukses, sehingga akhirnya dibuat sekuelnya: Super Robot Taisen: Original Generation 2, yang melanjutkan cerita dari game pertama, sekaligus menampilkan lebih banyak karakter orisinil Banpresto yang sebelumnya belum sempat diperkenalkan dalam game pertama.

Kepopuleran seri OG memunculkan adaptasi animasi berbentuk serangkaian OVA dan satu seri TV bertajuk Super Robot Taisen: Original Generation ~ The Divine Wars. Season baru dari seri TV ini, berjudul Super Robot Taisen: Original Generation ~ The Inspectors, akan hadir pada jadwal tayang anime musim gugur 2010 mulai bulan Oktober ini.

Kedua game di atas juga sempat dikompilasi dalam satu game berjudul Super Robot Taisen: Original Generations untuk konsol PlayStation 2, yang sayangnya untuk suatu alasan tak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Bukan hanya menggabungkan kedua cerita dalam game dengan disertai peningkatan grafis, game ini juga menghadirkan sejumlah mecha dan karakter baru serta satu mode epilog yang kembali mengembangkan cerita lebih lanjut

Masih di konsol PS2, game ini lagi-lagi mendapat sekuel berupa Super Robot Taisen: Original Generations Gaiden yang ‘sedikit’ melanjutkan cerita dari game sebelumnya, sekaligus memberi penjelasan tentang apa-apa yang telah berlangsung dalam epilog.  Tentu saja, semakin banyak karakter dan mecha orisinil yang belum sempat dihadirkan kemudian dimunculkan dalam game ini. Cerita pada game ini pada dasarnya merupakan reintepretasi ulang dari kisah independen yang disajikan dalam OVA,

Meski belum ada kabar tentang perkembangan seri ini lebih lanjut, masih ada banyak bahan cerita dari game-game SRW yang sudah ada, yang masih belum tergarap dalam ‘semesta’ OG.  Di samping seri OG utama, telah muncul pula game spin off-nya (Super Robot Taisen OG Saga ~ Endless Frontier dan sekuelnya, Super Robot Taisen OG Saga ~ Endless Frontier EXCEED) untuk konsol Nintendo DS. Seri ‘cabang’ bergenre RPG ini memang tak terkait erat dengan seri utama, dan alih-alih di Bumi, seri ini berlatar di sebuah ‘semesta paralel’ bernama Endless Frontier dan lebih bernuansa fantasi tipikal kebanyakan RPG. Seri ini juga merupakan sekuel tak langsung dari game Namco x Capcom, yang dapat terwujud berkat kolaborasi ‘baru’ (merger) kedua pihak pengembang Bandai dan Namco.

Pelajaran Sejarah

Detil cerita antar tiap game dan media seri OG bisa jadi agak berbeda, membuat pemahamannya agak ngejelimet. Tapi garis besar cerita utamanya kurang lebih sebagai berikut.

Dikisahkan bahwa populasi umat manusia akhirnya merambah ke luar angkasa, diimplikasikan sebagai akibat dari jatuhnya dua meteor raksasa yang sempat menimbulkan bencana global di muka Bumi. Lalu pada tahun 179 SE (space era, penanggalan baru yang dimulai semenjak umat manusia mulai menempati luar angkasa), ada meteor ketiga yang jatuh di Pulau Aidoneus, Samudra Pasifik.

Di dalam meteor yang selanjutnya disebut Meteor-3 ini, kemudian diketemukan sejumlah zat ‘ajaib’ yang hanya bisa disimpulkan telah dihasilkan oleh suatu teknologi teramat maju yang berasal dari luar angkasa. Segala bentuk teknologi baru yang terkait dengan meteor tersebut kemudian dikenal dengan istilah Extra-Over Technology (EOT). Pihak yang berwenang dalam pengkajiannya dikenal sebagai EOT Invesitgation committee (EOTI), yang bernaung di bawah EOT council (dewan penelitian EOT) yang melapor secara langsung kepada Earth Federation Government (EFG; pemerintahan federasi Bumi).

Pemimpin EOTI, peneliti jenius Bian Zoldark—sehubungan dengan diserangnya kapal penjelajah luar angkasa Hiryuu oleh mecha-mecha serangga misterius di sekitar orbit Pluto—kemudian menyimpulkan adanya potensi ancaman serangan dari makhluk-makhluk luar angkasa. Mecha-mecha humanoid raksasa yang disebut ‘Personal Trooper’ (PT) kemudian dikembangkan sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman ini, meski keberadaan makhluk-makhluk luar angkasa pada titik tersebut masih dirahasiakan dari pengetahuan publik.

Namun seiring dengan waktu, Bian mulai tidak puas dengan kinerja EFG. Sementara mecha-mecha serangga (belakangan dikenal dengan sebutan ‘Aerogaters’ karena kecendrungan mereka untuk muncul begitu saja melalui portal di udara) mulai semakin sering terlihat bahkan di Bumi sendiri. Sadar bahwa umat manusia tak lagi memiliki banyak waktu sampai datangnya serbuan dari alien—dipicu oleh insiden negosiasi diam-diam para petinggi EFG untuk ‘menjual’ Bumi kepada para alien di Kutub Selatan—Bian kemudian memulai upaya kudeta besar-besaran untuk mengambil alih pemerintahan Bumi.

Beliau lalu mendirikan organisasi Divine Crusaders (DC) yang dibentuk dari staf dan keanggotaan EOTI, dan melakukan pengambilalihan bersenjata terhadap instansi-instansi militer Federasi dengan menggunakan mecha-mecha jenis baru yang memiliki kemampuan untuk terbang: Armored Module (AM). Mendukung DC adalah pihak United Colony Corps (UCC), pemerintahan koloni-koloni luar angkasa yang selama ini memandang diri telah ‘dianaktirikan’ oleh pemerintahan Bumi, dan karenanya mendukung paham Bian untuk memulai orde baru.

Dua Tokoh Utama

Inti cerita game OG1 adalah tentang konflik melawan DC dan UCC yang selanjutnya diikuti dengan perlawanan melawan serbuan para alien yang belakangan diketahui berasal dari planet Balmar.

Ada dua tokoh utama yang bisa dipilih dalam versi game, yakni Ryusei Date yang mewakili tim SRX di Pangkalan Izu, Jepang dan Kyosuke Nanbu yang mewakili tim ATX di Pangkalan Langley, Amerika. Jalan cerita yang kita ikuti akan berbeda, bergantung pada tokoh mana yang kita pilih—meski secara canon, cerita OG1 lebih condong ke arah Ryusei.

Ryusei dikisahkan sebagai seorang remaja berdarah panas yang sangat, sangat, sangat suka pada robot raksasa. Cita-citanya adalah untuk bisa mengendalikan super robot miliknya sendiri. Tapi meski kelakuannya kekanakan, ia memiliki masalah-masalah prbadinya juga, yang sebagian besar berakar dari kenyataan bahwa ibunya yang orangtua tunggal kerap sakit-sakitan akibat suatu kondisi misterius yang membuatnya senantiasa memerlukan bantuan pengobatan.

Karena itu, saat Ryusei berhasil menjadi finalis turnamen nasional game simulasi kendali mecha Burning PT dan didekati seorang wanita misterius untuk bergabung dalam proyek SRX, Ryusei tanpa ragu menyanggupi permintaannya—dengan syarat semua biaya perawatan ibunya bisa ditanggung oleh pemerintah.

Proyek SRX merupakan sebuah proyek militer rahasia untuk mengembangkan lebih jauh teknologi PT melalui implementasi EOT. Ryusei—yang belakangan mengetahui bahwa dirinya dipilih berkat bakat telekinesis yang dimilikinya sebagai seorang psychodriver—kemudian diperkenalkan pada dua rekannya yang lain: pemuda jenius berkepala dingin yang berasal dari keluarga bangsawan pengabdi militer ternama, Raidese F. Branstein; serta wanita misterius yang telah merekrutnya dan kemudian menjadi pemimpin skuadronnya, Aya Kobayashi.

Atasan mereka bertiga yang mengepalai proyek SRX adalah seorang lelaki rupawan bernama Ingram Prisken, yang meski dipercaya sebagai individu brilian, manuver-manuvernya dalam perpolitikan militer kerap mengundang kecurigaan.

Ryusei kemudian ditunjuk sebagai pilot dari salah satu mecha keluaran baru proyek SRX yang memerlukan penggunaan telekinesis pada antarmukanya: R-1. Bersama Rai yang mengemudikan R-2 serta Aya yang menggunakan R-3, ketiganya, dengan diiringi kolega-kolega mereka yang lain, menjadi bagian dari awak kapal induk baru Hagane pimpinan kapten veteran Daitetsu Minase.

Sebagai bekas kapten dari Hiryuu; Daitetsu merupakan salah satu orang paling pertama yang berpengalaman langsung dalam menghadapi Aerogater. Mendukungnya adalah perwira muda Tetsuya Onodera yang kemudian akan menggantikannya dalam OG2. Bersama, mereka menjadi salah satu pilar perlawanan kembali pemerintahan Federasi terhadap serbuan Aerogater sekaligus DC.

Kyosuke sendiri adalah pilot tes muda yang memiliki kecendrungan aneh untuk selalu bisa lolos hidup-hidup dari berbagai near death experience. Paruh awal OG1 mengisahkan transfernya ke proyek ATX—sebuah proyek pengembangan mecha lain milik Federasi yang tidak melibatkan EOT—dan awal perkenalannya dengan gadis menggoda yang belakangan menjadi partner sekaligus pacarnya, Excellen Browning. Sifat Kyosuke yang dingin dan ‘nekat’ teramat kontras dengan sifat Excellen yang ceria dan (terlalu) suka bercanda. Interaksi kocak di antara keduanya bisa dibilang menjadi salah satu daya tarik paling menonjol dalam seri ini. (hubungan di antara keduanya bahkan ‘mendasari’ penciptaan pasangan tokoh Reiji dan Xiaomu, yang juga menjadi terhubung dengan seri ini sesudah kemunculan mereka di Endless Frontier—tapi itu cerita soal lain)

Bersama si anak baru, Brooklyn ‘Bullet’ Luckfield, ketiganya menjadi wakil proyek ATX saat bergabung sebagai awak kapal Hiryuu Custom (‘Kai’)—kapal Hiryuu yang telah dimodifikasi agar dapat melakukan penerbangan atmosferik—pimpinan kapten Lefina Einfield. Meski masih muda dan relatif kurang berpengalaman, Lefina didukung oleh Sean Webster, lelaki berumur yang menjadi wakil Daitetsu dalam misi ke Pluto dulu. Bersama kolega-kolega mereka yang lain, mereka menjadi pilar pertahanan Federasi satunya dalam melawan ancaman luar angkasa Aerogater dan UCC.

Sebagai pihak ketiga, hadir pula remaja temperamental Masaki Andoh yang beberapa kali muncul di tengah-tengah kancah pertempuran bersama mecha misteriusnya, masoukishin Cybuster. Ia menyatakan diri berasal dari dunia paralel La Gias, dan datang ke Bumi untuk menelusuri jejak keberadaan seorang lelaki bernama Shuu Shirakawa, yang ia sebut-sebut telah membawa kehancuran pada ‘kampung halaman’-nya.

Shuu Shirakawa tidak lain adalah ilmuwan EOTI fenomenal yang selama ini telah mendukung segala tindakan Bian dari balik layar. Dengan super robot miliknya yang teramat berbahaya, Granzon, iapun turut terlibat dalam insiden ‘pernyataan perang’ di Kutub Selatan yang hingga saat artikel ini kutulispun, detilnya masih banyak menyisakan tanda tanya.

Hangar

Berlanjut ke pembahasan garis besar soal mecha, hampir semua tokoh utama memulai permainan dengan PT produksi massal yang menjadi standar pasukan EFG: Gespenst.

Pengembangan seri Gespenst telah mencapai pembuatan massal seri keduanya—disebut Gespenst MkII—yang secara lebih lanjut terbagi ke dalam dua jenis: Gespenst MkII M, yang merupakan hasil produksi massal biasa; dan Gespenst MkII TT yang dimodifikasi secara khusus untuk pengetesan senjata-senjata telekinetik.

Gespenst MkII M yang dapat digunakan oleh pilot manapun ini dilengkapi persenjataan ‘standar’ yang mencakup senapan mesin dan peluru kendali. Senjata khasnya adalah sesuatu yang disebut ‘Jet Magnum,’ semacam tinju energi yang diberi tenaga pendorong untuk menghasilkan daya rusak besar. Kyosuke dan Excellen sama-sama sempat menggunakan mecha jenis ini pada awal cerita.

Gespenst MkII TT dilengkapi perlengkapan serupa tipe satunya, namun secara menyeluruh memiliki daya tahan lebih rendah, akibat implementasi T-Link System yang diperlukan untuk mengakses potensi EOT. Jenis Gespenst ini tidak dilengkapi Jet Magnum. Namun sebagai gantinya, terdapat T-Link Ripper—semacam baling-baling energi yang diluncurkan untuk mengoyak-ngoyak lawan—yang menjadi senjata telekinetik pertama yang pernah dikembangkan. Jenis ini digunakan hanya oleh mereka yang berbakat sebagai psychodriver; seperti Ryusei, Aya, dan Bullet.

Gespenst unggul karena kapasitasnya yang fleksibel. Namun jenis mecha ini di awal cerita sudah terbilang ‘kolot’ karena tak bisa menyamai kemampuan avionik yang diperlihatkan pasukan AM milik DC dan UCC. Meski demikian, tersembunyi di luar sana, terdapat beberapa prototipe tertentu dari Gespenst (‘prototipe’ berarti bukan ‘produksi massal’) yang benar-benar masih layak diperhitungkan.

AM pada dasarnya merupakan kombinasi antara pesawat jet tempur dengan PT, dan memiliki keunggulan terhadap PT karena bisa terbang tanpa pemberian komponen tambahan. Seri produksi massal yang mendasari pengembangan mecha jenis ini adalah seri Lion.

Perlengkapan standar sebuah Lion meliputi misil dan pisau padat opsional ditambah railgun. Namun kehebatannya yang sesungguhnya terdapat pada awal pengembangan sesuatu yang disebut ‘Sonic Breaker,’ di mana unit bersangkutan melesat dalam kecepatan tinggi sembari menciptakan selaput medan energi yang menyelubungi tubuhnya, yang digunakannya untuk menyeruduk dan menerobos pertahanan lawan. Beberapa jenis AM yang merupakan pengembangan ‘awal’ dari Lion adalah unit-unit Guarlion (untuk para perwira khusus) serta Barrelion (untuk persenjataan kelas berat).

Proyek SRX dan ATX yang diadakan EFG untuk menciptakan senjata-senjata bergerak yang lebih canggih lagi segera dilibatkan dalam perang demi menandingi kehebatan AM.

Proyek SRX (pengembangan ‘Real Personal Trooper’), adalah penyempurnaan teknologi PT yang sudah ada melalui implementasi EOT. Orang yang bertanggung jawab dalam pengembangannya adalah ilmuwan bernama Robert Ohmiya, yang sama seperti Ryusei, merupakan seorang maniak mecha. Proyek ini dibantu pula oleh ilmuwan lain bernama Kirk Hamill, yang mengembangkan PT-PT seri ‘Wild’; serta mendapat dukungan penuh dari perusahaan pemroduksi PT, Mao Industries, yang dipimpin seorang wanita bernama Ring Mao. T-Link System yang diimplementasikan di dalamnya dikembangkan oleh Kenzo Kobayashi, yang tak lain merupakan ayah (angkat?) Aya.

R-1 yang digunakan Ryusei merupakan keluaran pertama proyek ini. Sebagai PT, R-1 tak memiliki output yang besar namun sangat fleksibel untuk segala medan, terutama dengan kemampuannya untuk berubah bentuk menjadi pesawat yang disebut ‘R-Wing.’ Kehebatan terbesar yang R-1 miliki adalah kemampuannya untuk menyalurkan dan memusatkan potensi telekinetik Ryusei menjadi energi murni, yang berwujud dalam jurus tinju yang disebut ‘T-Link Punch’ dan dikembangkan dalam serangan jarak jauh yang disebut ‘T-Link Sword.’

R-2 yang Rai pergunakan dikembangkan untuk persenjataan energi berat dan serangan-serangan jarak jauh. Meski berbasis di darat, wujudnya yang lebih lanjut, R-2 Powered, dilengkapi Hi-Zol Launcher—salah satu senjata sinar terkuat dalam cerita—yang membuatnya sanggup mengimbangi lawan dalam segala medan. Mecha ini menjadi salah satu landasan ujicoba unsur-unsur kimia baru yang ditemukan dalam Meteor-3 sebagai sumber energi. (sebelum menggunakan mecha ini, Rai mengemudikan PT langka bernama Shutzwald yang memiliki cara tempur serupa)

R-3 milik Aya menjadi mecha yang paling lambat dikembangkan. Namun wujudnya yang sempurna, R-3 Powered, mengudara secara default dan dilengkapi artileri terlengkap untuk menghadapi lawan macam apapun. Sebagian besar persenjataannya digerakkan oleh tenaga telekinetik besar yang terpendam dalam diri Aya, mulai dari rentetan misil dan senjata sinar yang dipicu oleh TK. Medan TK yang dimilikinya lebih kuat dari yang dimiliki R-1. Lapisan sayap perisai yang melindunginya juga dapat dipisah, dan bagian-bagiannya dengan tenaga pikiran dapat digerakkan secara bebas untuk menyerang lawan. Senjata pamungkas R-3 ini dikenal dengan nama ‘Strike Shield.’

R-1, R-2, dan R-3, apabila keadaan mendesak, dapat bersatu membentuk super robot bernama SRX alias Super Robot type-X. Mecha raksasa yang dapat diumpamakan sebagai benteng berjalan ini secara argumentatif merupakan mecha terkuat sepanjang seri OG, dan pada perkembangan selanjutnya menjadi harapan terakhir umat manusia dalam peperangan melawan alien. Mecha ini mengimplementasikan logam Zol-Orichalnum (kalo aku ga salah) yang terkandung dalam R-2 Powered sebagai sumber tenaga. Ryusei dalam R-1 mengendalikan pergerakannya, sedangkan Aya dalam R-3 Powered mengatur penggunaan persenjataannya.

Tetapi meski sama-sama menghasilkan output besar, ketiga mecha keluaran proyek SRX dan mecha SRX sendiri memiliki kelemahan karena teramat sangat tak stabil. Kegagalan operasi dapat terjadi sewaktu-waktu akibat cara kerja EOT yang masih belum sepenuhnya dipahami. Lalu kekuatan dahsyat yang mampu dihasilkannya berpeluang menciptakan kerusakan besar apabila tidak diawasi secara optimal.

Maka sebagai alternatif proyek SRX, proyek ATX turut dikembangkan untuk menghasilkan PT-PT generasi baru yang juga sanggup mengatasi ancaman para alien. Kepala pengembangan proyek ATX adalah Marion Radom, perempuan sinis sekaligus (mantan?) istri Kurt yang sempat ‘menghilang’ dari peredaran untuk waktu yang lama. Mecha yang menjadi landasan pengembangannya tidak lain adalah Gespenst. Berbeda dari proyek SRX, proyek ATX mengandalkan teknologi ‘asli’ Bumi, dan mengimplementasi keunggulan-keunggulan EOT dalam jumlah yang minimal.

Keluaran pertama proyek ini adalah Alteisen (alias ‘Gespenst MkIII’) yang dipergunakan oleh Kyosuke. Berbeda dari Gespenst biasa, Alteisen merupakan mecha kelas berat berbasis darat yang memiliki kekhususan pada daya tahannya yang tinggi dan artileri ‘padat-nya yang berdaya hancur besar. Senjata utamanya adalah Revolver Stake—semacam senjata pasak yang akan meletus setiap kali tinjunya beradu dengan badan lawan—yang terpasang di satu tangan, dan pelontar ranjau claymore yang terpasang pada kedua bahu. Apabila kehabisan amunisi, masih terdapat tanduk Heat Horn di kepalanya yang dapat dipergunakan sebagai senjata terakhir. Mecha ini dikembangkan untuk pertempuran jarak dekat.dan menjadi lawan yang berbahaya di tangan Kyosuke, terutama setelah ia mempelajari cara melepaskan serangan dari seluruh persenjataan Alteisen secara berkelanjutan (sebuah jurus yang ia namai ‘Trump Card’).

Dibuat sebagai pasangan Alteisen, adalah mecha ramping Weissritter yang dikemudikan oleh Excellen. Weissritter pada dasarnya merupakan unit Gespenst MkII yang dikustomisasi dengan Tesla Drive yang memungkinkannya untuk terbang. Namun performa akhir Weissritter ternyata jauh melebihi sebuah Gespenst. Dikhususkan untuk bisa melakukan manuver-manuver lincah dan melakukan serangan dari jarak jauh, senjata andalan Weissritter adalah Oxtongue Rifle yang mampu menembakkan peluru-peluru padat dan sinar-sinar energi secara sekaligus.

Satu-satunya implementasi T-Link System yang tim ATX pergunakan terdapat pada Huckebein MkII yang dikemudikan Bullet. Mecha ini merupakan ‘penstabilan’ dari Huckebein orisinil yang merupakan mecha pertama yang memakai EOT—dalam bentuk sebuah mesin yang disebut Black Hole Engine—yang berakhir dengan tragedi saat sumber tenaga mecha ini lepas kendali dan mencacatkan lengan pilotnya; memberi stigma bahwa seri mecha ini ‘terkutuk’ dan membuat jenisnya tak lagi dikembangkan untuk waktu yang lama. Terlepas dari itu, Huckebein MkII merupakan sebuah mecha yang teramat seimbang, meski Bullet memiliki kecendrungan lebih untuk terlibat dalam pertempuran-pertempuran jarak dekat. Senjata pamungkasnya adalah meriam khusus G-Impact Cannon.

(perlu diperhatikan bahwa seri mecha Huckebein, meski memiliki posisi yang integral dalam cerita, tidak ditampilkan dalam versi adaptasi anime-nya yang pertama; mungkin karena kemiripan desainnya dengan Gundam?)

Menjembatani kedua proyek di atas adalah PT-PT seri ‘Wild’ yang diprakarsai ilmuwan pendiam Kirk Hamill. Sejauh yang bisa kutangkap, mecha-mecha seri ini diciptakan sebagai landasan pengembangan sejumlah fitur khusus yang nantinya dipakai di mecha-mecha lain. Karena itu, sejauh ini belum ada mecha seri ‘Wild’ yang diadopsi untuk produksi massal. Dua mecha ‘Wild’ yang menonjol dalam OG1 meliputi Wildraubtier, sumber fitur transformasi R-1 yang lincah sekaligus PT pertama yang dapat bertransformasi menjadi pesawat, yang sama-sama sempat dikemudikan baik oleh Kyosuke maupun Ryusei; serta Wildschwein, yang menjadi PT pribadi Ingram berkat daya tempurnya yang canggih.

Beralih dari bahasan soal PT (yang mewakili sisi ‘real robot’), sebagian besar super robot yang tampil dalam seri OG dikembangkan di suatu tempat penelitian bernama Tesla Leicht Institute (TLI), yang menjadi tempat lahirnya berbagai penemuan hebat sekaligus EOTI. Dua tokoh yang paling menonjol dari TLI adalah Jonathan Kazahara, pencipta super robot Grungust—yang dari bentuk humanoid-nya dapat berubah bentuk menjadi pesawat dan tank—yang kemudian menyerahkannya pada anaknya, Irmguilt Kazahara, bekas(?) pacar Ring yang playboy; serta sang ahli bela diri tua Rishu Togo, yang merupakan guru ilmu pedang Bullet sekaligus perancang pedang raksasa yang mecha-mecha seri Grungust pergunakan.

Break Out!

Dalam perkembangan lebih lanjut, Ryusei harus mengatasi kenaifan dan idealismenya tatkala harus berhadapan dengan orang-orang DC tertentu yang memang berniat memulai perang.

Musuh terbesar Ryusei hadir dalam sosok Tenzan Nakajima, sesama finalis turnamen Burning PT yang direkrut ke dalam DC sesudah dijanjikan keasyikan bertempur, karena dirinya memandang peperangan dan nyawa orang tak lebih sebagai bagian sebuah permainan belaka. Ia beberapa kali tampil dengan berbagai mecha sebagai lawan tangguh bagi Ryusei maupun Kyosuke, dan akhirnya baru bisa ditaklukkan bersama para petinggi DC lainnya menjelang akhir bagian pertama cerita. Namun rupanya itupun masih belum menjadi akhir dari nasibnya…

Rai, yang ternyata tak lain adalah pilot tes bernasib malang dari Huckebein pertama, menghadapi kenyataan pahit karena sepupu, kakak, dan ayahnya berpihak pada DC. Leona Garstein, perempuan cantik yang merupakan sepupu Rai yang dimaksud, merupakan tangan kanan Julia Henkel yang memimpin Troye Unit, pasukan khusus UCC yang hanya beranggotakan wanita. Elzam V. Branstein, kakak Rai, merupakan pilot PT karismatik yang memiliki pengaruh besar terhadap kedua belah pihak dengan mecha-mecha hitamnya yang ia namai ‘Trombe.’ Sedangkan Maier Branstein, ayah Rai dan Elzam, merupakan pemimpin UCC yang telah mengadakan kesepakatan rahasia dengan Bian demi memastikan kelangsungan umat manusia di Bumi…

Aya sendiri menghadapi dilema tatkala menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan ingatannya, yang merupakan efek samping dari berbagai percobaan yang telah Kenzo lakukan terhadapnya di masa lalu…

Kyosuke dan kawan-kawannya dalam tim ATX di sisi lain harus berhadapan dengan Sanger Zonvolt, bekas komandan mereka yang memilih untuk berpihak pada DC karena kesetiaannya pada Elzam sekaligus peneliti Sophia Nate, dua sahabat lamanya dari masa saat ia masih tergabung dalam tim khusus Agressors. Menyatakan diri sebagai pedang yang memusnahkan kejahatan, Sanger menjadi lawan tangguh sekaligus salah satu tokoh SRW paling dikenal dengan Grungust Type Zero miliknya yang mengandalkan pedang raksasa Colossal Blade (Zankantou).

Sophia Nate merupakan ilmuwan yang hendak melestarikan benih-benih umat manusia lewat pembangunan fasilitas bunker hibernasi Earth Cradle, yang akan melindungi individu-individu terpilih pada saat kemusnahan melanda Bumi. Namun dirinya terjebak dalam situasi di mana Earth Cradle yang sebelumnya berada di bawah EOTI, jatuh ke dalam kewenangan DC, dan digunakan sebagai basis pengembangan senjata-senjata baru mereka. Tak ingin terlibat peperangan, Sophia akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan diri dalam pengembangan Magus, superkomputer canggih yang akan bertanggung jawab dalam pengelolaan Earth Cradle pada saat bencana terjadi. Lebih lanjut tentang dirinya, serta tentang berbagai subplot lain, baru akan diceritakan lebih lanjut dalam OG2.

Di pertengahan cerita, berkat kehadiran Masaki Andoh, awak Hagane lolos dari perangkap Granzon yang dilancarkan Shuu dan mengalahkan super robot Valsion yang diciptakan dan dikemudikan Bian. Pada saat yang sama, awak kapal Hiryuu Custom berhasil menembus armada kapal ruang angkasa UCC dan ‘menenggelamkan’ kapal induk Macht milik Maier. Namun harapan Maier dan Bian untuk ‘menyatukan’ umat manusia dengan peran antagonis mereka sayangnya masih belum terwujud…

Pasukan gabungan Hagane dan Hiryuu kemudian terlibat berbagai pertempuran dengan sisa-sisa pasukan DC. Mulai dari upaya untuk mempertahankan Kerajaan Riksent yang suplai emas-nya diincar, pertemuan mereka dengan Lune(Ryune) Zoldark, putri Bian yang mengemudikan super robot Valsione, sampai konfrontasi mereka dengan ilmuwan gila DC Adler Koch yang telah memproduksi massal Valsion sekaligus melengkapi tiap unitnya dengan GEIM System, semacam program pengendali pikiran yang dapat mengubah siapapun yang ditempatkan di dalamnya menjadi pilot yang ideal.

Pewaris tahta Riksent, Shine Hauser juga diburu berkat kemampuannya melihat masa depan. Lalu Latooni Subota, gadis muda yang menjadi salah satu pilot PT Hagane, terungkap latar belakangnya sebagai salah satu orang yang selamat dari The School, fasilitas rahasia yang mempersiapkan anak-anak terlantar untuk dijadikan pilot-pilot mecha hebat melalui metode-metode kejam.

Situasi dunia semakin tak menentu saat pasukan alien yang telah diramalkan Bian hadir lewat kemunculan Neviim, struktur raksasa berbentuk bola yang tiba-tiba telah mengorbit di sekitar Bulan. Neviim, yang disebut pula dengan nama kode White Star, menjadi markas mereka-mereka yang menyatakan diri sebagai utusan dari planet Balmar, yang dipimpin seorang wanita bernama Levii Tolaar.

Di tengah serbuan mecha-mecha Aerogater ke kota-kota besar di seluruh dunia, Ingram tiba-tiba mengkhianati anak-anak buahnya di tim SRX dengan mencuri R-Gun, mecha komponen terakhir yang SRX perlukan untuk melepaskan energi besar yang dihasilkannya secara sempurna. Ingram ternyata tak lain adalah agen rahasia utusan planet Balmar. Lalu Viletta Vadim, operator wanita dari Mao Industries yang turut serta dalam pengembangan R-Gun, adalah rekanannya juga.

Turut dibawa serta oleh Ingram adalah Kusuha Mizuha, teman masa kecil Ryusei sekaligus gadis yang disukai Bullet, yang dilibatkan Ingram dalam peperangan berkat bakat psychodriver yang Kusuha miliki. Melalui kendali pikiran, Ingram menjadikan Kusuha lepas kendali dengan Grungust Type II yang dikemudikannya, yang akhirnya memicu kehancuran kota Beijing.

Seluruh eselon tinggi EFG akhirnya dilenyapkan secara pribadi oleh Viletta, dan markas besar mereka di Geneva kemudian dihancurkan.

Dengan dukungan dari Elzam dan Sanger, yang membawakan kapal induk baru Kurogane untuk menggantikan Hagane yang rusak, Ryusei dan kawan-kawannya sekali lagi melakukan penyerangan terhadap Neviim untuk menuntaskan konfrontasi di antara mereka dan Ingram untuk selama-lamanya.

Tapi kejutan yang akan mereka temukan rupanya masih belum berakhir sampai di sana…

Intermission

Secara pribadi, aku selalu merasa bahwa OG1 merupakan salah satu game SRW dengan kualitas cerita terbaik. Memang agak susah menjabarkannya karena ada begitu banyak hal yang terjadi. Tapi game ini dengan sukses membangun’ dunia’ yang baru dan menyampaikan sebuah cerita yang seru pada saat bersamaan. Karakter-karakternya begitu gampang disukai, dan konfrontasi terakhir melawan Ingram yang menggunakan R-Gun Rivale merupakan salah satu pertempuran klimaks paling keren yang pernah kutemukan dalam sebuah SRPG. (aku memiliki hobi menggali ringkasan cerita game-game SRW)

Sayangnya, adaptasi seri TV OG1 menurutku agak gagal dalam menyampaikan kebagusan ceritanya ini. Sehingga kesannya tak lebih dari sebuah seri anime mecha yang biasa-biasa saja. Pertempuran-pertempuran mechanya lumayan seru sih. Suasananya dengan apik semakin memuncak hingga akhir cerita. Tapi anime ini agak terlalu datar di bagian-bagian awal, dan karakter-karakternya yang bervariasi sebenarnya bisa digali dengan lebih mendalam. Jadi mungkin kebanyakan orang yang mencoba mengikutinya akan bosan terlebih dulu sebelum seri ini mencapai bagian-bagian yang seru.

Ada satu daya tarik yang agak tak disangka dari seri TV Divine Wars sih, yakni kemunculan Corbray Gordon, salah satu tokoh utama yang bisa dipilih dari Super Robot Wars Alpha 3. Corbray merupakan seorang tokoh orisinil Banpresto yang bahkan belum dimunculkan dari seri game OG sendiri, karena itu kemunculan dia di anime ini sempat mencuatkan tanda tanya. Ia muncul di awal dan di akhir seri (dengan mecha-nya Dis Astranagant), sebagai semacam ‘faktor luar’ dari dimensi lain(?) yang memiliki keterkaitan dengan siapa Ingram sebenarnya. Sayang aku tak bisa bercerita banyak karena akan terlalu memberi spoiler terhadap cerita.

Sebagai game sendiri, meski secara grafis bisa dibilang jelek, gameplay OG1 beneran seru. Support system yang diperkenalkan di Alpha Gaiden memiliki peranan sangat besar dalam game ini. Lalu fitur peng-equip-an senjata untuk mecha-mecha PT dengan segera disambut secara positif. Sejumlah senjata keren yang tersembunyi dalam permainan dapat kita pertukarkan untuk digunakan pada siapa saja. Lalu implementasi poin untuk pembangunan karakter memberi pemain keleluasaan lebih untuk membentuk pilot-pilot sesuai yang mereka mau (apakah yang lincah, apakah yang jago menembak dari jarak jauh, dsb.)

Masih ada banyak hal (dan tokoh) yang belum sempat tersebutkan dalam ringkasan di atas. Beberapa detil lain, sekaligus pemaparan soal OG2, kurasa baru akan kusertakan pada tulisan berikutnya. (Mungkin.)

Beberapa Tips Dasar

  • Gunakan fitur Support. Posisikan unit-unit yang bisa Support bersebelahan dengan unit yang mau menyerang. Juga agar unit-unit yang lebih kuat dapat mengawal yang lebih lemah. (Kerusakan yang diterima lewat Support akan lebih kecil persentasenya dibandingkan kalau kena biasa.)
  • Unit-unit tertentu dapat meningkatkan stat unit-unit di sekelilingnya lewat fitur Command (kalau tak salah). Biasanya ini dimiliki kapal induk, tapi ada juga unit-unit individual yang memilikinya. Jadi atur pengaturan posisinya agar tak berjauhan.
  • Gunakan Focus saat kau merasa unitmu akan jadi sasaran banyak target. Itu untuk meningkatkan tingkat keberhasilan agar bisa lolos dari serangan.
  • Serangan gabungan dan wujud kombinasi dapat dilancarkan oleh sebagian kecil unit tertentu selama unit-unit terkait berdekatan (bersebelahan atau dalam posisi diagonal). Pastikan EN di masing-masing unit masih cukup!
  • HP dan EN suatu unit yang sudah mau habis juga dapat dipulihkan dengan mengembalikannya ke kapal induk. Bawa saja unit terkait ke kotak di sebelah kapal induk.
  • Gunakan Fervor yang akan menggandakan daya serang bila merasa perlu melancarkan serangan-serangan terkuat.
  • Gunakan Alert bila kau merasa musuhmu akan balas menyerang dengan serangan yang pasti membuatmu mati.
  • Ada beberapa Spirit tertentu yang dapat melipatgandakan uang dan EXP. Selalu manfaatkan saat mau menjatuhkan musuh yang besar!
  • Jangan lupa memakai poin-poin yang diperoleh saat pilot level up untuk meningkatkan statistik mereka. Perhatikan bagaimana statistik untuk menyerang terbagi antara serangan jarak dekat dan serangan jarak jauh. Perhatikan juga bagaimana ada statistik yang menentukan persentase serangan kena.

About this entry